
"Yosua... (Menarik paksa baju yosua), apa yang sedang kau lakukan hah, ayo cepat bangun sekarang juga." Bentak paman kepada Yosua.
"Biarkan aku melakukannya ayah, aku rela melakukan ini hanya demi kebaikan keluarga kita, jadi tolong mengertilah ayah." Tegas Yosua yang masih terus bersimpun.
"Ouhh jadi pria brengsek yang sudah menyakiti putriku ini adalah ayahmu Bapak Manager Yosua." Ucap Pa Bagas dengan penuh penekanan.
Seketika paman menatap penuh arti ke arah Pa Bagas, setelah mendengarnya mengucapkan nama dan juga jabatan yang di pegang oleh anaknya itu.
Saat ini paman benar-benar di buat bingung karena Pa Bagas.
"Ck.. kenapa?, apa anda merasa terkejut setelah mendengarnya." Ucap Pa Bagas Sinis.
"Yosua... dia itu siapa?, kenapa dia bisa mengenalmu."
"(Menghela napasnya pelan), dia adalah Bosku dan juga pemilik perusahaaan, di tempatku bekerja saat ini yah." Sahut Yosua dengan lesu nya.
Seketika paman pun merasa terkejut setelah mengetahui hal itu.
Merasa tak enak, kini paman pun mulai ikut bersimpun dan meminta maaf atas ketidak sopanan yang sudah dia lakukan kepada Pa Bagas.
__ADS_1
Namun Pa Bagas hanya menatap acuh, seolah tak peduli dengan apa yang sedang paman lakukan di hadapannya.
"Ck..jika anda ingin bersimpun dan meminta pengampunan atas kesalahanmu itu, maka janganlah memintanya kepadaku. Tetapi mintalah kepada putriku ini, Orang yang selama ini selalu kau sakiti hatinya." Sembari merangkul pundakku.
Merasa tak setuju dengan perkataan Pa Bagas, Kini paman pun dengan cepat bangkit berdiri sembari menatapku tajam.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau melakukannya, apalagi untuk gadis pembawa sial ini." Bentaknya, sembari mendorong tubuhku keras.
Lalu Pa Bagas dengan cepat langsung menahan tubuhku yang hendak terjatuh.
Tak suka melihat perlakuan kasar yang paman berikan, kini membuat Pa Bagas menjadi sangat marah kepadanya.
"Beraninya kau melakukan itu." Bentak Pa Bagas, sembari menarik keras Krah bajunya paman.
Aku mencoba untuk memeluk tubuh Pa Bagas untuk sedikit meredakan emosinya itu.
"Yosua.. kau urus ayahmu itu dan mulai besok kau tidak usah lagi masuk ke kantorku. Karna mulai hari ini aku sudah memecatmu." Sembari mendekapku.
Yosua yang mendengar gugatan pemecatan dirinya, dengan cepat ia bersimpun dan kembali memohon agar Pa Bagas mau mencabut kembali ucapannya itu.
__ADS_1
Namun karena sudah muaknya Pa Bagas dengan semua perlakuan yang paman lakukan kepadaku tadi.
Kini Pa Bagas pun tak ingin menghiraukan kembali sujud mohon yang dilakukan Yosua di hadapannya itu.
Ketika Pa Bagas sedang merangkulku, tiba-tiba saja dia melihat ada banyak bercak darah di tangannya .
Karna merasa tidak ada luka di tangannya, lalu dia pun langsung mengecek bagian lenganku yang sedang terluka, untuk sekedar memastikan keraguannya itu.
Dan ketika Pa Bagas mengeceknya, ternyata sudah ada begitu banyak darah yang keluar. Mendadak wajahnya Pa Bagas pun berubah menjadi begitu cemas melihat keadaanku.
"Astaga Tiara, luka mu berdarah lagi Nak." Ucapnya pelan, sembari menutup kembali lukaku dengan selendang milikku.
"(Mengangguk lirih karena menahan rasa sakit di lenganku)."
Khawatir dengan keadaanku, kini Pa Bagas pun memutuskan untuk secepatnya membawaku pergi dari sana.
Namun saat kami hendak pergi tiba-tiba saja kedua orang tuaku datang menghalangi jalan kami.
Ketika mereka sudah berada dihadapan kami, kini kedua orang tuaku mulai bersimpun dan memohon kepada Pa Bagas agar tidak membawaku pergi bersamannya
__ADS_1
Aku yang melihat kedua orang tuaku bersimpun seperti itu di hadapanku, kini aku pun dengan cepat menyuruh mereka untuk bangun.
Secara perlahan ku bantu mereka untuk kembali berdiri.