Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 13 : Kamu


__ADS_3

Pagi yang cerah ceria. Matahari bersinar hangat menyengat kulit Alin yang sedang rebahan di bawah rimbunan pohon tabebuya. Diangkatnya tangan kanan menutupi pendar cahaya mentari. Ditatapnya cincin yang melingkar di jari manis. Senyum tersungging di bibir. Cengar-cengir mengingat liburan singkatnya di Bali kemarin.


Liburan yang berakhir dengan makan malam romantis rancangan Beryl. Candlelit dinner di La View Restaurant yang terletak di Kupu-kupu Barong Villas and Tree Spa, villa tempat mereka menginap. Tempat indah lengkap dengan keindahan malam yang menakjubkan.


Menikmati hidangan istimewa bahkan berdansa di bawah temaram cahaya bulan. Beryl yang begitu gagah dengan tuxedonya. Melihat Beryl mengenakan jas bukanlah hal yang baru buat Alin, tetapi entah kenapa tuxedo itu membuat kharisma Beryl semakin menguar, semakin maskulin, semakin macho.


“Would you marry me?”  kalimat ajaib yang dilontarkan Beryl membuat darah Alin berdesir. Apalagi Beryl berlutut dengan satu kakinya seraya menjulurkan setangkai mawar merah yang masih segar.


Tubuh Alin menegang terkejut, lututnya bergetar. Ini bagaikan mimpi. Impian setiap wanita. Terlebih lagi saat Beryl mencium punggung tangannya, aliran gelombang yang tidak jelas namanya mengalir di setiap pembuluh darah. Detak jantungnya terdengar begitu kencang.


Alin seperti terhipnotis pesona Beryl. Antara sadar atau tidak, Alin mengangguk tanda setuju dan menerima bunga mawar yang diberikan Beryl. Hati semakin berbunga-bunga ketika Beryl berdiri dan mencium keningnya. Perasaan hangat nan nyaman menyusupi saat Beryl memeluknya erat. Alin tidak memedulikan orang lain di luaran sana, hanya ada dirinya dan laki-laki yang telah berhasil mengobrak-abrik kotak pandoranya yang lama terkunci.


“Ehem-ehem!” sebuah suara menghentikan lamunannya.


Diturunkan tangannya. Tampak wajah Nyonya Naima yang benderang tersapu pancaran matahari.


“Senyam-senyum sendiri, awas nanti kesambet loh!” sindir Nyonya Naima.


“Ih, Tante gitu banget sih!” Alin bangkit dari rebahannya lalu duduk bersandar di pohon tabebuya yang ada di halaman belakang panti asuhan Cinta Kasih.


“Habisnya dari tadi Tante perhatiin kamu cuma tiduran di sini sambil mantengin cincin di jari, cengar-cengir padahal nggak ada yang lucu.”


Nyonya Naima duduk di samping Alin, gadis yang sudah dianggapnya seperti anak kandung sendiri. Alin adalah satu-satunya wasiat yang dititipkan Zivaa, sahabatnya. Hidupnya yang sempat hampa setelah perceraian dulu, lambat laun menjadi lebih berwarna setelah ia terlibat dalam kehidupan Alin yang nyaris hancur.


“Lagi senang banget ya? Hmm, tahu deh yang baru aja dilamar,” goda Nyonya Naima yang membuat rona wajah Alin memerah.


“Tante juga senang lihat kamu bahagia. You deserve it! Seandainya mama kamu masih hidup, dia pasti lebih senang daripada Tante. Semoga kebahagiaan kamu kekal ya, Nak!” Nyonya Naima membelai kepala Alin.


“Makasih ya, Tante! Tante udah seperti mama buat aku. Tante selalu ada saat aku sedih dan senang. Tante selalu mendukungku dan menguatkan aku,” Alin memeluk Nyonya Naima.


“By the way, siapa pria beruntung itu?”


“Ehmmm, namanya Beryl. Beryliano Monza.”


“Eh, Beryl? Monza?” Nyonya Naima tercengang mendengar nama yang disebutkan Alin.


“Iya Tante, namanya Beryl Monza. Apa Tante kenal?”


Nyonya Naima menggelengkan kepala, meskipun nama itu terdengar tidak asing ditelinganya. Pikiran Nyonya Naima berkeliaran kemana-mana. Apakah Beryl Monza yang disebutkan Alin itu adalah Beryl Monza yang ia kenal puluhan tahun lalu? Ada berapa banyak nama Beryl Monza di muka bumi ini?


“Seperti apa sih dia?” tanya Nyonya Naima penasaran.


“Oh iya, Tante belum tahu ya? Beberapa waktu yang lalu dia sempat aku bawa ke sini waktu anak sulungnya kabur, tapi waktu itu Tante lagi pergi. Sebentar Tante,” Alin merogoh saku baju untuk mengambil ponselnya.


Alin membuka ponsel dan mencari-cari di galeri foto. Ada beberapa foto candid Beryl yang diambilnya saat liburan di Bali.


“Ini Tante,” Alin menunjukkan foto-foto Beryl yang tersimpan di ponsel.


Nyonya Naima menatap foto-foto itu dengan saksama. Alangkah kagetnya dia melihat sosok Beryl Monza yang ada di foto itu. Laki-laki itu adalah laki-laki yang pernah dikenalnya dulu. Nyonya Naima masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Tante kenapa? Kok kayak kaget gitu?” Alin agak heran dengan respon yang ditunjukkan Nyonya Naima.


“Ah, ti-tidak! Tante, cuma nggak nyangka aja kalau selera kamu berbalik seratus delapan puluh derajat!” Nyonya Naima mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya dengan memasang senyum setengah terpaksa.


“Maksud Tante?” Alin menaikkan sebelah alisnya, menerka kemana arah pembicaraan Nyonya Naima.


“Dulu kan selera kamu tuh laki-laki muda, seumuran. Sekarang bapak-bapak gini!” goda Nyonya Naima.


“Ya ampuuun, Tante bisa aja! Daripada sama laki-laki muda yang kabur nggak jelas dan menyakitkan mendingan kan sama bapak-bapak yang serius dan nggak main-main!” jawab Alin spontan, sembari mengerlingkan matanya.


“Hahahahaha,” keduanya pun tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Dibalik tawa yang terlihat lepas, sejujurnya ada keraguan yang bergelayut di hati kecil Nyonya Naima. Di sisi lain dia berharap Alin akan menemukan kebahagiaannya, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau ia belum yakin sepenuhnya ketika melihat foto laki-laki itu. Apakah Beryl Monza benar-benar mencintai Alin? Ataukah ada alasan lain?


Seribu satu pertanyaan masih menggantung. Apakah Beryl tahu siapa Alin sebenarnya? Apakah Vishaka tahu siapa calon menantu yang sesungguhnya? Apa yang membuat Vishaka merestui hubungan mereka berdua? Nyonya Naima ingin sekali mengesampingkan ketakutannya. Melihat aura bahagia yang terpancar di raut wajah Alin, rasanya ia tak tega untuk mengungkapkan semua.


^^o^^


Sepanjang perjalanan, Beryl tidak berhenti berpikir tentang sikap Nyonya Naima, Ibu angkat Alin. Sikapnya terlihat begitu dingin, bahkan terkesan tidak acuh. Kemarin, di hari pertunangannya, Nyonya Naima yang menurut Alin adalah wanita hangat, lembut dan supel itu tampak sangat berbeda. Terlihat jelas kalau wanita itu sengaja menjauh, menjaga jarak dengan keluarganya.


Hari ini, Beryl memutuskan untuk menemui wanita itu di Panti Asuhan Cinta Kasih. Ia ingin meluruskan ganjalan yang ada di hatinya. Satu jam kemudian dia sudah duduk termangu di ruang kerja Nyonya Naima. Isi otaknya masih berkelana menebak-nebak reaksi apa yang akan ditunjukkan wanita itu. Meskipun tidak banyak bicara, tetapi Beryl yakin kalau Alin pun bisa merasakan perubahan sikap Nyonya Naima. Beryl tidak mau Alin terbebani dengan hal itu.


“Selamat siang, Tuan Beryl! Apa ada yang bisa saya bantu?” suara Nyonya Naima terdengar nyaring dari balik pintu, cukup mengejutkan Beryl.


“Siang, Nyonya!” Beryl menahan diri, ia membiarkan wanita satu generasi dengan dirinya itu duduk di kursi kebesaran.


“Ehm, sebenarnya ada yang hendak saya bicarakan dengan Anda. Apa kedatangan saya mengganggu?” tanya Beryl.


“Tidak. Tapi maaf, waktu saya tidak banyak. Saya sudah ada janji lain.”


“Saya tidak akan lama.”


“Baiklah, katakan!”


Beryl menarik napas panjang, mempersiapkan dirinya dan berusaha menyusun kalimat yang kira-kira tidak akan menyinggung. Perasaan wanita sangat halus dan sensitif, Beryl tidak ingin menambah taburan garam di antara mereka.


“Saya tahu kalau Anda sangat menyayangi Alin. Bahkan, Alin pun sudah menganggap Anda layaknya seorang ibu kandung. Alin bilang kalau Anda merestui rencana pernikahan kami. Tapi, saya merasa ada yang janggal,” Beryl berusaha setenang mungkin.


“Janggal?” Nyonya Naima mengernyitkan dahi.


“Yah, mungkin itu hanya perasaan saya saja. Tapi, sepertinya Anda belum sepenuhnya merestui kami. Mungkin saya salah mengartikan sikap Anda, tapi itulah yang saya rasakan.”


“Saya hanya ingin memastikan saja, karena saya tidak mau ada kesalahpahaman. Saya minta maaf sebelumnya,” lanjut Beryl.


Nyonya Naima menatap Beryl lekat-lekat. Semua yang dikatakan Beryl seratus persen benar. Ternyata sikap cueknya kemarin, di hari pertunangan Alin dan Beryl dengan mudah terbaca. Tidak bisa diungkapkan kalau sebenarnya dia merestui apapun yang membuat putri angkatnya itu bahagia. Namun, sosok Beryl dan cerita masa lalu yang membuat dirinya gamang.


“Saya menjadi saksi bagaimana Alin tumbuh dan berkembang. Bahkan, di saat dia berada di titik terendah dalam hidupnya. Apa Anda tahu tentang depresi yang dialaminya?”


Beryl terdiam mendengar pertanyaan Nyonya Naima. Ia mengingat apa yang pernah diceritakan Tuan Vishaka saat ia pertama kali menemuinya untuk meminta ijin mengajak Alin makan malam.


“Ya, Tuan Vishaka sudah pernah menceritakannya,” Beryl pun mengangguk pelan.


“Tidak mudah buat Alin berjuang mengalahkan depresi yang cukup berat. Apalagi ditambah dengan kejadian kepergian Mamanya. Saya akan mendukung apapun yang membuatnya bahagia, termasuk rencana pernikahan kalian, jika itu memang membawa kebahagiaan untuknya.”


Intonasi suara Nyonya Naima terdengar begitu tegas tetapi lembut. Beryl bisa memahami jiwa keibuan Nyonya Naima yang berusaha melindungi putrinya dari rasa sakit, kecewa dan terluka. Tatapan mata Nyonya Naima bagaikan anak panah yang siap menembus kedua bola matanya.


“Seperti halnya Anda yang merasakan kejanggalan pada sikap saya. Saya pun merasakan kejanggalan pada hubungan kalian.”


“Maksud Anda?”


“Kalian belum lama kenal, bagaimana mungkin Anda bisa jatuh cinta pada Alin? Setahuku, rencana pernikahan kalian pun awalnya bukan karena cinta. Tapi karena permintaan anak-anak Anda. Apakah Anda benar-benar mencintai Alin karena pribadinya? Ataukah karena dia mungkin mengingatkan Anda pada seseorang di masa lalu Anda?”


Beryl terkesiap mendengar pertanyaan Nyonya Naima tentang keseriusan cintanya. Masa lalu? Kenapa Nyonya Naima mengungkit masa lalunya? Beryl menegakkan posisi duduk. Punggungnya ditarik sedikit menjauh dari sandaran kursi.


Beryl tidak menampik, di awal pertemuan dengan Alin, senyuman gadis itu mengingatkan pada cinta pertamanya. Akan tetapi semakin lama mengenalnya, Alin memiliki kepribadian yang sedikit berbeda. Sifat jahilnya, keberanian melawan orang-orang penindas, keceriaan dan tawa yang bebas lepas adalah hal yang membedakan dengan cinta pertamanya. Cinta pertama yang telah meninggalkannya dan memilih menikahi laki-laki lain.


“Apakah Anda sedang memikirkan masa lalu?” sindiran halus Nyonya Naima membuat Beryl kelabakan. Bagaimana bisa wanita yang duduk didepannya itu menebak dengan tepat.


“Katakanlah dengan sejujurnya. Apakah Anda benar-benar mencintai Alin? Atau hanya karena bayangan masa lalu Anda? Masih belum terlambat untuk memutuskan segalanya,” Nyonya Naima menyandarkan punggung di sandaran kursi, kedua tangan bersedekap kemudian menghela napas panjang tetapi tetap tidak melepaskan Beryl dari jerat matanya.


“Saya sangat mencintai Alin karena semua yang ada pada dirinya, dan tidak ada satupun yang berkaitan dengan masa lalu saya!” dusta Beryl.


“Tidakkah dia mengingatkan Anda pada seseorang?” Nyonya Naima terus menyudutkannya.

__ADS_1


“Kenapa Anda begitu tertarik dengan masa lalu saya?” ganti Beryl yang menatap Nyonya Naima dengan penuh selidik.


“Hmm, agar tidak terjadi kesalahpahaman di masa depan!” Nyonya Naima tersenyum simpul, tapi sorot matanya setajam silet.


“Saya tidak tahu bagaimana rasa cinta itu tumbuh. Kapan dan di mana, bukankah kata orang cinta itu tidak mengenal logika? Buat saya cinta itu tidak membutuhkan alasan, karena semuanya berasal dari hati. Tapi, saya yakinkan anda bahwa saya sangat mencintai Alin.”


Beryl memasang wajah serius, dia tidak main-main dengan apa yang baru saja dikatakannya. Bagaimanapun juga ia harus bisa meyakinkan Nyonya Naima. Semuanya demi Alin.


“Baiklah, anggap saja saya percaya. Bisakah Anda berjanji akan mencintai, mengasihi, menyayangi dan menjaga Alin selamanya? Bisakah Anda berjanji untuk tidak meninggalkannya meski dalam kondisi terburuk sekalipun?”


Beryl terdiam sesaat. Di balik ketenangan dan kelembutannya, Beryl merasakan aura yang semakin mengerikan dari Nyonya Naima. Bagaikan induk harimau yang siap memangsa siapa saja yang berniat mengambil anaknya. Sorot mata Nyonya Naima terasa sangat mengintimidasi.


Berbekal keyakinan pada perasaannya sendiri, Beryl menyunggingkan senyum tipis, berusaha setenang mungkin menghadapi wanita paruh baya di hadapannya itu.


“Saya berjanji dengan kesungguhan hati saya. Saya akan selalu mencintai dan tidak akan pernah meninggalkannya!” ujar Beryl mantap.


“Saya harap Anda tidak melupakan janji yang telah Anda buat,” ekspresi wajah Nyonya Naima tidak berubah sedikit pun. Datar dan tidak bisa ditebak apa yang sedang dipikirkannya.


“Tentu saja! Seorang laki-laki sejati yang dipegang adalah kata-katanya. Dan saya tidak akan mengingkarinya.”


“Hmmm, baiklah. Saya akan memberikan restu untuk pernikahan kalian.”


Sikap wanita berambut ikal sebahu itu mulai melunak, pandangan matanya tidak lagi setajam di awal. Dalam hati Beryl bersyukur, ganjalan di hatinya mulai memudar. Sebagai dua insan yang sama-sama pernah merasakan luka masa lalu karena kepedihan cinta, Beryl benar-benar berharap ke depan tidak akan ada lagi badai yang menerjang hubungannya dengan Alin.


“Beryl?” keduanya menghentikan pembicaraan mereka ketika tiba-tiba Alin masuk ke ruangan itu.


“Alin? Kamu di sini?” Beryl gugup.


“Aku ada janji dengan Tante Naima untuk ziarah ke makam Mama. Lalu kamu sendiri ngapain di sini?” Alin memicingkan mata penuh curiga.


“A-aku …,” Beryl kebingungan dengan jawabannya.


“Tuan Beryl kesini menanyakan prosedur untuk menjadi donatur tetap panti asuhan. Betul begitu kan Tuan Beryl?” potong Nyonya Naima menyelamatkan Beryl.


“I-iya,” Beryl memuji kepandaian Nyonya Naima mengalihkan jawaban.


“Alin sayang, sepertinya Tante tidak bisa menemanimu ziarah. Maafkan Tante, ya!” Nyonya Naima berdiri dan melangkah mendekati Alin.


“Sebaiknya kamu pergi saja dengan calon suamimu, kenalkan dia dengan Mamamu. Tante rasa Tuan Beryl tidak akan keberatan, iya kan?” sekali lagi Nyonya Naima menyudutkan Beryl dengan kata-katanya, seolah Bery tidak punya pilihan lain.


“Ehm, tentu saja!” Beryl akhirnya berdiri tegak.


“Terima kasih atas kedatangan dan niat baik Anda Tuan, semoga Anda menemukan jawaban dari kejanggalan yang Anda rasakan!” Nyonya Naima tetap memasang senyum seringai.


“Kejanggalan? Kejanggalan apa Tante?” Alin merasa ada yang aneh dengan kedua orang itu.


“Oh itu, sebelumnya kan calon suamimu ini masih tidak memahami prosedur di sini. Tante sudah berusaha menjelaskannya dengan detil. Tante harap dia sudah mulai mengerti.”


“Sudahlah, sebaiknya kalian pergi sekarang sebelum terlalu sore!” Nyonya Naima mengusir mereka secara halus.


Alin dan Beryl pun akhirnya beranjak pergi, meninggalkan Nyonya Naima sendiri dalam kegelisahannya. Dia sengaja membuat Beryl menemani Alin ke makam agar tahu apa yang disembunyikannya. Akan tetapi, sekarang dia mulai takut. Takut Beryl akan meninggalkan Alin ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


“Ya Tuhan, Zivaa maafkan aku! Aku tak sanggup mengatakan kebenarannya. Aku tak tega membuyarkan kebahagiaan Alin. Bagaimana kalau Vishaka tahu putrinya akan menikah dengan laki-laki yang telah membuat hatimu patah?”


Nyonya Naima duduk tidak berdaya di kursi kerjanya. Tangan terlipat di atas meja, kepala tertunduk lesu bertumpu pada lipatan kedua tangan. Kegelisahannya semakin tinggi. Membiarkan Beryl pergi ke makam dengan Alin sama dengan membongkar rahasia yang disimpannya. Akan tetapi, memang sebaiknya semua itu terkuak sekarang daripada nanti akan lebih menyakiti keduanya.


“Ya Tuhan, lindungilah Alin! Selamatkanlah dia dari derita cinta untuk kesekian kalinya. Aku tidak akan mampu sekuat Zivaa jika melihat Alin kembali terpuruk, tenggelam dalam depresi panjangnya karena ditinggalkan laki-laki itu.”


Nyonya Naima berusaha menahan tangis, walaupun dada terasa sesak. Sorot matanya kembali menajam. Mengingat bagaimana hati Zivaa tersayat saat mengetahui pengkhianatan Beryl, kobaran amarah yang sempat dibendung berpuluh-puluh tahun kembali merasuki akal sehatnya.


“Zivaa, aku janji, aku tak akan membiarkan laki-laki itu menyakiti putrimu!”

__ADS_1


\~***\~


__ADS_2