Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 28


__ADS_3

Setelah mengetahui pilihan yang di ambil oleh orang tuaku, kini membuat semua orang merasa terkejut seakan tak percaya.


Begitu pun dengan ku, saat aku mendengar papahku yang lebih memilih uang dari pada aku, kini membuat hatiku terasa begitu sakit sekali.


Ketika aku melihat papah mengambil cek uang yang di berikan Pa Bagas seketika air mataku berjatuhan membasahi kedua pipiku.


Sungguh saat ini aku benar-benar merasa kecewa sekali dengan kedua orang tuaku.


Karena kecewanya, aku pun mencoba menguatkan hatiku untuk menghampiri kedua orang tuaku yang saat ini sedang tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan uangnya.


Setelah berada dihadapannya kini ku coba untuk menatap mereka secara bergantian.


"Bersenang-senanglah dengan semua uang itu." Ucapku sendu


"Tiara..." Sahut mereka bersamaan.


"Kupikir dengan perginya aku selama ini, kalian akan berubah.. tapi kenyataannya tidak(Sembari tersenyum getir), Kalian memang tidak akan pernah bisa menyayangiku dengan tulus, kelian berdua itu terlalu tamak kepada uang. Bahkan hanya demi uang segitu kalian sampai rela memberikanku kepada orang lain. Memang kalian pikir aku ini apa?, aku bukanlah barang yang bisa diperjual belikan begitu saja mah..pah..." Sembari menangis terisak di hadapan mereka berdua.


Semua orang yang ada disana, mulai menatapku kasihan.


Karna tak ingin dikasihani oleh orang lain, aku mencoba untuk menguatkan diriku dalam menerima semua penghianatan yang sedang ku alami saat ini.

__ADS_1


"Aku rasa hutang budiku kepada kalian mungkin sudah bisa di anggap lunas kan." Menatap sendu keduanya.


Mendengar perkataanku kini kedua orang tuaku mulai menatapku kasihan.


"Mah..Pah.. terima kasih untuk semua lukanya, karna sekarang aku bukan lagi anak kalian maka dari itu aku akan pergi jauh bersama dengan keluarga baruku, ku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi. Dan mulai hari ini aku Tiara Margaretha akan menutup rapat-rapat lembaran hidupku bersama kalian untuk selamanya. Ku ucapkan terima kasih banyak kepada kalian, karna kalian sudah mau hadir dalam perjalanan kisah hidupku yang pahit ini, aku mencintai kalian Mah..Pah.." Isakku, sembil berlari pergi meninggalkan tempat pemakaman tersebut.


Melihat kepergianku, Pa Bagas dan keluarganya mulai ikut berlari untuk mengikutiku.


Saking sedihnya, aku hampir saja ingin tertabrak mobil. Tapi untungnya ada Ryan yang sudah menyelamatkanku dari kecelakaan tersebut.


"Tiara... apa yang ingin kau lakukan hemm." Sembari menatapku khawatir.


Bukannya menghiraukan pertanyaan Ryan, aku dengan sengajanya malah memeluk tubuhnya Ryan secara mendadak.


Kasihan melihat kehancuran yang ku alami, Ryan pun mulai membalas pelukanku seraya memberiku sebuah ketenangan.


"Tiara..(panggilnya pelan), tolong jangan menangis lagi ya, kan masih ada aku dan juga keluargaku yang menyayangimu."


"Hiks.. saya hanya merasa kecewa saja Mas dengan semua jalan takdir yang saya alami saat ini." Tanggisku dalam pelukan Ryan.


"(Mengusap lembut bagian punggungku), Kesedihan ini adalah bab terakhir dalam kisah hidupmu, dan untuk Bab selanjutnya kamu hanya akan merasakan kebahagiaan saja." Ucap Ryan yang saat ini sedang berusaha untuk menenangkanku.

__ADS_1


"Menangislah sepuasnya jika memang itu yang bisa membuatmu tenang."


Mendengar ucapannya kini membuatku semakin terisak didalam pelukannya.


Aku menangis sejadi-jadinya karena kekecewaan yamg selama ini aku alami.


Dan Ryan hanya bisa pasrah dengan semua yang ku lakukan padanya. Ryan yang merasa tak tega melihat isak tangisku, dia pun sampai tak tega melepaskan pelukanku.


"Semuanya luka sakitmu akan membaik seiring berjalannya waktu." Mendekap tubuhku dengan erat.


"Berhentilah menangis, karna aku merasa kasihan melihat semua berlian itu harus terbuang secara sia-sia dari mata indahmu ini." Mengusap air mataku pelan.


Kedua orang tua dan juga adiknya Ryan, yang saat ini sedang berdiri di sebrang jalan sembari menyaksikan kedekatan kami berdua, kini mereka pun mulai menyunggingkan senyum bahagianya.


Karna melihatku yang sedang bersama dengan Ryan, kini mereka pun memilih pergi meninggalkan kami berdua.


Ketika Ryan sedang mendekapku tiba-tiba saja pandangannya beralih pada lengan bajunya, yang saat ini dipenuhi dengan noda darahku.


Lalu Ryan menurunkan pandangannya untuk memeriksa lukaku dan saat dia melihatnya, kini raut wajah Ryan pun mulai terlihat cemas.


"Ti-tiara tanganmu berdarah." Sembari melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Ah iya (Sembari melirik lukanya sekilas), Mungkin karna tadi... saat paman mencengramnya begitu kuat, jadi nya berdarah lagi." Jawabku dengan santainya.


__ADS_2