
Alin bergelung di balik selimut. Matanya sembab, tubuh gemetar. Memandang sosok Beryl yang berdiri tegap di ruang makan rumahnya, membuat gadis itu terlempar ke masa satu bulan lalu. Suara bentakan Beryl masih terngiang dengan sangat jelas. Baru pertama kali Alin dibentak seperti itu, ditambah tatapan netra Beryl bagaikan singa jantan yang siap menerkam. Alin sangat ketakutan. Bahkan, orang tua dan kakaknya tidak pernah membentak keras.
Kemunculan Beryl di rumah yang dianggapnya aman, benar-benar tidak pernah dibayangkan. Dia sudah mengikhlaskan segalanya. Seandainya ayah tiga anak itu ingin mengakhiri hubungan di antara mereka. Alin sadar diri kalau dia tidak bisa bersaing dengan Zivaa, cinta pertama Beryl. Meskipun jasad mama angkatnya sudah terkubur. Alin tidak akan menang melawan kenangan Zivaa yang bersemayam di hati Beryl.
“Princessa!” Yola membelai kepala Alin yang tampak dari balik selimut.
Ibu empat anak itu bisa merasakan kesedihan yang merasuki putrinya. Walaupun selama ini Alin hidup terpisah dengannya, tetapi tidak akan meruntuhkan ikatan batin antara seorang ibu dan anak. Yola membiarkan putrinya meringkuk di kasur dan menuntaskan derai tangis yang tidak berhenti bercucuran.
Alin bangun, lantas memeluk mommy-nya erat. Air mata membasahi baju Yola, dan tanpa sadar Nyonya Yosrey ikut berkaca-kaca. Sebelum makan malam, suaminya sempat bercerita tentang hubungan Alin dan Beryl. Yola tidak mengira sandiwara dunia tengah mempermainkan Beryl, Zivaa dan Alin. Kesalahpahaman yang berdampak pada retaknya tiga hati. Takdir macam apa yang sedang dijalani oleh putrinya. Yola merasa bersalah, seharusnya dulu dia tidak meninggalkan Alin dalam pengasuhan Zivaa dan Vishaka. Seharusnya dia menjemput Alin kembali setelah kondisi kedua putranya membaik paska peristiwa kecelakaan yang mereka alami.
“Maafkan Mommy, sayang!” ujar Yola sesenggukan.
“Aku takut, Mom!” Alin terisak.
Tubuh Alin bergetar hebat, keringat dingin membasahi sekujur badannya. Yola benar-benar khawatir. Tangan kirinya berusaha membuka laci nakas di samping ranjang Alin. Diraihnya botol obat penenang yang tersimpan rapi. Rigel yang baru muncul langsung membantu mommy-nya mengeluarkan sebutir obat dan menyiapkan air minum.
“Sayang, minumlah dulu!” Yola menyerahkan obat kepada Alin.
Sejujurnya, Alin susah payah menahan diri untuk lepas dari obat-obatan itu. Usahanya selama ini tidaklah sia-sia. Terbukti ketika bertemu dengan Alaric pun dia bisa mengontrol dirinya tanpa obat. Akan tetapi, kali ini dia merasa sangat membutuhkannya. Kehadiran Beryl malam ini mengoyak seluruh saraf sadarnya.
Yola terus memeluk putrinya, dia sama sekali tidak ingin meninggalkan Alin sendiri. Saat ini, Alin tidak memerlukan ruang untuk menyendiri. Namun, gadis itu memerlukan pelukan hangat, dukungan serta bahu kokoh sebagai tempat bersandar. Perlahan suara isakan Alin berkurang, pertanda putrinya sudah mulai bisa menenangkan diri. Alin pun tertidur di pelukan mommy-nya.
Sementara itu di ruang tamu, Beryl duduk di hadapan Othman dan kedua anak lelakinya. Bagai seorang terdakwa yang siap dihakimi. Hubungan antara dia dan Othman sangat erat, melebihi saudara kandung. Namun, saat ini dia tidak bisa menebak bagaimana penilaian Othman padanya.
“Kalian aku ijinkan menghajarku sampai berdarah, kalau memang itu bisa membuatku diampuni. Tapi asal kalian tahu, aku juga nggak bisa memaafkan diriku sendiri atas rasa sakit yang ditanggung Alin!” Beryl pasrah.
__ADS_1
“Kalau aku mau menghajarmu, sudah dari kemarin kulakukan. Tapi, itu hanya akan membuat energiku terbuang sia-sia!” Othman akhirnya bersuara setelah ketegangan yang dirasakannya di ruang makan.
“Sampai kapan kau berencana merahasiakan keberadaan Alin dariku?” tanya Beryl.
“Entahlah! Mungkin sampai putriku itu siap bertemu denganmu,” Othman sendiri masih ragu.
Beryl memaklumi keputusan Othman jika benar dia akan menutupi status Alin darinya. Seorang Ayah akan berbuat apa saja demi melindungi keluarganya dari berbagai ancaman. Termasuk ancaman yang datang dari orang terdekat. Dia pun akan melakukan hal yang sama.
“Aku tahu aku salah …,” Beryl menjeda kalimatnya.
“Ya, semua ini memang salahmu!” sela Othman.
“Seandainya kau bilang padaku jati diri cinta pertamamu, mungkin kisah cintamu nggak akan setragis ini!” cibir Othman.
“Kenapa kau nggak bertanya?” Beryl jengah dengan pertanyaan sahabatnya.
“Uncle B, apa kau sangat mencintai adikku?” sahut Zhiggy.
Raut wajah Zhiggy saat ini mengingatkan Beryl pada dirinya dua puluh tujuh tahun lalu setelah tragedi patah hati. Dingin, kaku, dan sorotan tajam. Zhiggy menatapnya lurus nyaris tanpa berkedip.
“Aku nggak akan sehancur ini kalau aku nggak mencintai adikmu. Tanyakan Daddy-mu, dia yang paling tahu bagaimana diriku. Apa kau keberatan?”
“Hmm, nggak ada satupun manusia yang sanggup mengatur perasaan ataupun jodohnya. Aku nggak keberatan jika memang kalian saling mencintai. Tapi, apa kau yakin Alin masih mencintaimu setelah apa yang terjadi?”
“Hupppfftt …,” Beryl menghela napas panjang. Apa yang dikatakan Zhiggy itu ada benarnya.
__ADS_1
Beryl makin resah, segelintir rasa takut merayapi. Ketakutan jikalau Alin meninggalkannya. Dia tidak sanggup merasakan kehilangan cinta sekali lagi. Dia tidak akan mampu kalau harus merasakan kepedihan seperti dulu lagi. Hatinya bagai ditikam belati, disayat sembilu, dan dihancurkan palu godam.
“Sebaiknya kau pulang saja!” Yola muncul di antara para arjuna.
“Yola, bagaimana kondisi Alin? Apa dia baik-baik saja? Bisakah aku menemuinya?” cecar Beryl panik.
“Tadi dia sempat mengalami gemetaran, keringat dingin, dan …,” Yola tidak melanjutkan kata-katanya. Keadaan putrinya begitu menyedihkan. Yola tidak kuasa mengingatnya.
“Beryl, pulanglah! Kumohon biarkan putriku sendiri!” Yola menyeka bulir air mata yang hendak terburai.
“Apa kau pikir aku bisa tenang meninggalkannya dalam kondisi seperti itu?” tanpa sadar suara Beryl mulai meninggi.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian! Aku nggak tahu apa yang telah kau lakukan padanya! Dia sangat ketakutan!” hardik Yola.
Beryl merutuki diri, menyesali setiap kata yang keluar tanpa disaring dari mulut bodohnya. Alin pasti ketakutan ketika dia membentaknya di dalam mobil. Saat dia memaksa gadis itu keluar dari mobilnya. Siapapun pasti akan ngeri melihat tampang garang gorilanya yang tadi disebutkan Othman. Begitu juga dengan Alin.
“Kalau kau memang mencintai Alin, tolong beri dia ruang untuk menguatkan dirinya! Ini nggak mudah buat dia. Kau bilang nggak bisa tenang meninggalkannya dalam kondisi seperti itu. Tapi, apa dia bisa tenang saat dia mengetahui jika dia harus bersaing dengan bayang-bayang Zivaa?”
“Apa kau pikir ini adil baginya? Kau jadikan dia pelampiasan amarah karena kekecewaanmu pada Zivaa!” lanjut Yola berapi-api.
“Beryl, Istriku benar! Sekarang bukanlah saat yang tepat untukmu bertemu dengan Alin,” ujar Othman menengahi.
“Lantas, kapan waktu yang tepat?” Beryl lemas, dia paham tidak mungkin memaksakan kehendaknya.
“Bersabarlah! Percayalah, selalu ada waktu yang tepat untuk cinta yang tepat! Kalau kau sanggup bertahan selama dua puluh tujuh tahun menunggu cinta sejati, apalah artinya menunggu sedikit lagi?” Othman membuka pikiran Beryl yang mulai tumpul.
__ADS_1
“Baiklah! Tapi, berjanjilah padaku! Kalian nggak akan menyembunyikan dia dariku!”
\~***\~