Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 38


__ADS_3

...3 Bulan Kemudian...


Tak terasa, kini sudah 3 bulan lamanya aku menjalani kehidupan rumah tangga yang hambar ini.


Setiap hari, aku hanya sibuk menghabiskan waktuku dengan semua pekerjaan rumah tangga yang begitu monoton.


Sedangkan Ryan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengurusi semua pekerjaan kantornya.


Bahkan, saking banyaknya pekerjaan yang dia kerjakan di kantor. Membuatnya selalu pulang larut malam dan bahkan sampai tidak pulang sama sekali.


Malamnya, ketika kami hendak pergi ke kamar kami masing-masing, tiba-tiba saja bel rumah kami berbunyi.


Karena kebetulan Ryan sedang berdiri di dekat ruang tamu, jadi dia pun langsung bergegas membukakan pintunya.


Disaat pintu terbuka lebar, sontak membuat kami berdua merasa terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.


Saat Ryan mempersilakan mereka duduk, aku dengan cepat langsung menghampiri mertuaku itu, sambil bergantian menyalami mereka berdua.


"Mih.....Pih...." Menyalami mereka secara bergantian.


Merasa senang melihat kehadiranku, kini Bu Mayang pun mulai menarikku kedalam pelukannya.


"Ah Tiara.... anak kesayangan Mamih." Teriaknya antusias.


"Mamih sangat merindukanmu Nak." Menciumi seluruh wajahku.


"Apa Ryan selalu membahagiakan mu." Tanyanya penasaran.


Karna, tak mungkin bagiku untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya kepada mereka, maka dari itu aku terpaksa berkata bohong kepada mereka.


"Mmm... Mamih tidak usah khawatir, Mas Ryan selalu membuatku bahagia kok." Bohongku, sembari menatap Ryan sekilas.


"Ah, syukurlah." Kembali memelukku.


Menunggu waktu tidur, kami pun memilih untuk bersantai sejenak diruang tamu sembari mengobrol bersama.


"Apa kalian tau... semenjak kepergian kalian dari rumah, hal itu membuat Mamih kalian berubah... yang awalnya selalu cerewet kini dia berubah menjadi orang yang sangat pendiam. Setiap Papih tanya ada apa... pasti jawabannya selalu, Mamih kangen Tiara Pih (Sembari meniru gaya bicara Bu Mayang), pasti selalu kata itu yang Mamih kalian ucapkan setiap harinya.... bahkan Papih pun sampai pusing mendengarnya." Ejek Pa Bagas, sembari sedikit tertawa.


"Ih Papih,malu-maluin banget sih." Mencubit kuat lengannya Pa Bagas hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Aw...Aw... Mamih ampun."

__ADS_1


Melihat pertengkaran kecil yang terjadi di antara mereka berdua, membuatKu dan Ryan jadi tertawa.


"Oh iya, apa kalian berdua belum ada niatan untuk memberi kami seorang cucu." Ucap Pa Bagas tiba-tiba.


Mendengar pertanyaannya tadi, sontak membuat tawa kami memudar.


"Bagaimana caranya aku mau kasih kalian cucu, sedangkan tidur saja kami selalu terpisah dan bahkan Mas Ryan pun tak pernah mau menyentuhku." Gumamku, sembari tertunduk sedih.


"Kami masih ingin menghabiskan waktu berdua, jadi belum terpikirkan oleh kami untuk memiliki seorang anak." Ucapnya sembari melirikku.


"Tapi, jangan terlalu lama yah... soalnya Mamih tuh dah gak sabar pengen gendong Cucu dari kalian berdua." Ucapnya dengan penuh harapan.


Tak ingin membuatnya kecewa, kini aku hanya bisa menganggukkan kepalaku sembari tersenyum kearahnya sebagai jawaban dari pertanyaannya itu.


Setelah cukup lama kami mengobrol, kini kami semua memutuskan untuk pergi beristirahat ke kamar.


Karna hari ini mertuaku menginap, maka dengan terpaksa aku dan Ryan harus tidur satu kamar untuk sementara waktu.


"Tiara... karna aku belum bisa tidur bersama denganmu, maka dari itu kamu tidur saja dikasur dan aku akan tidur di bawah."


"Tidak Mas, biarkan aku saja yang tidur di bawah dan kamu tidur di kasur."


"Aku tidak akan mengizinkannya, maka dari itu cepatlah tidur ini sudah malam." Tegasnya, sembari menggelar sebuah kasur lipatnya di bawah.


Tepat pada pukul 1 malam saat kami sedang terlelap tidur, tanpa kami sadari ada seseorang yang masuk kedalam kamar kami secara diam-diam.


Setelah cukup lama memperhatikan kami. Kini orang tersebut mulai melangkah pergi meninggalkan kamar kami secara perlahan.


Lalu pada pagi harinya, tepatnya jam 5 pagi. Aku langsung terbangun dari tidur ku.


Melihat Ryan yang masih terlelap, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku untuk bersiap-siap.


Ketika aku berjalan memasuki kamarku, tanpa kusadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikanku dari kejauhan.


Setelah berada di kamar aku pun langsung bergegas mandi, agar setelah ini aku bisa secepatnya menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan juga mertuaku.


Selesai mandi, aku berniat ingin merias wajahku terlebih dahulu. Namun ketika aku baru keluar dari dalam kamar mandi mendadak sekujur tubuhku terasa kaku karna terkejut melihat Bu Mayang yang sedang duduk santai sembari menungguku.


Melihatku yang sudah keluar, kini Bu Mayang mulai menatapku dengan tajam. Karna saking takutnya dengan tatapannya, aku sampai tak berani untuk menatapnya balik.


"Tiara kemarilah." Panggilnya, sembari menepuk-nempuk tenpat disebelahnya.

__ADS_1


"Emm...I-iya Mih."


Aku dengan cepat langsung berjalan mendekati Bu Mayang dan kemudian ikut duduk disampingnya dengan wajah yang sedikit cemas karena takut akan pertanyaan yang akan Bu Mayang tanyakan padaku.


"Sekarang kamu jelaskan semua nya kepada Mamih, mengenai apa yang sedang terjadi antara kamu dan juga Ryan."


Mendengar perntanyaannya, sontak membuatku mendongak terkejut akan hal itu.


"J-jelaskan apa m-maksudnya Mih, Tiara tidak mengerti." Gugupku.


"Kamu tidak usah berbohong Tiara, lagian Mamih sudah tau kok kalo kalian itu sedang pisah ranjangkan."Jelasnya.


Mendengar itu, kini membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Karna sekuat apa pun aku menutupinya pasti akan ketahuan juga.


Saat ini Bu Mayang sudah mengetahui semuanya. Jadi mau tidak mau aku pun harus memberitahunya mengenai kejadian yang sebenarnya sedang terjadi.


Aku menundukkan kepalaku, karena bingung harus memulai ceritanya dari mana.


"Tiara,tolong beritahu Mamih.... Apa benar kalo kalian sedang pisah ranjang saat ini." Tanya Bu Mayang, sembari memegang pundakku.


"(Menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya)"


"Sejak kapan kalian pisah ranjang."


"Sejak kami pindah kerumah ini Mih." Ucapku ragu-ragu.


"Tapi kenapa harus seperti itu."


"Karna Mas Ryan tidak bisa mencintaiku Mih." Jawabku sedih.


Mengetahui itu, perlahan Bu Mayang pun mulai menarikku kedalam pelukannya.


"Tapi... Apakah kamu mencintai Ryan." Tanya Bu Mayang sembari mengusapi rambutku.


"Tiara sudah belajar untuk mencintainya sejak awal pernikahan kami Mih."


"Hmm... Karna Mamih akan menginap disini selama 1 minggu, maka selama itu Mamih akan bekerja keras untuk membantumu dalam mendapatkan cintanya Ryan." Sembari menatapku serius.


"Apa Mamih bisa melakukannya." Tanyaku tak yakin.


"Percayalah... Mamih pasti bisa membuat anak itu takluk ditanganku ini." Tersenyum dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Baiklah... Tiara percayakan semuanya kepada mamih." Tersenyum menyemangatinya.


__ADS_2