
Alin membuka mata perlahan, mengamati setiap sudut ruangan tempatnya terkunci. Sebuah ruang yang sangat asing. Bukan kamar tidurnya, kamar hotel ataupun ruang rawat inap rumah sakit. Alin mecoba mengingat kejadian yang membuatnya terdampar di situ.
Seingatnya, seseorang menarik tangan dan membekap mulutnya ketika dia hendak melangkah menjauh dari area taman. Setelah itu, dia tidak sadarkan diri. Alin duduk di sandaran tempat tidur sambil memeluk lutut yang ditekuk. Pandangan netranya beredar ke atas, bawah, kanan dan kiri. Terdapat satu pintu tidak jauh dari ranjang, minim jendela dan hanya ada lubang angin berukuran sedang.
Suara kunci pintu terbuka menggema di gendang telinganya membuat Alin menolehkan kepala. Sesosok laki-laki muda yang sebaya dengannya muncul dari balik pintu. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi juga bukan golongan orang pendek. Kulit putih bersih bahkan lebih berkilau dari dirinya.
"Kamu!" pekik Alin.
"Halo, Cantik! Kau sudah bangun? Apa mimpimu indah?" pria itu tersenyum seraya menyodorkan segelas air.
"Minumlah!"
"Lepaskan aku! Kenapa kau menyekapku di sini? Apa salahku?" jerit Alin.
"Minumlah dulu, biar tenggorokanmu tidak kering." pria itu duduk tepat di hadapan Alin.
"Aku nggak sudi!" Alin menatap nyalang ke arahnya.
"Ternyata kau sangat keras kepala," gelas itu diletakkan di meja kecil tidak jauh dari tempat tidur.
"Katakan, apa maumu?" sorot mata Alin menajam.
"Aku mau kamu," pria itu terkekeh senang memandangi wajah Alin yang sedang murka.
"Level kecantikanmu semakin meningkat kalau sedang marah," ujarnya tidak terganggu sama sekali dengan amarah Alin.
"Sayangnya, kecantikanmu tidak sebanding dengan lelaki uzur seperti Beryl Monza!" Alin tersentak kala nama Beryl disebutkan.
"Kau terkejut? Kau pasti sedang bertanya-tanya dari mana aku tahu, iya kan?" Alin diam membisu.
"Aku ingin dia merasakan pedihnya kehilangan sama seperti diriku!" aura wajah laki-laki itu mendadak berubah, tidak tampak lagi senyum di bibirnya. Rahangnya mengeras.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan membuatnya kehilangan wanita yang dia cintai. Kupikir itu adalah balasan cukup setimpal. Nyawa dibalas nyawa!" Alin bergidik ngeri dengan gertakan pria itu.
"Sebaiknya kau minum air itu, agar teriakanmu makin kencang. Siapa tahu kekasihmu itu bisa mendengarnya. Hahaha ...," gelak tawa makhluk di depan Alin itu memekakkan indera pendengaran. Cepat sekali dia berubah ekspresi.
"Apa kau sudah mengikuti kami sejak di Bali?" Alin berusaha mengorek keterangan.
"Oh, tidak salah Beryl Monza memilihmu karena otakmu sangat cerdas!" Dashtan menepukkan kedua telapak tangannya.
"Apa kau juga kehilangan wanita yang kau cintai?"
__ADS_1
"Dia membuatku kehilangan banyak hal," Dashtan tertunduk.
"Bagaimana mungkin?" Alin terus memancingnya.
"Asal kau tahu, Pak Tua itu sangat keterlaluan dan tak sebaik dugaanmu. Menurutku kau harus berpikir ulang untuk urusan cintamu padanya."
“Huh, tahu apa kau tentangnya!” cibir Alin.
“Cantik, pengetahuanku tentangnya jauh melebihi dirimu!”
Alin sungguh penasaran kenapa pria bernama Dashtan itu begitu membenci Beryl hingga menyimpan dendam kesumat. Nyawa siapa yang hilang? Apakah Beryl tega menghilangkan nyawa orang lain? Masa lalu apa lagi yang dimiliki oleh pujaannya itu.
“Tapi sayangnya, kau salah sasaran!” Alin pantang menyerah. Dia mengubah strategi untuk membongkar rahasia dendam yang membuat Dashtan ingin mencelakainya.
“What?” kening Dashtan mengerut.
“Hubunganku dengan Beryl Monza sudah berakhir.”
“Kau tidak sedang bercanda denganku, kan?”
“Lihatlah, ternyata pengetahuanmu tidak sebanyak yang kubayangkan!” Alin mempertaruhkan keberaniannya menghadapi manusia seperti Dashtan. Apa pun akan dilakukannya agar bisa bebas.
“Kau pikir bisa membodohiku?” Dashtan berdiri, kedua telapak tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
“Tapi, aku sangat salut dengan jiwa pemberanimu! Ternyata kau bukanlah kelinci kecil yang rapuh! Kau terlalu berharga untuk seorang Beryl Monza!”
“Kau terlalu meremehkan aku! Kalau keluargaku tahu, hidupmu pasti tidak akan lama lagi. Sebaiknya kau bersiap-siap!” Alin mendongakkan kepala sejajar dengan Dashtan.
“Keluargamu? Papamu yang lumpuh itu bisa apa? Hahaha, kau benar-benar lucu!” Dashtan menjauhkan wajah dan tertawa terbahak-bahak.
Alin tersenyum penuh arti. Dashtan boleh menyombongkan diri sebagai orang yang paling tahu tentang keluarga Monza, tetapi dia tidak tahu siapa wanita yang tengah disekapnya. Alin merasa di atas angin, dia yakin kalau daddy dan kedua kakaknya tidak akan tinggal diam.
“Tertawalah sepuasmu sebelum tamat riwayatmu!” sahut Alin.
Dashtan dibuat kesal dengan sikap Alin. Gadis itu benar-benar di luar prediksinya. Bukannya menangis ketakutan karena diculik dan disekap, tetapi dia malah menantangnya.
“Aahhh!” Alin meringis kesakitan ketika Dashtan menjambak rambutnya.
“Tutup mulutmu!” Dashtan kembali memasang aura monster yang mengerikan.
^^o^^
Beryl memacu mobilnya dengan kecepatan melebihi batas ketentuan hingga membuat Eijaz yang duduk di kursi penumpang harus berpegangan kuat sembari menutup mata. Walaupun usianya lebih dari empat puluh tahun, tetapi jiwa pembalap Beryl belumlah pudar. Dia juga tidak mau kalah dengan Kaif yang selalu menang di ajang balapan liar. Sesekali Beryl melirik peta yang terpampang di sistem monitor mobil untuk memastikan kalau arahnya tidak salah. Mobil yang dikendarainya berjalan beriringan dengan kedua putra Othman.
__ADS_1
Kaif memberikan tanda dengan menyalakan lampu belakang mobilnya. Pemuda itu secara perlahan menepi sembari mengurangi kecepatan mobilnya. Zhiggy keluar dari mobil, begitu juga dengan Beryl usai memarkirkan kendaraannya di tempat yang aman. Seseorang muncul dari balik pepohonan yang rimbun dan berjejer rapat.
“Hi, Uncle B!” sapanya.
“Hi, Kev!” Beryl menjabat tangan Keven yang terulur padanya.
“Di mana dia?” Beryl tidak sabaran.
“Kau lihat bangunan tua di ujung sana?” Keven mengarahkan telunjuknya.
“Mereka menyekap Alin di sana. Tidak begitu banyak orang yang berjaga di tempat itu. Aku rasa kita berempat bisa meringkusnya dengan mudah,” lanjut Keven.
“Eh, maaf! Berlima dengan saya!” celetuk Eijaz yang masih didera sakit kepala karena gaya menyetir Beryl ugal-ugalan.
“Dia siapa?” tanya Keven.
“Asistenku,” jawab Beryl.
“Berenam dengan saya!” Alaric tiba-tiba menampakkan batang hidungnya.
“Kau! Aku menyuruhmu untuk menjaga adikku, tapi kenapa dia bisa diculik? Apa kau sudah bosan hidup?” Zhiggy menyarangkan tinjunya ke Alaric hingga laki-laki itu terjungkal.
“Maafkan saya, Tuan!” tidak ada kata lain yang sanggup diucapkan Alaric kecuali permintaan maaf.
Siang itu, Alaric menjalankan perintah Zhiggy untuk bersiap mengantarkan adiknya ke perusahaan. Sesampainya di sana, Alin meminta Alaric menunggu di dalam mobil. Setelah memastikan Alin masuk ke dalam gedung, Alaric memarkir mobil dan keluar sebentar untuk menyesap sebatang rokok. Dia bahkan tidak tahu kalau Alin sudah keluar gedung.
Alaric menikmati udara taman untuk melepaskan penat, lantas tanpa sengaja dia melihat seseorang membekap mulut Alin dan membawa gadis itu pergi. Alaric yang kaget bukan kepalang terus berlari mengejar, sayang dia kalah cepat. Menyadari langkahnya jauh tertinggal, Alaric kembali ke tempat parkir mengambil mobil. Kesalahan Alaric adalah tidak memberi kabar kepada Zhiggy tentang kejadian yang menimpa adiknya. Dia berharap bisa menyelamatkan Alin sehingga gadis itu akan memaafkannya. Harapan tinggal harapan karena dia tidak akan mampu melawan musuh sendirian. Dia hanya mengintai dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk menyusup lalu membawa Alin kembali ke rumah.
“Zhiggy, hentikan! Menghajarnya nggak akan menyelesaikan masalah! Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Alin,” tukas Beryl.
Zhiggy menahan emosinya yang sudah menggunung. Energinya terlalu sia-sia kalau dihabiskan untuk memukuli Alaric.
“Apa rencanamu, Kev?” tatapan mata Kaif begitu serius sedangkan Keven mengeluarkan senyum seringai seraya memandang Beryl penuh makna.
“Hanya ada lima orang penjaga dan satu bajingan di sana. Apa kau mau melakukannya sendiri, Uncle B?” Keven menantang Beryl.
“Kev, apa kau sudah gila?” umpat Kaif.
“Jangan katakan faktor usia membuat pukulanmu lemah,” sindir Keven halus.
“Jangan, Tuan! Anda baru saja sehat!” Eijaz ikut khawatir kalau Beryl bertindak ngawur.
Beryl menghela napas panjang, menjeda sesaat untuk mempertimbangkan kata-kata Keven. Beryl sama sekali tidak meragukan kemampuan Keven karena pemuda berdarah Italia-Jepang itu mempunyai insting yang sangat tajam. Ada makna di balik perkataannya. Entah itu musuh mereka tidak sekuat yang dibayangkan, Keven sengaja memberikannya kesempatan untuk menjadi pahlawan, atau karena dia tahu suatu rahasia tentang penculikan ini.
__ADS_1
\~***\~