Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 22 : Hilang


__ADS_3

Pukul sebelas malam waktu London. Beryl mengerjap, memandang langit-langit kamar yang berwarna biru cerah. Warna yang mampu menenangkan hati kala dirundung resah. Dia ingin sekali menceburkan diri di lautan luas. Berendam dalam dinginnya air samudera. Menepiskan lara yang meradang.


Betapa kurang beruntungnya dia bila menyangkut urusan asmara. Dua wanita yang dicintai meninggalkannya begitu saja, menyisakan sesak di rongga dada. Kekayaan dan kekuasaan tidak ada artinya. Sekoper uangpun tidak akan dapat menyelesaikan masalah patah hatinya. Apa mungkin tidak ada kesempatan baginya untuk merasakan cinta sejati?


Benaknya berkelana mengingat kejadian tadi siang. Begitu mendengar Eijaz melihat Alin di lobi perusahaan, lalu kabur ketika sang asisten hendak menghampiri, tanpa berpikir panjang Beryl langsung berlari mengejar. Meski terhuyung-huyung, tetapi dia sudah bertekad untuk mendapatkan cinta gadis itu sekali lagi.


Sesampainya di lobi, Beryl memerintahkan petugas keamanan perusahaan untuk memeriksa cctv. Dia berharap jejak Alin dapat terdeteksi oleh sistem kamera. Dari pantauan cctv, tampak gerak tubuh Alin berlari ke arah taman tidak jauh dari gedung perkantorannya.


Beryl keluar dari ruang keamanan secepat kilat bagai pria kesetanan. Dia berdoa semoga Tuhan membuat Alin tetap berada di sana hingga mereka bertemu. Ada jutaan kata maaf terangkai di bibirnya. Kalau perlu, dia akan berlutut di hadapan wanita yang dicintai itu. Sayangnya, Beryl terlambat. Tiga kali berjalan mengelilingi taman, tidak juga ditemukannya sosok Alin. Badannya lunglai, setengah patah arang, semangat yang tadi sempat berkobar kini menyusut.


Sayup-sayup terdengar suara getaran yang berasal dari telepon genggamnya. Setengah malas, Beryl meraih ponsel yang tergeletak di samping kanan. Nama Kishika menari-nari di layar ponsel. Beryl mengusap wajah, mencoba menghilangkan gurat kesedihan agar putri kecilnya tidak khawatir saat melihat lewat video call.


"Hi, Wonder Woman! How are you?" sapanya dengan senyum sedikit terpaksa.


"Dad, apa sudah ketemu sama Mommy Alin? Mommy baik-baik saja, kan? Kapan Daddy bawa Mommy pulang? Aku mau ketemu Mommy," cerocos Kishika membuat telinga Beryl berdenging.


"Aku mimpi buruk, Dad! Di mimpiku, Mommy Alin loncat ke jurang! Aku takut nggak bisa ketemu Mommy lagi," air mata Kishika berderai.


"Oh ya? Baby itu hanya mimpi, jangan nangis ya! Daddy sudah ketemu kok sama Mommy Alin."


"Beneran, Dad? Mana Mommy? Aku mau lihat, Dad!"


Kishika berhenti sesenggukan, hatinya berbunga-bunga saat Beryl menceritakan pertemuan dengan Alin-dokter kesayangan ketiga anaknya.


"Mommy lagi liburan, jadi belum bisa pulang. Sabar ya, sayang! Daddy janji akan bawa Mommy Alin pulang," sejujurnya Beryl tidak ingin membohongi Kishika, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Dia sendiri meragukan janji yang diucapkannya.


"Janji ya, Dad!"


"Janji!" Beryl mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

__ADS_1


"Oke, Dad! I love you!" Kishika memutus video call.


Beryl kembali merebahkan diri di kasur. Berusaha memejamkan mata dan sejenak melupakan kisah cintanya yang diujung tanduk. Terbayang wajah-wajah kecewa orang tua dan anak-anaknya, jika dia tidak bisa membawa Alin kembali bersama.


Lima menit kemudian, ponselnya kembali bergetar. Beryl mengangkatnya tanpa melihat nama si penelepon.


"Halo!" sahutnya.


"Alin hilang!" ucap suara di seberang telepon.


"Apa!" Beryl segera terbangun dari rebahan, saking kagetnya.


"Ov, kau nggak bercanda kan?" tukas Beryl panik.


"Jam segini aku meneleponmu dan mengatakan kalau putriku yang kau cintai itu hilang, apa menurutmu aku sedang senang-senang?" Othman meninggikan nada suaranya.


"Sampai sekarang dia belum pulang! Kami sudah mencarinya ke mana-mana. Hanya handphone saja yang ditemukan di taman depan kantor," suara Othman berubah luruh seperti orang putus asa.


^^o^^


Zhiggy Otto Yosrey menggertakkan gigi, geram karena orang-orang suruhannya belum berhasil menemukan Alin. Tangan terkepal menahan amarah, perasaannya campur aduk tidak karuan. Sebuah rekaman cctv yang didapatkan salah satu anak buahnya menunjukkan kalau Alin dibawa oleh seseorang. Sayangnya, mobil yang dikendarai orang itu tidak dapat terlacak. Zhiggy bertanya-tanya dalam hati, siapa yang berani bermain-main dengan keluarganya.


“Kalau orang itu ketemu, aku akan menghabisinya!” sungut Kaif.


Beryl memperhatikan video rekaman itu dengan serius, diulang-ulang seolah mencari petunjuk. Dari video itu terlihat Alin sedang berbincang bersama seorang pria, lalu mereka berdua berpisah. Tidak lama setelah Alin meninggalkan bangku taman yang sempat disinggahi, seseorang berpakaian hitam-hitam muncul di depannya dan membawa gadis itu pergi. Berkali-kali Beryl mencoba memperbesar gambar, tetapi wajah laki-laki itu tidak terlihat jelas.


“Apa kalian sudah hubungi Keven?” tanya Beryl.


“Rigel sudah meneleponnya. Keven sudah menyebar mata-mata ke seluruh penjuru London,” jawab Zhiggy.

__ADS_1


“Dia nggak akan gagal, percayalah!” Beryl berusaha mengendalikan kecemasannya.


Harapannya saat ini bergantung pada Keven Saverio, pemuda keturunan bangsawan yang sangat disegani seantero Eropa dan Jepang. Calon suami Rigel itu memiliki koneksi dan akses yang luas di Eropa, Amerika serta Asia.


“Apa kita hanya berdiam diri di sini?” Kaif tidak sabar. Dia tidak tenang karena Alin masih ada di luaran sana tanpa kabar.


“Lapor ke polisi juga bukan solusi yang tepat saat ini. Aku rasa Beryl benar, Keven pasti akan menemukannya.”


“Tapi, Dad …,” Kaif hendak memprotes keputusan daddy-nya. Namun, tatapan nyalang Othman membuatnya mengembuskan gumpalan emosi ke udara.


“Aku nggak tahu bagaimana caranya, tapi aku harap kalian dapat segera menemukan putriku!”


Yola yang sedari tadi terdiam gelisah mulai angkat bicara. Anak gadis yang baru saja tinggal bersama mereka setelah puluhan tahun hidup terpisah, sekarang tiba-tiba menghilang. Penyesalan merambati, harusnya tadi dia bisa mencegah Alin. Bukan malah membiarkannya pergi sendiri tanpa pengawalan.


“Sayangku, Alin pasti akan ditemukan. Berdoalah, karena doa seorang ibu itu nggak akan tertolak!” Othman menggenggam tangan istrinya. Merangkul pundak Yola untuk meredakan kekhawatirannya.


Mereka semua yang ada di ruang keluarga mengatupkan mulut rapat-rapat, hanyut dalam pemikiran masing-masing. Cemas, panik, bingung, takut, resah dan gelisah bercampur menjadi satu bagaikan adonan kue. Sekali-kali melirik ponsel yang mereka pegang berharap ada secercah kabar gembira.


Kaif berjalan ke sana-kemari, perasaannya kacau. Dia merasa bersalah atas apa yang telah menimpa adiknya. Semestinya tadi siang dia tidak memprovokasi Alin untuk pergi mengunjungi Beryl. Kalau sampai kejadian buruk terjadi, dia adalah satu-satunya orang yang patut disalahkan. Namun, dia tidak bisa gegabah. Kaif mengambil jaket yang tergeletak di sofa, dia tidak ingin berdiam diri dengan menanggung beban seberat itu.


“Kau mau ke mana?” Othman memandang putra keduanya.


“Aku nggak bisa duduk diam di rumah saja, Dad! Lama-lama aku bisa gila! Biarkan aku keluar mencarinya,” Kaif frustasi.


“Tunggu! Keven mengirimkan sesuatu,” ucapan Zhiggy menghentikan Kaif.


Zhiggy dengan sigap membuka pesan dari sahabat karibnya itu. Sebuah video dan lokasi keberadaan Alin. Zhiggy mengamati peta lokasi yang dibagikan Keven. Tempat yang cukup terpencil dan lumayan jauh dari keramaian. Kelopak mata Zhiggy tidak berkedip menyaksikan rekaman video yang diputarnya. Dia terkejut tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tanpa basa-basi, Zhiggy mencari sesuatu di daftar kontak ponselnya, lantas melakukan panggilan.


“Alaric! Di mana kau, berengsek!” umpatnya kesal.

__ADS_1


\~***\~


__ADS_2