Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 41


__ADS_3

Setelah puas bermain-main dibawah sana, kini Ryan pun mulai menatapku kembali dengan tatapannya yang penuh gairah.


"Tiara.... bolehkah aku meminta hakku sekarang." Pintanya padaku.


Mendengar permintaannya itu kini aku pun hanya bisa mengangguk pasrah kepadanya, karna jujur saat ini aku benar-benar menginginkannya juga.


Dengan tersenyum, kini Ryan pun mulai mengatur posisinya.


Merasa posisinya sudah pas, Ryan pun mulai membuka kakiku lebar. Sehingga dia pun bisa dengan jelas melihat bagian Mahkotaku itu.


"Aku harap kamu bisa menahannya yah..." Memperingatiku.


"Pelan-pelan Mas." Menatapnya dengan perasaan takut.


"Percayalah.... hanya sebentar kok." Sembari tersenyum kepadaku.


Secara perlahan, kini Ryan pun mulai mengarahkan kepemilikannya kearah Mahkotaku.


Ryan terus berusaha untuk menjebol dinding dalam Mahkotaku dengan begitu sulitnya.


Karnanya, aku sampai memejamkan mataku karena menahan sakit dibawah sana.


"M-mas sakit." Meringis kesakitan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tahanlah... tinggal sedikit lagi kok." Jawab Ryan yang saat ini masih berusahan memasukkannya.


Saking sulitnya untuk masuk,maka dengan begitu terpaksa Ryan pun memaksanya masuk dengan sekali hentakan saja.


"Arghhh... sakit." Sembari menitikkan air mataku karna saking sakitnya.


Merasa bersalah akan tindakannya itu, kini Ryan pun mulai mencium lembut bibirku untuk sedikit memberiku ketenangan.


Setelah cukup lama kami berciuman kini kami pun menyudahinya dengan saling beradu pandang.


"Apa masih sakit hemm." Mengusap bibirku yang basah karena ulahnya.


"Tidak.." Menggeleng pelan.


"Bolehkah aku mekanjutkannya lagi."


"(Mengangguk), tapi pelan-pelan ya Mas." pintaku padanya.


Dan Ryan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


Secara perlahan Ryan mulia menggerakkan pinggulnya pelan.

__ADS_1


Ketika dia mulai memaju mundurkannya ada rasa sensasi yang mulai memanas pada tubuhku.


Kugigit bibir bagian bawahku untuk tidak mengeluarkan suara-suara aneh yang menjijikan itu lagi.


Karna gerakannya semakin cepat aku mencoba menutup mulutku untuk tidak melepaskan suara aneh itu lagi.


"Jangan ditahan Ti-tiara, keluarkanlah a-aku ingin mendengarnya l-lagi Aaahhhh...." Ucap Ryan ditengah-tengah aktivitasnya itu.


Semakin kuat tempo yang Ryan berikan sampai-sampai membuatku tak bisa lagi menahan suara racauan aneh yang menjijikan itu.


"Aaahhh... Mas Emph aku i-ingin keluar."


"Keluarkanlah sayang...." Terus menghentakkannya tanpa henti.


Karna tak tahan lagi, aku pun kembali mengeluarkan cairan itu dibawah sana dengan begitu banyaknya.


"Empphh... M-mas aku lelah."


"Tu-tunggu sebentar lagi aahhh.."


Ryan yang belum mencapai puncaknya, kini mulai bermain dengan sangat kasar, hingga membuat area Mahkotaku menjadi begitu perih.


"Emphh.. M-mas pelan-pelan Aaahhh... Ini sa-sangat sa-sakit." Rintihku sembari sedikit mencakar bagian punggungnya Ryan.


Selama 15 menit lamanya Ryan menggempurku dengan begitu kasarnya, kini dia pun sudah mencapai pelepasannya.


"Hah... Akhirnya." Dengan nafas yang tersenggal-senggal.


Saat pelepasannya, tiba-tiba tubuhku bergetar hebat saat menerima cairan yang sudah Ryan keluarkan di dalam sana.


Kami melakukannya secara berulang kali sampai jam 12 malam.


Ketika beberapa kali mengalami pelepasan, kini kami pun mengakhiri permainan panas yang melelahkan itu.


Dan kini Ryan pun mulai ambruk di sampingku saat dia melakukan pelepasannya yang terakhir.


"Hufff..hufff... Terima Kasih." Sembari mengatur nafasnya.


"Tidurlah, kamu pasti merasa lelah." Sambungnya lagi, sembari menatapku.


"Iya mas, ta-tapi tolong lepaskan dulu milikmu itu. Ka-karna itu membuatku merasa tidak nyaman." Ucapku dengan gugup menatapnya.


Kini Ryan mulai menarik tubuhku masuk kedalam pelukannya.


"Biarkan saja, karna dia masih nyaman dengan tempat tinggal barunya itu." Bisiknya padaku.

__ADS_1


Mendengar bisikannya membuatku sedikit menggidik karena geli mendengar bisikannya yang menjijikan itu.


Karna begitu lelahnya dengan aktivitas panas tadi, kini kami pun mulai tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan.


...Ke Esokan Paginya...


Ryan pun bangun lebih awal dari biasanya. Saat dia hendak pergi mandi, dia terlebih dulu menatapku.


"Aku memang tidak mencintaimu, tapi aku akan selalu menjagamu dan juga memperdulikanmu. Jujur ingin rasanya ku coba untuk mencintaimu secara baik tapi untuk saat ini aku benar-benar merasa sulit untuk memberikan cintaku ini kepadaku Tiara. Tapi walaupun begitu kehadiranmu sangatlah penting bagi hidupku saat ini. Jadi tolong maafkan aku jika aku membuat hatimu kecewa karnaku. Ku harap kamu akan selalu setia bertahan disampingku sampai aku bisa sembuh dari luka masa lalu ku ini." Ucapnya sembari mengecup sekilas bibirku.


Kemudian setelahnya, Ryan pun mulai berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Saat Ryan sudah masuk kedalam, kini aku pun mulai membuka mataku dan menyandarkan punggungku ke bagian Headboard ranjang.


"Ternyata sesakit ini yah rasanya berjuang sendirian dengan seseorang yang masih terjebak dengan masa lalunya." Menitikkan air mataku.


Aku menangis karena tak sengaja mendengar perkataan yang Ryan ucapkan disaat aku sedang pura-pura tertidur.


Mengetahui itu, kini membuat hatiku terasa sesak karena saking sakitnya.


"Apakah tidak ada sedikit pun tempat untukku di hatimu Mas." Jeritku dalam hati.


Mendengar pintu kamar mandinya yang terbuka, aku dengan cepat langsung menghapus sisa-sisa air mataku dan kemudian kutarik selimutnya untuk menutupi bagian tubuhku yang polos.


"Kamu sudah bangun ternyata." Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ya sudah kalau begitu pergi lah mandi, karna nanti kedua orang tuaku akan mengajak kita untuk jalan-jalan." Sambungnya lagi.


"Mmm.... Baiklah." Sambil bangkit berdiri dari kasur.


Saat aku ingin melangkahkan kakiku tiba-tiba saja area sensitifku terasa ngilu dan perih sekali. Tapi karena harus cepat bersiap, maka aku pun mencoba untuk menahannya.


Melihatku yang berjalan sembari menahan sakit, Ryan pun langsung menghampiriku dengan cepat.


"Tiara kamu kenapa."


"Mmm...ini Mas, ba-bagian bawahku terasa perih sekali." Ucapku gugup.


Mengerti akan hal itu, tanpa meminta persetujuanku kini Ryan mulai menggendongku untuk masuk kedalam kamar mandi.


"M-mas biarkan aku melakukannya sendiri."


"Kamu bisa seperti ini karena ulahku, jadi biarkan aku membantumu."


"Baiklah..." Ucapku pasrah.

__ADS_1


__ADS_2