Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 25


__ADS_3

"Sudah kubilang, kau itu tidak akan pernah menjadi apapun. Tapi kau malah bermimpi menjadi orang sukses hahaha mimpi mu ketinggian Tiara hahaha dasar tukang mimpi hahaha." Tertawa dengan begitu keras di hadapanku.


"Bahkan kemarin, kamu juga sok-sokan bilang bakalan menyaingi posisi anakku Yosua haha dasar tukang mimpi. Udahlah Tiara, kamu tuh ga usah terlalu banyak gaya, kalo udah dasarnya susah ya udah susah aja ga usah kamu berharap tinggi menjadi seorang milyader karna sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menggapainya, kenapa tak bisa?, ya karna kau adalah anak yang tidak berpendidikan tinggi, kau akan kesulitan dalam mencapai apapun dengan gelar sekolah SMA mu itu, dasar anak bodoh kau." Bentak paman sambil kembali tertawa di hadapanku.


Mendengar semua caciannya kini membuat hatiku terasa sakit sekali.


Ingin rasanya aku membunuhnya dengan tanganku pada hari ini juga, tapi hal itu begitu sulit kulakukan karena mengingat dirinya adalah kakak dari papahku.


Ku coba menahan semua rasa sakit itu dengan disertai deraian air mataku.


Untuk hari ini paman benar-benar sudah melampaui batasannya.


Pa Bagas yang merasa tak terima melihatku di permalukan di depan banyak orang, kini Pa Bagas pun datang menghampiri paman dan kemudian meninju wajah paman dengan begitu kerasnya.


"Bughh..." Satu tinjuan mendarat di pipi kiri paman.


"Kau.." Ucap paman dengan geramnya.


Tak terima dengan perlakuan Pa Bagas, kini paman pun berniat membalas pukulannya itu.

__ADS_1


Tapi ketika paman ingin membalasnya Pa Bagas dengan begitu cepatnya langsung menangkis pukulannya itu.


"Ck... Beraninya kau memukulku, memangnya kau siapa tuan.. berani-beraninya kau datang dan ikut campur dengan urusan keluargaku." Menatap tajam kearah Pa Bagas.


"Jelas saja saya ikut campur, setelah melihat semua perlakuan buruk yang anda berikan kepada putri kesayanganku ini, masa iya saya hanya diam saja menyaksikannya." Sembari merangkul bahuku.


"Putri kesayangan..." Ucap semua anggota keluargaku.


Ketika Pa Bagas mengatakan kebenaran tersebut, terlihat jelas saat ini semua orang sedang merasa kebingungan dengan apa yang barusan mereka dengarkan.


Dan bahkan kedua orang tuaku pun tak kalah terkejutnya setelah mendengarkan hal itu.


Mendengar itu, kini Pa Bagas hanya tersenyum dengan sinis ke arah pamanku.


"Iya saya tau itu, tapi untuk sekarang aku sudah mengangkatnya menjadi putriku. Bahkan dia pun akan menjadi pewaris di keluargaku."


Seketika semua orang pun tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Pa Bagas.


Begitu pun denganku, yang menatap Pa Bagas shock seakan tak percaya dengan apa yang sudah dia katakan tadi.

__ADS_1


"Kau mengangkat anak sialan ini menjadi putrimu dan bahkan kau pun mau memberikannya warisan juga, hem memang siapa kau ini hah dan sekaya apa kau sampai ingin memberinya warisan?, Hemm ya gak apa-apa sih,Tapi Jika hartamu tidak sebanyak hartaku mending kau tak usah sok-sokan deh memberikan anak sialan ini warisan." Tanya paman dengan angkuhnya.


Kini Pa Bagas hanya menanggapi semua pertanyaan itu dengan senyuman smirk.


Karena seperti yang ku tau Pa Bagas itu merupakan orang yang paling kaya di kota Dairi, bahkan di dunia perbisnisan pun Pa Bagas adalah orang yang paling berpengaruh besar di dalamnya.


"Perkenalkan saya adalah Bagas Radendra seorang pengusaha terkenal di kota Dairi ini, dan untuk total kekayaan yang saya miliki bisa dibilang cukuplah untuk menghidupi 7 generasi yang akan datang nantinya." Jawab Pa Bagas dengan santainya.


Kini paman hanya berdiri termangu sembari menatapku dan juga Pa Bagas secara bergantian.


Saat ini Paman benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


Ditengah-tengah perdebatan Paman dan juga Pa Bagas, tiba-tiba saja Bang Yosua anaknya paman datang menghampiri kami.


Setelah berada di hadapan kami kini dia pun mulai bersimpun sembari menyatukan kedua tangannya untuk meminta maaf kepada kami.


"Pa tolong maafkan semua perlakuan buruk yang sudah ayah saya Lakukan tadi." Memohon maaf kepada Pa Bagas.


Melihat tindakan yang di lakukan oleh Yosua, membuat paman menjadi tersulut emosi karena tak terima melihat anaknya bersimpun maaf di hadapanku dan juga Pa Bagas.

__ADS_1


__ADS_2