Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 4 : Kabur


__ADS_3

Alin duduk di depan sebuah kafe di dekat Balai Kota sambil menunggu makanan yang telah dipesannya. Dia mengecek satu-persatu pesan yang masuk ke telepon genggamnya. Hari ini adalah ulang tahun Tante Naima, sahabat mamanya yang juga pengelola panti asuhan di mana dulu mereka berdua dibesarkan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Alin akan membawa kue dan bermacam makanan untuk merayakan bersama papanya, anak-anak panti, pengurus panti dan tentu saja Tante Naima, *star of the day. *


Alin sangat menyayangi Tante Naima karena sejak mamanya meninggal dunia wanita itulah yang terus mendukung, mengasihi dan menyayangi. Menjadi bahu kala dia menangis serta berperan sebagai sandaran dikala dia terpuruk. Alin merasa sangat menyesal karena secara tidak langsung menjadi penyebab kematian mamanya, begitulah yang ada di pikirannya. Terlalu hanyut dalam depresi yang diderita, Alin bahkan tidak peduli dengan kondisi kesehatan mamanya. Betapa sang ibu berjuang merawat anak yang depresi dan suami lumpuh hingga seringkali melewatkan asupan gizi bagi tubuhnya sendiri. Akibatnya, penyakit lambung yang diidap semakin kronis dan pengobatan jenis apa pun tidak mampu menyelamatkan.


Hati Alin begitu hancur, dunia tidak hanya runtuh di depan mata, tetapi seolah menelannya hidup-hidup. Ingin sekali ia menyusul mamanya, tetapi Tante Naima mengingatkan bahwa masih ada papa yang membutuhkan dirinya. Jika hati Alin saja begitu hancur, bagaimana dengan papanya? Semenjak itu Alin perlahan menyadari bahwa hidupnya belum berakhir, masih banyak hal yang bisa dilakukannya daripada tenggelam dalam depresi yang berkepanjangan dan tiada berujung. Menyakiti diri sendiri hanya karena masa lalu yang tidak berharga lagi serta mengorbankan kebahagiaan mamanya adalah perbuatan yang sia-sia. Itulah penyesalannya yang terdalam.


“Pesanan atas nama Alin!” Alin pun memasukan telepon genggam ke dalam tas ketika mendengar suara pelayan kafe memanggilnya.


“Iya, saya!” dia segera berjalan mendekat ke meja kasir dan membayar pesanannya.


Saat memasukan tas makanan tersebut ke dalam mobil, sekilas Alin melihat seorang gadis belia duduk meringkuk di bangku taman kota tidak jauh dari kafe yang didatanginya. Gadis muda itu masih mengenakan seragam sekolah warna abu-abu. Alin memicingkan mata untuk melihat remaja yang seperti dikenalinya itu. Dia pun memutuskan berjalan ke taman kota ingin memastikan apa yang dilihatnya.


“Rory!” sebutnya. Gadis remaja yang duduk meringkuk itu mendongakkan kepala. Matanya sembab, wajah dibanjiri air mata.


“Dok-ter A-lin?” ucapnya sesenggukan.


“Ya Tuhan, kamu kenapa?” Alin duduk di sebelahnya dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan.


“Kenapa menangis seperti ini? Ada apa?” tanyanya memberondong. Mallory pun menghambur memeluknya dengan suara tangis yang pecah.


Alin membalas pelukannya, mengusap punggung gadis muda itu untuk memberikan sedikit ketenangan. Hatinya terenyuh melihat Mallory menangis semakin menjadi. Alin mencoba melepaskan pelukannya.


“Sudah, tarik napas dulu lalu hembuskan pelan-pelan,” tuntunnya. Tangis Mallory pun mereda meski masih terisak.


“Sekarang coba kamu ceritakan kenapa menangis sendirian di sini?” Alin mengusap air mata gadis itu dengan tisu yang dikeluarkan dari dalam tas.


“Aku nggak mau Daddy nikah sama nenek lampir itu!” sahut Mallory terbata-bata.


“Hah? Nenek lampir?” Alin mengerutkan dahi, merasa aneh mendengar julukan yang disematkan Mallory.


“Iya, itu Tante Zora! Dia itu jahat, nggak sebaik yang diperlihatkannya. Dia itu fake! Aku nggak mau punya Mommy seperti dia!”


“Memangnya dia kenapa?”


“Dia pernah bilang kalau mau mengirim kami bertiga ke asrama setelah Daddy menikahinya, karena Daddy pasti sibuk merawat anak-anaknya sendiri. Tadi waktu aku ke kantor Daddy, aku melihat dia di dalam mobil sedang menelpon. Dia meminta papanya untuk menarik semua saham kalau Daddy nggak menikahinya,” Mallory menumpahkan unek-uneknya. Dia ingin sekali menjambak nenek lampir itu ketika tanpa sengaja mendengar perbincangannya di telepon. Kalau saham keluarga Wisesa ditarik, alhasil opa dan oma pasti akan memaksa daddy-nya untuk menyetujui rencana pernikahan dengan nenek lampir itu. Hal yang sama sekali tidak dapat dinalar oleh akal sehatnya.


* “Wait,* kalian kan anak Daddy juga. Jadi meskipun mereka menikah, Daddy kalian tidak akan meninggalkan kalian. Coba bicarakan ini dengan Daddy-mu.”


“Dokter Alin nggak ngerti, kami bukan anak kandung Daddy,” Alin tercengang mendengar pengakuan Mallory.


“Daddy itu sebenarnya paman kami, kakaknya Mama. Sejak Mama dan Papa meninggal, Daddy mengadopsi kami.”

__ADS_1


Alin merasa takjub dengan penuturan Mallory. Dia merasa Beryl Monza adalah laki-laki penyayang, terlihat dari matanya. Walau faktanya laki-laki itu bukanlah orang tua kandung Mallory, Shaquille dan Kishika, tetapi dia tampak sangat mencintai ketiga anak itu.


“Hmm, bagaimana kalau saya antar pulang? Kamu bisa bicarakan baik-baik dengan Daddy-mu. Saya percaya kalau Daddy-mu itu orang yang baik dan sangat sayang sama kalian bertiga. Pasti ada jalan keluarnya.”


“Aku nggak mau pulang!”


“Rory, mereka pasti khawatir. Bagaimana dengan adik-adikmu? Apa kamu tega meninggalkan mereka?” memaksa remaja yang sedang dilanda emosi tinggi memang tidak berguna, karena jelas mereka lebih memilih egonya. Namun, Alin tidak ingin Mallory merasakan apa yang dialaminya, tersesat dalam egoisme.


“Tapi aku nggak mau pulang sekarang. *Please, *Dokter Alin!” Mallory menggengam tangan Alin seraya memohon.


“Hmm, baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau ikut saya saja,” ajak Alin.


“Ke mana?” Mallory mengusap sisa-sisa air mata.


“Ke tempat di mana kamu akan selalu merasa bersyukur,” Alin mengedipkan sebelah mata. Mallory dipenuhi seribu pertanyaan. Akan tetapi, gadis itu memilih untuk tidak mengungkapkannya, dia hanya mengikuti kemana Dokter kesayangan itu membawanya pergi.


^^o^^


Beryl berjalan mondar-mandir di ruang tunggu Klinik Gigi Jenaka. Tadi sesampainya di rumah jam delapan malam, hal pertama yang dijumpai adalah aura kegelisahan anggota keluarganya.


“Rory, kabur!” begitu kata mamanya.


Di klinik inilah sekarang Beryl berada, menunggu sang dokter dengan resah karena dia juga tidak menemukan keberadaan Mallory di seluruh sudut klinik. Pasien terakhir Dokter Alin baru saja keluar dari ruangannya, dengan langkah terburu-buru Beryl menerobos masuk ke ruangan yang sedang dibersihkan itu.


“Selamat malam, Dokter Alin! Maaf saya …,” Beryl tercekat, tenggorokannya terasa kering karena rasa panik.


“Malam Tuan Beryl, silakan masuk!” Alin mempersilakan Beryl masuk  dan duduk sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


“Di mana putriku?” Beryl langsung to the point.


“Begini, tadi siang saya bertemu Rory di taman balai kota. Kondisi emosinya sedang tidak baik karena saya melihat dia menangis. Saya tawarkan untuk mengantarkannya pulang, tapi dia menolak. Akhirnya saya bawa ke panti karena kebetulan saat itu saya ada acara di sana,” Alin menatap wajah Beryl yang dipenuhi gurat kecemasan.


“Menangis? Apa ada teman sekolah yang mengganggunya?” Beryl keheranan karena dia tidak pernah melihat Mallory menangis sebelumnya, kecuali terakhir kali saat kedua orang tuanya meninggal.


“Awalnya saya berpikiran sama dengan Anda, tapi ternyata bukan masalah sekolah. Melainkan masalah keluarga,” Alin menghentikan ucapannya sejenak.


“Apa? Masalah keluarga?” Beryl semakin heran. Tatapan mata menerawang jauh, mencoba mengingat ada masalah apa dalam keluarganya. Akan tetapi, tidak satupun jawaban didapatnya.


“Dia mengatakan sesuatu tentang nenek lampir,” Alin berhati-hati menyampaikannya.


“Nenek lampir? Siapa dia?” Beryl mengernyit, semakin tidak mengerti.

__ADS_1


“Sebaiknya nanti Tuan tanyakan sendiri pada Rory, saya tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan keluarga Anda. Tapi, saya mohon agar Tuan lebih tenang bila bicara dengannya, mengingat emosi yang masih tidak stabil.”


“Hmm, tentu saja,” Beryl masih memutar otak mencari jawaban terkait misteri nenek lampir yang dikatakan Alin tadi.


“Apa kita bisa ke sana sekarang?” tanya Beryl.


“Ya, baiklah. Kebetulan saya juga sudah selesai,” Alin mengambil tasnya yang tersimpan di laci meja. Mereka berdua pun meninggalkan ruangan itu.


Begitu sampai di parkiran depan klinik, Alin mengeluarkan kunci mobilnya yang langsung diraih Beryl.


“Biarkan saya yang mengemudi,” Beryl menekan tombol kunci otomatisnya, membuka pintu dan mempersilakan Alin masuk.


“Eijaz, kau ikuti kami dari belakang!" serunya pada Eijaz yang sudah menunggu di samping mobil. Eijaz pun menganggukkan kepala tanda mengerti perintah tuannya.


Di sepanjang perjalanan, kedua insan berbeda generasi itu saling terdiam. Membisu tanpa kata. Alin memandang jalanan yang berlimpah cahaya lampu, sedangkan Beryl menatap lurus ke depan, fokus pada kemudi.


Kesekian kalinya harum lavender menyusup ke indera penciuman Beryl. Sesekali ia melirik Alin dari sudut matanya. Degup jantungnya memburu. Ada perasaan asing yang menusuk-nusuk kalbu. Bukan tusukan tajam yang menyakitkan, tetapi tusukan lembut yang menghangatkan. Sebutir perasaan bahagia merayapi sanubarinya. Tanpa disadari, senyumnya terukir manis.


Tidak pernah sedikitpun ia merasakan hal yang sama pada wanita-wanita yang pernah dekat dengan dirinya. Bahkan dengan cinta pertamanya sekalipun. Dia merasa terpesona pada wanita yang duduk di sampingnya itu sejak pertama kali mereka bertemu. Sorot mata, senyuman, raut periang, harum tubuh, dan aroma rambut panjang yang tergerai, sungguh membuatnya terbuai.


Setiap kali dekat dengannya, jantung Beryl berdetak lebih kencang. Ada gejolak dalam hatinya yang melompat-lompat bagai loncatan di atas trampolin. Gelora mudanya kembali menari-nari. Apakah ini yang dinamakan puber kedua? Beryl mengusap hidung dengan punggung tangan kanannya. Jauh di lubuk hati, ada rasa syukur dengan kaburnya Mallory. Anggap saja dia setengah gila, karena kepergian Mallory bagaikan berkah untuknya. Dia menjadi semakin dekat dengan Alin.


“Apakah ini masih jauh?” Beryl berusaha memecah kebisuan di antara mereka.


“Oh, tidak. Di depan sekitar lima kilometer belok kanan, lalu jalan pelan-pelan saja karena letaknya tidak jauh dari situ,” Beryl mengangguk pelan.


“Apakah Anda sudah lama mengenal panti itu?”


“Ehm, almarhumah Mama saya dibesarkan di panti itu,” Alin sebenarnya enggan menceritakan latar belakang keluarga pada orang asing.


“Maaf, saya tidak tahu. Saya tidak bermaksud …,” Beryl salah tingkah.


“Tidak apa-apa. Mama dan saudara satu pantinya kemudian mengelola panti itu bersama-sama saat kami pindah ke kota ini empat tahun yang lalu.”


“Kalau boleh tahu, Mama Anda meninggal karena apa?” Beryl tidak bermaksud lancang atau membuka luka lama, ia hanya tidak ingin mereka kembali dalam kebisuan.


“Sakit lambung yang sudah kronis,” Beryl manggut-manggut.


“Ah, itu pantinya. Kita sudah sampai!” Alin tidak ingin membahas lebih lanjut tentang mamanya, dia pun merasa lega karena papan nama panti asuhan sudah terlihat. Itu artinya mereka sudah sampai dan tidak perlu melanjutkan pembicaraan mereka lagi.


~***~

__ADS_1


__ADS_2