Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 14 : Dia


__ADS_3

Beryl berdiri kaku menatap nama yang terukir di batu nisan makam Mama Alin. ‘Zivaa A. Hamra’, itulah nama yang tertulis. Beryl berusaha tetap berpikiran waras, yang bersemayam di makam ini bukanlah Zivaa cinta pertamanya. Wanita yang mengkandaskan cintanya sampai dia harus menutup pintu hati selama hampir dua puluh tahun. Di dunia ini, yang bernama seperti itu bukan hanya satu orang saja. Puluhan, bahkan mungkin ratusan atau ribuan. Beryl berusaha mengendalikan diri, meski rasa penasaran tidak dapat dipungkirinya.


“Hai, Ma! Aku ingin mengenalkan Mama sama seseorang,” Alin berbicara di samping makam mamanya, seraya membersihkan daun-daun kering yang menutupi pusara lalu menyiramkan air di batu nisan.


“Ini Beryl, Ma! Calon menantu Mama,” Alin tersenyum simpul sembari menengadahkan kepala menatap Beryl yang berdiri di sisinya.


Beryl mulai dirayapi kegelisahan, hanya mampu menarik sudut bibirnya sesaat. Gelombang pertanyaan mendorong-dorong akal sehatnya. Kenapa nama terakhir di nisan itu tercantum nama keluarga Tuan Vishaka? Siapa nama tengah Mama Alin yang hanya tertulis huruf A? Sejak kecil Nyonya Zivaa Hamra tinggal di panti asuhan. Kepingan-kepingan puzzle itu menggerogoti nalarnya.


“Doain Alin ya, Ma. Doain agar pernikahan kami penuh berkah dan kebahagiaan seperti pernikahan Mama dan Papa,” telapak tangan Alin mengusap-usap nisan mamanya.


“Kami pulang dulu ya, Ma. Love you Ma!” Alin pun mencium puncak batu nisan itu.


Beryl merasa canggung, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu. Sikap diamnya adalah hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Susunan tanya berputar-putar terus di otaknya. Bahkan, saat berjalan menjauh meninggalkan makam itu pun, Beryl tidak mampu menghentikannya.


Mereka berdua terduduk di dalam mobil sembari meminum air mineral yang tadi sempat dibeli Alin di minimarket terdekat sebelum mereka memasuki area pemakaman. Hari mulai beranjak senja. Beryl masih belum menyalakan mesin mobilnya, dan pintu mobil pun dibiarkan tetap terbuka.


“Lin,” panggil Beryl.


“Hmm,” Alin meneguk sisa-sisa air mineral yang tersisa di kerongkongannya.


“Boleh aku bertanya?”


“Tentang?” Alin menghadapkan kepalanya ke arah Beryl.


“Kenapa nama Mamamu di nisan itu memakai nama keluarga Papamu?”


“Oh, itu karena Mama anak yatim piatu. Sejak kecil Mama sudah hidup di Panti Asuhan Cinta Kasih yang didirikan oleh orang tua Papa. Mama sama sekali nggak kenal siapa orang tua kandungnya. Sejak menikah dengan Papa, Kakek dan Nenek menganggap Mama seperti putri kandung mereka sendiri. Lantas merekapun menyematkan nama belakang keluarga Hamra di belakang nama Mama.”


Beryl mendengarkan cerita Alin dengan saksama. Tidak satupun detil yang ia lewatkan.


“Mamamu pasti sangat cantik.”


“Darimana kamu tahu?” Alin memicingkan sebelah mata.


“Ya, aku tahu karena ia telah melahirkan seorang putri yang sangat cantik pula!” seulas senyum tersungging di bibir Beryl.


“Hah, gombal!” Alin mencubit pelan bahu calon suaminya itu.


“Ini kenyataan, bukan gombalan! Pasti kamu sangat mirip sama Mama kamu, iya kan?”


“Ehm, kata Papa sih begitu. Ah ya, kamu belum tahu Mamaku kan? Aku kasih lihat fotonya ya, entar menurut kamu gimana, mirip apa nggak aku sama Mama.”


Alin membuka resleting tasnya, mengambil ponsel yang tersimpan di dalam kantong tas itu. Gemuruh di hati Beryl semakin bertalu-talu, detak jantungnya makin kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.


Rasa penasaran Beryl akan sosok Nyonya Zivaa Hamra kian membuncah. Namun di lubuk kalbu terdalam ada setitik ketakutan yang terselip. Bagaimana kalau itu adalah sosok Zivaa yang sama dengan masa lalunya.


“Nah, ini dia!” seruan Alin membuat Beryl duduk tegang.


“Lihatlah! Ini Mamaku, Zivaa Attaya Hamra.”


Bola mata Beryl membeliak menatap foto mamanya Alin yang terpajang di ponsel. Bukan hanya bola mata yang shock melihatnya, tetapi kedua telinga pun berdengung nyaring mendengar nama yang disebutkan Alin. Zivaa Attaya. Demi malaikat maut yang kapan saja bisa mencabut nyawanya, Beryl sama sekali tidak ingin mendengar nama itu disebut.


Butiran keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Angin sepoi-sepoi yang menerobos masuk dari pintu mobil yang terbuka, tidak kuasa membendung semburan gejolak panas yang bergeliat dari dalam tubuhnya.


“Tidakkah dia mengingatkanmu pada seseorang di masa lalu?” terngiang-ngiang pertanyaan Nyonya Naima tadi. Sekarang dia baru menyadari apa maksud pertanyaan wanita itu.


Pandangan Beryl tiba-tiba buram, kepala pening, konsentrasinya buyar. Entah karma apa yang sedang dijalaninya. Harusnya dia mencari tahu lebih dulu tentang kemiripan Alin dan Zivaa ketika mereka bertemu untuk pertama kali. Bukan malah menjerumuskan diri dalam gelora cinta yang membuatnya jatuh cinta pada Alin Odity Hamra, putri dari Zivaa Attaya, cinta pertama yang kandas dan menorehkan luka.


“Kamu kenapa?” tanya Alin heran.


“Ah, a-apa?” jawab Beryl terbata.


“Kamu kenapa? Apa kamu sakit?” Alin mengusap keringat di wajah Beryl.


“Ah, nggak kok. Aku baik-baik saja!” timpal Beryl.


“Kenapa keringetan gini?” Alin meragukan jawaban Beryl yang tampak pucat.


“Cuacanya kan cukup panas, yah wajar kalau keringetan kayak gini.”


Alin memperhatikan sekelilingnya. Cuaca tidak sepanas yang dikatakan Beryl, matahari perlahan mulai menenggelamkan diri. Bahkan angin yang bertiup terasa sangat sejuk di kulitnya.


“Kamu yakin nggak apa-apa?” Alin kembali mengalihkan tatapannya ke Beryl yang masih tercekat di tempat duduk. Beryl menganggukkan kepala lalu menyalakan mesin mobil.


“Kita pulang sekarang!” Beryl memasang sabuk pengaman setelah menutup pintu mobil.


“Pulang? Tapi tadi kamu bilang setelah dari makam mau ke …,”


“Aku bilang pulang ya pulang! Nggak usah ngebantah!” bentak Beryl yang mengejutkan Alin.

__ADS_1


Alin mengerjap-ngerjap, heran dengan sikap Beryl yang mendadak berubah. Raut wajah laki-laki itu seperti memendam amarah. Alin bingung apa yang membuat Beryl semarah itu sampai membentaknya. Dia pun diam menurut.


Emosi Beryl kian tidak terkendali. Dilajukannya mobil dengan kecepatan yang melebihi batas maksimal. Dadanya sakit serasa ditusuk-tusuk. Luka lamanya kembali menganga. Teringat lagi kenangan suram yang sudah dilupakannya. Ketika itu dia baru pulang dari London setelah menyelesaikan studi. Dengan membawa cincin berlian dan berbekal keyakinan penuh, ia datang menemui Zivaa untuk melamarnya. Akan tetapi, kenyataan yang ada tidaklah seindah harapan. Kekasihnya itu mengenakan gaun pernikahan warna putih dan tampak sangat cantik. Dan dia berdiri di samping seorang pria gagah yang mengenakan tuxedo hitam. Zivaa menikah, tetapi bukan dengan dirinya. Beryl tidak dapat melihat dengan jelas siapa lelaki beruntung itu karena tertutup oleh lalu-lalang tamu yang memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.


Satu kesempatan dia peroleh untuk mendekati wanita pujaannya itu saat Zivaa berjalan ke toilet. Beryl mengikutinya. Ketika langkah kian dekat, Beryl menarik tangan Zivaa. Bukannya penjelasan yang dia dapatkan, Zivaa justru malah mengusirnya dan mengatakan semua telah berakhir. Hatinya remuk.


Beryl tidak menyangka, luka itu kini semakin dalam menggerogoti. Fakta yang baru saja terkuak tentang Alin, begitu menyiksanya. Bara kebencian yang padam, tiba-tiba menyala begitu cepat, menjalar ke setiap pembuluh darah dan memenuhi relung hatinya.


Beryl menginjak rem mobil secara mendadak, membuat ban mobil berdecit keras tepat di depan rumah Alin. Emosinya sulit diredam. Bayang-bayang Zivaa yang mengusirnya kala itu terus saja berkelebat. Suhu tubuhnya meningkat, mata memerah, siap meledak setiap saat.


“Turun!” serunya pada Alin.


“Ta …,”


“Turun!” suara Beryl makin meninggi hingga membuat Alin berjingkat kaget.


Alin segera melepaskan sabuk pengaman yang dikenakannya. Dia merasa ketakutan apalagi melihat kobaran api amarah yang tergambar jelas di kedua mata Beryl. Kenapa? Mengapa? Ada apa? Kata tanya yang hanya bisa tertahan di bibirnya.


“Kenapa kamu jadi marah? Apa salahku?” tanya Alin dengan suara yang bergetar.


“Jangan banyak tanya! Cepat turun!” Beryl menatap Alin tajam.


Alin masih belum memalingkan wajah dari Beryl. Butiran air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia pernah melihat Beryl marah sebelumnya dan itu memang sangat menakutkan. Namun, kali ini tidak hanya membuat takut, tetapi juga menyakitinya. Apa ada yang salah dengan dirinya? Tidak ada satu jawaban yang dia temukan.


Dengan hati yang kalut, Alin membuka pintu mobil. Air mata tidak bisa lagi terbendung, mengalir deras membanjiri wajah cantiknya. Setelah menutup mobil, Alin berlari masuk ke rumah tanpa menengok ke belakang lagi.


Beryl melajukan mobil sembari berteriak kencang dan memukul-mukul stir mobil menumpahkan seluruh emosi. Dia tahu bahwa tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada Alin. Gadis itu tidak bersalah, dia bahkan tidak bertanggung jawab atas kesalahan masa lalu yang dilakukan ibunya. Akan tetapi, entah kenapa ketika melihat calon istrinya itu seakan mengingatkan pada Zivaa. Beryl tidak mampu meredam lahar yang terlanjur meluap di hatinya.


Tiba-tiba Beryl teringat pada Nyonya Naima Larasati, pengelola panti asuhan itu. Wanita itu pasti punya berjuta penjelasan atas kejadian masa lalu. Beryl pun memutar balik mobilnya. Dia harus mendapatkan informasi yang tidak pernah diberikan Zivaa padanya selama ini.


^^o^^


Nyonya Naima Larasati berjalan mondar-mandir di halaman belakang Panti Asuhan Cinta Kasih. Resah dan gelisah bercampur menjadi satu. Berkali-kali dia membuka ponselnya, tetapi tidak ada pesan atau telepon dari Alin. Dia yakin Beryl pasti sudah tahu jati diri Alin yang sebenarnya. Yang dia khawatirkan adalah bagaimana respon Beryl terhadap kenyataan itu dan bagaimana keadaan Alin saat ini.


“Bunda!” salah seorang anak Panti memanggilnya


“Iya Alisa, ada apa?” Nyonya Naima berusaha menyembunyikan kegelisahannya.


“Ada tamu yang nyariin Bunda,” ujar Alisa dengan suara cadelnya.


“Tamu siapa?”


“Aku!” Nyonya Naima mendongakkan kepala ketika mendengar suara berat seorang pria. Seorang pria yang sudah tidak asing lagi.


“Kenapa Anda kembali kemari Tuan Beryl?” tanya Nyonya Naima dengan nada setenang mungkin agar lawan bicaranya tidak menaruh curiga.


“Tidakkah Anda berhutang penjelasan pada saya?” jawab Beryl lugas.


“Penjelasan? Saya? Apa maksud Anda?” Nyonya Naima menaikkan alis sebelah kanannya.


“Tidak usah berpura-pura tak tahu apa maksud saya!” intonasi suara Beryl mulai meninggi, membuat Nyonya Naima menegang mendengarnya.


“Zivaa Attaya Hamra!” Beryl mempertegas topik pembicaraannya.


Nyonya Naima menelan ludah, benar dugaannya kalau Beryl sudah tahu jati diri Alin. Tidak ada ruang lagi baginya untuk menutupi kenyataan. Mungkin ini saat paling tepat untuk meluapkan kemarahan karena sakit hati yang dulu dirasakan sahabatnya.


“Penjelasan seperti apa yang kau inginkan?” Nyonya Naima tidak ingin berbasa-basi lebih lama sehingga ia pun mengabaikan sikap formalnya.


“Jadi Alin adalah putri Zivaa, dan kau mengetahui masa laluku dengan Zivaa?” Beryl langsung to the point.


“Itu benar! Kalau saja sedari awal aku mengetahui Alin dekat denganmu, maka aku pasti akan menjadi orang pertama yang menentang hubungan kalian. Alin tidak pantas mendapatkan laki-laki sepertimu!”


“Laki-laki sepertiku? Memangnya menurutmu aku laki-laki seperti apa?!” Beryl mengernyitkan dahinya sembari memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celana.


“Laki-laki pengkhianat! Kau sudah mengkhianati cinta tulus yang diberikan Zivaa padamu dan membiarkan dia menunggu dengan sia-sia!”


“Hah, lelucon macam apa ini? Aku mengkhianati Zivaa? Jangan memutar balikkan fakta!”


Nyonya Naima melotot tajam ke arah Beryl, emosinya nyaris tidak terbendung, bagaimana bisa laki-laki dihadapannya itu menuduh dia memutar balikkan fakta.


“Zivaa yang mengkhianatiku dengan menikahi laki-laki lain! Dia nggak menepati janji yang diucapkannya sendiri untuk menungguku! Aku bagaikan laki-laki bodoh yang datang ke rumahnya dengan membawa cincin untuk melamarnya, tapi apa yang aku dapatkan? Pesta pernikahannya dengan lelaki itu tampak jelas di depan mataku. Bahkan Zivaa bilang kalau antara aku dan dia sudah berakhir!” Beryl begitu menggebu-gebu.


“Zivaa nggak pernah mengkhianatimu! Dia sangat setia! Keputusannya menikah dengan Vishaka itu semua karena rasa sakit hati yang dipendamnya. Karena kau pergi ke London dengan wanita lain yang katanya adalah tunanganmu!”


“Aku? Pergi ke London dengan wanita lain? Jangan mengada-ada!”


Beryl ingat betul saat dia pergi ke London untuk melanjutkan studinya, dia pergi sendiri. Tidak ada satupun wanita bersamanya, bahkan mamanya sekalipun. Tunangan? Dia bahkan tidak menjalin hubungan dengan wanita selain Zivaa.


“Aku nggak mengada-ada! Adikmu sendiri yang mengatakannya, dia juga memberikan bukti foto pertunanganmu dan foto saat kalian di bandara pada Zivaa. Aku ada bersama Zivaa saat itu, jadi aku nggak mengada-ada!”

__ADS_1


“Aku adalah saksi bagaimana hancurnya hati Zivaa saat itu,” airmata mulai menggenang di sudut mata Nyonya Naima.


“Wait, kau bilang adikku?”


“Iya, dia mengaku bernama Delana Monza, adikmu.”


“Ya Tuhan, ini benar-benar terdengar konyol!” Beryl memijat-mijat pelipisnya.


“Konyol katamu?” kalau bisa, Nyonya Naima ingin sekali menampar Beryl sampai pipinya terasa panas terbakar.


“Tentu saja ini konyol! Tolong cari alasan lain yang lebih masuk akal!”


“Kau pikir aku berbohong tentang apa yang terjadi pada Zivaa saat itu?” Nyonya Naima makin menajamkan tatapannya.


“Bisa saja kau berbohong untuk melindunginya! Asal kau tahu, Delana memang adikku tapi usianya waktu itu baru beranjak sepuluh tahun. Nggak mungkin anak seusia Delana mendatangi kalian dan mengarang cerita seperti itu! Satu lagi, Delana saat itu sedang dalam penerbangan ke Bali bersama orang tuaku. Kami berpisah di bandara!” Beryl semakin berapi-api, tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan Nyonya Naima.


Sementara itu, Nyonya Naima terpatri di tempatnya. Otaknya masih merangkai setiap perkataan Beryl, meraba-raba, mencari tahu kebenaran di mata Beryl. Bola mata Beryl yang menyala menunjukkan tidak ada kebohongan di dalamnya. Akan tetapi, dia sendiri menyaksikan bagaimana wanita bernama Delana Monza itu menuturkan secara gamblang tentang pengkhianatan Beryl. Bahkan, sampai sekarang ia masih mengingatnya dengan jelas.


“Apa? Adikmu berusia sepuluh tahun? Tapi, bagaimana mungkin?” Nyonya Naima tanpa sadar mengendurkan suaranya, berusaha mencerna semuanya.


“Jarak usia kami memang terpaut sangat jauh. Apa Zivaa nggak pernah mengatakannya?” nada suara Beryl pun menurun, tidak lagi meluap seperti sebelumnya.


“Apakah kau sudah mempertemukan mereka?”


Beryl menggeleng dan terdiam sesaat, mengembuskan napas kasar. Dia tersadar kalau belum pernah sekalipun mengenalkan Zivaa dengan adiknya. Delana lebih banyak tinggal di Bali dengan nenek dan kakeknya. Beryl ingat kalau dia hanya memberi tahu Zivaa bahwa dia punya seorang adik perempuan, tetapi tidak pernah bercerita lebih detil.


Beryl merogoh saku celana, mengambil ponsel dan mulai mencari-cari dalam file galerinya. Tidak lama kemudian, ia menunjukkan foto yang ada di ponsel pada Nyonya Naima yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


“Ini adalah foto keluargaku dua puluh tujuh tahun yang lalu, diambil tepat sebelum kami berangkat ke Bandara. Dan gadis kecil yang berdiri di depan itu adalah Delana, adikku.”


Nyonya Naima tidak bergeming dari tempat duduk. Berat terasa bagi tangannya untuk meraih ponsel Beryl yang tergeletak di meja. Jemarinya tergoda untuk melihat foto di ponsel itu, akan tetapi hatinya bergelayut mencegah. Antara percaya atau tidak dengan semua ucapan laki-laki yang menjadi lawan bicaranya itu.


Pelan tetapi pasti, tangan Nyonya Naima berangsur menjulur ke depan, meraih ponsel itu. Hatinya terkesiap melihat foto yang terpampang jelas. Ingin sekali merutuki takdir yang begitu menyakiti sahabatnya, tetapi semuanya tiada berguna. Mungkin sudah jalan Tuhan yang menunjukkan kedua insan itu memang tidak berjodoh, meskipun dengan cara yang sangat pedih.


“Kalau bukan adikmu, lalu siapa gadis yang menjumpai Zivaa saat itu?” tanyanya.


“Kau bertanya padaku? Mana aku tahu!” Beryl mengambil kembali ponselnya. Jempol kanannya menaik-turunkan file foto yang tersimpan di ponsel. Sesuatu menggelitik benaknya.


“Apakah dia yang menemui kalian waktu itu?” Beryl menunjukkan sebuah foto seorang wanita.


Nyonya Naima memperhatikan foto itu dengan saksama sembari mengingat-ingat kembali raut wajah wanita yang saat itu menghancurkan hati Zivaa dengan ucapannya. Wanita di foto itu terlihat sangat mirip, hanya saja di foto itu usianya terlihat lebih matang daripada dua puluh tujuh tahun yang lalu.


“Benar, itu dia!” sahutnya.


“Siapa dia?” tanya Nyonya Naima sekali lagi.


“Hupff, namanya Zora. Kedua orang tua kami bersahabat. Zora punya perasaan padaku, bahkan beberapa waktu lalu orang tua kami sempat menjodohkan kami. Alin mengenalnya, mereka pernah bertengkar sebelumnya.”


Beryl sudah menduga kalau Zora dalang di balik semua kekacauan ini. Obsesi Zora benar-benar menghancurkannya. Andai saja Zora masih ada di kota ini, dia pasti sudah melabraknya.


“Bagaimana Alin bisa mengenalnya?” Nyonya Naima terkejut mendengarnya.


“Hmm, itu sebuah insiden yang cukup buruk. Alin menolong putri sulungku yang sedang terlibat pertengkaran dengan Zora. Perlakuan buruk Zora kepada anak-anakku yang membuatku menolak perjodohan kami,” Beryl menundukkan kepala, sesaat gambaran kejadian itu terulang di memorinya. Kejadian buruk yang hanya akan melambungkan emosi, tetapi dia tidak bisa memungkiri bahwa kejadian itu pulalah yang mendorong keberaniannya mencium Alin untuk pertama kali.


“Ngomong-ngomong tentang Alin, kau sudah tahu kenyataannya kalau dia adalah putri dari Zivaa. Katakan padaku kalau itu nggak akan mengubah hubungan kalian. Kau sudah berjanji,” Nyonya Naima mengingatkan Beryl tentang jalinan cintanya dengan Alin.


Beryl menatap Nyonya Naima nanar, sungguh tidak satupun jawaban yang dia punya untuk pertanyaan itu saat ini. Awalnya dia begitu marah, nyaris membenci Alin. Amarahnya pada Zivaa menjadikan Alin sebagai pelampiasan. Memandang Alin saat ini, bagaikan memandang sosok Zivaa, dan membuatnya kian meragu.


“Entahlah,” Beryl tertunduk tidak berdaya, dadanya mulai terasa sesak.


“Apa maksudmu?” Nyonya Naima mendelik, jawaban Beryl sama sekali tidak sesuai dengan harapannya.


“Dengar! Kau bilang sangat mencintainya dan nggak akan pernah meninggalkannya, kau bahkan berjanji padaku! Jangan sampai kau menjilat ludahmu sendiri!” emosi Nyonya Naima kembali membuncah.


“Saat ini, aku sungguh tak tahu.”


“Kau tak tahu? Hah, laki-laki macam apa kau ini! Kau nggak bisa meninggalkan Alin! Kau nggak bisa menyakitinya sama seperti kau menyakiti ibunya!” tangan  Nyonya Naima mengepal erat, hampir saja dia menggebrak meja, tetapi dia tidak ingin membuat resah anak-anak panti dengan keributan yang ada di ruang kerjanya.


“Bukan aku yang menyakitinya,” sanggah Beryl.


“Tapi kau adalah sumber masalahnya!” sahut Nyonya Naima tidak kalah sengit.


“Aku ingatkan sekali lagi, jangan jadikan Alin sebagai korban selanjutnya! Gadis itu sudah sangat menderita dengan traumanya! Jangan pernah membuatnya jatuh dalam depresi sekali lagi! Kalau itu sampai terjadi, aku bersumpah akan menghancurkan kehidupanmu!”


Beryl berdiri, perbincangan ini membuatnya tambah pening. Keterkejutannya mengetahui status Alin dan fakta tentang penyebab perpisahan dengan Zivaa benar-benar membuat keruh pikiran, mengacak-acak akal sehatnya.


“Aku perlu waktu untuk berpikir,” ujarnya.


“Berapa lama?”

__ADS_1


“Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Terima kasih untuk penjelasannya, selamat sore!” Nyonya Naima hanya membisu menatap punggung Beryl yang berlalu meninggalkannya dengan pertanyaan yang menggantung. Sekelebat bayangan masa depan Alin yang suram berpendar di pikirannya yang buntu.


\~***\~


__ADS_2