
“Rory!” panggil Alin ketika melihat Mallory sedang bercengkerama dengan anak-anak panti yang seusia dengannya.
“Kak Alin,” Mallory menghampiri Alin yang berdiri tidak jauh dari mereka. Alin mengijinkannya memanggil dengan sebutan kakak, sama dengan anak-anak panti yang lain agar mereka lebih akrab.
“Kamu tampak ceria sekali, senang ya ada di sini?” Alin tidak lagi melihat wajah Mallory yang terbungkus kesedihan seperti siang tadi saat mereka bertemu di taman balai kota.
“Di sini menyenangkan Kak, banyak teman. Mereka semua anak-anak yang baik. Lagian, di sini tempatnya sejuk. Banyak taman hijau menyegarkan,” Mallory mengembangkan senyum. Mallory menyukai anak-anak panti yang ramah, rendah hati, tidak ada yang sombong. Mereka tampak selalu bahagia, mensyukuri setiap nikmat yang mereka miliki di balik segala ketidakpunyaan mereka. Tidak seperti sebagian besar teman-temannya di sekolah.
“Kak Alin senang lihat kamu udah nggak nangis lagi. Gini dong, kan jadi kelihatan cantik,” mereka berdua pun tertawa pelan.
“Ehm… Rory, itu di depan ada yang mau ketemu,” lanjut Alin.
“Hah? Siapa Kak?” Mallory memicingkan mata, menatap Alin dengan penasaran. Pikirannya menebak-nebak.
“Rory, sayang!” suara berat yang sangat dihapalnya terdengar dari belakang Alin. Mallory menggigit bibirnya menahan rasa kesal. Diapun mengalihkan pandangan kepada Alin, ada rasa kecewa di balik tatapan matanya.
“Rory, maafkan Kak Alin ya. Kak Alin nggak bermaksud untuk mengecewakanmu. Kakak hanya nggak mau membuat keluargamu cemas. Percayalah, nggak ada seorangpun yang melarangmu tinggal di sini. Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu inginkan, tapi setidaknya keluargamu tahu agar mereka merasa tenang,” Alin menggenggam kedua tangan Mallory dengan erat. Sesungguhnya Mallory mengerti akan posisi Alin, dia tidak menyalahkan, hanya saja dia belum siap untuk bertemu dengan keluarganya apalagi sang ayah.
“Queen, ayo kita pulang. Kita bisa bicarakan semua masalah dengan baik. Daddy janji akan selalu mendengarkanmu. Kita pulang ya,” ajak Beryl dengan suara lembut. Alin melangkah ke samping, memberikan Beryl ruang untuk lebih dekat dengan putrinya.
Beryl meraih tangan Mallory, mengusap pucuk gadis itu dan kemudian memeluknya. Mallory ingin sekali menangis, dia tidak rela kalau Daddy yang sangat disayanginya itu menikah dengan wanita munafik seperti Zora. Dia harus bisa memastikan Daddy-nya menolak pernikahan itu.
“Kita pulang ya, Queen?” Beryl melepaskan pelukan, mengusap pipi dan mencium kening putri sulungnya. Mallory masih terdiam, belum memberikan jawaban. Ia melirik ke arah Alin yang sedang tersenyum melihatnya.
“Dad, aku akan pulang kalau…,” Mallory terdiam sekali lagi.
“Kalau?” Beryl menunggu jawaban putrinya.
“Kalau, kalau Daddy menikah dengan Kak Alin!”
“Apa?” Beryl dan Alin sama-sama terbelalak mendengar permintaan Mallory yang di luar perkiraan mereka berdua. Alin tidak percaya gadis remaja di depannya itu mempunyai ide yang sungguh mencengangkan.
“Rory, apa kamu baik-baik saja?” Beryl menyentuh kening Mallory dengan punggung tangan, tetapi anak itu tidak demam, suhu tubuhnya normal. Mallory sedang tidak mengigau.
“Aku baik-baik saja, Dad! Aku nggak mau Daddy menikah dengan Tante Zora. Aku nggak akan pernah rela nenek lampir itu menjadi Mommy aku!”
“Nenek lampir?” Beryl menolehkan kepala ke Alin yang masih berdiri terpaku, dia ingat kalau dokter cantik itu pernah menyebutkan tentang nenek lampir. Jadi putrinya menjuluki Zora dengan sebutan nenek lampir. Beryl ingin tertawa kencang, tetapi mulutnya masih terkatup rapat mengingat permintaan Mallory.
“Rory, listen to me! Daddy nggak akan menikah dengan Zora, never! Daddy nggak pernah menyukainya, dan kamu tahu itu. Sekarang, ayo kita pulang. Kita bicarakan ini di rumah, jangan merepotkan Dokter Alin!”
“Aku nggak mau pulang sebelum Daddy berjanji akan menikah dengan Kak Alin! Aku tahu Daddy nggak menyukai Tante Zora dan menolak perjodohan itu, tapi wanita nggak tahu malu itu akan melakukan segala cara untuk membuat Daddy bersedia menikahinya. Aku nggak mau Daddy terjebak tipu dayanya. Kalau Daddy menikah dengan Kak Alin, nenek lampir itu nggak akan mengganggu hidup kita lagi!” Mallory menguraikan semua yang ada di kepalanya, dan air mata mulai menetes dari sudut mata.
Beryl terdiam, tidak ada kata yang terlintas dalam benaknya. Otaknya sedang menelaah setiap kalimat Mallory. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa Mallory begitu keras menentang Zora? Kenapa kebencian jelas terpancar dari putrinya yang beranjak dewasa itu?
__ADS_1
“Dad, kenapa diam? Daddy mau kan menikah dengan Kak Alin?”
“Daddy, ehmm-Daddy,” Beryl gugup bukan main, tidak tahu apa yang hendak dikatakan.
“Apa Dad?” Mallory semakin menyudutkannya.
“Kalau Daddy nggak bersedia, aku juga nggak mau pulang!” ketus Mallory.
“Fine, Daddy akan menikah dengan Dokter Alin!” sungguh Beryl tidak punya pilihan jawaban yang lain. Biarkan saja Alin menamparnya, mengutuk, atau apalah. Dia siap dengan segala risikonya.
Alin melongo menatap pasangan ayah dan anak itu.
“Ya Tuhan, apa-apaan ini?” batinnya. Alam pikirannya mendadak keruh, bagaimana bisa dia terlibat dalam urusan keluarga mereka. Bagaimana mungkin orang yang baru dikenal setuju untuk menikahinya cuma karena permintaan remaja yang emosinya sedang naik-turun ini. Alin menggelengkan kepala.
“Sudah puas kan? Sekarang, ayo kita pulang! Please,” Beryl berusaha membujuk Mallory, dia sadar kalau Alin pasti sangat terkejut dengan jawabannya. Namun, ia percaya kalau Alin akan memahami posisinya yang terjepit. Nanti dia akan menjelaskan pada Alin.
“Oke, kita pulang!” betapa Beryl lega mendengarnya.
“Tapi, Daddy harus menikahi Kak Alin minggu depan. Kalau nggak, aku akan pergi dari rumah ke tempat yang nggak ada satu orangpun bisa menemukan aku!”
Bagai kilatan petir menyambar, Beryl melotot hampir mengeluarkan kedua bola matanya. Sedangkan Alin sedikit terhuyung ke belakang, dia butuh bersandar pada lemari di belakangnya agar tidak terjatuh karena kaget. Beryl menyaksikan Alin yang tampak linglung berpegangan erat pada kayu penyangga lemari.
“Rory, pernikahan itu bukan main-main. Nggak bisa dilakukan dalam waktu yang sesingkat itu. Banyak hal yang perlu dipersiapkan,” Beryl memberi pengertian pada anaknya. Dia pun merasa tidak enak hati karena telah menjerumuskan Alin ke dalam masalah keluarganya.
“Aku tahu Dad, tapi aku juga tahu kalau Daddy lebih dari mampu untuk melakukannya,” Mallory tidak mau mengalah. Sedetik kemudian Mallory berjalan mendekati Alin yang masih dikuasai kebingungannya.
Kilasan pembicaran mereka siang tadi di taman kembali membayangi Alin. Sebenarnya Alin tidak tega menolak, tapi masa depannya dipertaruhkan. Menikah tanpa cinta, sungguh tidak tercantum dalam agenda kehidupannya.
“Oh Tuhan, kenapa manusia-manusia ini bisa semudah itu memutuskan jalan hidupku? Sandiwara macam apa ini Tuhan?” Alin menjerit lirih dalam hati.
Alin semakin tidak tega melihat Mallory yang sudah dibanjiri air mata sekali lagi. Gadis remaja itu tampak begitu rapuh. Alin terdiam, pikirannya melanglang ke awang-awang. Mallory hendak menurunkan kedua lututnya ke lantai untuk mengiba, tetapi Alin langsung menahan kedua lengannya sebelum gadis itu jatuh berlutut.
“I-iya, Kakak akan menikah dengan Daddy-mu,” sama seperti halnya Beryl, Alin tidak punya pilihan selain mengabulkan permohonan Mallory. Ganti Beryl yang melongo terkejut. Namun, tidak dapat dipungkiri kalau sisi hatinya yang lain melonjak kegirangan.
“Queen, sekarang kita pulang dulu ya. Ini sudah malam, kasihan Dokter Alin. Kamu sudah banyak merepotkannya, biarkan dia istirahat. Besok kita bicarakan lagi,” tukas Beryl.
“Terima kasih ya, Kak!” Mallory memeluk Alin.
“I-iya,” otak Alin kosong.
“Dokter Alin, maafkan kami! Kami pulang dulu, terima kasih untuk semuanya,” Beryl segera menggandeng tangan Mallory dan membawanya pergi. Sementara itu, Alin masih berdiri sambil memegangi keningnya. Dia berharap kejadian ini hanyalah mimpi semata, di mana besok pagi ketika membuka mata, semua akan lenyap. Sebaiknya dia segera pulang ke rumah, berendam di bathub dan melupakan semua yang baru saja terjadi.
^^o^^
__ADS_1
“Dokter Aliiiinnnn …,” Suster Penny menerobos masuk ke ruang kerja Alin sambil berteriak kencang.
“Ya ampun, Suster Penny apa-apaan sih?” Alin menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Untung siang ini sedang tidak ada pasien yang datang, jadi bisa dipastikan tidak bakal ada komplain dengan suara Suster Penny yang membahana.
“Lihat ini, Dok!” Suster Penny menyodorkan buket bunga mawar merah dan putih. Mata Alin membeliak ketika melihat namanya tertera di kartu yang terikat di buket bunga itu.
“Cie-cie, dari siapa tuh?” tiba-tiba Ragnala ikut nimbrung di ruang kerja Alin.
Alin menerima buket bunga itu dari tangan Suster Penny kemudian dibacanya kartu ucapan dengan pikiran yang masih melayang-layang. Alin menelan ludah membaca setiap kata yang tertulis di selembar kartu berwarna biru langit yang dipegangnya
Beautiful roses for a pretty Doctor
Can’t wait for next week…
Have a nice day, Sweety.
B. Monza
Alin melebarkan bola mata tatkala membaca nama pengirim buket bunga itu. Diletakkannya buket bunga di atas meja. Dia pun menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, menunduk dan menghembuskan napas secara kasar.
Ragnala yang memperhatikan sahabatnya mendadak lesu, meraih kartu itu. Dia mengernyitkan dahi, membaca kartu lalu berpikir jauh. Membaca lagi dan berpikir lagi. Nama yang tercantum di kartu itu sepertinya tidak asing. Apakah itu nama pasien di klinik mereka? Apakah itu nama teman kuliah mereka?
“Oh my gosh! Jangan bilang kalau ini …,” Ragnala menggantung kalimatnya.
“Siapa sih, Dok?” tanya Suster Penny penasaran.
“Aliiinnn, inikan-inikan,” Ragnala belum selesai bicara, tapi Alin sudah manggut-manggut membenarkan apapun hasil tebakan Ragnala.
“Ih, Dokter Nala bikin penasaran aja!” seru Suster Penny semakin kepo.
Alin lunglai, kepalanya direbahkan di atas meja kerja. Rasanya seperti terjun bebas dari lantai dua puluh sebuah gedung bertingkat. Tadi pagi ketika berangkat, dia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan melupakan kejadian semalam. Anggap saja semalam itu hanyalah mimpi. Namun, apa yang terjadi sekarang malah memudarkan harapannya.
“Dokter Aliiiinnnn,” Suster Debby tergopoh-gopoh masuk ke ruangan Alin. Sedangkan yang dipanggil tidak mau mengangkat kepalanya sama sekali.
“Suster Debby, ada apa?” tanya Ragnala heran.
“It-itu,” Suster Debby tergagap.
“Ita itu ita itu, apa sih? Ngomong yang jelas dong!” dengus Ragnala.
“Itu, ada yang kirim lunch box untuk Dokter Alin!” lanjut Suster Debby.
“What?” Alin langsung mengangkat kepalanya. Dia tidak merasa memesan lunch box apapun hari ini.
__ADS_1
“Dear God, apa lagi ini?” batinnya. Alin mendesah pelan, kemana perginya dunia yang tenang. Dia tidak yakin hidupnya yang damai selama ini akan tetap seperti sediakala.
\~***\~