Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 16 : London


__ADS_3

“Hoahemm …,”


Alin menguap dan menggeliatkan badan. Semalam tidurnya sangatlah nyenyak. Udara London di musim semi ini sangat menyejukkan, membuatnya lupa akan obat-obatan penenang.


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, dia akan menetap di London bersama dengan orang tua kandungnya. Selama ini dia hanya datang untuk berlibur, tetapi kali ini berbeda. Memang keputusan yang sangat berat, meninggalkan orang tua yang telah membesarkannya. Kondisi papanya-lah yang membuatnya khawatir. Namun, dia sangat bersyukur karena Papa merelakannya pergi dengan ikhlas. Mungkin memang ini jalan terbaik, dengan begitu hubungan papanya dan Tante Naima akan semakin dekat. Alin sangat ingin melihat mereka hidup bahagia bersama, terlebih papa angkatnya itu sudah lama hidup sendiri.


“Good morning, Princessa!”  Nyonya Laviola Yosrey atau yang kerap dipanggil Yola Yosrey, ibu kandung yang telah melahirkan dengan penuh perjuangan, membuka pintu kamar dan menyapanya.


“Good morning, Mom!” Alin mengembangkan senyum lebar ketika melihat Nyonya Yola masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi sarapan pagi untuknya.


“You are late for breakfast, so I bring it here!” Nyonya Yola meletakkan nampan di meja nakas dekat tempat tidur putrinya.


“Mom, jangan terlalu memanjakan aku.”


“Why not?”


“Nanti Rigel bisa marah karena aku telah mencuri seluruh perhatian Mom and Dad!”


“Hahaha, dia nggak akan marah! Percayalah, dia akan melakukan lebih dari apa yang Mommy and Daddy lakukan untukmu. Dia akan lebih memanjakanmu daripada kami.”


Nyonya Yola mengingat bagaimana Rigel, adik Alin, merengek memintanya untuk menjemput Alin dan membawa tinggal bersama mereka. Maklum, sejak kecil Rigel terbiasa bermain dengan kedua kakak laki-laki dan dia ingin sekali bermain dengan saudara perempuannya.


“Ayo, kamu minum dulu susu coklatnya, mumpung masih hangat.”


Alin tanpa segan menyeruput segelas susu coklat hangat yang disodorkan oleh mommy-nya. Susu coklat hangat dan musim semi yang menyejukkan rasanya bagaikan kenikmatan yang tiada tara. Alin benar-benar lupa tentang masalahnya.


“Ngomong-ngomong kapan Rigel pulang, Mom?” tanya Alin seraya mengunyah potongan sandwich buatan Nyonya Yola.


“Harusnya besok dia sudah mendarat di London. Apa kamu sudah merindukannya?”


“Ya, aku merindukan kecerewetannya. Rumah kurang lengkap tanpa mendengar suara pecahnya,” gurau Alin.


“Bukankah ada Kaif yang siap sedia untuk mencerahkan harimu?”


“Oh no, Mom! Big no no!” Alin menggeleng-gelengkan kepala.


“Why?” Nyonya Yola heran dengan jawaban putrinya.


“Kak Kaif, dia terlalu tebar pesona! Kalau aku jalan sama dia, yang ada nanti dia akan jadi pusat perhatian para wanita yang haus kasih sayang. Dan aku, hanya akan berdiri di pojokan bagaikan patung liberty yang diabaikan.”


“Bmmmppp …,” belum selesai Alin mengungkapkan isi hati, tiba-tiba sebuah handuk melayang dan mendarat menutup seluruh wajahnya.


“Aku nggak tebar pesona! Aku hanya bersikap ramah pada semua penggemarku!” sanggah Kaif yang mendadak muncul masuk ke dalam kamar Alin.


“Kaif, don’t do that to your sister! Be nice!” tegur Nyonya Yola.


“Penggemar? Do you have it? Hmm…, I doubt it!” sindir Alin.


“You doubt it? Seriously? Tunggu sampai Rigel pulang, dia adalah saksi hidup betapa Kakakmu yang ganteng ini merupakan idola di seluruh penjuru Eropa!”


“Ya ampun, dulu Mommy waktu hamil Kak Kaif ngidam apa sih? Kepedeannya udah akut, nggak bisa diobati lagi!”


“Entahlah, Mommy rasanya nggak pernah mengidam yang aneh-aneh.”


Pasangan ibu dan anak itu cekikikan ketika melihat ekspresi manyun Kaif yang menggelikan. Alin benar-benar gembira berkumpul dengan keluarga yang sesungguhnya. Keinginan ini sebenarnya sudah lama dipendam, tetapi ia belum bisa meninggalkan orang tua angkat yang telah begitu berjasa, mencintai dan mengasihinya dengan tulus.


“Well, apa rencanamu hari ini?” tanya Kaif pada adiknya.


“Entahlah, aku belum tahu. Apa Kakak punya waktu luang untuk mengantarku keliling London?”


“Tentu saja! Untuk Adikku tercinta, waktuku tak terbatas,” Kaif mengerlingkan matanya.


“Apa Kakak nggak punya pekerjaan?”


“Pekerjaanku bisa menunggu, lagipula orang-orang kepercayaanku mampu menjalankan kafe dengan baik tanpa kehadiranku.”


Pria muda berusia dua puluh sembilan tahun itu memang memiliki usaha di bidang food and beverage. Kafe The Monsrey yang didirikannya sejak lima tahun lalu mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan sudah memiliki beberapa cabang di Inggris dan Italia. Selain itu, Kaif juga bekerja sama dengan sahabat-sahabatnya mengembangkan bisnis media baik itu media cetak, digital maupun online.

__ADS_1


“Ehm, gimana kalau Kakak mengajakku ke kafe setelah kita berkeliling kota London?”


Selama hampir sebulan tinggal di London, Alin memang belum sekalipun mengunjungi kafe kakaknya itu. Waktunya dia habiskan di rumah bersama keluarga, khususnya Mommy. Mereka sibuk belanja bersama, memasak, membuat kue, menonton film, menikmati momen yang telah terlewatkan selama dua puluh enam tahun. Kebersamaan seperti itu tidak pernah dimiliki Alin meskipun saat liburan, karena dia tidak ingin orang tua angkatnya yang juga ikut berlibur kala itu merasa tidak nyaman.


“Ke kafe? Kenapa mau ke kafe?” Kaif mengernyitkan dahinya.


“Ya aku ingin tahu bagaimana seorang Pangeran Kaif Omair Yosrey yang terkenal di penjuru Eropa bekerja mengelola kafenya.”


“Oke, aku akan mengajakmu ke kafe. Tapi ingat, jangan mengeluh seperti Rigel kalau sudah di sana!” Kaif meraih handuk yang tadi dilemparnya ke muka Alin dan kemudian ngeloyor pergi keluar dari kamar Alin.


“Bersiaplah! Nggak usah dandan kelamaan! Kita bukan mau fashion show!” teriak Kaif sembarangan.


“Hmm, apa kamu yakin akan pergi dengan Kaif? Apa sudah siap jadi patung Liberty?” senyum sinis tersungging di sudut bibir Nyonya Yola.


“Do I have any option?” Alin balik bertanya.


“Well, enjoy your day! Have fun!” Nyonya Yola mengerlingkan mata, kemudian bangkit dari duduknya dan membawa nampan makanan kembali ke dapur.


^^o^^


Alin menikmati pemandangan jalanan kota London di musim semi dari balik jendela The Monsrey Café. Ia sengaja memilih tempat duduk di pojok, sedikit tersembunyi tetapi bisa menatap gambaran jalanan yang cukup luas. Lalu lalang orang dan pohon-pohon yang mulai berbunga. Tiba-tiba Alin teringat Ragnala, sahabatnya. Dulu setelah praktik dia dan Ragnala seringkali menghabiskan malam di sebuah kafe langganan yang tidak jauh dari Klinik Gigi Jenaka.


Alin merindukan celoteh sahabat tersayang, dia pun merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Tidak sabar dia segera mencari nama Ragnala di daftar kontak ponsel.


“Halo!” jawab suara di seberang sana.


“La, ini aku. Alin!”


“Apa? Aliiiinnnnnnn …!” Alin menjauhkan ponsel dari telinga begitu terdengar suara Ragnala yang melengking tinggi.


Tiba-tiba layar ponsel Alin berubah, ada permintaan video call dari sahabat terbaiknya itu. Alin menekan tombol video call dan buru-buru memasang headset bluetooth-nya sebelum suara Ragnala mengkontaminasi seisi kafe.


“Ya ampyuuunn …, Alin kamu kemana aja sih? Ngilang nggak ada kabar! Pasien-pasien banyak yang nyariin kamu tuh! Nggak sanggup aku rasanya ngejawab mereka setiap hari! Kamu ngapain pergi sih? Kamu baik-baik aja kan?” Ragnala memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah bisa ditebak Alin.


“Astaga La, satu-satu dong! Gimana aku mau jawab kalau kamu nyamber aja kayak petasan!” potong Alin, sebelum pertanyaan Ragnala makin panjang seperti kereta api.


“London.”


“What? London? Ngapain?”


“Pulang.”


“Pulang? Kamu jangan bercanda dong! Rumah kamu kan di sini, kalau mau pulang ya balik ke sini ajalah. Klinik ini akan menerimamu dengan tangan terbuka selebar-lebarnya. Pulang kok ke negara orang,” sungut Ragnala.


“Pulang ke keluarga aku yang sebenarnya. Keluarga kandungku. Kamu ingat kan waktu aku cerita tentang keluargaku yang ada di Eropa?”


Ragnala mencoba mengingat-ingat cerita apa saja yang sudah diceritakan Alin padanya. Di antara mereka berdua memang hampir tidak pernah ada rahasia. Alin memang pernah mengatakan tentang keluarganya yang ada di Eropa, tetapi tidak pernah mengungkapkan secara gamblang kalau itu adalah keluarga kandungnya.


“Iya aku inget. Tapi gimana bisa itu keluarga kandungmu?” Ragnala memasang ekspresi penasaran.


“Hmm, ceritanya panjang! Nanti kapan-kapan aku cerita selengkap-lengkapnya. Intinya, Mama Zivaa dan Papa Vishaka adalah orang tua angkatku yang udah membesarkan aku sejak bayi. Mama Zivaa itu adik satu ayah dari Papa kandungku.”


Ragnala tercengang mendengar penuturan Alin tentang silsilah keluarga yang lumayan ruwet diolah di otaknya.


“Jadi, sebenarnya Tante Zivaa itu tante kamu?”


“Yap! Pinter kamu La! Nggak salah aku punya sohib kayak kamu!”


“Terus gimana sama pernikahan kamu Lin? Itu calon suami kamu bolak-balik datang ke sini, sampai mukanya kucel, kusut, dilipat-lipat nggak karuan. Menyedihkan tahu nggak sih!”


Alin terhenyak di kursinya. Ingatan yang ingin dilupakannya sekarang mampir lagi gara-gara ucapan Ragnala. Sudah sekian hari dia membuang jauh-jauh memori tentang Beryliano Monza, dia bahkan enggan peduli dan tidak ingin tahu apa yang dilakukan Beryl sepeninggalnya.


“Nggak akan ada pernikahan, La!”


“Whaaaattt?” Ragnala nyaris menjatuhkan ponsel yang dipegangnya.


“Maksud kamu, pernikahan kalian batal gitu?”

__ADS_1


“Iya,” jawab Alin lunglai.


“Ta-tapi kenapa Lin? Ada masalah apa? Apa yang terjadi?” Ragnala terheran-heran, harapan untuk melihat sahabatnya hidup bahagia musnah sudah.


“Dia, nggak mencintaiku La. Dia mencintaiku karena aku sangat mirip dengan Mama Zivaa, cinta pertamanya. Begitu tahu kalau aku adalah anak Mama Zivaa, dia sangat marah dan pergi begitu saja tanpa penjelasan. Dia marah karena Mama Zivaa dianggap telah mengkhianatinya karena menikah dengan laki-laki lain.”


“Tu-tunggu! Jadi dulu Tuan Monza itu adalah kekasih Tante Zivaa?” Ragnala mulai merangkai-rangkai akar masalah yang sulit dipahaminya.


Alin mengangguk-angguk. Sebetulnya dia enggan menjelaskan lagi masalahnya. Hatinya terasa sesak setiap kali mengingat amarah yang terlukis di bola mata Beryl saat itu. Telinganya berdenging seolah mendengar setiap kata yang dilampiaskan Beryl pada Tante Naima. Kata-kata yang membuatnya mengetahui sejarah masa lalu antara calon suaminya dan mama angkatnya.


“Terus?” Ragnala masih penasaran berat.


“Sudahlah La, aku nggak mau ngebahas itu lagi. Enough!”


Ragnala menelan ludahnya kelu. Dari raut wajah Alin, tampak sekali gurat kesedihan dan kekecewaan. Dia tidak menduga kalau sahabatnya akan mengalami patah hati untuk yang kedua kali, dan itu pasti sangat menyakitkan.


“Hmm, sabar ya Lin! Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku rela melepaskanmu pergi ke London tanpaku, asalkan kamu menemukan kebahagiaan di sana.”


“Oh, so sweet! Thank you, La! I love you bestie! Muaaah!”


“Excuse me! Boleh aku mengganggu kesibukkan kalian?” tiba-tiba wajah Kaif muncul di layar ponsel Alin, kakaknya itu sudah berdiri persis di belakang kursinya.


“Halo, kenalkan aku Kaif, Alin’s second brother! Dan kamu?” dengan cueknya Kaif memperkenalkan diri.


“Hah? A-aku Nala, Ragnala. Aku sahabat Alin,” Ragnala tergagap, dunianya mendadak terhenti begitu makhluk tampan itu muncul di layar ponsel. Baru kali ini dia disapa oleh makhluk asing seperti Kakak Alin yang tampak sekali darah bulenya.


“Ragnala? Ehmm, such a beautiful name. Nice to meet you pretty!” ujar Kaif sok ramah.


“Dengar Kak, dia sahabat tersayangku, jangan sampai kamu berani-berani mempermainkannya!” ancam Alin pada kakaknya.


“Mempermainkan apa? Aku hanya menyapa saja,” sahut Kaif.


“Udahan dulu ya, La! Kapan-kapan aku telepon lagi,” Alin menyudahi obrolan dengan Ragnala, sebelum kakaknya itu semakin menggoda.


“Kapan kamu pulang ke sini, Lin? Aku udah kangen berat!” seru Ragnala.


“Belum tahu, La! Aku masih ingin menenangkan diri dan menikmati waktu bersama keluargaku.”


“Ya sudahlah, aku akan setia menantimu!”


“See u, La! Bye!” Alin melambaikan tangan dan mengakhiri panggilannya.


Kaif tampak cemberut. Dia ingin tahu lebih banyak tentang sahabat kebanggaan adiknya. Sayangnya, Alin sama sekali tidak memberikan kesempatan. Dua puluh enam tahun, dan dia hampir tidak mengenal karakter adiknya itu. Dia tidak tahu dunia seperti apa yang dijalani Alin. Beberapa hal yang dia tahu adalah Alin seorang dokter gigi, pernah mengalami depresi akibat ditinggalkan kekasihnya, dan sekarang cinta juga belum berpihak. Jujur, Kaif bersyukur dengan kejadian itu. Akhirnya Alin memilih tinggal bersama mereka, keluarga sesungguhnya. Namun, di sisi lain dia juga tidak terima adiknya dipermainkan oleh laki-laki kurang ajar. Tidak boleh ada satu orangpun yang menyakiti keluarga Yosrey. Siapapun orangnya, dia pasti akan menghajar mereka tanpa ampun.


“Kak! Halo, Kak!” Alin menjetikkan jarinya di depan wajah Kaif yang bengong.


“Hah? Apa?” Kaif gelagapan.


“Eh, malah ngelamun! Ngelamunin apaan, sih?” sungut Alin.


“Ah, nggak ngelamunin apa-apa! By the way, Rigel telepon. Katanya dia sudah mendarat di London. Dia ingin bertemu denganmu di Harrods,” ujar Kaif santai.


“Harrods? Benarkah? Syukurlah, aku sangat merindukannya.”


“Yah, tapi sayangnya aku nggak bisa mengantarmu karena ada pekerjaan yang harus aku urus. Kamu nggak perlu khawatir karena Kak Zhiggy mengirimkan supir pribadi untukmu.”


“Really?” Alin gembira, kedua kakaknya sangat perhatian. Mereka memperlakukan Alin bagaikan porselen yang dijaga ketat agar tidak mudah pecah.


“Sebentar lagi dia pasti datang,” Kaif melirik jam tangan yang dikenakannya.


“Selamat siang, Tuan!” suara seseorang yang tiba-tiba hadir di tengah mereka membuat perhatian Kaif beralih.


Alin membalikkan badan untuk mengetahui supir yang dikirimkan kakak sulungnya.


“Alaric?”


\~***\~

__ADS_1


__ADS_2