Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 37


__ADS_3

Ku tinggalkan mereka sejenak untuk pergi menyusul suamiku yang masih terlelap tidur dikamarnya.


Sebelum aku membangunkannya, terlebih dulu ku tatap wajah pulasnya itu sejenak.


"Ternyata dia sangatlah tampan jika dilihat sedekat ini." Monologku dalam hati sambil tersenyum menatapnya.


Sesaat setelah itu,aku pun tersadar dari lamunanku dan kemudian langsung membangunkannya dengan cepat.


"Mas... ayo bangun, dah pagi loh ini." Ucapku sembari menggoyang-goyangkan tubuh Ryan pelan.


Merasa terusik oleh ku, kini Ryan mulai menggeliatkan tubuhnya hingga dia terbangun dari tidur nyenyaknya itu.


"Mmm (Gumamnya dengan mata yang masih tertutup), jam berapa sekarang." Dengan suara khas bangun tidurnya.


"Jam setengah 7 Mas."


"Mmm,(Mengangguk-anggukkan kepalanya)."


"Mas mau mandi dulu atau mau langsung sarapan aja."


"Mmm... kamu sarapan duluan aja nanti aku akan menyusul setelah mandi."


"Ya sudah kalau begitu buruan ya Mas, soalnya kasian yang lainnya pada nungguin di bawah." Ucapku sembari bangkit dari dudukku.


"Mmm.. iya."


Setelah membangunkan Ryan, aku pun langsung turun kembali kebawah untuk bergabung makan bersama mereka.


"Ryan nya mana, kok ngga bareng turunnya." Tanya Bu Mayang.


"Mas Ryan nya lagi mandi mih, paling bentar lagi juga turun kok." Jawabku sembari duduk di sampingnya Bu Mayang.


"Ya sudah kalau begitu kamu makanlah yang banyak yah... supaya kamu bisa punya stamina yang cukup untuk melayani Ryan setiap harinya, karna biasanya pengantin baru itu suka tidak terkontrol...dan pastinya akan membuatmu kewalahan nantinya." Ucap Bu Mayang dengan santainya sembari melahap buah apel.


Ketika mendengar perkataan Bu Mayang, sontak membuat Pa Bagas dan juga Marcell langsung tertawa geli mendengarnya.


Mereka tertawa terkikik karena mereka mengerti kearah mana ucapan Bu Mayang itu pergi.


Aku yang mendengar suara tawa mereka, langsung membuatku tertunduk malu karena lelucon yang Bu Mayang katakan tadi.


"Apa yang kalian tertawakan." Ucap Ryan sembari duduk di sebelahku.


Melihat kedatangan Ryan yang tiba-tiba, sontak membuat gelak tawa mereka terhenti begitu saja.


"Kagak ada kok bang." Ucap Marcell yang sedikit takut karena di tatap oleh Ryan.

__ADS_1


"Udah mending kamu makan aja sebelum makanannya keburu dingin." Ucap Pa Bagas untuk mengalihkan pembicaraan.


Karena begitu laparnya, kini Ryan mulai memakan makanan yang sudah ku siapkan tadi dengan begitu lahapnya.


Selesai makan aku berniat ingin membereskan semua piring kotornya.


Namun, tiba-tiba saja Ryan menyuruh kami semua untuk berkumpul di ruang tengah, untuk membicarakan hal yang penting.


Lalu kami semua pun langsung berjalan bersamaan mengikuti langkah Ryan menuju ruang tengah.


"Kamu mau bicara apa Ryan sampai, kami semua harus berkumpul disini." Tanya Pa Bagas.


"Iya bang emang obrolannya penting banget ya." Tanya Marcell penasaran


"Tidak begitu penting....Jadi Ryan tuh hanya ingin memberitahu kalian semua,bahwa hari ini aku dan juga Tiara akan pindah dari rumah ini."


"Hah (Kaget mendengar ucapan Ryan), Kok.. buru-buru banget sih Ryan, dan kenapa harus pindah kan rumah ini rumah kalian juga." Ucap Bu Mayang sedih.


"Cepat lebih baik Mih, lagian kan Ryan harus mulai belajar menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluargaku nanti."


"Jika itu sudah menjadi keputusan mutlak mu,maka Papih akan mendukungnya." Sembari menepuk bahu Ryan.


Setelah perbincangan panjang kami selesai, kini aku dan juga suamiku mulai bergegas untuk mengemasi semua pakaian kami untuk persiapan pindah ke rumah yang baru.


Selesai berkemas kami berdua langsung turun untuk menemui anggota keluarga yang lain untuk berpamitan pergi.


"Iya...Ryan pasti akan menjaganya."


"Mih Tiara pamit ya." Menatapnya sendu.


Merasa sedih karena harus berpisah denganku, kini Bu Mayang mulai menarikku kedalam dekapannya.


"Tiara putriku.." Tangis Bu Mayang dalam pelukannya.


"Berhentilah menangis... karna itu hanya akan melukai hatiku saja Mih." Mengusapi lembut bagian punggungnya.


"Mmm,(Mengangguk)... Jangan pernah lupa yah buat jengukin Mamih kesini." Sembari menangkup kedua pipiku.


"Iya Mih Tiara janji... jadi selama Tiara tidak ada Mamih harus selalu sehat yah."


"Iya baiklah." Sembari menciumi setiap inci wajahku.


Selesai dengan moment haru perpisahan kami, kini kami pun mulai berjalan pergi meninggalkan kediaman Radendra.


Seperti biasa, selama kami berada di perjalanan... tak ada sepatah kata pun yang terucap diantara kami.

__ADS_1


Selama di perjalanan, kami hanya duduk diam tanpa bicara sama sekali. Ya seperti layaknya orang asing yang tidak saling mengenal.


1 jam lamanya di perjalanan, kini kami pun sampai di sebuah rumah mewah yang telah Pa Bagas berikan kepada kami.


Kami masuk kedalam rumah secara bersamaan.


Sesaat kami mencoba untuk mengamati setiap keindahan yang ada di dalam rumah tersebut.


"Rumahnya Indah ya Mas." Berdecak kagum melihatnya.


"Hmm."


Saat aku hendak berjalan mengelilingi rumah itu, tiba-tiba saja Ryan menahan tanganku.


"Tiara.." Sembari menggenggam tanganku dengan ekspresi wajah yang serius.


"(Menoleh kearahnya), Iya Mas."


"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


"Mmm... katakanlah." Menatapnya serius.


"A-aku ingin mulai saat ini kita pisah ranjang dulu dan jika kedua orang tuaku datang kesini, kita kembali satu ranjang lagi."


"Ke-kenapa harus seperti itu Mas, kan kita sudah sah menjadi suami istri." Merasa sedih dengan perkataan Ryan tadi.


"Itu Karna aku tidak mencintaimu sama sekali."


Jleb... ucapannya itu terasa seperti menusuk dalam kehatiku. Apalagi saat ini ucapannya itu terus menerus terngiang di telingaku tanpa hentinya.


Seketika hatiku terasa sakit setelah mendengar kenyataan pahit yang Ryan ucapkan kepadaku.


Mendengar itu kini membuatku menjadi sadar, bahwa perjalanan rumah tangga yang kujalani saat ini hanya akan membuatku berjuang seorang diri untuk mempertahankan keutuhannya.


"(Berusaha tegar di hadapannya), oh... Baiklah...aku mengerti akan hal itu dan jika itu yang Mas inginkan aku akan mengikutinya." Tersenyum getir.


"Terima kasih karna sudah mau memahamiku." Sembari melangkah pergi meninggalkanku.


Melihat kepergiannya dari hadapanku, membuat hatiku terasa begitu sesak. Hatiku terasa tercabik-cabik ketika mengingat ucapannya tadi.


Saking sakitnya, kini aku tak bisa lagi menahan bendungan air mataku.


Air mataku keluar dengan begitu derasnya disaat ucapan Ryan kembali terngiang-ngiang di dalam telingaku.


Kucoba sebisa mungkin untuk menguatkan diriku supaya aku bisa ikhlas menerima semuanya dengan lapang dada.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2