Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 2 : Rasa


__ADS_3

Hari ini adalah pertama kali Beryl menapakkan kaki di Monzana Enterprise sebagai seorang Direktur Utama menggantikan papanya. Memasuki pintu lobi perusahaan, beberapa karyawan menyapa. Seorang pria berkacamata, berusia dua tahun lebih muda berdiri di depan meja resepsionis dan menyambut kedatangannya.


“Selamat pagi, Tuan Beryl!” sapa Eijaz, sang asisten pribadi. Selain Eijaz, ada beberapa karyawan lain yang berdiri berjejer di area resepsionis menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


“Pagi!” jawab Beryl dengan nada tegas dan senyuman lebar.


“Apa jadwalku hari ini Eijaz?” tanyanya saat mereka melangkah menuju lift.


“Pagi ini ada beberapa pertemuan yang harus Anda hadiri Tuan. Jam sembilan ada rapat Direksi membahas terkait kinerja dan perkembangan perusahaan periode enam bulan terakhir. Jam dua belas ada pertemuan dengan PT. Indonusatama terkait proyek pembangunan hotel bintang lima di Bali. Dan terakhir, jam tiga ada pertemuan dengan PT. Alamjaya terkait pengadaan bahan baku industri furnitur yang akan dikirim ke London.”


Eijaz adalah orang yang sangat detil dan teliti dalam setiap pekerjaan yang dilakukan, oleh sebab itulah Tuan Moazzam sangat mempercayainya. Kejujuran, keuletan, kegigihan dan kesetiaannya terhadap keluarga Monza tidak dapat diragukan lagi.


“Tolong siapkan semua materinya di mejaku. Aku akan mempelajarinya satu persatu sebelum rapat dimulai,” ujar Beryl sebelum memasuki ruang kerjanya di lantai tujuh gedung Monzana Enterprise.


“Baik Tuan,” Eijaz bergegas ke meja kerja yang terletak tidak jauh dari ruangan Beryl.


Beryl mempelajari satu persatu materi rapat dan berkas-berkas dokumen yang diperlukan untuk rapat hari ini. Rupanya kehidupan diusia yang menjelang empat puluh enam tahun itu hanya diwarnai dengan kerja, kerja dan kerja. Mungkin bagi sebagian orang, hidupnya terkesan sangat membosankan. Tidak ada waktu bersenang-senang memanjakan diri, tetapi anehnya Beryl sangat menikmatinya.


“Oh My GOSH,  Beryl!” Beryl meletakkan dokumen yang sedang dibaca saat mendengar namanya disebut dengan suara lantang. Pandangan matanya beralih pada seseorang yang berdiri di pintu masuk ruang kerja. Seorang wanita berkulit putih bersih dengan rambut brunette sepunggung dan dibiarkan tergerai. Dress biru muda sepanjang lutut, bolero rajut warna putih serta high heels senada dengan boleronya semakin menampakkan pancaran kulit yang bercahaya.


“Ya Tuhan, ini beneran kamu! Aku nggak percaya, aku kira Papaku bohong!” Mayfa Zora memeluk Beryl yang masih duduk di kursi kebesarannya.


“Aku sangat merindukanmu,” lanjutnya sembari menatap wajah Beryl setelah melepaskan pelukan.


“Zora, apa yang kamu lakukan di sini?” Beryl merasa terganggu dengan kemunculan Zora yang tidak diharapkan.


“Apa aku nggak boleh mengunjungimu di sini? Aku ingin memastikan kebenaran berita yang aku dengar. Lagian sebentar lagi kita akan bertunangan kan? Jadi nggak ada salahnya aku menemuimu di sini.”


“Zora, please!”  Beryl memegang kedua lengan Zora dan mendorongnya menjauh.


“First, ini adalah kantor, bukan rumahmu yang bisa bebas kamu masuki kapan saja. Second, leluconmu soal tunangan, itu sungguh nggak lucu!” Beryl menatap tajam ke arah Zora setengah mengintimidasi.


“Sebaiknya kamu segera pergi dari sini, aku ada rapat.”


Beryl keluar dari ruang kerjanya tepat saat Eijaz hendak masuk untuk menyampaikan bahwa para Direksi sudah menunggu di ruang pertemuan.


Zora menelan ludah, sikap Beryl padanya ternyata belum berubah. Masih seperti yang dulu, dingin dan tidak acuh. Namun, tetap saja Zora pantang menyerah dengan cintanya. Mereka sudah saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Beryl sangat baik dan penuh perhatian. Itulah yang membuatnya jatuh hati. Zora pun meminta papanya untuk disekolahkan di tempat yang sama dengan Beryl. Sikap Beryl mendadak berubah ketika Zora menyatakan perasaannya di hari kelulusan SMA mereka.


Beryl yang lembut, perhatian dan penuh kasih sayang berubah seratus delapan puluh derajat. Semakin hari laki-laki itu semakin menjauh dan susah diraih. Cinta sudah membutakan Zora, dia tidak peduli pada perubahan sikap Beryl. Semakin Beryl menjauh maka Zora semakin bersemangat untuk mendekat, tekadnya sudah bulat.


^^o^^


Alin menata makanan yang dimasaknya di meja makan. Sup makaroni dan rolade ayam kesukaan papanya. Segelas jus jeruk hangat juga tidak lupa disajikan. Pagi ini Alin tidak ada kegiatan di klinik, jadi setelah sarapan dia akan menemani papanya pergi ke panti asuhan yang sering mereka kunjungi.


“Papa, ayo sarapan!” panggilnya.


Terdengar bunyi kursi roda yang digerakkan. Papanya mengalami kelumpuhan disebabkan peristiwa kecelakaan tujuh tahun lalu. Motor yang dikendarai ditabrak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dari sisi samping, papanya terpental kemudian terjatuh keras dengan kedua kaki tertindih motor. Papanya mengalami cidera tulang belakang dan patah tulang kaki. Seharusnya Tuan Vishaka masih ada harapan sembuh setelah operasi kalau rutin melakukan fisioterapi, tetapi semangatnya luntur saat Alin mengalami depresi berat ditambah lagi dengan kepergian istri tercinta karena sakit yang diderita. Semua itu menjadi pukulan sangat telak dan amat sangat disayangkan karena Tuan Vishaka tidak mampu menanggung beban berat itu.

__ADS_1


“Ayo Pa, dimakan! Ini Alin sudah masakin makanan kesukaan Papa,” Alin meletakkan sebuah mangkuk di meja papanya. Mata Tuan Vishaka berbinar dan menghirup aroma masakan yang sangat harum, mengingatkan pada mendiang istrinya.


“Hmmm, ini enak sekali! Persis seperti buatan Mamamu,” ujarnya setelah mencicipi sup makaroni ala Chef Alin.


“Kalau gitu, Papa harus makan yang banyak. Biar sehat dan kuat!” Alin mengangkat kedua lengannya bergaya ala popeye membuat Tuan Vishaka terkekeh.


“Kalau kamu pintar masak begini, suamimu pasti senang,” sindir Tuan Vishaka.


“Ya ampun Papa, kenapa sih itu lagi yang dibahas? Alin kan sudah bilang kalau nggak akan nikah sebelum Papa menikah.”


“Apa kamu pikir masih ada yang mau sama Papa? Papa ini hanya akan merepotkan saja, jadi benalu!”


“Ssst, Papa ini ngomong apa? Papa ini masih ganteng, nggak kalah sama aktor-aktor Hollywood kayak Tom Cruise atau Brad Pitt. Lagian nih ya, kenapa Papa nggak buka hati buat Tante Naima?” Tuan Vishaka meletakkan sendok sejenak, celotehan putrinya itu sedikit mengusik.


“Naima terlalu baik buat Papa, dia bisa mendapatkan yang lebih baik dari laki-laki lumpuh seperti Papa. Dia harus mengejar mimpinya, nggak hanya berkutat di panti asuhan selamanya. Hidup seperti terpenjara, Papa nggak ingin dia menyia-nyiakannya.”


“Pa, mimpi Tante Naima itu Papa. Hanya Papa saja yang nggak mau membuka mata hati Papa walau sedikit. Dan soal panti asuhan, aku rasa Tante Naima nggak merasa terpenjara. Panti asuhan itu adalah hidupnya, itu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Papa sendiri yang cerita kalau Mama dan Tante Naima dibesarkan di panti asuhan yang sama. Mereka bercita-cita untuk menjaga dan mengembangkan panti asuhan itu bersama agar kehidupan anak-anak itu lebih baik ke depannya. Di mana letak kesia-siaannya, Pa?”


“Alin, cukup!” Tuan Vishaka tidak sanggup mendengar kata-kata anaknya lagi. Dia tahu apa yang dikatakan Alin itu benar. Entah, apakah dia tidak mau membuka hati karena masih mencintai mendiang istrinya ataukah karena rasa tidak percaya diri.


Naima Larasati adalah gadis yang pertama kali menyatakan cinta padanya ketika mereka masih belia. Sayangnya, Tuan Vishaka telah menambatkan hati pada Zivaa Ataya, sahabat sekaligus saudara sepanti Naima. Dia lebih memilih Zivaa meskipun dia tahu kalau cinta Zivaa saat itu bukanlah untuknya. Naima sempat menikah, tetapi pernikahannya kandas.  Pernikahan itu hanya bertahan selama enam bulan saja. Naima melayangkan gugatan cerai pada suaminya karena KDRT yang dialami.


“Kalau gitu Papa juga nggak perlu membahas soal pernikahanku. Keputusanku sudah bulat. Aku akan menikah kalau Papa sudah menikah dengan Tante Naima, titik. Case closed!” Alin memang keras kepala, sama seperti papanya.


Mereka pun melanjutkan makan dalam diam, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu mengiringi. Masing-masing sibuk dengan pikirannya yang mengembara entah kemana.


^^o^^


“Tuan, Tuan Beryl!” panggil Tuan Adhitama. Sontak Beryl mengerjapkan kedua mata. Tersadar bahwa rekan bisnis itu masih berdiri di hadapannya dan tengah membicarakan sesuatu.


“Ah ya, maaf! Sampai di mana tadi?” Beryl mencoba mengingat-ingat pembicaraan terakhir mereka.


“Saya akan segera mengirimkan proposal kerjasamanya ke kantor Tuan, semoga kerjasama ini dapat berjalan dengan baik,” jawab Tuan Adhitama dengan lugas.


“Tentu saja! Saya tunggu proposalnya.”


“Baiklah Tuan Beryl, kalau begitu saya permisi dulu. Senang berjumpa dengan Anda!” Tuan Adhitama pamit dan kemudian menjabat tangan Beryl.


Beryl menatap kepergian Tuan Adhitama hingga sosoknya tidak tampak lagi di galeri depan restoran. Pandangan matanya kembali ke arah toko buku. Hatinya tergerak untuk melangkah kesana ketika melihat anak-anak tadi berlarian di dalam toko.


“Tuan, kita ke…,”


“Kita ke toko buku itu dulu!” potong Beryl sebelum Eijaz menyelesaikan kalimatnya. Tentu saja Eijaz tidak bisa melawan perintah tuannya. Dia pun mengikuti langkah kaki tuan mudanya, tanpa banyak pertanyaan.


Beryl mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru toko. Orang yang dicarinya belum juga ketemu. Dia menyuruh Eijaz untuk menunggu di depan karena tidak ingin asistennya itu mengekor sepanjang hari. Langkah kakinya perlahan mendarat di area fiksi. Kata hati menuntun mendekati sebuah bangku di sekitar area itu karena melihat anak-anak berkumpul di sana. Harum lavender membuai indera penciuman, segar dan menenangkan, membuatnya nyaman.


“Dok-ter Alin,” putra mahkota keluarga Monza itu memberanikan diri untuk menyapa lebih dulu meskipun dengan suara gugup yang tertahan. Sementara gadis yang dipanggil mendongakkan wajah, menatapnya terpana.

__ADS_1


“Ehm, masih ingat saya?” Beryl meragu.


“Tuan Beryl Monza kan?” ternyata gadis itu masih mengingatnya dengan baik.


“Fiiuuhh, syukurlah kalau Dokter Alin masih mengingat saya.”


“Tentu saja, anak-anak Anda adalah anak-anak yang luar biasa, jadi sangat mudah mengingatnya,” senyum mengembang di bibirnya, membuat getaran di sekujur tubuh Beryl kian meningkat.


“Apa Anda bersama anak-anak?” Alin melirik ke belakang Beryl, tetapi tidak terlihat salah satu dari ketiga anak itu.


“Oh tidak, kebetulan saya ada meeting dengan klien di restoran depan. Saya mau membelikan buku untuk mereka, dan tak sengaja melihat Dokter di sini,” kilahnya.


“Oh begitu, saya kira mereka ada di sini. Bagaimana Kika, apakah giginya masih sakit?”


“Sepertinya sudah tidak sakit lagi, dia sudah cerewet seperti biasanya. Bahkan, dia lebih sering makan ice cream sekarang, katanya biar giginya sehat,” Beryl terkekeh mengingat tingkah polah anak bungsunya memakai alasan gigi sakit agar diijinkan makan ice cream sebanyak yang dia mau.


“Ya Tuhan, itu pasti gara-gara saya, iya kan?” mata Alin membola mendengar penuturan Beryl.


“Hahaha, mungkin,” entah kenapa Beryl begitu menyukai ekspresi terkejut Alin, raut wajahnya begitu menggemaskan.


“Maaf! Saya jadi merasa bersalah,” Alin meletakkan buku yang sedang dibacanya dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai tanda permintaan maaf.


“Ah, lupakan saja. Namanya juga anak-anak. Apakah Anda tidak ada jadwal di klinik hari ini?” Tuan muda Monza itu tidak ingin menambah rasa bersalah wanita cantik di depannya.


“Hmm, sebenarnya hari ini adalah hari kunjungan Papa saya ke panti asuhan. Jadi, saya lebih memilih untuk menemaninya dan menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak panti,” Beryl mengalihkan perhatian pada anak-anak yang sedang duduk bersila di lantai dekat display komik-komik terbaru. Dia tidak menyangka kalau mereka adalah anak-anak dari panti asuhan, awalnya dia mengira anak-anak itu keponakan Alin. Ada sedikit rasa kagum terselubung dalam hatinya. Tidak hanya berparas cantik, tetapi hati wanita berbulu mata lentik itupun secantik raut wajahnya.


“Oh ya, tadi Anda bilang mau mencari buku untuk anak-anak. Buku apa yang mau dicari?” lantunan suara Alin membuyarkan lamunannya.


“Entahlah, saya belum tahu,” jawab Beryl seraya mengusap pelipisnya.


“Apa Anda mau membantu saya?” Beryl ganti bertanya.


“Saya?” Alin menunjuk dirinya.


“Iya, sepertinya Dokter Alin sangat mengenal karakter anak-anak saya,” jauh di lubuk hatinya Beryl berharap waktu bisa sedikit saja berpihak padanya.


“Ehm, baiklah.”


Alin pun menyanggupi permintaannya. Mereka menghabiskan waktu menjelajahi setiap rak buku dari buku dongeng anak, komik, novel remaja, hobi bahkan ke area stationary untuk membeli beberapa perlengkapan sekolah. Rasa nyaman terselip dalam diri Beryl, gairah mudanya kembali terbit seolah ia baru menapak di usia awal dua puluh tahunan. Meskipun masih ada kecanggungan diantara mereka, namun jarak usia yang terbentang begitu jauh seperti tidak terlihat.


“Well, saya rasa sudah waktunya mengantar anak-anak ini pulang ke panti. Sekali lagi terima kasih,” sahut Alin ketika mereka berada di depan meja kasir. Awalnya, Alin menolak saat Beryl hendak membayar semua belanjaan. Namun, Beryl memaksa dengan dalih sebagai hadiah untuk anak-anak panti, Alin pun tidak kuasa menahannya.


“Saya juga terima kasih atas bantuannya,” ucap Beryl berbasa-basi.


“Kami permisi dulu. Ayo anak-anak!” Alin melenggang meninggalkan Beryl yang tidak bisa berhenti tersenyum bahagia. Ternyata mencari kebahagiaan itu begitu mudah dan sederhana.


“Ada tugas buat kamu, cari tahu panti asuhan mana yang dikunjungi oleh Dokter Alin!” perintah Beryl pada Eijaz yang sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


“Baik, Tuan!”


***


__ADS_2