Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 34


__ADS_3

Setibanya di depan kamar Ryan, aku mencoba untuk mengetuki pintu kamarnya itu dengan kuat.


Tok..tok..tok..tok..


Karna sudah cukup lama ku mengetukinya tapi tak ada jawaban apa pun yang Ryan berikan dari dalam kamarnya.


Lalu dengan begitu terpaksa aku langsung nyelong masuk kedalam kamarnya dan saat kulihat, ternyata tak ada tanda-tanda keberadaannya.


Ku coba memanggili namanya secara berulang kali supaya dia bisa menjawab panggilanku.


"Mas Ryan ayo kita sarapan.. semua nya sedang menunggu kita di bawah."


"Mas Ryan Kamu dimana." Panggilku lagi.


Setelah cukup lama aku memanggilinya Kini Ryan pun membalas panggilanku itu dari dalam kamar mandinya.


"Ya tunggu lah disitu sebentar, karna aku masih di kamar mandi." Teriaknya dari balik kamar mandinya.


"Ya sudah aku tunggu disini yah."


"Iya duduklah disana, sebentar lagi aku selesai."


Sudah cukup lama aku menunggunya, kini Ryan pun mulai keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya bertelanjang dada saja.


Dia berjalan sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, Pas dia sudah berada di dekatku tiba-tiba saja kakinya tersandung karna karpet.


Hingga membuatnya terjatuh di atas tubuhku.


Kini kami pun mulai beradu pandang satu sama lainnya.

__ADS_1


Ketika posisi kami sedang seperti itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kedalam kamar dan dia pun melihat posisi kami dengan ekspresinya yang begitu terkejut.


"Kalian berdua sedang apa di kamar berduaan."


Terkejut dengan kehadirannya aku pun dengan cepat langsung mendorong tubuh Ryan dari atas tubuhku. Karna takut terjadi kesalah pahaman nantinya.


"Mmm.. mamih, Ti-tiara bisa jelasin semuanya dan ini tidak seperti yang mamih pikirkan." Gugupku.


"Mamih harusnya ketuk pintu dulu dong kalo mau masuk." Ketus Ryan yang terlihat sedang merasa malu untuk hal yang baru saja terjadi.


Ketika aku ingin menjelaskan kebenarannya, kini Bu Mayang mulai tersenyum-senyum sembari memeluk kami bergantian.


Tingkah laku aneh yang ditunjukkannya sontak membuat kami saling menatap bingung ke arah Bu Mayang.


"Harusnya kalian tahan dulu dong, masa iya kalian mau making love dulu sebelum nikah kan dosa tau." Ucapnya sembari tersenyum-senyum.


Kami menggeleng bingung dengan perkataan yang Bu Mayang lontarkan kepada kami.


"Mamih ngomong apaan sih." Mengerutkan keningnya.


"Sepertinya mamih salah paham deh sama kita." Mencoba untuk meyakinkan Bu Mayang yang saat ini sedang tersenyum nakal ke arah kami berdua.


Tidak ingin mendengarkan penjelasan kami, kini Bu Mayang malah berlari pergi keluar kamar.


Sontak aku dan juga Ryan pun langsung mengikutinya dan mencoba menjelaskan semua kesalah pahaman yang terjadi.


Saat ini Bu Mayang berlari pergi ke ruang tamu untuk menghampiri Pa Bagas dan juga Marcell yang sedang asik mengobrol.


"Papih... Papih....mamih punya kabar gembira." Teriaknya dengan lantang.

__ADS_1


"Ada apa mih, katakan." Tanya Pa Bagas penasaran


"Iya ada kabar apaan sihh sampe teriak-teriak gitu segala."Tanya Marcell yang juga ikut penasaran


"Sebentar lagi Ryan akan menikah."


"APA...." Jawab mereka bersamaan.


"Dengan siapa mih." Ucap Marcell kepo.


"Ryan akan menikah dengan Tiara." Jawabnya antusias.


"APA...." Ucap mereka bersamaan dengan ekspresi yang begitu terkejut.


"Mamih ngga bohong kan." Tanya Pa Bagas memastikan.


"Iya bener pih, soalnya tadi mamih lihat mereka berdua itu lagi making love di kamarnya Ryan." Ucap Bu Mayang pelan.


"APA...." Ucap mereka bersamaan


Melihat semua kekacauan yang sudah dilakukan Bu Mayang, kini aku dan juga Ryan hanya bisa menarik napas kami dengan kasar.


kami berdua merasa marah dengan semua situasi buruk yang sedang terjadi kepada kami.


Hingga membuat perasaan kami benar-benar campur aduk untuk menanggapi semua kesalah pahaman itu.


Karena kesalah pahaman yang dibuat oleh Bu Mayang, kini kami dengan perasaan yang begitu terpaksa harus mau menerima hukuman apa pun yang akan Pa Bagas berikan kepada kami.


Yang kami sendiri pun tak tau mengenai hukuman apa yang akan kami terima nantinya.

__ADS_1


Kini Pa Bagas terlihat begitu marah sekali kepada kami dan melihat ekspresinya yang seperti itu sontak membuat kami berdua merasa takut untuk menatapnya saat ini.


__ADS_2