
...Yang umurnya masih dibawah 18 tahun dilarang untuk membacanya ya. Jadi untuk para bocil bisa di skip aja Bab****nya....
Setelah sampai di penginapan Ryan langsung berlari masuk kedalam kamar dengan sangat terburu-buru.
Aku yang melihatnya berlari seperti orang kesakitan, langsung mengikutinya kedalam kamar untuk memastikan keadaannya.
Saat aku hendak menutup kembali pintu kamarnya, tiba-tiba saja ada tangan kekar yang melingkar dipinggangku.
Dan saat aku membalikkan badanku kearahnya, kini kulihat suamiku sedang bertelanjang dada dihadapanku.
Lalu aku mencoba untuk melepaskan tangannya itu dari pinggangku, namun Ryan malah semakin mempererat pelukannya hingga aku merasa kesulitan untuk melepaskannya.
"Mas lepaskan (Berontakku), Sebenarnya kamu tuh mau apa sih Mas." Ketusku
Setelah itu Ryan mulai mendekatkan wajahnya kearah leherku dan kemudian menciuminya secara berulang kali.
"(Mengecupi leherku), Aku menginginkanmu Tiara, aku benar-benar tidak kuat lagi." Jawabnya dengan suara yang begitu berat.
"Emphh... Mas tolong ja-jangan seperti itu."Eranganku, karena merasa kegelian dengan apa yang sedang Ryan lakukan kepadaku.
Mendengar suara eranganku, kini membuat Ryan semakin bergairah.
Disaat mulutnya bermain di bagian leherku, kini tangannya mulai menelusup masuk kedalam bajuku.
Saat ini tangganya sedang sibuk mengusapi bagian perutku, hingga membuatku menjadi menggidik karna saking gelinya.
"Eugh.. M-mas tolong he-hentikan." Berusaha menahan tangannya itu.
Merasa kesal dengan penolakanku, kini Ryan mulai menggendongku kearah ranjang.
Setelah itu dia menjatuhkan tubuhku dan kemudian mengungkungku di bawahnya.
Saat ini Ryan benar-benar sangat bernafsu sekali hingga aku pun merasa kesulitan untuk mengendalikannya.
__ADS_1
Dan aku pikir bahwa itu adalah efek karena Ryan terlalu banyak minum alkohol tadi, hingga akhirnya membuat dia menjadi sangat liar seperti ini.
Karna tak ingin melakukannya dalam keadaannya yang mabuk, aku terus berusaha untuk menjauhkan diriku darinya genggamannya.
Melihatku yang terus saja menolak setiap sentuhannya. Ryan pun akhirnya mengikat kedua tanganku pada Headboard dengan menggunakan sabuknya.
"Mas... tolong hentikan hiks.... aku takut Mas, melihatmu yang mabuk seperti ini." Isakku karena merasa ketakutan dengan perlakuannya.
Melihatku yang menangis karnanya, Ryan dengan begitu hati-hati mencoba untuk mendekatiku dan kemudian dia pun mengusapi air mataku.
"(Menyentuh wajahku),Aku tidak mabuk Tiara, bahkan aku masih sadar sampai saat ini."
"La-lalu kenapa kamu bersikap seperti ini kepadaku."
"Aku juga tidak tau, tapi saat ini tubuhku terasa begitu panas seperti terbakar dan aku juga tidak tau apa yang membuatku jadi seperti ini. Bahkan saat ini nafsuku juga begitu tinggi sekali hingga aku kesulitan untuk mengontrol diriku, jadi tolong bantu aku untuk menghilangkannya Tiara." Mohonnya padaku.
"Ta-tapi Mas aku belum bisa melakukannya bersamamu, Terlebih lagi jika harus melakukannya tanpa cinta, itu membuatku merasa berat Mas." Lirihku padanya.
"Aku meminta tolong kepadamu, karna aku tidak ingin melakukannya pada wanita lain. Apalagi kamu itu adalah istriku jadi aku memiliki hak atas dirimu."
"Ya sudah jika memang kamu tidak mau ya sudah baiklah, biar aku cari wanita lain saja untuk membantuku." Ucapnya yang sedari tadi menggeliat kepanasan.
Terkejut akan apa yang barusan suamiku ucapkan, aku dengan cepat langsung menahannya untuk pergi.
Aku tidak ingin membiarkan suamiku untuk pergi bermain dengan wanita lain diluaran sana, karna itu hanya akan menimbulkan masalah baru dalam rumah tangga kami.
"Ehh...jangan Mas." Menahan tanggannya yang hendak pergi keluar.
"Mmm... ya sudah, jika memang harus dengan seperti itu aku bisa menolongmu... maka aku akan melakukannya untukmu." Jawabku dengan sedikit gugup
Setelah mendengar persetujuanku, kini Ryan mulai melepaskan ikatan tanganku dan kemudian dia pun mulai ******* bibirku dengan rakus.
Merasa puas dengan bibirku, kini Ryan mulai menelusupkan wajahnya kebagian leherku sembari menghisapnya kuat.
__ADS_1
"Aaaaaahhh...." Satu ******* pun lolos dari mulutku.
Karna nafsunya yang semakin meningkat, dengan paksa Ryan pun langsung merobek bagian dressku, hingga menyisakan underware yang masih terpasang pada tubuhku.
Tergiur melihat lekuk tubuhku yang masih terpasang underware, maka dengan cepat Ryan pun langsung melucuti semuanya hingga kini tubuhku benar-benar polos tanpa sehelai kain pun.
Merasa malu bertelanjang bulat di hadapannya, Aku pun mencoba untuk menutupi nya dengan selimut. Namun, saat aku hendak menarik selimutnya dengan cepat Ryan pun langsung menahannya.
"Jangan ditutup, aku suka melihatnya." Sembari menghisap kedua gunung kembarku seperti layaknya bayi yang kehausan.
Apa yang Ryan lakukan saat ini benar-benar membuatku gila karena ulahnya.
Yang kami lakukan saat ini merupakan hal baru untuk kami lakukan, apalagi ini adalah kali pertamanya bagiku untuk mulai melakukannya bersama Ryan.
"M-mas itu su-sungguh menggelikan eugh..." Menggeliat kegelian.
Karena semakin terangsang kini Ryan pun mulai melucuti semua pakainnya hingga membuatnya polos, tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya yang indah itu.
Melihat tubuh Ryan yang telanjang bulat di hadapanku, kini aku pun langsung memalingkan wajahku dari nya.
"Tuhan, apakah aku harus memberikan kesucian yang sudah kujaga selama ini kepadanya, jujur aku sangat takut untuk melakukannya saat ini. Tapi walaupun aku ingin menolaknya sekali pun, aku rasa itu semua sudahlah terlambat. Karna bagaimana pun dia adalah suamiku dan dia pun memiliki hak untuk tubuhku ini." Bisikku dalam hati.
Saat aku sedang sibuk bergelud dengan semua isi pikiranku,tanpa kusadari kini tangan Ryan mulai turun menggerayami mahkotaku hingga membuatku meracau tidak karuan karna ulahnya.
"Emphh...." Menggigit pelan bagian bibir bawahku.
"Apa kau menyukainya sayang." Terus bermain dibawah sana.
"M-mas lepaskan a-aku ingin buang air kecil dulu M-mas." Menggeliat tak karuan karena kenakalan tangannya itu.
"Keluarkanlah sayang, biar aku bisa mencicipi rasanya." Tersenyum nakal kearahku.
Saking tak kuat menahannya,maka dengan napas yang tersenggal-senggal aku merasakan bahwa ada begitu banyak cairan yang keluar di bawah sana.
__ADS_1
Tanpa rasa jijik sedikit pun Ryan langsung menjuluskan lidahnya untuk mencicipinya. Sontak hal itu pun membuat tubuhku mengejang dengan perasaan yang campur aduk.
"Aaahhh... Mas..." Desahku dengan sedikit menahan kepalanya Ryan untuk tidak memperdalam juluran lidahnya itu.