
Di kediaman keluarga Yosrey, Alin sibuk mengecek sosial medianya. Dia memang tidak terlalu aktif di sosial media karena waktunya habis untuk urusan pekerjaan. Saat ini banyak waktu luang hingga dia memiliki ruang bersantai. Melupakan sejenak hiruk-pikuk klinik dan rumah sakit yang sesekali dirindukan.
Alin tersenyum melihat unggahan adiknya. Rigel mengunggah kegiatannya bersama anak-anak dari berbagai penjuru dunia. Maklum, dia adalah seorang aktivis UNICEF, organisasi PBB yang memberikan bantuan kemanusian dan kesejahteraan bagi ibu dan anak-anak khususnya di negara-negara berkembang. Alin jadi merindukan anak-anak di Panti Asuhan Cinta Kasih.
"Princessa, boleh aku masuk?" saking asyiknya berselancar di dunia maya, Alin sampai tidak menyadari kalau Zhiggy sudah berdiri di ambang pintu kamar.
Alin melengos ketika kakak sulungnya berjalan mendekat. Dia masih kesal karena Zhiggy menjadikan Alaric sebagai supir pribadinya. Pertemuan yang sama sekali tidak pernah diharapkan.
"Kenapa mukamu cemberut?" Zhiggy duduk di samping adiknya.
"Why Alaric?" tanya Alin singkat.
"Why? Karena dia harus membayar perbuatannya padamu," jawab Zhiggy santai.
"Apa nggak ada manusia selain laki-laki berengsek itu?" sungut Alin.
"Banyak. Tapi, dia harus tahu posisinya. Nggak ada yang bisa mempermainkan keluarga kita. Luka dibalas luka!" Zhiggy mengeluarkan senyum seringai.
"Apa yang sudah kamu lakukan padanya, Kak?" Alin meletakkan ponsel di tempat tidur. Dia lebih tertarik mendengar kisah getir yang dialami mantan kekasihnya.
"Aku nggak melakukan apa-apa."
"Don't lie!" Alin tahu kakaknya berbohong.
"Hah, aku tahu kamu nggak akan mengotori tanganmu sendiri!" tatapan mata Alin makin menyelidik.
"Well, aku hanya memberinya sedikit pelajaran."
Zhiggy tidak mungkin membeberkan semua hal kepada Alin. Bagaimana dia membuat Alaric bangkrut, hingga nyaris hidup bagaikan gelandangan. Bagi Zhiggy itu adalah sesuatu yang sangat mudah, bagai menjentikkan kedua jari. Dia pun sengaja memberikan uluran tangan kepada Alaric agar laki-laki itu semakin menyesal setelah tahu siapa Alin sesungguhnya.
"Sudahlah, nggak perlu overthinking! Dia pantas mendapatkannya! Dan aku yakin kamu adalah super woman! Aku percaya kamu nggak akan gentar menghadapinya setelah perjuangan yang panjang," Zhiggy mencubit pipi Alin yang menggemaskan ketika memasang tampang cemberut.
"Terserah kamu sajalah, Kak!" percuma Alin mendesak Zhiggy untuk membongkar rahasianya.
"Tapi aku nggak mau dia jadi supirku lagi! Tekanan darahku bisa naik tiap kali mendengar kata maafnya. Aku pulang ke sini untuk menghibur diri. Dan dia merusak kesenanganku!" ujar Alin sengak.
"Hahahaha, dia memang menyebalkan!" Zhiggy tertawa lepas.
__ADS_1
"Kalian seru sekali!" tiba-tiba Rigel datang menghampiri mereka.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.
"Ehm, rahasia!" jawab Zhiggy asal.
Raut muka Rigel berubah manyun. Alin yang melihat ekspresi adiknya itu tertawa geli.
"Awas, kalian!" ancamnya.
"Kak, berhentilah menggodanya! Apa kamu mau didepak sama bodyguard-nya?" Alin memperingatkan kakaknya.
"Wow, kamu benar!"
"Ayolah Ladies, kita ke ruang makan sekarang sebelum Mommy mengomel karena kita terlambat!" Zhiggy bangkit, lalu menarik tangan kedua adiknya sebelum amarah Rigel kian menjadi.
^^o^^
Tuan Othman Valdi Yosrey, tersenyum bahagia menyaksikan keluarganya yang berkumpul lengkap. Keceriaan keluarganya semakin sempurna saat Alin memutuskan tinggal bersama mereka. Anak ketiga yang semenjak bayi jauh dari pengasuhannya. Terbersit perasaan bersalah, dia juga merasa gagal sebagai seorang ayah yang melindungi putrinya dari derita cinta.
Mengetahui kenyataan bahwa anak kesayangan dan adiknya menjalin hubungan dengan Beryl adalah sesuatu yang cukup mengagetkan. Othman sadar kalau dia tidak bisa menyalahkan sahabat karibnya itu atas luka yang hinggap tanpa permisi di hati Alin dan Zivaa. Dua wanita berharga di dalam hidupnya. Beryl sendiri juga merasakan kepedihan atas cinta yang gagal. Dia adalah saksi bagaimana Tuan Muda Monza itu melewatkan hari-harinya setelah mengetahui fakta pernikahan Zivaa. Fakta pahit yang harus ditelannya. Andai saja Othman tahu sejak dulu, mungkin kejadian ini bisa dicegah.
Cinta Beryl kepada Alin terlihat sangat tulus, semua itu tergambar jelas di kedua tatapan matanya. Namun, Othman masih ragu apakah Alin siap menerima Beryl, sementara bayang-bayang masa lalu hadir di antara mereka berdua.
“Mom, kenapa banyak sekali menu makanannya?” seru Alin takjub dengan hidangan yang terhampar di atas meja makan.
“Ini hari yang spesial, jadi Mommy masak makanan kesukaan kalian semua. Mommy bahagia sekali karena keluarga kita sudah lengkap, utuh!”
Raut wajah Nyonya Yola Yosrey ceria. Impiannya terwujud. Dia bisa memeluk Alin sepuasnya tanpa harus menjaga perasaan orang lain. Dia bisa memanjakan putrinya itu sesuka hati. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari melihat keempat anak berkumpul bersamanya dan suami tercinta.
“Mommy memang numero uno!” Kaif mengacungkan kedua jempolnya.
“Wah, berat badanku bisa melesat bebas kalau Mommy memasak makanan seenak ini!” sahut Alin sembari membayangkan tubuhnya yang membengkak.
“No problem, Dear! As long as you happy!” Yola mengerlingkan mata.
“Ya, ya, ya …, Kak Alin jadi bintang keluarga sekarang. Tahtaku sudah diambil alih!” Rigel pura-pura sedih.
__ADS_1
“Little Princess, nggak ada seorangpun akan menggantikan posisimu sebagai bayi kecil keluarga Yosrey!” ujar Othman kepada putri bungsunya.
“But, Dad! I’m not baby anymore!” geram Rigel.
“Buat Daddy kamu tetaplah bayi,” Othman terkekeh karena dia tahu Rigel sangat tidak suka dipanggil ‘bayi’.
“Sebaiknya Daddy nikahkan aku saja biar aku bisa membuat bayi, dan semua orang pasti akan berhenti memanggilku seperti itu!” gerutu Rigel.
“Oh, yes sure! Soon, just wait and see!” balas Othman mantap. Semua orang yang berkumpul di ruang makan tergelak mendengar perseteruan antara ayah dan anak itu.
“Sekarang waktunya makanan penutup,” Yola hendak berdiri dari kursi yang ditumpanginya.
“Mom, biar aku saja yang ambil!” Alin menawarkan diri untuk mengambil puding cokelat yang sudah siap saji di kulkas.
TING TONG
Bel pintu berdering kencang di sela-sela makan malam keluarga Yosrey. Bibi Sofie, asisten rumah tangga mereka segera melangkah menuju ruang depan.
“Bi, biar aku saja yang membukanya. Lanjutkan saja makannya!” ujar Rigel.
“Baik, Nona. Terima kasih!” Bibi Sofie kembali ke dapur kembali bergabung dengan pekerja lainnya.
Rigel berjalan ke pintu depan, mencoba mengintip siapakah tamu yang datang melalui lubang kaca kecil di pintu. Bibirnya tersungging senang saat mengetahui siapa yang berkunjung ke rumahnya pada jam makan malam.
“Hello, Little Princess! Your Dad …,”
“Daddy ada kok, masuk yuk!” Rigel mengajak tamunya masuk ke dalam.
“Dad, Mom, Uncle B datang!” teriak Rigel kencang.
“Halo, Uncle B!” sapa Kaif dan Zhiggy bersamaan. Ketiga keturunan Yosrey itu menyambut tamunya dengan gembira, kecuali Othman dan Yola yang begitu tegang.
“Pudding is coming!” seru Alin dari arah dapur.
PRAAANGGG
Piring puding yang dipegang Alin terlepas bebas dari tangannya, pecah berserakan. Alin membeku di tempatnya berdiri, bukan karena pecahan piring dan tumpahan puding yang berceceran. Namun, kehadiran sosok laki-laki di tengah keluarganya.
__ADS_1
“Alin?” Bery tidak kalah terkejut, gadis yang setengah gila dicari di seluruh penjuru London ternyata ada di rumah sahabatnya.
\~***\~