
Alin Odity Hamra duduk terdiam, terperosok pada seribu satu pertanyaan dan tersesat dalam kemarahan yang tidak tertahankan. Hanya bisa membisu di kehampaan karena mata hati telah tertutup dan jiwanya nyaris hancur.
“Maafkan saya! Saya terpaksa membatalkan pertunangan ini, karena saya sudah menemukan seorang wanita yang lebih baik dari Alin.”
Alaric benar-benar keterlaluan, berani dia berkata seperti itu di depan kedua orang tua Alin. Dia tidak menganggap keberadaan Alin sama sekali. Gadis yang mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati tetapi tega dikhianati.
Tujuh tahun mereka membina hubungan sejak duduk di bangku SMA. Alin masih ingat betul ketika setahun yang lalu Alaric meminta kepada kedua orang tuanya untuk meresmikan hubungan mereka. Saat itu, dia bilang ingin segera terikat karena tidak mau kehilangan gadis berlesung pipi itu. Namun, semua itu palsu. Kenyataannya sekarang dia meninggalkan Alin terikat pada rantai yang telah dililitkan di hati.
“Saya tak sanggup lagi melanjutkan hubungan ini. Alin tak bisa membuat saya bahagia. Saya benar-benar tertekan!” Alaric menampakkan wajah memelas, seolah dia adalah korban.
Alin ingin melemparkan asbak di atas meja ke muka laki-laki tidak berperasaan yang ada di hadapannya. Dia mempermalukan Alin di depan keluarganya. Harga diri Alin dinjak-injak oleh laki-laki tidak tahu malu itu. Tega sekali dia merendahkan Alin tanpa peduli pada kenangan indah yang pernah terajut di antara mereka berdua.
Mata Alin nanar menatap lurus ke arah Alaric, sekujur tubuhnya terasa panas seolah terbakar. Darahnya mendidih, dada terasa sesak mau meledak hingga emosi membuncah tidak mampu dikendalikan lagi.
“Stop! Sudah cukup semua yang kamu katakan, dan telingaku pun sudah hampir melepuh mendengarnya!” Alin bangkit dari tempat duduknya yang mulai membara.
“Sekarang kamu boleh pergi, karena aku juga tak sudi melanjutkan omong-kosong ini! Pergilah! Kejarlah wanita terbaikmu itu!” Alin menarik cincin pertunangan dari jarinya dan dilemparkan tepat ke wajah Alaric yang memuakkan.
“Alin! Alin!” Mama Alin pun tidak mampu berkata-kata, melihat putrinya berlalu meninggalkan mereka begitu saja.
Wanita paruh baya itupun merasakan sakit, sama seperti yang dirasakan putrinya. Ingin sekali ia menampar, meninju dan menghajar pemuda tidak tahu diri yang duduk tertunduk. Namun, dia mencoba menahan diri sekuat mungkin karena wajah suaminya jauh lebih menakutkan. Seandainya saja Tuan Vishaka Hamra bisa berdiri tegap dan tidak bergantung pada kursi rodanya, bisa jadi Alaric terbunuh saat itu juga.
“Alaric, pergilah dari sini! Jangan pernah menampakkan dirimu di sini lagi seumur hidupmu!” ujar Nyonya Zivaa Hamra dengan mata memerah.
“Sekali lagi maafkan saya,” hanya kata maaf yang mampu diucapkan Alaric, lalu dia melangkah keluar dari kediaman keluarga Hamra, menutup kisah lamanya.
^^o^^
Alin terbujur kaku di atas tempat tidur, airmatapun mengalir deras tidak mau berhenti. Tatapannya kosong, hanya mampu memandang langit-langit kamar dan mendengar cicak-cicak di dinding yang saling menertawakan keruntuhannya.
__ADS_1
Bayangkan saja, tinggal dua bulan lagi dia akan menyandang status sebagai Nyonya Alaric Zhafar, undangan pun sudah dipesan, tetapi semua itu musnah seketika hanya karena rumput tetangga yang lebih hijau. Alin sungguh merasa terhina.
Meski tidak diucapkan dengan lantang, tetapi dia yakin kalau Tuhan mendengarnya mengumpat, mencaci dan menyumpahi Alaric. Alin sakit hati dengan pengkhianatan lelaki itu. Hatinya semakin sakit saat Alaric bilang bahwa wanita kurang ajar itu lebih baik darinya.
Laki-laki bedebah itu bilang Alin tidak bisa membuatnya bahagia. Kebahagiaan seperti apa yang dia mau? Semua kebutuhannya telah dipenuhi, segala permintaan Alin turuti, tidak sedikit uang mengucur dari kantong Alin untuk membiayai kehidupan Alaric.
Apa hanya karena ia tidak mau menyerahkan diri begitu saja, membuatnya mencampakkan Alin seperti ini? Kalau memang itu masalahnya, Alin cukup lega karena ternyata Tuhan masih sayang padanya. Tuhan telah menyelamatkan Alin dari kebodohan karena cinta meskipun hatinya tersayat sembilu.
Apa benar Alin membuatnya tertekan? Tekanan apa? Hanya karena melarang taruhan dan berhenti merokok membuatnya tertekan? Omong-kosong!
“Aku benci dia! Aku benci dia! Aku benci!” Alin menjerit histeris. Teriakannya terdengar sampai luar kamar.
Nyonya Zivaa berlari tergopoh-gopoh ke kamar putrinya, jerit tangis buah hati yang sungguh memilukan. Dia tidak ingin Alin mengalami depresi.
“Alin…, Alin…, Nak!” Nyonya Zivaa memeluk erat putri semata wayangnya yang duduk di tempat tidur sembari menjambak-jambak rambut. Suara tangisannya terdengar bagaikan genderang perang yang ditabuh. Wajah Alin basah dibanjiri air mata yang terus saja mengucur bagaikan kran bocor.
“Alin benci Alaric, Ma!” kebencian Alin sudah mandarah daging.
“Iya Nak, Mama ngerti!” Nyonya Zivaa terus memeluk Alin sambil mengusap punggung gadis itu untuk membuatnya lebih tenang.
Kata-kata benci terus saja keluar dari mulut Alin seolah tidak ada ungkapan lain yang bisa menggambarkan kepedihannya. Di balik pintu kamar, Tuan Vishaka pun tidak sanggup menahan buliran air jatuh dari pelupuk mata. Hatinya seperti dirajam. Diam-diam dia menyesali kelumpuhannya. Andai saja dia tidak lumpuh, dia pasti menghajar laki-laki laknat itu sampai mampus. Akan tetapi, dia sungguh tidak berdaya. Bahkan, untuk menampar Alaric saja dia tidak mampu. Dalam kegetiran, ia memukul-mukul kedua kakinya. Dia merasa tidak berguna.
Digerakkannya kursi roda dengan memutar menggunakan kedua tangan menuju ruang tengah. Diraihnya telepon yang ada di meja dekat lemari buku lalu ditekan beberapa nomor.
“Halo Pram, siapkan kepindahan kami ke Surabaya sekarang juga! Lebih cepat lebih baik!” perintahnya pada seseorang.
Tuan Vishaka pun menutup sambungan telepon. Dia ingin putrinya melupakan kenangan pahit di kota ini. Dia tidak ingin putrinya bertemu lagi dengan Alaric. Meskipun begitu, dia tidak bisa mencegah jika suatu hari nanti Tuhan menakdirkan mereka bertemu di kota lain. Setidaknya, jika mereka tinggal di kota yang jauh terpisah kemungkinan bertemu menjadi sangat kecil. Begitulah harapannya.
“Bagaimana Alin?” tanyanya ketika melihat istrinya berjalan mendekat.
__ADS_1
“Pastinya sangat sedih dan terluka. Tapi sekarang dia sudah tidur tenang, aku harap besok dia akan baik-baik saja,” Nyonya Zivaa menghela nafasnya.
“Aku sudah menghubungi Pram. Sebaiknya kita pindah ke Surabaya saja, suasana baru akan membuat Alin melupakan kesedihannya.”
“Apa kau yakin?” Nyonya Zivaa menautkan kedua alisnya.
“Aku tahu kalau hati yang sakit butuh waktu panjang untuk menyembuhkannya. Tapi, kita tidak punya pilihan lain. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk melindungi putriku,” Tuan Vishaka menelan ludah dan menundukkan kepala.
“Hmmm…, sudahlah tidak usah menyesali diri. Alin akan merasa bersalah melihatmu seperti ini. Dia memerlukan senyummu untuk mendukungnya, bukan wajah frustasimu,” Nyonya Zivaa menangkup kedua pipi suaminya dan mengusapnya pelan.
“Kita akan pindah jika memang itu yang terbaik bagi Alin. Ayo, sekarang kita tidur saja!” lanjutnya sambil mendorong kursi roda suaminya menuju kamar tidur mereka.
^^o^^
Keesokan paginya, Nyonya Zivaa menyiapkan setangkup roti bakar keju dan segelas susu coklat hangat untuk dibawa ke kamar putrinya. Dia berharap suasana hati sang putri sudah lebih baik, meskipun dia agak ragu. Perlahan-lahan ia membuka pintu kamar dan sedikit menahannya agar nampan yang dibawa tidak terjatuh.
“Alin sayang, bangun Nak! Sudah pagi!”
Nyonya Zivaa meletakkan nampan di meja dekat tempat tidur putrinya. Dia berjalan ke jendela dan membuka tirai agar sinar matahari masuk menghangatkan ruangan.
“Alin, lihat mataharinya sudah mulai tinggi loh!” tetap tidak ada sedikitpun respon dari Alin. Nyonya Zivaa mendekati putrinya yang masih tetap bergelung di balik selimut.
“Lin, bangun dong! Mama udah bawakan susu coklat dan roti bakar kesukaan kamu,” digoyang-goyangkannya tubuh Alin, tetapi tetap diam tidak bergerak.
Dibukanya selimut yang menutupi hingga ke wajah Alin. Alangkah terkejutnya Nyonya Zivaa ketika melihat kain sprei berwarna putih itu sudah berganti warna merah dan tampak darah merembes keluar dari pergelangan tangan kanan putrinya.
“Tidaaaaaakkkkkkkkk……..!!”
~***~
__ADS_1