Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 43


__ADS_3

Saat makanannya siap, kami pun langsung memakannya dengan cepat. Supaya setelah ini kami berdua bisa bergegas untuk packing barang.


Selesai makan, kami berdua pun langsung pergi ke kamar untuk mulai merapihkan semua barang bawaan kami.


Merasa semuanya sudah masuk ke dalam koper, kami pun memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh kami yang terasa lelah karena melakukan perjalan tadi.


Lalu, ketika kami ingin beranjak tidur tiba-tiba saja terjadi mati lampu di penginapan kami.


Sontak hal itu membuatku merasa sangat ketakutan.


Saking takutnya aku terhadap kegelapan, sampai akhirnya membuatku memeluk tubuhnya Ryan dengan begitu kuat.


"M-mas la-lampunya mati Mas." Memeluk Ryan ketakutan.


"Kamu tenang ya.... jangan takut."


"T-tapi aku takut sama kegelapan Mas." Sedikit bergetar karena saking takutnya.


"Ya sudah kamu tunggu dulu disini sebentar ya, biar aku pergi mengecek sambungan listriknya dulu." Sembari melepaskan genggaman tanganku.


Disaat Ryan ingin pergi meninggalkanku sendirian, maka dengan cepat aku pun langsung menarik tangannya untuk tidak pergi meninggalkanku.


Karena tarikanku sangat kuat, sampai-sampai membuat Ryan terjatuh di atas tubuhku.


Sebab Ryan berada di atas tubuhku, maka dengan reflex aku pun langsung memeluknya sembari menangis karena saking ketakutannya akan suasa gelap.


"Jangan tinggalkan aku Hiks... aku takut Mas, aku takut Hiks...." Isakku dalam pelukannya.


"(Mengusap Rambutku), Ya sudah aku akan tetap disini bersamamu, jadi berhentilah menangis ya." Jawabnya sembari menelusupkan wajahnya di leherku.


Ketika hembusan nafasnya mengenai kulit leherku, seketika tubuhku jadi menggidik geli karenanya.


"Eugh...M-mas menyingkirlah dari atas tubuhku."


"Memangnya kenapa."


"A-aku kesulitan bernafas kalo posisinya kaya gini."


"Oh kamu kesulitan bernafas ternyata.... ya sudah kalau begitu aku akan membantumu."


Setelah itu, Ryan pun langsung mencium bibirku dengan begitu lembut.


Ketika Ryan sedang mencium bibirku, dan tanpa ku sadari aku pun mulai membalas ciumannya itu.


Merasa senang dengan responku,kini Ryan semakin memperdalam ciumannya hingga membuatku kehabisan nafas karenanya.


Lalu, kupukuli secara perlahan bagian dadanya untuk bisa memberiku celah untuk bernapas.

__ADS_1


Ryan yang mengerti akan hal itu, pun langsung melepaskan ciumannya.


Lalu aku pun dengan cepat langsung menghirup udara nya banyak-banyak.


"Apa kamu ingin membunuhku." Dengan nafas yang tidak beraturan.


"(Mengusapi bibirnya yang basah), Maafkan aku.... Aku benar-benar tidak sengaja." Sembari meraba kedua gunung kembarku yang masih terbungkus rapi.


"M-mas apa yang sedang kau lakukan." Menahan tangannya yang hendak masuk kedalam bajuku.


Kemudian Ryan pun mendekatkan mulutnya kearah telingaku dan berbisik pelan kepadaku.


"Aku menginginkannya hari ini." Dengan suara beratnya.


Mendengar suara beratnya itu, kini membuat tubuhku jadi menggidik.


"Tapi kan kemarin sudah, masa sekarang mau lagi."


"Aku berhak memintanya kapan saja kan."


Belum juga kuijinkan, kini tangan Ryan sudah berhasil masuk kedalam bajuku. Dan kemudian dia pun meraba-raba kedua gunung kembarku.


"Ngghhhhh.." Menggeliat kegelian.


Lalu, setelah itu dia pun membuka pakaian yang sedang menutupi tubuhku secara perlahan. Hingga akhirnya separuh tubuhku mulai terlihat polos dihadapannya.


Ryan meremas kedua gunungku dengan begitu kuat, bahkan sesekali dia pun menghisapnya seperti layaknya bayi yang kehausan.


"Emphhh....Mas."


Setelah cukup lama dia bermain di gunung kembarku, kini tangannya pun kembali liar untuk membuka celanaku.


Secara perlahan dia membuka resleting celanaku sampai terbuka. Dan setelah terbuka dia pun langsung melepaskan celanaku dan membuangnya kesembarang tempat.


Kini yang tersisa hanyalah underware yang ku pakai untuk menutupi mahkotaku.


Saat ini aku tidak akan melakukan penolakan apapun terhadap apa yang sedang dia lakukan kepadaku, karna sebenarnya aku pun menginginkannya juga.


Ryan melirik sekilas bagian Mahkotaku dan hingga akhirnya Ryan pun mulai menyentuhnya.


Sentuhan yang Ryan berikan dibawah sana, seakan-akan memberikan aliran listrik kedalam tubuhku.


"Eughhh...." Membuatku Memejamkan mata, saat menerima sentuhannya itu.


Mendengar suara leguhankanku membuat Ryan menyunggingkan senyumnya. Merasa cukup untuk menyentuhnya, kini Ryan mulai melebarkan kakiku dan kemudian menyentuhnya lagi.


"Emphhhh... Mas." Sedikit menggeliat, saat merasakan jarinya yang masuk kedalam milikku.

__ADS_1


"Ternyata sudah basah." Tersenyum nakal kepadaku.


Tanpa berlama-lama lagi, kini Ryan pun mulai melucuti semua pakaian hingga polos dan kemudian dia pun membantuku untuk melepaskan underwareku yang masih terpasang rapi dibawah sana.


Saat ini kami berdua benar-benar polos tanpa sehelai kain pun.


Kini Ryan mulai menurunkan wajahnya untuk mendekati Mahkotaku. Setelah berada tepat pada titiknya, kini Ryan pun mulai bermain-main dibawah sana. Dan aku pun hanya bisa diam sembari menikmatinya.


"M-mas aku i-ingin keluar nghhh..." Sembari menjambak rambut Ryan.


"Keluarkanlah, karna sedari tadi aku sudah menunggunya."


Setelah cukup lama menahan, kini aku pun menumpahkan semua cairan itu. Lalu Ryan tanpa rasa jijik, mulai mencicipinya sedikit.


Merasa cukup dengan pemanasan yang kami lakukan, kini kami pun mulai melakukan kegiatan intinya.


Ryan mulai memompaku dengan gerakan yang begitu lembut. Hingga aku pun bisa menikmati setiap sentuhan yang dia berikannya.


Karena kenikmatan yang kami rasakan, hingga semua sudut ruangan dipenuhi oleh alunan suara bercinta yang saling menyauti. Dan kami melakukannya selama lampunya padam.


"Aaahhhh.... Mas, Emphhh Aaaahhhhh..." Eranganku di bawah kungkungan suamiku.


"Aaahhhh shitt..., tubuhmu membuatku candu Aahhh." Sahutnya, yang terus saja menghujamku tanpa henti.


Selama kami melakukannya, kami benar-benar menikmati momentnya. Karena saking menikmatinya, kami sampai tak sadar bahwa ada seseorang yang masuk kedalam penginapan kami tanpa kami ketahui sama sekali. Dan mereka bisa masuk kedalam Karna keteledoran kami yang lupa mengunci pintunya.


Bahkan saat berada di dalam penginapan, kini membuat mereka harus mendengarkan suara-suara menjijikan yang kami buat.


Bukannya pergi, mereka malah sengaja berlama-lama tinggal untuk menguping kegiatan kami sembari tersenyum-senyum geli.


"Sekalinya mau, pasti bakalan keterusan deh,dasar anak muda." Tersenyum geli saat mendengar suara rintihan ku.


"Ya jelas lah, dan seperti nya yang kemarin tuh masih kurang makanya mereka melakukannya lagi sekarang."


"Ihhh papih pelan kan suaramu nanti proses pembuatan anak merekanya keganggu lagi." Bisik Bu Mayang, sembari menepuk pelan lengannya Pa Bagas.


"(Sembari terkekeh),Ternyata anak kita sudah dewasa yah Mih."


"Iy**a pih bener**."


"Kira-kira Tiara bakalan kuat gak yah menghadapi Ryan." Tanyanya penasaran.


"Ya tentu kuat lah, kan Tiara itu adalah jiplakan diri ku."


Geli dengan percakapan yang mereka buat, kini mereka pun mulai tertawa pelan.


Dan yang paling parahnya mereka berdiam diri disana sembari mendengarkan suara-suara aneh kami sampai lampunya kembali menyala.

__ADS_1


Selesai melakukan pelepasan terakhir, kini listriknya pun mulai menyala kembali, sembari menyoroti tubuh polos kami yang basah karena kegiatan olahraga malam yang sudah kami lakukan.


__ADS_2