
"Kenapa bisa kalian berbuat setega ini kepada ku Hiks...."
Karena begitu hancurnya, sampai membuatku menjerit begitu kuat. Hingga membuat seluruh anggota keluarga menjadi merasa cemas setelah mendengarnya.
"AAAARRGGHH...,AKU BENCI KALIAN SEMUA Hiks..." Teriakku histeris dengan mengacak-acak rambut.
Tak lama setelah nya, tiba-tiba saja ada seseorang yang terus menerus mengetuki pintu kamarku tanpa henti.
Tok...tok...tok...
"Tiara buka pintunya Nak." Panggil Pa Bagas dengan paniknya.
"Ayo nak buka pintunya ini Mamih sayang." Ucap Bu Mayang yang terdengar seperti sedang menangis.
"Tiara buka pintunya cepat sebelum kami mendobraknya." Ancam Ryan sembari terus menggedori pintuku.
Mendengar Ryan yang akan mendobrak pintu kamarku. Aku dengan cepat langsung berpindah duduk didepan pintu agar bisa menahan dobrakannya.
"Tolong tinggalkan aku sendirian Hiks..."
"Tapi biarkan kami melihat kondisimu dulu sebentar." Ucap Pa Bagas.
"Tolong pergilah dari sana, aku sedang tidak ingin di ganggu Hikss.. Tolong mengertilah Hiks.." Bentakku.
"Tiara bukalah pintunya sebentar." Ucap Ryan yang masih saja menggedor-gedor pintuku.
"Jika kalian masih terus menggangguku aku akan nekad melukai diriku sekarang juga." Teriakku sembari mengancam mereka.
Merasa takut dengan ancamanku, kini mereka pun memilih pergi meninggalkan kamarku dengan perasaan yang khawatir kepada keadaanku.
"Hiks... Kenapa takdirku harus sehancur ini Tuhan..kenapa,Hiks... Padahal selama hidupku aku tak pernah sedikit pun berbuat jahat kepada siapa pun. Hiks... Tapi kenapa banyak sekali orang yang selalu ingin menyakitiku Hiks..." Tangisku sambil menatap nanar langit-langit kamarku.
"Jika memang takdirku harus sesakit ini, maka tolong kuatkan lagi hatiku untuk bisa melalui semua ini dengan ikhlas. Tolong jangan terlalu keras kepadaku, karna selama ini hanya diriku lah yang selalu mengobati setiap luka yang ada di hatiku ini. Tuhan, Aku hanya berjuang seorang diri di dunia ini, jadi tolong kasihani aku." Bisikku dalam hati
...****************...
...1 Minggu Kemudian...
Tepat pada hari ini, Aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Ryan.
Hari ini aku benar-benar diselimuti perasaan bimbang akan keputusanku untuk menikah dengan Ryan.
Karna aku masih belum yakin,apakah Ryan adalah pria yang tepat atau tidak untuk menjadi suamiku saat ini.
__ADS_1
Karna pada dasarnya, pernikahan kami bisa terjadi hanya karna kebohongan yang sudah di buat oleh Bu Mayang. Jadi bisa di bilang pernikahan kami ini terjadi karena keterpaksaan saja.
Sebenarnya, aku memang sempat menaruh hati kepada Ryan saat dia selalu memberiku perhatian yang manis.
Namun, aku tidak tau apakah dia memiliki perasaan yang sama atau tidak kepadaku.
Tapi karna semuanya sudah terjadi maka dengan perasaan yang masih bimbang, aku pun menjalani semua proses pernikahannya sampai akhir.
Seharusnya aku bisa merasa bahagia di acara pentingku ini tapi untuk saat ini aku benar-benar merasa sangat sedih.
Karna pada dasarnya, saat aku menjalani semua proses pernikahan, aku harus menjalaninya tanpa ada dampingan dari kedua orang tuaku sama sekali. Bahkan untuk sekedar menyaksikannya pun tidak.
Ingin rasanya ku menangis pada saat itu juga, tapi karna tak ingin mengecewakan anggota kekuarga yang lainnya, maka sebisa mungkin aku harus bisa menahannya sampai acara selesai.
Hari ini acara pernikahanku berjalan begitu lancar dan juga meriah. Ini semua berkat kerja keras yang dilakukan oleh Bu Mayang dan juga Pa Bagas.
...Malam Harinya...
Setelah acaranya selesai, kami semua memutuskan untuk kembali kerumah.
Dan sesampainya dirumah, kami berdua hendak masuk ke kamar kami untuk langsung beristirahat karena saking lelahnya.
Namun Pa Bagas tiba-tiba saja memanggil kami berdua untuk duduk sebentar bersamanya, Karna dia bilang ada obrolan penting yang akan Pa Bagas bicarakan bersama kami.
"Jadi gini... karna kalian berdua sudah resmi menjadi suami dan istri ja-."
"Terus kenapa Pih kalo kami sekarang sudah menjadi suami istri." Potong Ryan.
"(tersenyum tipis saat Ryan memotong pembicaraannya),Jadi Papih akan memberikan kalian sebuah rumah untuk menjadi hadiah pernikahan kalian."
"Kenapa Papih harus memberikan kami hadiah semahal itu Pih, kan kami bisa tinggal dirumah ini bersama-sama dengan kalian." Tanyaku yang sedikit merasa tak enak kepadanya.
"Karna papih ingin, kalian berdua bisa menjalani bahtra rumah tangga yang sesungguhnya, tanpa adanya campur tangan dari kami berdua lagi, dan Papih hanya ingin kalian berdua bisa menjalaninya dengan mandiri." Jelas Pa Bagas.
"Terserah papih.. Ryan cape pengen istirahat." Ketusnya, sembari berjalan pergi meninggalkanku dan juga Pa Bagas.
Melihat kepergiannya, aku pun langsung meminta izin kepada mertuaku itu.
"Emm... Pih Tiara ke kamar dulu ya."
"Pergilah dan tenangkan suamimu itu."
"Iya Pih." Sembari melangkah pergi meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
Aku menyusulnya kedakam kamar, dan kulihat saat ini dia sedang duduk kesal di atas tempat tidurnya.
Dengan perasaan yang ragu, ku coba untuk mendekatinya secara perlahan.
"Apa kamu merasa kesal dengan ucapan Papih tadi Mas." Tanyaku, sembari ikut duduk di sampingnya.
"Aku ingin istirahat sekarang, dan kamu juga harus istirahat. Karna besok kita akan segera pindah ke rumah yang baru." Sembari membaringkan tubuhnya.
"Apa Mas tidak akan mandi dulu."
"Tidak... Aku mau langsung tidur saja." Sembari tidur membelakangiku.
"Hmm..baiklah." Sembari menatap punggungnya sekilas.
Karna tubuhku terasa lelah dan berat, aku pun memutuskan untuk pergi mandi terlebih dahulu, dan selesai mandi aku pun ikut membaringkan tubuhku disebelah Suamiku.
...Keesokan Harinya...
Tepat jam 5 pagi, aku bangun lebih awal karena harus menyiapkan sarapan pagi untuk semua anggota keluarga.
Sebelum melakukannya, aku memilih untuk pergi mandi terlebih dahulu.
Karna Ryan masih tertidur lelap, aku pun langsung bergegas turun ke dapur untuk mulai memasak.
Setelah beberapa menit lamanya ku memasak,akhirnya masakannya bisa selesai tepat waktu. Lalu setelah itu ku hidangkan semuanya di meja makan.
Selesai menyiapkan semuanya, kini semua orang mulai berdatang.
"Pengantin baru sudah bangun ternyata." Sembari tersenyum menatapku.
"I-iya mih..." Tersipu malu karena ucapan Bu Mayang.
"Suamimu kemana, apa dia belum bangun." Tanya Pa Bagas.
"Emm.. Sepertinya belum Pih."
"Anak itu selalu saja begitu, padahal kan dia sudah menikah." Ketus Pa Bagas sembari menuangkan makanan ke piringnya.
"Mmm...sekarang kalian sarapan terlebih dulu ya."
"Loh.. Emangnya kamu gak akan ikut sarapan." Tanya Bu Mayang.
"Nanti aja mih, soalnya Tiara mau bangunin Mas Ryan dulu."
__ADS_1
"Mmm(Angguknya)." Sambil mengunyah makanannya.