
Beryliano Monza baru saja mendaratkan kaki di Indonesia setelah dua tahun menghabiskan waktunya di London, Inggris. Kepulangan kali ini sebenarnya bukan keinginan pribadi, tetapi mengingat kondisi kesehatan papa dan ketiga anaknya maka tidak ada pilihan lain. Monzano Enterprise membutuhkan dirinya karena Tuan Moazzam Monza, papanya, ingin menikmati hidup dengan santai dan damai tanpa memusingkan urusan bisnis. Karena itulah, Beryl terpaksa mengalihkan bisnis yang dibangun bersama rekan-rekan di London kepada sahabatnya, sementara dia hanya akan memantau perkembangan dari Indonesia.
“Daddy…, Daddy…!” suara teriakan gadis kecil yang sangat dirindukannya terdengar begitu nyaring. Beryl menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari dari mana suara itu berasal. Tampak seorang gadis kecil berusia enam tahun berlari menghampirinya dengan merentangkan kedua tangan.
“Hello, Little Princess! I miss you so much!” ujar Beryl seraya memeluk lalu menggendong gadis kecil itu.
“I miss you too, Dad!” jawabnya dengan senyum merekah di sepanjang bibir.
“Mana Kak Rory dan Kak Shaqi?” tanya Beryl.
“Hai, Dad!” seru Mallory Monza dan Shaquille Monza bersamaan.
“Hai, Queen! Hai, Jagoan!” Beryl memeluk mereka bertiga melepaskan kerinduan yang begitu besar.
Ketiga keponakan yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Ketiga anak itu sebenarnya adalah anak kandung mendiang adiknya, Delana Monza. Namun, Beryl sengaja mengadopsi ketiganya sejak peristiwa kecelakaan yang menewaskan Delana dan sang suami tiga tahun lalu. Beryl ingin mempertahankan hak asuh mereka tetap dalam keluarga Monza karena tidak ingin anak-anak itu tumbuh di lingkungan keluarga ayah kandungnya yang tidak jelas. Dia juga tidak ingin mereka bertiga dimanfaatkan sebagai gudang uang. Beryl tidak pernah menyetujui pernikahan adiknya, bahkan dia juga memilih tidak menghadiri pernikahan mereka. Beryl tahu betul laki-laki seperti apa yang menjadi suami adiknya itu, tetapi cinta sudah membutakan Delana.
Sepanjang perjalanan pulang, Kishika Monza atau yang akrab dipanggil dengan Kika terus saja berceloteh tentang sekolah dan teman-temannya. Dia juga mengeluh tentang giginya yang goyang dan kadang sakit kalau harus mengunyah makanan keras. Beryl tertawa lepas melihat Kika yang sudah mulai cerewet.
“Queen, kamu sudah besar sekarang. A teenage girl!” Beryl tidak percaya melihat Mallory yang beranjak remaja, parasnya sangat mirip dengan Delana.
“Ya iyalah, Dad! Oma dan Opa merawatku dengan baik, nggak seperti Daddy yang mengabaikan kami!” sungutnya. Mallory masih kecewa karena ayah angkatnya itu melarang dia melanjutkan sekolah menengah atas di London.
“Daddy nggak pernah mengabaikan kalian, ingat itu! Daddy sangat sayang sama kalian semua. Kalau Daddy nggak sayang, mana mungkin Daddy pulang sekarang,” jelasnya.
“Jadi, Daddy akan tinggal di sini terus sama kita? Daddy nggak pergi-pergi lagi kan?” Beryl menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Kishika.
“Yeaaayyyy!” gadis kecil itu kegirangan.
“Kalau kamu jagoan, apa kamu sudah jadi The Most Valuable Guy in School?” tanya Beryl sambil mengacak-acak rambut Shaquille.
“Hahhahahahah ...,” Mallory tertawa kencang, pasalnya Shaquille bukanlah anak lelaki yang mudah bergaul. Temannya di sekolah bisa dihitung dengan jari. Dia lebih nyaman menghabiskan waktu di perpustakaan daripada nongkrong di kantin atau lapangan basket bersama teman sekolahnya.
“Emang penting ya, Dad?” celetuk Shaquille cuek. Beryl melirik ke arah Mallory dan Kishika berharap mendapat jawaban atas sikap Shaquille yang tidak acuh. Akan tetapi, kedua putrinya itu hanya cekikikan saja.
“Well, it’s not a big deal! Just be yourself boy! I’m totally proud of you!” Beryl tidak ingin mengorek lebih jauh. Tidak untuk saat ini karena masih banyak waktu buat mereka ke depan.
Sesampainya di kediaman keluarga Monza, mereka sudah disambut oleh Tuan Moazzam dan Nyonya Aretha yang menunggu mereka dengan perasaan bahagia. Tentu saja bahagia, karena putra mereka satu-satunya akan tinggal lagi bersama mereka. Beryl memang hanya dua tahun menetap di London, tetapi sebelumnya dia sering bolak-balik ke London untuk urusan bisnis, praktis kebersamaan mereka sangat terbatas.
Beryl juga tidak pernah terlibat langsung dalam urusan Monzana Enterprise karena dia ingin membuktikan dirinya mampu menjalankan sebuah perusahaan besar dengan usaha sendiri, bukan atas dasar pemberian dari orang tua. Beryl bukanlah anak manja yang terus bersembunyi di bawah ketiak kedua orang tuanya. Terbukti dengan bisnis retail dan furnitur yang dirintis bersama beberapa rekan di London di mana sekarang semakin meluas. Itulah kenapa dia merasa yakin dengan keputusannya saat ini.
“Beryl, anakku!” Nyonya Aretha memeluk Beryl dengan erat. Ini memang bukan pertama kali Beryl pulang dari London, tetapi saat ini rasanya begitu berbeda.
“Mama! Mmmuuah…,” Beryl mencium kening mamanya dengan penuh cinta.
__ADS_1
“Pa…,” lalu berganti memeluk papanya.
“Bagaimana perjalananmu Nak?” tanya mamanya.
“Hahaha…, Mama-Mama, perjalananku rasanya masih sama seperti biasanya. Melelahkan, nggak ada bedanya. Kecuali aku baru pulang dari kutub utara,” Beryl tertawa mendengar pertanyaan mama yang tidak biasa ditanyakan sebelumnya.
“Ah, kamu ini! Apa salah Mama bertanya?” Nyonya Aretha menepuk pundak Beryl pelan.
“Mama nggak pernah salah,” Beryl mencium kedua pipi mamanya gemas.
“Sudah, sudah! Ayo masuk dulu, mereka pasti lapar. Pak Dama, Bi Tinah tolong kopernya Beryl dibawa ke kamar ya,” sahut Tuan Moazzam.
“Baik Tuan,” jawab Pak Dama dan Bi Tinah.
^^o^^
“Sore Suster Penny!” sapa Kishika ceria saat memasuki Klinik Gigi Jenaka. Hari ini adalah jadwal periksa gigi dan dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan dokter gigi favoritnya.
“Sore Kika! Hari ini cuma ditemani Kak Rory saja? Oma kemana?” tanya Suster Penny ketika melihat Mallory Monza berdiri di samping adiknya.
“Hari ini kita dianterin sama Daddy, Oma lagi istirahat di rumah!” ucap Kishika masih dengan gaya imutnya.
“Daddy?” Suster Penny celingak-celinguk, matanya mencari-cari sosok yang dimaksud oleh Kishika.
“Dokter Alin masih ada pasien, sebentar lagi juga selesai kok, cuma tinggal konsul aja. Kalau Dokter Nala sudah tidak ada pasien. Mau nunggu Dokter Alin atau sama Dokter Nala?”
“Kika tungguin Dokter Alin ajalah!” celetuk Kishika. Sejak kenal dengan Dokter Alin, Kishika sudah merasa nyaman jadi dia tidak mau ditangani dokter lain. Gadis kecil itu rela menunggu berjam-jam sampai ketiduran bila dokter kesayangannya masih menangani beberapa pasien.
Suster Penny mempersilakan keduanya duduk di sofa, kemudian dia masuk ke ruang kerja Dokter Alin. Tidak lama kemudian seseorang keluar dari ruang kerja Dokter Alin yang didominasi nuansa warna hijau terang, itu adalah pasien yang baru saja diperiksa. Lima menit kemudian Suster Penny memanggil Kishika dan Mallory untuk masuk ke dalam.
“Halo, Dokter Alin!” mereka menyapa serempak.
“Halo, cantik!” senyum terkembang dari sudut bibir Alin.
“Gimana giginya? Apa masih sakit?” Kishika menggelengkan kepala.
“Wonder Woman sudah siap dicabut giginya?” Alin memperhatikan wajah Kishika yang tampak sedikit ragu.
“Nggak sakit kan, Dok?” tanyanya penasaran.
“Sakitnya dikit aja kok, kayak digigit semut. Wonder Woman kan pemberani, nggak takut semut kan?” Kishika memulas senyumnya.
“Sebelum dicabut, Dokter Alin punya hadiah cold yogurt dengan rasa mango strawberry,” Alin mengeluarkan dua cup yogurt dingin dari kulkas kecil di belakang tempat duduknya. Lantas, dia menyodorkan kepada kakak-beradik di depannya.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu saat mereka tengah asyik menikmati yogurt dingin yang sangat menggiurkan. Suster Penny membuka pintu, tampak seorang laki-laki gagah berusia empat puluh tahunan berdiri tegap di depan pintu.
“Daddy!” sahut Mallory ketika melihat Beryl dari balik pintu. Mallory menarik lengan Beryl untuk masuk ke dalam.
“Daddy, kenalin ini Dokter Alin. Dokter Alin, ini Daddy kita,” Beryl tertegun menatap wanita mungil berwajah oval yang tersenyum lebar di hadapannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Entah kenapa sorot mata wanita itu seperti sudah dikenalnya. Tatapan mata yang sama. Hatinya terasa begitu hangat.
“Dad?” Mallory menepuk lengan Beryl yang masih terdiam membisu seperti kesambet sesuatu.
“Oh, eh-ehm, Beryl! Saya Daddy-nya Rory dan Kika,” Beryl mengulurkan tangan dengan gugup.
“Alin,” sahut Alin singkat, tanpa menambahkan embel-embel profesinya. Bagi Alin itu hanyalah gelar dunia semata, semua orang bisa mendapatkan gelar yang sama seperti dia jika mereka beruntung mempunyai kesempatan menempuh pendidikan yang sama dengannya. Alin menjabat tangan Beryl yang terulur, sementara Beryl merasakan tangannya bagai tersengat aliran listrik.
“Dad, cobain deh yogurt mango strawberry dari Dokter Alin. Ini enak banget deh, seger!” Kishika menyuapkan satu sendok yogurt ke mulut Beryl. Suhu tubuhnya yang semula menghangat kini tiba-tiba merasakan sensasi dingin menyegarkan.
“Hmm… sweet,” ujarnya sambil terus menatap lurus Dokter Alin.
“Wonder woman, are you ready now?” Alin melihat ekspresi Kishika yang ceria, tidak ada lagi ketegangan.
“Yes, I am!” teriaknya sambil mengangkat satu tangan membuat semua tertawa dengan polahnya. Suster Penny menuntun Kishika ke meja tindakan, memposisikan agar nyaman serta memasang apron di leher kecilnya. Suster Penny mulai menyuruh Kishika berkumur kemudian membersihkan sisa-sisa yogurt dengan sikat gigi.
“Maaf Tuan Beryl, apa Kika sudah memberitahu kalau giginya akan dicabut hari ini?” Alin memastikan ulang apakah orang tua pasien sudah mengetahui tindakan apa yang akan dilakukannya, mengingat ini baru pertama kali Alin bertemu Beryl. Biasanya dia berbicara dengan Nyonya Aretha, Oma-nya Kishika.
“Ehmm.., sebetulnya Kika sudah menceritakan pada saya tentang keluhan giginya saat saya baru tiba dari London kemarin. Tentang pencabutan, saya baru mendengarnya dari Anda,” Beryl benar-benar terpukau dan tidak bisa berhenti menatap Alin, seakan ada daya magnetik yang menariknya.
“Gigi susunya sudah goyang selama beberapa minggu terakhir, sebetulnya ini akan bisa lepas dengan sendirinya. Tapi, karena Kika mengeluh kesakitan saat makan makanan yang cukup keras, jadi ada baiknya kalau gigi yang goyang itu dicabut sehingga dapat memberi ruang untuk pertumbuhan gigi permanennya,” Beryl menyelami setiap kata yang diucapkan Alin. Bukan hanya mata, tapi suara dokter cantik itu juga mampu menenangkan jiwanya yang mendadak labil.
“Oh, oke. Apakah ini akan menyakitkan?” Beryl meringis membayangkan anak bungsunya itu akan menangis kesakitan.
“Rasa sakit adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tapi, akan saya usahakan untuk meminimalisir nyerinya,” Dokter Alin berdiri saat dirasa Beryl sudah memahami penjelasannya. Dia pun mendekati kursi pasien dimana Kishika sudah terbaring di sana. Setelah memasang masker dan sarung tangan steril, Alin mulai memeriksa kondisi gigi gadis kecil itu. Kemudian ia menaruh kapas steril yang sangat dingin di giginya yang goyang.
“Wonder Woman, kapasnya digigit dulu yang keras ya!” Alin memberikan instruksi pada Kishika. Selanjutnya dia melakukan tindakan pencabutan dengan sangat hati-hati.
Setelah tindakan pencabutan gigi selesai, Alin mengganti kapas dingin Kishika dengan yang baru serta memintanya untuk tetap menggigit kapas itu sampai di rumah untuk menghentikan perdarahan.
“Kapasnya digigit terus sampai rumah ya, setelah itu makan ice cream aja biar nggak sakit,” Kishika mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Terima kasih, Dok. Kami permisi dulu,” pamit Beryl sambil menggandeng tangan Kishika.
“Pulang dulu ya, Dok!” Mallory dan Kishika melambaikan tanggan saat akan keluar dari ruang kerja Dokter Alin.
“Hati-hati ya, sehat terus!” Alin membalas lambaian tangan anak-anak itu. Hatinya berdesir, ada letupan-letupan ambigu yang muncul di sela-sela denyut jantungnya.
~***~
__ADS_1