Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
EPILOG


__ADS_3

Alin memagut diri di depan cermin dengan gaun pengantin warna putih tulang. Gaun berpotongan leher sabrina, berlengan panjang, model bawahan mengembang dan tidak terlalu menjuntai. Gaun sederhana, tetapi tampak anggun. Rambut digelung dihiasi tiara kecil yang terbuat dari bahan perak bertabur butiran berlian. Riasan wajah natural, tidak terlalu tebal, menonjolkan bagian mata yang bulat dan bibir mungilnya.


Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Beryliano Monza. Bapak tiga anak yang telah berhasil mencuri hatinya. Pria berusia dua puluh tahun lebih tua darinya, tetapi mampu menghapus luka asmara yang dulu sempat dirasakan Alin. Lelaki yang sanggup menghadirkan pelangi di jiwanya setelah mendung menggulung. Alin tersenyum bahagia.


"Mommy Alin!" teriak Kishika memanggil namanya.


“Halo, Sayang!” Alin menyambut calon anak sambungnya.


“Wah, Mommy cantik banget!” puji Kishika.


“Kamu juga cantik, kok!”


“Aku senang sekali, akhirnya Daddy nggak jomblo karatan lagi!” canda Mallory.


“Hush, kamu ini!” tegur Alin.


“Kan aku ngomong apa adanya, Mom! Daddy selama ini terlalu sibuk ngurusi anak, orang tua, bisnis sampai nggak ada waktu buat diri sendiri. Sekarang ada Mommy yang bakalan ngurusin Daddy.”


“Memangnya sebagai anak kamu nggak mau ngurusin Daddy?” Alin bertanya balik.


“Ya, bukan begitu! Daddy itu orangnya ribet, keras kepala, gampang marah. Nanti yang ada kita malah berantem! Tapi kalau sama Mommy, Daddy itu nurut banget. Udah kayak anak ayam takut ditinggal induknya,” seloroh Mallory yang membuat Alin terkekeh.


“Ah, masa sih?”


“Tanya aja sama Kika,” Mallory melirik adik bungsunya yang manggut-manggut.


“Pokoknya sebut aja nama Mommy, Daddy udah pasti takluk!”


Mallory tertawa lepas, apalagi saat mengingat tingkah Beryl beberapa waktu lalu. Kala itu, Mallory kembali merayu daddy-nya agar memberi ijin kuliah di London setelah dia lulus SMA. Akan tetapi, Beryl tetap teguh pada pendiriannya. Dia bersikeras melarang putrinya untuk tinggal jauh dari keluarga.


“Kalau Daddy tetap melarang, aku akan bilang ke Mommy Alin!” ancam Mallory.


“Kenapa kamu harus bilang ke Mommy Alin?” Beryl heran, sekarang anak-anaknya lebih mendengarkan Alin daripada dia.


“Karena Mommy yang udah ngedaftarin aku di salah satu kampus terbaik di London!”


“What?” sahut Beryl.

__ADS_1


“Iya, Mommy bilang kalau aku boleh kuliah di London asalkan tinggal di rumah keluarga Yosrey. Mommy nggak mau aku tinggal sendirian tanpa pengawasan. Kalau Daddy tetap melarang, aku akan ngomong ke Mommy buat ngebatalin pendaftarannya.”


Mallory memasang tampang cemberut. Dia tahu tidak akan menang melawan keputusan Beryl, makanya dengan sengaja menyebutkan nama Alin sebagai tameng. Daddy-nya itu tidak akan menolak keinginan calon istri karena sudah terlanjur cinta.


“Wait! Nggak perlu dibatalkan!” ujar Beryl saat Mallory hendak beranjak pergi.


Beryl tidak mau berdebat dengan Alin daripada gadis itu mengomel dan akhirnya mogok bicara kalau permintaannya ditolak. Dia bisa gila jika Alin menjauh lagi darinya.


“Yes!” teriak Mallory dalam hati.


“Tapi, ingat syaratnya! Kamu harus tinggal bersama keluarga Yosrey! Aku akan minta Zhiggy untuk mengawasimu dengan ketat selama dua puluh empat jam!”


“Oh, Dad! Kau sungguh keterlaluan! Dua puluh empat jam?” Mallory melayangkan protesnya. Dia bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti bila dua puluh empat jam dijaga bodyguard. Pasti akan sangat membosankan.


“Dua puluh empat jam atau nggak sama sekali! Daddy yakin kalau Mommy Alin akan setuju dengan keputusan ini. Bagaimana, young lady?” Mallory terpaksa mengangguk setuju.


“Deal!” jawab Mallory sengit.


“Good girl!” Beryl mengacak-acak rambut putrinya.


Mallory benar-benar senang bukan kepalang. Daddy-nya menikah dengan dokter kesayangan yang cantik juga baik hati, dia dan kedua adiknya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi, serta mimpinya kuliah di London akan menjadi kenyataan. Semua itu adalah anugerah paket lengkap yang dihadiahkan Tuhan padanya.


“Princessa, apa kamu sudah siap?” tanya Yola.


“Sure, Mom! I’m ready,” Alin menjawab dengan lugas.


“Ayo, kita keluar!”


Kishika menggandeng tangan kiri Alin seraya menuntunnya berjalan menuju tempat prosesi pernikahan. Pesta pernikahan mereka digelar di kediaman keluarga Yosrey. Sengaja mereka merancang pesta pernikahan yang sederhana dan hanya dihadiri kerabat serta teman dekat saja. Mereka tidak ingin pesta glamor yang mengurangi kesakralan upacara pernikahan.


Kebahagiaan Alin semakin bertambah ketika melihat Papa Vishaka, Tante Naima, dan Ragnala datang untuk mendampinginya. Ragnala berlari kecil memeluk sahabat kesayangannya.


“Alin! Akhirnya kamu menikah juga! Selamat ya, Bestie!”


“Thank’s ya, La!” 


“Oh my gosh! Kamu yang nikah kenapa aku yang merinding dangdut, ya?” seru Ragnala dengan cueknya.

__ADS_1


“Hahaha, kamu ini lucu!”


Naima mendorong kursi roda Vishaka dan mengarahkannya mendekati Alin. Gadis yang dulu menutup diri dari dunia, tenggelam dalam kesedihan, trauma akan cinta, kini tampak gurat keceriaan terukir di wajahnya. Tiada lagi sorot mata pilu yang selalu dilihatnya. Naima bangga dengan perjuangan Alin melepaskan diri dari belenggu masa lalu.


“Papa!” Alin memeluk papanya, air mata menetes tanpa disadari.


“Nak, selamat ya! Berbahagialah dengan dia yang mencintaimu. Jalannya memang terjal, tapi kamu lihat kan Tuhan begitu baik!” Vishaka mengusap punggung tangan putrinya.


“Iya, Pa! Terima kasih, karena Papa selalu ada buat aku selama ini. Papa benar-benar super hero buatku,” Alin mencium kening papanya.


“Kamu adalah putri Papa selamanya,” Vishaka menatap putrinya terharu.


“Papa kapan menyusul menikahi Tante Naima?” bisik Alin membuat Vishaka mencebik kesal karena putrinya itu menghancurkan keharuannya.


“Alin, ayo sayang!” Yola mengingatkan kalau prosesi pernikahannya akan segera dimulai.


Beryl berdiri gagah dengan tuxedo berwarna putih tulang, senada dengan gaun yang dikenakan Alin. Dia terperangah memandangi kecantikan wanita pujaannya. Tinggal menunggu hitungan detik perempuan anggun itu akan menjadi istrinya, belahan jiwanya. Sampai saat ini, dia masih tidak percaya kalau di usia hampir setengah abad mendapatkan berkah luar biasa. Jatuh cinta pada gadis belia, anak sahabatnya, dan keponakan dari cinta pertamanya. Takdir yang sungguh menggelikan.


Penghulu mempersilakan mereka berdua untuk duduk di tempatnya masing-masing. Setelah semua siap, penghulu pun memulai acara ijab kabulnya. Beryl menjabat tangan Othman Valdi Yosrey dengan kuat penuh keyakinan, tidak ada lagi keraguan.


“Saya terima nikahnya Alin Odity binti Othman Valdi Yosrey …,” suara Beryl terdengar lantang, menggema di seluruh sudut ruangan.


“SAH!” sahut para saksi.


Alin mencium tangan Beryl yang sudah sah menjadi suaminya. Sementara Beryl ganti mencium kening istrinya. Mereka telah menjadi satu dalam ikatan pernikahan yang suci. Tidak akan ada lagi masa lalu yang membebani. Masa lalu biarlah berlalu, tersimpan rapat dalam kotak pandora yang terkunci.


“Oke, sekarang saatnya lempar bunga!” teriak Yola bersemangat.


Yola sibuk mengatur semua orang yang berstatus single berdiri berbaris di belakang pasangan pengantin. Rigel, Ragnala, Zhiggy, Kaif, bahkan Naima menjadi korban keseruan sang nyonya rumah.


“Siap! Satu, dua, tiga!” Alin dan Beryl membalikkan badan, lalu melemparkan buket bunga pengantinnya.


Semua peserta bergerak ke sana-kemari menyesuaikan dengan arah lemparan bunga.


“Aduh!” terdengar suara mengaduh, semua yang ada di sana menoleh bersamaan ke sumber suara.


Mallory terdorong pasukan penangkap bunga, tubuhnya terhuyung ke belakang nyaris jatuh. Seorang pria menahan badannya. Saat dia berusaha bangkit dengan bantuan lelaki itu, tiba-tiba buket bunga melayang di atasnya, lantas mendarat tepat di pangkuannya. Spontan Mallory memegang buket bunga itu. Semua orang tertegun menatapnya.

__ADS_1


“Rory? Zhiggy?”


~ END ~


__ADS_2