Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 17 : Karma


__ADS_3

Enam tahun terlewati, selama itu Alin berusaha bangkit dari keterpurukkan meskipun terseok-seok. Melepaskan diri dari belitan masa lalu yang terlalu menyiksa. Hingga pada akhirnya dia mampu menghirup udara kebebasan walau harus kehilangan orang terkasih. Namun, kini udara kota London terasa lembab penuh kontaminasi. Terlebih, manusia yang sangat dibencinya hadir kembali mengisi ruang luka lama.


Kemunculan Alaric Zhafar, supir pribadi yang ditugaskan Kak Zhiggy sangat mengusik relung hati tergelap. Dunia begitu luas, dan selama perjuangan mempertahankan kesehatan mentalnya tidak sekalipun Tuhan mempertemukan mereka. Akan tetapi, kini di belahan bumi lain Tuhan menyusun skenario perjumpaan yang tidak terduga.


Di dalam mobil yang melaju lurus, Alin masih membisu. Kepanikan datang merajai, dia membutuhkan obat penenang. Namun, sayangnya obat itu tertinggal di kamar. Alin memejamkan netra, berharap tidur akan membantunya mengatasi gelisah yang mendera. Mengatur napas, mengendalikan pikiran, menetralkan detak jantung yang memburu. Terngiang ucapan Tuan Vishaka satu tahun yang lalu.


"Nak, jika suatu hari kamu bertemu dengan Alaric, apa yang akan kamu lakukan?"


"Jangan sebut nama itu lagi, Pa! Aku nggak mau ketemu Alaric!" jawab Alin tegas.


"Bukan kamu yang menentukan, Lin. Tuhan punya kuasa. Boleh jadi kamu nggak menyukainya, tapi Tuhan yang lebih tahu segalanya!" Tuan Vishaka mengingatkan Alin.


Suka tidak suka, Alin sadar kalau dia tidak akan pernah bisa menghindar dari takdir Tuhan.


"Kuatkan hatimu, Nak! Ingatlah, perjuangan dan pengorbanan Mamamu. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk tenggelam dalam kehancuran! Papa yakin kamu pasti bisa! Kamu wanita yang hebat!" Tuan Vishaka terus mengobarkan semangat Alin.


Itulah yang sedang dilakukan Alin saat ini. Menguatkan diri agar tidak kembali tenggelam dalam depresi. Dibuangnya semua benalu yang menancap akibat perbuatan Alaric di masa lampau. Diingatnya wajah orang-orang di sekitar yang memberikan cinta dan kasih sayang. Keluarga, sahabat, serta anak-anak panti yang selalu tertawa renyah. Bila ditakar dengan timbangan, penderitaan anak-anak panti itu pasti jauh lebih berat daripada yang dialaminya.


Sedikit demi sedikit udara bersih menelusuk, menyapu gelombang partikel patah hati yang sempat mengganggu. Keringat dingin dan gemetaran yang tadi dirasakan, perlahan mereda. Detak jantung yang bertalu kembali normal.  Inti dari semuanya adalah penerimaan, keikhlasan dan pengendalian pikiran. Seperti yang selalu ditekankan oleh psikiater pribadinya.


"Alin ..., Nona Alin, kita sudah sampai!" ucap Alaric kaku.


Alin melirik sebentar dari balik jendela mobil. Bangunan Harrods Department Store terlihat megah dengan desain khasnya. Kebetulan hari ini adiknya yang baru kembali dari petualangan ingin bertemu di salah satu tempat makan di Harrods.


"Tinggalkan saja aku di sini. Kamu bisa kembali lagi ke kantor Kakakku!" perintah Alin kepada Alaric.


"Maaf, saya tidak bisa meninggalkan Anda di sini. Tuan Zhiggy menugaskan saya untuk terus menjaga Anda," ucap Alaric formal sebelum Alin membuka pintu mobil.


Alin tergelak mendengar kata-kata Alaric. Perkataan yang terdengar lucu sekaligus miris di telinganya.


"Enam tahun aku hidup baik-baik saja tanpa penjagaanmu. Jadi nggak perlu repot-repot mengkhawatirkan aku!" jawab Alin sinis.


"Maafkan saya, Nona! Tapi, ini perintah Kakak Anda. Saya tidak mau mendapat hukuman karena dianggap mengabaikan perintahnya," Alaric bersikeras.


"Tenang saja, Kakakku nggak akan menghukummu. Kalau aku mau, aku sendiri yang akan mematahkan lehermu dengan tanganku!" Alin memamerkan telapak tangannya yang terbuka lebar. Alaric melihat dari kaca yang menggantung tepat di atasnya merasa ngeri .


Alin sekarang banyak berubah, bukan lagi gadis lembut yang dulu dikenalnya. Sebenarnya dia masih penasaran dengan kisah hidup Alin yang tidak pernah diketahui. Bagaimana bisa mantan calon istrinya itu menjadi bagian dari keluarga Yosrey, salah satu keluarga terpandang di London. Namun, menatap sorot tajam sepasang mata itu, Alaric membuang keraguannya. Alin memang berdarah Yosrey. Salah satu nama yang rumornya masih berkerabat dengan keluarga konglomerat terbesar di Italia.


"Kalau kamu memang setakut itu pada Kakakku, sebaiknya bersembunyilah di lubang buaya! Itu akan lebih baik untuk lintah sepertimu!" caci Alin.


Alaric tidak menyahut. Dia pantas menerima hinaan itu. Dosanya kepada Alin tidaklah sebanding dengan kalimat pedas yang diluncurkan oleh gadis itu. Penyesalan memang datang terlambat. Alaric terlalu hanyut pada godaan asa dan harta daripada bertahan dalam cinta tulus yang diberikan Alin padanya. Dia benar-benar bodoh, meninggalkan Alin demi wanita licik seperti Miranda.


Hukum karma berlaku. Miranda mendepaknya karena tergiur kemewahan yang mampu menjamin masa depan. Sementara dia hidup luntang-lantung kehilangan segalanya. Perempuan culas itu merampas seluruh aset keluarganya. Alaric jatuh miskin di negeri orang. Sampai detik ini, dia belum berani pulang ke Indonesia. Orang tua Alaric pasti akan mencoret namanya dari daftar silsilah keluarga.

__ADS_1


“Maafkan aku, Lin!” sahut Alaric pasrah.


“Maaf? Hah! Permintaan maafmu nggak akan mengubah semuanya! Nggak akan menyembuhkan luka yang terlanjur ditorehkan! Nggak ada gunanya! Simpan saja permintaan maaf untuk dirimu sendiri!”


“Lin, aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!” Alaric meratap.


“Apa aku nggak salah dengar? Apa yang mau diperbaiki? Ibarat vas bunga pecah nggak akan bisa kembali seperti semula. Walau direkatkan dengan lem terkuat di dunia sekalipun, nggak akan menghapus retakannya.”


“Aku tahu. Tapi, ijinkan aku kali ini untuk menjagamu!”


“Menjagaku dari apa? Satu-satunya ular yang sanggup mematukku adalah kamu! Menjauhlah dariku, aku nggak perlu laki-laki munafik sepertimu!” Alin membuka pintu mobil.


“Alin …!” Alaric berusaha menahan gadis itu.


Alin mengehentikan gerakan kakinya sesaat, kembali berbalik menatap Alaric dengan pandangan sadis.


“Satu lagi. Hanya karena kamu tahu kalau aku adalah putri keluarga Yosrey, bukan berarti kamu bisa menjadikan aku pohon pinang yang gampang dipanjat untuk memuluskan semua khayalanmu. Jangan pernah mimpi terlalu tinggi! Ingatlah batasanmu!” Alin keluar dari mobil tanpa mempedulikan Alaric terdiam di kursi kemudinya.


^^o^^


Beryl duduk di ruang kerjanya, kedua kaki terangkat lurus di atas meja dan tumit salit menumpu. Auranya bagaikan orang frustasi tingkat tinggi. Sudah satu bulan dia menjelajah penjuru London, tetapi belum ada info secuilpun tentang keberadaan Alin. Beryl diambang putus asa.


Matanya terpejam, kedua tangan memeluk foto Alin yang sudah dibingkai sempurna. Jam tidurnya berkurang drastis, kegelisahan bergelayut setiap hari. Alin menghilang bagai ditelan bumi. Orang-orang suruhan yang disebarnya belum juga memberikan kabar gembira.


“Wah, ternyata benar rumor yang beredar! Tuan Monza Junior ada di daratan London. Biasanya aku adalah orang pertama yang tahu, tapi sekarang kau sudah menduakan aku!” Beryl membuka mata tatakala mendengar suara sahabat sekaligus rekan bisnisnya.


“Sejak kapan kau peduli pada rumor, Ov?” tanyanya malas.


“Sejak aku dengar berita tentang sahabatku yang patah hati!” sindir Othman, teman baik yang sudah dianggapnya seperti saudara.


“Ya Tuhan, lihatlah tampangmu! Bagaikan mayat hidup!” ini kedua kalinya Othman menyaksikan Beryl terpuruk karena urusan cinta.


“Kali ini, wanita mana yang sudah menyakitimu?” Othman benar-benar penasaran.


“Dia nggak menyakitiku, Ov! Akulah yang mengacaukan segalanya!” Beryl mengembuskan napas kasar.


“What?” Othman terbelalak tidak percaya.


“Tell me!” lanjutnya.


Beryl terdiam beberapa saat, dia menurunkan kakinya, memutar kursi hingga menghadap ke dinding kaca yang terpampang langit Kota London di siang hari. Dia menerawang jauh. Harapannya untuk menemukan Alin masih melambung tinggi, tetapi semangatnya perlahan goyah.


“Dulu, seorang wanita yang kucintai menikahi orang lain. Bertahun-tahun aku membencinya karena pengkhianatan itu terlalu menyakitkan. Tapi, aku baru tahu kalau semua itu terjadi disebabkan tipu daya Zora.”

__ADS_1


“Zora?” Othman menautkan kedua alisnya.


“Akhirnya, kebencian itu justru menuntunku jatuh cinta pada seorang gadis yang ternyata adalah putrinya. Dan kebencian itulah yang sekarang membuatnya meninggalkanku,” bola mata Beryl berkaca-kaca.


“Hah, wait! Maksudmu, wanita yang kau cintai sekarang adalah anak dari cinta pertamamu?” Beryl menganggukkan kepala, membuat Othman nyaris terjengkang dari kursinya saat mengetahui takdir cinta yang rumit.


“Demi Tuhan, ini benar-benar drama cinta yang ajaib!” Othman mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Aku nggak tahu dosa apa yang kulakukan di masa lalu.”


“Satu-satunya dosamu adalah memelihara Zora terlalu lama!” dengus Othman.


“Sial! Kau pikir dia hewan peliharaan?” sungut Beryl.


“Faktanya, kegagalan menjauhkan Zora dari hidupmu telah merusak percintaanmu!”


Beryl bergeming. Dia juga tidak menyangkal ucapan karibnya. Bahkan, Alin juga pernah mengatakan hal yang hampir sama. Sikapnya yang tidak pernah tegas kepada Zora menjadikan perempuan itu bertindak semaunya sendiri.


“Do you love that girl?” Othman menyelidik.


“Apa kau pikir aku bisa sekacau ini kalau nggak benar-benar mencintainya? Kau yang paling tahu bagaimana aku, kan?”


“Seperti apa gadis yang sanggup menjungkir-balikkan duniamu?”


Beryl kembali memutar kursinya menghadap Othman. Diletakkannya foto Alin di meja. Othman yang sangat penasaran dengan sosok gadis pujaan sahabatnya meraih bingkai foto itu. Bola matanya terbuka lebar, foto itu mampu mempercepat detak jantungnya. Akalnya melanglang buana, memori memutar-mutar kembali perbincangan mereka bagaikan kaset rusak.


“Dia!” lidah Othman tercekat.


“Kau pernah melihatnya?” Beryl memicingkan mata.


“Ov, apa kau pernah bertemu dengannya?” tanya Beryl sekali lagi.


“Ah, nggak! Dia gadis yang cantik,” Othman menahan bibirnya, dia belum bisa mempercayai kenyataan yang terhampar di depannya.


“Bantu aku menemukannya, Ov! Aku nggak bisa hidup tanpanya!” suara kepasrahan Beryl menggugah hati kecil Othman.


“Ehm, London begitu luas. Belum tentu aku bisa menemukannya secepat itu,” Othman tidak ingin menjanjikan apapun kepada Beryl.


“Ya, aku tahu. Thank’s!” 


Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing yang berkecamuk.


\~***\~

__ADS_1


__ADS_2