Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 21 : Taman


__ADS_3

Gedung Monsrey International Company. Alin berjalan mondar-mandir di lobi gedung, ragu dan risau bertumpuk menjadi satu. Seribu satu alasan berseliweran di otaknya. Entah itu alasan untuk terus melangkah maju atau berbalik badan lalu pergi. Dia tidak yakin kalau kedatangan ke perusahaan hasil jerih payah Beryl dan daddy-nya ini adalah keputusan yang benar.


Di tengah kebingungannya, dia melihat Eijaz berjalan beriringan dengan seseorang. Alin yang saat itu mengenakan celana jeans, kaos tunik lengan panjang dan topi baseball semakin menurunkan topinya untuk menutupi wajah. Dia berdiri di dinding kaca dekat lobi, menempelkan ponsel yang tidak berbunyi ke telinga berlagak sedang menelepon seraya menatap jalanan padat.


“Thank’s Doctor Charles!” Eijaz menjabat tangan Dokter Charles, dokter andalan keluarga Monza.


*“My pleasure! Make sure that your boss have a healthy life. For now, keep coffee away from him! You can call me*anytime,” Dokter Charles memberikan instruksi.


“Yes, Sir!” Eijaz mengantarkan Dokter Charles sampai ke pintu keluar. Setelahnya,  asisten paling loyal itu kembali masuk dan berdiri di depan lift.


Eijaz mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lantai dasar sambil menunggu pintu lift terbuka. Tatapannya mengarah lurus ke seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari meja customer service. Dia menautkan kedua alis. Dari pantulan dinding kaca dia tampak mengenali sosok yang tengah sibuk menelepon.


“Dokter Alin?” gumamnya.


Demi menuntaskan rasa penasaran yang melambung, Eijaz berbalik arah menuju tempat itu. Selangkah demi selangkah, perlahan-lahan seraya meyakinkan diri kalau yang dilihatnya tidaklah salah. Alangkah malunya andai dia salah orang.


“Kok dia balik ke sini lagi, sih?” Alin panik ketika dari pantulan kaca tampak Eijaz berjalan kian mendekat.


Tanpa melepaskan ponsel yang menempel di telinga, Alin segera beranjak pergi. Derap kaki gadis itu makin cepat, dia tidak ingin Eijaz mengetahui keberadaannya. Alin terus berjalan tanpa menengok ke belakang.


“Dokter Alin, tunggu!” teriakan Eijaz bagai angin lalu karena orang yang dipanggilnya sama sekali tidak menoleh.


Nada dering ponsel menghentikan aksi Eijaz mengejar calon istri bos-nya. Pria yang sudah mengabdi pada keluarga Monza selama lebih dari sepuluh tahun itu merogoh saku bagian dalam jas yang dikenakannya. Saat dia akan menekan tombol hijau untuk menerima telepon, tiba-tiba suara ponsel terputus. Ada sebuah pesan masuk dari sekretaris Beryl yang segera membacanya.


“Oh, ****!” umpatnya seraya kembali berlari masuk ke dalam gedung.


^^o^^


Alin duduk di bangku taman yang berada tidak jauh dari Gedung Monsrey International Company. Napasnya ngos-ngosan, energi terkuras karena berusaha kabur dari pantauan Eijaz. Disandarkan punggung dan diluruskannya kedua kaki. Dia bersyukur karena asisten Beryl itu tidak lagi mengejar. Kalau dia sampai tertangkap basah, bisa dipastikan laki-laki berkacamata itu akan menggiring Alin bertemu dengan Beryl.


Tetesan peluh membasahi wajah cantik Alin. Diusap perlahan menggunakan ujung lengan kaos yang dikenakannya. Topi baseball dilepas dan dikipas-kipaskan, memberikan secercah embusan angin untuk meghapus rasa gerah di badan.


Seharusnya dia senang bila Eijaz mempertemukannya dengan Beryl. Bukankah itu alasan utamanya menginjakkan kaki di area Monsrey International Company? Melihat kondisi Beryl yang terbaring tanpa daya. Akan tetapi, kenapa dia malah menghindar dari kejaran Eijaz. Alin benar-benar bimbang.


"Excuse me!" Alin terkejut saat tiba-tiba sebuah suara muncul begitu dekat dengan tempat duduknya.


"Do you see some bag paper left here?"


Alin yang tengah asyik bersandar sambil mendongak ke langit terpaksa menurunkan posisi kepalanya kembali tegak seperti semula. Seorang pria dengan ciri khas penduduk Asia Selatan berdiri tegap di hadapannya. Alin memicingkan mata. Wajah rupawan laki-laki itu tampak tidak asing.


"Kamu ...!" sahut mereka serempak.


"Taman Pura Saraswati!" teriak mereka berdua kompak.


"Kok bisa ketemu lagi di sini?" ceplos Alin.

__ADS_1


"Kamu juga ada di sini? Wah, sepertinya kita berjodoh!" ujar pria itu sembari menyunggingkan senyumnya.


Alin menelan ludah, jengah mendengar kata-kata gombalan dari pemuda yang dulu menabraknya ketika berada di Taman Pura Saraswati Bali.


"Kenalkan, namaku Dashtan!"


"Alin!" Dashtan dengan cuek meraih tangan Alin, lantas menciumnya. Alin terperangah, perlakuan lelaki yang baru dikenal itu sangat ajaib. Sok kenal dan asal main cium tangan orang.


"Nggak nyangka ya, kita bertemu dua kali. Sepertinya Tuhan punya maksud tertentu," laki-laki itu mengerlingkan mata.


“Nggak usah ngaco!” sungut Alin.


“Wah, galak benar! Santai aja, dong!” Dashtan terkekeh.


“Kamu cari apa tadi?” Alin mengalihkan pembicaraan.


“Oh ya, paper bag ku tertinggal di sini. Apa kau melihatnya?”


“Hmm, aku nggak lihat ada paper bag di sini.”


Dashtan menelisik ke kanan dan ke kiri bangku yang diduduki Alin. Memang tidak ada apapun di tempat itu, sepertinya dia lupa di mana menaruh paper bag yang tadi dibawa. Alin mengikuti ke mana netra Dashtan bergerak, dia tidak mau jadi tertuduh hilangnya barang seseorang.


“Kurasa kau benar! Mungkin aku menaruhnya di tempat lain,” Dasthan mendengus sebal.


“Ckk, sebaiknya kau cuci otakmu supaya ingatanmu kembali!”


Alin amat terganggu dengan keberadan pria yang mendadak muncul entah dari mana datangnya. Gaya bicara Dashtan yang ceplas-ceplos tanpa sungkan menyulut emosinya. Alin berdiri, dia memutuskan untuk pergi menjauh dari manusia aneh sebelum kewarasannya terkontaminasi.


“Hei, mau ke mana?” Dashtan menahan lengan Alin.


“Aku mau pergi! Tolong, lepaskan tanganku!” tegas Alin.


“Sebelum pergi, bagaimana kalau kita makan siang dulu?” Alin melotot tajam karena Dashtan belum membebaskan tangannya.


“Hiii, tatapanmu benar-benar mengerikan! Aku takuut!” Dashtan menarik cengkeraman tangannya.


“Maaf, tapi aku tidak ada urusan denganmu!” Alin beranjak dari tempatnya berdiri.


“Tentu saja ada!” tukas Dashtan penuh percaya diri.


“Maksudnya?”


“Seperti yang aku bilang tadi, Tuhan pasti punya alasan kenapa mempertemukan kita berdua. Pertama di Bali dan sekarang di sini. Tidak mungkin ada yang kebetulan di dunia ini!” Alin membuang muka, tidak mengindahkan celoteh Dashtan yang berusaha keras mengajaknya.


“Tidak ada salahnya kan, kalau kita mencari tahu rahasia Tuhan?” lanjut Dashtan seenaknya.

__ADS_1


“Huh, apa kau sudah gila?” Alin sudah tidak tahan menghadapi pria iseng nan usil di depannya.


“Ayolah! Aku yang traktir!” Dashtan bersikukuh.


“Aku sama sekali tidak tertarik! Minggirlah, jangan halangi jalanku!”


Alin sedikit mendorong bahu Dashtan. Dia sudah tidak peduli lagi dengan rayuan Dashtan yang menambah sakit kepalanya. Alin berlalu sembari berdoa dalam hati agar tidak dipertemukan dengan lelaki itu lagi.


Pandangan mata Dashtan tidak berpaling sedikitpun dari raga Alin. Bahkan, indera penglihatannya nyaris tidak berkedip.


“Hmm, cantik, menarik!” decaknya.


^^o^^


Eijaz berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang kerja Beryl. Begitu mendengar kabar kalau bos-nya itu sudah siuman lalu melepas infus dengan paksa, serta mengusir perawat yang ditugaskan oleh Dokter Charles, membuat Eijaz khawatir. Bukan kondisi kesehatan Beryl yang dia cemaskan, tetapi perilaku bos-nya. Perilaku yang cukup meresahkan orang-orang disekitarnya.


“Oh, syukurlah kau cepat datang, Eijaz! Aku sungguh pusing dengan kelakuan bos-mu ini! Sepertinya dia sudah bosan hidup!” ujar Othman penuh kelegaan.


“Ov, kau pikir aku orang penyakitan?” sahut Beryl.


“Aku percaya badanmu sekuat Hulk! Tapi, ada kalanya Hulk juga bisa tak berdaya!” sindir Othman.


“Tuan Othman benar, sebaiknya Anda mengikuti instruksi Dokter Charles agar cepat pulih!”


“Nah, asistenmu saja setuju denganku!” Othman merasa menang karena dukungan dari Eijaz. Menurutnya, sekali-kali Beryl harus disentil agar mau menurut.


“Maaf Tuan, kalau seandainya Dokter Alin mengetahui kondisi Tuan yang seperti ini, apa yang akan dikatakannya? Lagipula, dengan kondisi tubuh lemah Tuan tidak akan dapat melanjutkan usaha mendapatkan kembali cinta Dokter Alin. Apakah Tuan mau kalau Dokter Alin menerima cinta Tuan hanya karena kasihan?” Eijaz gusar, terasa ada yang menyumbat tenggorokannya. Dia tahu sudah lancang melewati batasannya. Namun, dia sudah siap dipenggal jika Beryl terpancing emosi.


Beryl mendelik, menatap asistennya dengan sorot mata membunuh. Bisa-bisanya Eijaz yang masih buta akan cinta itu memberinya petuah seolah-olah dia adalah pejuang cinta teladan.


“Wah wah, aku bangga padamu Eijaz! Ternyata kau jauh lebih cerdas dari tuan muda ini!” Othman bertepuk tangan memberikan sanjungan.


“Diamlah, Ov!” gertak Beryl.


“Berani benar kau menyuruh aku, calon Papa Mertuamu, untuk menutup mulutku! Sebaiknya kau turuti semua perintah Dokter Charles atau aku tidak akan sudi menerima laki-laki bebal sepertimu untuk jadi menantuku!” ancam Othman.


“Hah! Kalian berdua memang menyebalkan!” Beryl memijat kepalanya yang mendadak berdenyut keras.


Diakuinya semua yang dikatakan Eijaz memang benar. Dia terlalu mengabaikan kesehatannya. Hingga dia lupa kalau tubuhnya meronta, apalagi di usianya yang sudah kepala empat. Dia ingat perhatian Alin saat merawatnya di Bali. Ada kegembiraan bertengger di hatinya ketika merasakan cinta kasih Alin. Namun, andai kali ini Alin kembali merawatnya hanya karena kasihan, kegembiraan itu juga akan sirna.


“Tadi saya lihat Dokter Alin ada di lobi gedung ini,” Eijaz berharap informasi yang disampaikannya akan membangkitkan semangat Beryl.


“Alin di sini? Apa kau yakin? Kau tidak sedang membodohi aku kan?”


“Tidak, Tuan! Saya bahkan hendak menghampirinya. Tapi, sayangnya Dokter Alin kabur.”

__ADS_1


“Kabur?” teriak Beryl dan Othman bersamaan.


\~***\~


__ADS_2