Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 35


__ADS_3

Kini Pa Bagas mulai mengintrogasi kami dengan pertanyaannya yang sangat mengejutkan kami berdua.


"Apa benar kalian berdua melakukannya." Tanyanya dengan sedikit menekankan suaranya.


Mendengar lontaran pertanyaannya membuat kami berdua saling menatap bingung.


"Maksud papih apaan sihh, melakukan apa maksudnya?." Tanya Ryan memastikan arah pertanyaannya Pa Bagas.


"Kalian tidak usah mengelak lagi, papih tau semuanya. Dan apa yang kalian lakukan itu sangatlah memalukan untuk keluarga besar kita. Karna Papih gak mau nama keluarga kita rusak maka dengan itu Papih akan menikahkan kalian berdua secepatnya."Tegasnya.


"Tapi Pih memangnya kami melakukan kesalahan apa sampai harus menikah dan sebesar apa kesalahan kami sampai-sampai harus merusak nama baik keluarga ini pih."Tanyaku yang saat ini diselimuti rasa penasaran.


Kini Pa Bagas mulai memijit-mijit pelipis kepalanya seperti orang yang merasa pusing untuk menanggapi semua pertanyaanku.


"Tadi mamih memergoki kalian yang sedang Making Love di kamar, dan alasan Papih menikahkan kalian karna Papih tidak ingin kamu sampai hamil di luar nikah karna jika itu sampai terjadi maka nama baik keluarga kita akan rusak Tiara." Jelasnya.


Kami berdua merasa shock saat tahu bahwa Bu Mayang sudah memberikan berita palsu kepada Pa Bagas dan juga Marcell.


Bu Mayang dengan tega menuduh kami berdua sudah melakukan hubungan intim.


Kami berdua hanya bisa menggeleng-geleng tak percaya dengan apa yang sudah Bu Mayang lakukan.


Saat kami menatap kesal ke arah Bu Mayang, dia dengan santainya malah menyunggingkan senyum kepada kami berdua, seperti ada sebuah rencana yang sudah diatur olehnya.


"Tapi Papih tidak bisa memutuskannya sebelum mendengarkan kebenarannya terlebih dalu." Ucap Ryan yang sedang berusaha untuk meyakinkan Pa Bagas.


"Papih ga akan mendengar alasan apa pun juga dari kalian berdua, Pokoknya minggu depan kalian berdua harus menikah. Karna keputusan Papih saat ini benar-benar sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugatkan lagi." Jelasnya sembari berlalu pergi meninggalkan kami.


Karna tak bisa berbuat apa-apa lagi kini kami hanya bisa menerima keputusan itu dengan sangat berat hati.


Sungguh situasi ini sangatlah membingungkan untuk kami, karna dengan kebohongan yang dibuat Bu Mayang kami dengan terpaksa harus menjalani pernikahan ini dengan penuh tekanan.


Jujur, kami ingin sekali menentang pernikahan ini dan memberitahukan semua kebenaran yang sesungguhnya kepada Pa Bagas.


Tapi kami takut jika nanti kami menentangnya itu hanya akan membuatnya semakin marah kepada kami.

__ADS_1


Maka dari itu kami pun hanya bisa pasrah menanggung akibat dari apa yang sudah Bu Mayang lakukan kepada kami.


...Ke Esokan Harinya...


Karena sebentar lagi pernikahanku akan berlangsung, kini aku memutuskan untuk kembali kerumah orang tua kandungku untuk meminta restu dan sembari memberitahukan mereka mengenai tanggal pernikahan ku nanti.


Tak ingin melihatku pergi sendirian, kini Bu Mayang menyuruh anaknya Ryan untuk mengantarku pergi.


Selama di perjalanan aku dan Ryan hanya duduk diam tanpa mengobrol sama sekali.


Dan semua itu terjadi karena paksaan pernikahan ini, coba saja jika kesalah pahaman ini tidak terjadi pasti saat ini aku masih bisa bersenda gurau bersamanya seperti dulu. Tapi karna semuanya sudah terjadi dan tak bisa dielakkan lagi.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, kini kami pun sampai dihalaman rumah kedua orang tuaku.


Saat aku menginjakkan kembali kakiku dirumah masa kecilku itu kini membuat hatiku merasa senang sekali.


Pas aku ingin masuk kedalam ternyata pintunya masih terkunci. Kucoba mengetuk-ngetuk pintunya sembari memanggili orang-orang rumah secara berulang kali.


Tok..tok..tok..tok


"Papah... Nathan... apa kalian ada dirumah, Mamah.. Tiara pulang." Panggilku, sembari terus mengetuki pintunya tanpa henti.


Setelah 5 menit lamanya memanggili mereka, kini pintunya mulai terbuka lebar.


Saat aku hendak memeluk orang yang keluar itu, tiba-tiba aku mengurungkan niatku saat mengetahui orang lainlah yang keluar dari dalam rumahku itu.


"Loh...Bapa ini siapa, kok bisa ada dirumah orang tua saya." Tanyaku bingung melihat kehadirannya.


"Oh saya adalah pemilik baru rumah ini nona, dan saya baru membelinya 2 minggu lalu dari Pak Rudi."


"Apa dijual...Tapi kenapa?." Monologku dalam hati.


"Terus mereka pindah kemana yah Pak." Tanyaku sedikit sedih.


"Saya kurang tau Nona untuk pastinya."

__ADS_1


"Hmm..baiklah pak terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu ya Pak..Permisi..." Pamitku kepada Bapak tersebut.


"Iya silakan." Senyumnya.


Mengetahui keluargaku yang pindah entah kemana, membuatku merasa begitu sedih dan juga kecewa.


Karna nanti pada hari pernikahanku aku tak akan di dampingi oleh kedua orang tuaku dan juga adik laki-lakiku.


Padahal aku sangat berharap jika nanti di acara istimewaku itu, seluruh keluargaku bisa datang dan ikut serta untuk memeriahkannya.


Kini aku memilih pergi dengan rasa kecewa yang teramat dalam. Ryan yang menyadari kesedihanku mulai merasa kasihan kepadaku.


"Apa kamu ingin mencari keberadaan mereka dulu sebelum kita pulang." Tanya Ryan.


"Menggeleng sedih."


Dan kini Ryan pun mulai membawaku untuk kembali kerumah.


Sesampainya dirumah, aku langsung berlari masuk menuju kamarku dengan tanpa menghiraukan panggilan para anggota keluarga yang lainnya.


Merasa khawatir dengan keadaanku Bu Mayang pun hendak menyusulku ke kamar, tapi Ryan dengan cepat langsung menahannya.


"Jangan dikejar Mih." Ucap Ryan sembari menahan tanggan Bu Mayang.


"Kenapa Ryan." Tanya Bu Mayang yang sedikit meninggikan suaranya.


"Ryan akan menjelaskan semuanya, jadi duduklah."


Karena merasa penasaran kini Bu Mayang pun kembali duduk dan mendengarkan semua penjelasannya dari Ryan.


Saat aku sudah berada di kamar, aku langsung menutup pintu dan juga menguncinya dari dalam.


Agar tak ada satu pun orang yang datang dan menggangguku.


Aku terduduk dilantai dengan isakan tangis yang sangat menyakitkan hatiku.

__ADS_1


__ADS_2