Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 7 : Tampar


__ADS_3

Tuan Vishaka Hamra memperhatikan putri semata wayangnya yang duduk termenung di teras. Pandangannya menatap kosong ke langit malam. Tidak biasanya Alin irit bicara.


“Lin, kamu lagi mikirin apa? Dari tadi Papa lihat duduk bengong sendiri.”


Alin kaget, papanya sudah ada di samping sembari mengunci kursi roda. Alin bingung harus mulai darimana, mengingat perbincangan mereka terakhir kali, dia bersikukuh meminta papanya menikah lebih dulu. Sekarang sepertinya ia akan menjilat ludah sendiri. Alin percaya Papa akan bersorak kegirangan mendengar rencana pernikahannya, tapi bukan itu masalah utama.


“Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok, Pa!” elaknya.


“Kamu nggak usah bohong, Papa tahu betul kalau kamu duduk melamun di sini, pasti ada masalah.”


Gadis berhidung mancung itu memang tidak pandai berbohong, apalagi di depan papanya. Perlahan Alin membalikkan badan hingga duduk berhadapan menghadap papa tercinta.


“Pa,” Alin berusaha mengumpulkan kepingan keberaniannya.


“Pa, jika ada seorang anak yang minta tolong sama Papa untuk menjadi orang tuanya, apa Papa mau menolong?”


“Apa anak itu tidak punya orang tua?”


“Ehm, orang tuanya single parent. Anak itu nggak mau orang tuanya menikah dengan orang lain yang dianggap jahat. Dia mengancam akan kabur dari rumah.”


Tuan Vishaka mendengarkan secara saksama dan mencoba menerka arah pembicaraan putrinya.


“Laki-laki mana yang beruntung itu?” tanyanya penuh selidik.


“Hah? Beruntung? Maksud Papa?”


“Siapa laki-laki yang beruntung akan menikahi kamu?” Alin membeliak, bola mata bergerak gelisah menutupi keterkejutannya. Bagaimana mungkin tebakan papanya bisa langsung on point seperti itu?


“Kok, Papa bisa tahu sih?”


“Kamu ini anak Papa, Lin. Tentu saja Papa tahu.”


“Ih, Papa udah kayak cenayang aja!” gumam Alin yang disambut kekehan papanya.


“Suruh keluarga mereka datang kesini untuk melamarmu,” ucap Tuan Vishaka tenang.


“Tapi, Pa …,” Tuan Vishaka mengusap punggung tangan Alin.


“Alin, lakukan saja apa yang hatimu katakan. Lakukanlah apa yang kamu anggap benar. Papa akan selalu mendukungmu, hem!” anggukan kepala papanya meneduhkan hati Alin yang galau.


“Tapi nggak ada cinta di antara kami, Pa. Impianku itu adalah pernikahan yang dipenuhi rasa cinta.”


“Kamu salah, Nak. Papa lihat, kalian punya rasa cinta yang sama.”


Alin tidak mengerti maksud ucapan papanya. Jelas-jelas Beryl dan dirinya baru saling mengenal, bahkan baru bertemu tiga kali. Bagaimana bisa ada rasa cinta yang sama?


“Kalian sama-sama menyayangi anak itu, kan? Itu adalah cinta yang sama,” Alin baru tersadar.


“Cinta itu punya banyak bentuk. Rasa cinta sekecil apapun bisa menjadi pondasi dalam menjalani sebuah hubungan. Dan semua itu akan berhasil kalau kalian sama-sama bersabar serta berjuang.”


“Lihatlah Papa, dulu Papa ini hanya tempat pelarian Mamamu yang patah hati. Meskipun Mamamu mencintai Papa selayaknya sahabat, Papa tetap bersabar menerimanya. Terus berjuang tanpa kenal putus asa untuk mempertahankan cinta yang secuil itu sampai detik ini,” lanjut Tuan Vishaka.


Alin tercengang tidak percaya. Di mata Alin, kedua orang tuanya adalah pasangan pecinta yang menjadi panutan. Tidak pernah ada pertengkaran selama kurun waktu pernikahan mereka. Selalu menyayangi setiap hari, pemandangan yang dirindukannya.


“Masa sih, Pa? Papa jangan bercanda, deh!” Alin pikir itu hanya candaan papanya saja.


“Yah, memang itulah kenyataannya.”


“Tapi Alin nggak pernah lihat Mama dan Papa berantem, yang aku lihat kalian saling mencintai.”


“Itu karena kami saling berjuang untuk mempertahankan cinta yang kami miliki apapun bentuknya. Sudahlah, besok kenalkan Papa pada pria pemenang jackpot itu.”

__ADS_1


“Idiih, jackpot apaan sih, Pa! Emangnya undian?” sungut Alin.


“Hahaha, sudahlah! Ayo masuk!” Tuan Vishaka tertawa lebar.


“Tapi Pa…,”


“Apalagi?” Tuan Vishaka menghentikan tangannya yang hendak meraih kunci kursi roda.


“Usiaku dan dia terpaut jauh,” Alin kembali meragu.


“Seberapa jauh?” Tuan Vishaka memicingkan mata.


“Di-dia hampir seumuran dengan Papa,” Alin menelisik dalam gurat wajah papanya. Tampak jelas ada sedikit keterkejutan di balik sikap tenang papanya itu.


“Heemmm, jujur Papa agak kaget mendengarnya. Tapi, kadang cinta itu nggak memandang usia, nggak memandang waktu, apalagi tempat. Semua keputusan ada di tanganmu, Lin. Papa akan mendukung apapun keputusanmu,” dada Alin terasa sesak, Papanya adalah pendukung nomor satu. Tidak peduli dalam situasi sedih, marah, kecewa, atau bahagia, papa selalu ada untuknya.


Alin memeluk rapat tubuh papanya, tetesan air mata meluncur membasahi pipi. Di saat-saat seperti inilah, Alin justru semakin merindukan mamanya.


“Ini sudah larut, ayo masuk! Terlalu lama disini, nanti malah masuk angin,” seru Tuan Vishaka.


^^o^^


Alin memarkirkan mobilnya di pelataran parkir depan pintu masuk Gedung Monzana Enterprise. Dimatikannya mesin mobil. Melihat bangunan gedung yang tampak megah menjulang itu, Alin meragu. Bahkan dia mempertanyakan keyakinannya sendiri.


“Bener nggak sih aku kesini?”


Bayangan ucapan papanya semalam, masih diingat dengan jelas. Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu kenapa dia mau melakukan pengorbanan sebesar ini untuk orang lain yang belum dia kenal dengan baik. Apakah alasannya benar-benar murni karena empati yang dirasakan pada Mallory? Gambaran wajah Mallory yang dibanjiri air mata tengah memohon padanya menari-nari dalam ingatan. Wajah sedih itu membuatnya terkenang akan diri sendiri saat kehilangan mama.


Berbekal kerendahan hati dan jiwa sosialnya yang berkobar, Alin keluar dari mobil. Ia beranjak melangkah masuk ke Gedung Monzana Enterprise. Alin merapikan pakaiannya. Casual mini dress warna abu-abu sepanjang lutut, berbahan babyterry dengan krah pendek berbahan tile dan lengan tiga per empat tampak begitu pas ditubuh rampingnya.


“Selamat pagi, Mbak!” sapanya kepada resepsionis yang bertugas.


“Saya mau bertemu dengan Tuan Beryl Monza.”


“Apa sudah ada janji sebelumnya?”


“Ehmmm, belum sih mbak,” Alin menyesal karena belum sempat memberitahu Beryl tentang rencananya.


“Nama saya Alin Odity, dokter gigi anak-anak beliau. Apa bisa tolong disampaikan ke beliau?” Alin berharap kedatangannya tidak sia-sia.


“Oh, Dokter? Sebentar saya hubungkan ke sekretaris beliau dulu.”


Sang resepsionis pun menghubungi seseorang melalui telepon yang ada di depannya. Alin menunggu dengan sabar sembari mengedarkan pandangan ke seantero lobi. Desain ruangannya tampak minimalis namun berkelas dengan didominasi warna-warna dove hingga tidak berkesan kaku.


“Permisi, Dokter Alin!” Alin kembali mengalihkan pandangan ke meja resepsionis.


“Silakan naik ke lantai tujuh,” resepsionis itu menggerakkan tangannya dengan santun mengarah ke lift di samping meja resepsionis.


“Baiklah, terima kasih!” Alin lega mendengarnya. Ia pun bergegas menuju lift.


Sesampainya di lantai tujuh, Alin celingukan ke kanan dan ke kiri. Di lantai itu hanya terlihat dua ruangan besar. Yang satu tertulis ruang pertemuan, berarti kantor Beryl ada di ruang satunya. Alin menghentikan langkahnya di meja sekretaris di depan ruangan bertuliskan direktur utama. Alin tidak melihat satu orang pun berkeliaran di area itu, bahkan suara pun terdengar hampa.


“Tante jangan mimpi menikah dengan Daddy! Nanti kalau nggak kesampaian, Tante bisa pingsan! Bikin repot aja!” tiba-tiba muncul suara dari dalam ruangan itu.


“Huh, kelinci kecil macam kamu gini bisa apa? Masih bau kencur aja mau melawan aku! Nggak level!” ada suara lainnya. Alin melangkah mendekati pintu.


“Yah, aku memang masih bau kencur. Anggap aja nggak selevel dengan Tante. Tapi bukan berarti aku nggak mampu melawan Tante! Dasar nenek lampir!” Alin berjingkat, sepertinya dia kenal dengan suara itu.


“Apa katamu? Nenek lampir? Berani-beraninya kamu!” terdengar suara tamparan keras membahana dari balik ruang kerja Beryl.


“Ingat ya bocah, kamu dan adik-adikmu hanyalah anak pungut! Ketika aku menikah dengan Beryl, aku akan pastikan kalian merana di asrama! Kalau perlu, aku akan mengirim kalian kembali ke keluarga Papa kalian!”

__ADS_1


“Dasar wanita gilaaaa! Aaarrrgghhhh …!”


Selanjutnya terdengar suara jerit bergantian dari dua orang yang membuat Alin semakin panik karena dia tahu betul itu suara Mallory. Dia pun nekat membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Mallory dan seorang wanita yang jauh lebih tua sedang saling jambak serta adu cakar.


“Rory, stop! Stop it!  Rory…,” Alin berlari kemudian menarik tubuh Mallory menjauh dari wanita itu.


Bukannya tenang, Mallory malah semakin beringas.


“Lepas! Lepaskan aku! Aku akan menghajar nenek lampir itu!” energi muda Mallory begitu kuat, Alin nyaris tidak kuasa menahannya.


“Nyonya, tolong hentikan! Dia masih anak-anak, tolong berhenti!” pekik Alin kencang.


“Hei, apa katamu? Nyonya? Kamu ini siapa, hah?” Zora berhenti sejenak karena merasa terganggu dengan kemunculan Alin.


“Ini bukan urusanmu, jadi menyingkirlah!” sengit Zora dengan napas panas yang memburu.


“Apa Anda tidak malu bertengkar melawan anak di bawah umur seperti orang barbar?” Alin tidak habis pikir dengan kelakuan Zora yang seperti anak kecil. Sama sekali tidak menggambarkan kedewasaan usianya.


“Sudah aku katakan, ini bukan urusanmu! Sekarang pergilah! Pergi kataku!” Zora benar-benar tidak terkendali.


“Aku tidak a…,” sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Alin sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.


Alin memegangi pipinya yang terasa sangat perih. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Wanita yang berdiri di depannya itu bertindak begitu liar, bagaikan kehabisan obat penenang.


“Kak Alin!” Mallory memegang erat lengan kiri Alin, gadis itu cemas.


“Itu pelajaran agar kamu tidak ikut campur urusan orang lain!” kata Zora sinis.


Alin membalas tamparan Zora yang mengakibatkan wanita itu melotot tajam.


“Itu pelajaran agar Anda tidak sembarangan menampar orang!” seru Alin ketus.


“Kau!” geram Zora seraya mengepalkan kedua tangan.


“Harusnya Anda berkaca! Wanita bermartabat tidak akan melakukan perbuatan kasar dan penganiayaan seperti ini! Saya tidak terima, saya akan melaporkan ini ke Polisi!” ancam Alin yang berhasil membuat amarah Zora semakin meletup.


“Aarrrghhh…, kau!” Zora hendak menyerang Alin dengan menancapkan kuku-kuku jarinya ke kulit kepala Alin.


“Zora!” suara Beryl nyaring bagai gemuruh petir yang siap menyambar.


“Demi Tuhan, apa yang kau lakukan?” Zora bergidik ketakutan, suara Beryl terdengar persis desis anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Siap menghunjam serta menyayat-nyayat.


“A-aku,” lidah Zora kelu.


“Daddy!” Mallory berlari memeluk Beryl yang shock melihat penampilan putri ABG-nya acak-acakan. Ada beberapan bekas cakaran tipis di kedua pipinya. Beryl beralih ke Alin. Pipi kanannya memerah, di sudut kanan bibir seperti ada noda darah. Tersirat kemarahan di tatapan mata sinis Alin.


“Beryl sayang, mereka menyerangku!” Zora membela diri saat Beryl menatapnya dengan kilatan mata tajam.


Beryl mengetatkan rahang, tangan mengepal, gerahamnya ditekan kuat. Kalau saja Zora seorang pria, Beryl pasti sudah menghabisinya. Kalau saja orang tua Zora tidak bersahabat dengan orang tuanya, Beryl pasti sudah menenggelamkannya. Beryl tidak sanggup melihat putrinya menangis. Dia saja tidak pernah memukul anak-anak, bisa-bisanya Zora berbuat sebrutal itu.


Kemudian Beryl menarik tangan kiri Alin dan menamparkannya ke pipi Zora yang percaya diri kalau Beryl tidak akan berani memukul. Beryl tidak pernah memukul wanita seburuk apapun tingkah lakunya. Namun, dia terperanjat saat Beryl menggunakan tangan Alin untuk menamparnya.


“Kau sudah keterlaluan Zora! Enyahlah dari hadapanku! Hanya demi menghargai persahabatan kedua orang tua kita, aku tidak akan melaporkanmu ke Polisi. Tapi ingat baik-baik, sekali lagi kau menyakiti keluargaku, aku sendiri yang akan menghancurkanmu dengan tanganku!”


“Beryl, Beryl sayang, kenapa kamu membela wanita ini? Dia menyerangku!” Zora menunjuk Alin. Kalau Beryl membela Mallory, dia bisa memaklumi hal itu. Akan tetapi, ini wanita asing yang baru ditemuinya, entah dari planet mana.


“Dia, calon istriku! Sekarang pergilah dari sini, sebelum aku tak bisa mengendalikan amarahku! Eijaz, panggil security! Bawa dia keluar dari sini!”


“Baik Tuan!”


\~***\~

__ADS_1


__ADS_2