
Setelah berada dalam kamar mandi kini Ryan pun mulai mendudukkanku sejenak di atas Closet.
"Kamu mau langsung mandi atau mau berendam dulu di air hangat."
"Aku ingin berendam dulu sebentar." Sahutku dengan sedikit menundukkan kepalaku.
Kemudian Ryan pun langsung menyiapkan air hangat yang akan ku pakai berendam nantinya.
Setelah air nya siap, kini Ryan pun kembali menggendong tubuhku dan kemudian mendudukkanku di dalam Bathup.
"Jangan terlalu lama berendam, takutnya nanti kamu malah masuk angin."
"Jika sakitnya mereda aku akan langsung selesai."
"Hemm ya sudah... Oh iya sekarang aku ada urusan dulu sebentar, dan jika kamu butuh sesuatu langsung telpon aku saja ya." Pamitnya padaku.
"Iya mas hati-hati." Tersenyum kaku kepadanya.
Setelah itu Ryan pun langsung bergegas pergi meninggalkanku sendirian.
Melihat kepergiannya, aku mencoba merilexkan diriku sembari menyandarkan kepalaku pada bagian Bathup.
Saat aku sedang melamun menatap langit-langit kamar mandi, tanpa terasa kini air mataku sudah bercucuran membasahi kedua pipiku.
"Tuhan... aku tidak pernah meminta untuk terjebak dalam hubungan yang seperti ini. Dan sampai kapan aku harus mempertahankan rumah tangga yang rumit ini. Walaupun baru 2 bulan lamanya kami bersama, tapi itu sudah sangat menyiksa batinku. Aku memang mencintainya, tapi... jika hanya aku yang berjuang untuk menjaga keutuhan Rumah Tangga ini, Jujur saja aku sangatlah tidak sanggup untuk melakukannya. Kenapa Takdirku harus serumit ini Tuhan...." Lirihku dalam hati.
20 menit lamanya ku berendam,aku pun langsung menyudahinya. Karna mengingat bahwa kami akan pergi hari ini.
Aku berjalan tertatih untuk keluar dari kamar mandi dengan dibalut handuk saja.
Saat aku ingin mengambil bajuku, tiba-tiba saja Ryan datang dengan menjinjing kantong plastik di tangannya.
"Kamu baru selesai mandi rupanya." Ucap Ryan yang saat ini sedang berdiri di belakangku.
"(Membalikkan badanku untuk menatapnya), M-mas sudah pulang." Merasa cangkung akan kehadirannya.
Bukannya menjawab,kini Ryan mulai menggendongku kearah tempat tidur.
"M-mas lepaskan, aku harus bersiap-siap sekarang."
"Masih lama kok, jadi santai aja." Membaringkan tubuhku diatas ranjang.
__ADS_1
"Sekarang buka kakiku, biar aku bisa mengobati lukanya."
"Ti-tidak... aku bisa melakukannya sendiri."
"Jangan membantahku Tiara." Ucapnya dengan penuh penekannan.
Takut mendengar nada suaranya yang seperti itu, kini aku pun mulai melebarkan kakiku dihadapannya.
Dan setelah kakiku terbuka, kini Ryan pun mulai mendekatkan wajahnya untuk melihat lukanya.
"Ternyata lecetnya parahnya juga yah." Ucap Ryan sembari mengoleskan salapnya dibawah sana.
"Empphh...mas pelan-pelan sakit." Meringis kesakitan.
"Tahan ya sebentar lagi beres kok." Sembari terus mengolesi obatnya.
Karna begitu perihnya, aku mencoba untuk menahannya sebentar.
"Nah sudah beres..." Menutup kembali obatnya.
"Te-terima kasih." Gugupku, karna malu kepadanya.
...Jam 10 Pagi...
Selesai bersiap-siap, kami berdua langsung pergi menghampiri mertuaku di tempat penginapannya.
Dan sesampainya disana, kulihat saat ini mereka sedang sibuk menaik-naikkan barang yang akan di bawanya nanti.
"Ada yang perlu Ryan bantu." Menawarkan Dirinya.
"Eh kalian sudah datang ternyata." Ucap Bu Mayang antusias.
Saat Bu Mayang hendak memelukku, tiba-tiba arah pandangannya turun kearah leherku.
Selesai melihatnya, kini Bu Mayang pun mulai tersenyum aneh sembari memelukku. Dan perlakuannya itu, kini membuatku menjadi merasa bingung kepadanya.
Selesai memelukku, kini Bu Mayang pun mulai berjalan menghampiri Pa Bagas yang saat ini tengah berbincang serius dengan suamiku.
Setelah berada di dekatnya kini Bu Mayang pun mulai membisikkan sesuatu di telinganya Pa Bagas.
Saat Bu Mayang sedang membisikkannya, sontak arah pandang Pa Bagas mulai ikut melihat kearah leherku juga.
__ADS_1
Kini hal itu pun membuatku menjadi sangat penasaran dengan apa yang sudah mertuaku lihat di leherku.
"Sepertinya, aku ingin ke toilet dulu sebentar."
"Oh..iya pergilah, kami akan menunggumu." Ucap Ryan yang tengah sibuk menaikkan barang.
"Baiklah." Berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga diluar.
Aku langsung bergegas masuk kedalam toilet dan melihat pantulan diriku dalam cermin yang ada disana.
Saat aku melihatnya, sungguh betapa terkejutnya aku saat melihat beberapa tanda merah yang ada di leherku.
"Haishhh.... kenapa sih Mas Ryan harus membuat kissmark sebanyak ini, apalagi tadi Papih dan Mamih memperhatikannya juga ishhh malu-maluin banget sih." Sembari memegangi tanda merahnya.
"Aduh... kenapa pake kelihatan segala sihh." Gerutuku dari tadi.
Merasa malu dengan adanya tanda merah tersebut, maka dengan cepat aku langsung menutupinya dengan concealer, supaya tidak begitu kelihat.
Selesai menutupinya, aku pun langsung keluar dari toilet dan kemudian berjalan pergi menghampiri mertua dan juga suamiku yang sedari tadi sedang menungguku.
Karna sudah siap semuanya, kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat yang sudah di tentukan oleh mertuaku.
Kami di ajak berlibur untuk mengitari tempat-tempat wisata yang ada dibali dan setelah cukup lama berkeliling kami pun menyempatkan untuk melakukan piknik sebentar di dekat pantai.
Berlibur di bali merupakan suatu moment yang sangat memuaskan untuk kami.
Merasa lelah karna melakukan perjalanan panjang, kini kami pun memutuskan untuk kembali ke tempat penginapan untuk beristirahat.
Sesampainya di penginapan, aku langsung bergegas membersihkan diriku sejenak.
Dan selesai mandi aku langsung bergegas pergi kedapur untuk menghangatkan sisa makanan yang diberikan oleh ibu mertuaku.
Disaat aku ingin menyiapkannya, tiba-tiba saja Ryan datang menghampiriku.
"Tiara... kamu lagi sibuk yah." Tanyanya dari arah belakangku.
"(Membalikkan badanku kearahnya), tidak terlalu... kenapa?, apa Mas membutuhkan sesuatu." Tanyaku padanya.
"Mmm... ini, tadi aku baru saja dapat telpon dari asistenku kalau nanti lusa patner kerjasamaku akan datang untuk bertemu denganku, Maka dari itu aku ingin mengajakmu packing, agar besok kita bisa pulang."
"Ya sudah baiklah, setelah makan malam kita akan langsung packing." Jawabku, sambil kembali fokus menyiapkan makan malam kami.
__ADS_1