
Beryl masih menimbang-nimbang tawaran Keven. Meskipun dia baru saja pulih, tetapi bukan berarti tidak mampu berduel dengan musuh.
“Baiklah, aku akan menghadapi bajingan itu. Eijaz kau hubungi polisi begitu kami berhasil masuk ke sana. Dan kalian, uruslah penjaga-penjaga itu!” keputusan Beryl sudah bulat.
“Hahaha,” Keven terkekeh.
Sementara itu, Kaif dan Eijaz merasa lega karena laki-laki itu tidak bertindak bodoh dengan menerima tawaran gila dari Keven.
“Jadi, Uncle mengakui kalau ternyata usia berpengaruh pada kekuatan pukulan?” cibir Keven.
“Sialan! Usiaku boleh bertambah, tapi pukulanku masih bisa membuat kalian semua babak belur!” Beryl menunjukkan kepalan tangannya.
“Kalau aku menghadapi mereka semua, lantas buat apa kalian ada di sini? Anak muda seperti kalian harus banyak latihan!” nasihat Beryl.
“So, what’s the plan?” sahut Zhiggy.
Keven mengeluarkan selembar kertas dari sakunya sembari menatap mereka satu-persatu. Dia membuka lembaran kertas itu dan meletakkannya di kap mobil Kaif. Sebuah denah dari bangunan tua tempat Alin disekap.
“Here’s the plan!”
^^o^^
Dashtan duduk santai di sofa, menikmati seporsi ayam goreng saus keju kesukaannya. Kedua bola matanya tidak lepas dari siaran berita di televisi. Hingga detik ini belum ada berita terkait hilangnya seorang wanita di taman. Dia kepikiran ucapan Alin sebelumnya. Apa benar gadis itu sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Beryl Monza? Kalau memang benar, maka kacau sudah rencananya.
Selera makan Dashtan mendadak lenyap membayangkan rencana yang disusunnya dengan matang harus hancur begitu saja. Betapa bodohnya dia melewatkan informasi sepenting ini. Dashtan menjilati jari-jarinya yang berlumuran saus keju. Satu botol minuman beralkohol ditenggaknya sampai tandas.
“Bos!” salah satu orang kepercayaannya datang melapor.
“Katakan, ada informasi apa!” ucap Dashtan tegas
“Kita dalam masalah, Bos!”
Dashtan mendongakkan kepala, dari suara pria kekar di depannya dia menduga kalau ada masalah besar sedang mengintai.
“Masalah apa?”
“Gadis itu sepertinya bukan orang sembarangan!” Dashtan menautkan kedua alis tebalnya.
“Dari info yang saya dapatkan, Keluarga Saverio ikut mencari keberadaan gadis itu.”
“Saverio? Kau yakin?” laki-laki itu mengangguk.
Dashtan berdiri, kepalanya terasa berputar-putar. Nama keluarga Saverio bukanlah nama biasa. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan dan pengusaha kelas atas, nenek moyang keluarga Saverio adalah mantan anggota mafia. Bahkan, ada yang bilang kalau pendahulu mereka masih memiliki ikatan dengan keluarga kerajaan di beberapa negara di dunia. Mereka juga mempunyai pasukan keamanan khusus yang disebut sebagai Black Star. Namun, keberadaan Black Star itu sendiri masih diragukan banyak pihak. Beberapa orang dikabarkan menghindari masalah dengan keluarga Saverio daripada nantinya mereka hanya tinggal nama.
“Siapa gadis itu sebenarnya?” Dashtan memijat pelipisnya.
Rasa penasaran Dashtan menuntunnya masuk kembali ke kamar di mana ia mengunci Alin. Bahaya mengancamnya kalau memang benar keluarga Saverio sampai turun tangan. Sekali lagi Dashtan menyesali kebodohannya yang tidak mencari tahu lebih detail tentang tawanannnya itu.
Alin masih di tempatnya semula. Perutnya terasa perih karena hampir seharian dia belum menjamah makanan. Dia terpaksa meminum air yang dibawakan Dashtan demi membasahi kerongkongan yang kering dan menenangkan rintihan cacing-cacing dalam perutnya.
__ADS_1
Melihat sosok Dashtan dari balik pintu kamar yang dibuka membuat Alin merasa muak. Dia ingin berteriak kencang, tetapi itu tidak akan mendatangkan bala bantuan untuk menyelematkannya. Laki-laki bengis itu pasti bukanlah manusia bodoh yang mengurungnya di lokasi padat penduduk. Alin terus melantunkan doa dalam hati, memohon pada Tuhan agar mengirimkan malaikat penolong.
Dashtan menarik kursi hingga duduk tepat di samping ranjang Alin. Indera penglihatannya menelisik Alin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dokter gigi bertubuh mungil dan proporsional yang hidup bersama papanya yang lumpuh. Mamanya adalah seorang anak yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan. Latar belakang keluarga Alin sama sekali tidak ada yang spesial. Akan tetapi, sekelas keluarga Saverio sampai mencari keberadaannya itu adalah hal yang cukup menarik. Apa istimewanya gadis di depannya itu?
“Ada hubungan apa antara kau dan keluarga Saverio?” tanya Dashtan.
“Kenapa? Bukankah kau lebih tahu tentangku? Atau kau sudah mulai takut dijemput malaikat maut?” Alin tersenyum sinis.
“Bisakah kau jawab saja pertanyaanku?” Dashtan mulai kesal.
“Sudah aku katakan kau salah sasaran. Sebentar lagi mereka akan datang untuk membuatmu tidak berkutik,” ejek Alin.
Alin bisa menarik napas lega, Tuhan mendengarkan doanya. Keluarganya pasti tidak akan tinggal diam saat tahu kalau dia diculik.
“Kau tidak akan bisa menakut-nakutiku!” Dashtan mendengus sebal.
“Aku tidak perlu menakut-nakutimu! Karena begitu mereka tiba di tempat ini, nasibmu akan selesai.”
“****!” Dashtan mengumpat karena tawanannya susah diajak kerja sama. Emosi meluap hingga ke ubun-ubun menggelapkan mata hatinya.
Dashtan menekan leher Alin dengan tangan, kemudian menampar gadis itu sampai tetesan darah merembes menodai sudut bibirnya. Rasa panas menjalar di pipi Alin, membuatnya mendesis kesakitan.
“Aku akan menyumpal mulutmu agar tidak sembarangan bicara!” Dashtan menyuruh salah satu anak buahnya yang berdiri di depan pintu kamar untuk mengambil lakban.
Alin tersiksa merasakan bibir perih yang ditutup lakban serta tangan dan kakinya yang terikat erat. Dia tidak bisa bergerak ke mana-mana.
“Hah, mulutmu sekarang sudah tidak bisa berkicau lagi!” Dashtan pergi membiarkan Alin kesakitan seorang diri.
Alin menghentikan tangisnya ketika mendengar suara dari arah kamar mandi. Susah payah dia mengambil gelas di nakas dengan tangan terikat. Pintu kamar mandi terbuka sedikit demi sedikit nyaris tanpa berdecit. Sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Alin ingat di kamar mandi ada lubang angin yang cukup besar. Sebelumnya, dia hendak melarikan diri melalui lubang itu. Namun, dia tidak punya alat-alat yang dapat dipakai untuk membuka penguncinya.
Betapa terkejutnya Alin ketika melihat seseorang yang keluar dari kamar mandi. Sosok yang baru saja dirindukannya. Beryliano Monza berdiri tepat di hadapannya. Alin memejamkan matanya, takut kalau ini hanya sekedar ilusi. Alin membuka mata ketika merasakan tangan Beryl menyentuh wajahnya.
“Alin! Ya Tuhan, kau baik-baik saja?” air mata Alin kian bercucuran.
Beryl melepaskan ikatan di tangan dan kaki Alin, juga lakban yang menempel di mulutnya. Alin langsung berhambur memeluk Beryl erat sembari menahan suara tangisnya agar tidak terdengar keluar.
“Apa yang dilakukannya padamu?” tanya Beryl khawatir melihat kondisi Alin yang tidak baik-baik saja.
“A-aku ta-takut,” jawab Alin sesenggukan.
“Ssstt, tenanglah aku di sini! Jangan takut, kita akan segera keluar dari sini!” Beryl mengusap punggung Alin dengan lembut mengalirkan ketenangan.
Suara tepuk tangan menggema di dalam kamar. Dashtan sudah berdiri di ambang pintu menyaksikan pasangan Adam dan Hawa yang saling berpelukan seolah dunia milik berdua. Alin beringsut dari ranjang dan bersembunyi di balik badan Beryl yang lumayan berotot.
“Wow, adegan yang sangat mengesankan!” ucap Dashtan dengan senyum licik.
“Akhirnya, kau datang juga ke sini Tuan Beryl Monza yang terhormat!”
“Siapa kau? Apa maumu?” tanya Beryl dingin.
__ADS_1
“Siapa aku? Apa mauku? Hmm, aku menginginkan kehancuranmu!”
Beryl tidak mengerti maksud pemuda itu. Namun, dia mulai paham kalau Alin bukanlah target sebenarnya. Lelaki muda seusia Kaif itu mengincarnya dan menjadikan Alin sebagai alat untuk memancingnya.
“Kehancuranku? Aku rasa kita tidak saling mengenal, tapi kenapa kau menginginkan kehancuranku?”
“Aku kehilangan kakakku, orang tuaku bahkan seluruh harta kami semua itu karena ulahmu. Kaulah penyebabnya!”
“Aku sungguh tidak mengerti,” Beryl mengernyikan dahi.
“Jangan pura-pura bodoh!”
“Hei, jaga sopan santunmu!” Beryl ingin sekali menghajar pemuda kurang ajar itu, tetapi dia berusaha menahan emosinya.
“Namaku Dashtan Alexander. Aku adalah adik dari Zahdev Alexander, ayah kandung dari ketiga keponakanmu. Apa kau sudah mengingatnya? Atau kau mulai pikun?”
Alin membola mendengar penjelasan Dashtan. Jadi, laki-laki yang telah menculiknya itu masih ada hubungan darah dengan Mallory, Shaquille dan Kishika. Beryl masih terdiam di tempatnya berdiri, dia sudah mulai bisa menerka maksud dan tujuan Dashtan.
“Aku tidak melupakan kenyataan kalau Zahdev adalah ayah kandung mereka, meskipun aku enggan untuk mengakuinya. Tapi, apa hubungannya status Kakakmu dengan kejadian ini?”
“Kau adalah penyebab kematian Kakakku! Kau sengaja menyingkirkannya, mengambil hak asuh ketiga keponakanku dan mengabaikan keluarga kami. Kau bahkan tidak peduli ketika orang tuaku mengemis pertolongan karena kondisi mereka yang sakit hingga mereka meninggal. Kau membuatku hidup sebatang kara!”
“Kakakmu tewas akibat perbuatannya sendiri! Dia ingin mencelakai istrinya sendiri dengan merusak rem mobil. Tapi sayangnya, dia tidak dapat melepaskan diri dari sabuk pengaman dan akhirnya mobil yang mereka tumpangi jatuh ke jurang. Kakakmu dan Delana – adikku- tewas seketika.”
“Omong kosong!” gertak Dashtan.
“Kau pikir aku tidak tahu semua kejahatan yang dilakukannya? Kakakmu itu gila harta, dia bahkan mencuri uang perusahaan. Menjual saham adikku dan mengalihkan semua aset menjadi atas namanya. Seluruh harta yang dinikmati oleh keluargamu adalah harta curian. Harta haram yang membuatmu juga ikut tersesat!”
“Diaaam!” Dashtan menutup kedua telinganya.
“Aku masih menyimpan semua bukti keburukan Kakakmu. Bisa saja aku melaporkannya ke polisi kalau aku mau. Tapi, demi ketiga anak yang tidak berdosa itu aku menutup semuanya rapat-rapat hingga detik ini. Kau pikir aku rela menyerahkan hak asuh mereka pada keluargamu? Mereka hanya akan menjadi mesin pencetak uang bagi manusia sampah seperti kalian!” Beryl berapi-api.
“Cukuuup!” teriak Dashtan seraya melayangkan pukulan ke Beryl.
Beryl menepis pukulan itu, lalu balas menghajar Dashtan dengan kepalan tangannya. Mereka berdua saling baku hantam. Tenaga Beryl masih kuat untuk meladeni pukulan dan tendangan Dashtan. Meskipun secara usia mereka terbentang jauh, tetapi Beryl masih mampu mengimbangi pemuda itu.
Dashtan yang terdesak menarik tubuh Alin lalu menodongkan pistol ke kepalanya. Alin sangat ketakutan. Beryl menghentikan serangannya.
“Lepaskan dia!” sahut Beryl lantang.
“Sudah aku bilang, kau akan merasakan kehilangan sama seperti aku!” Dashtan makin menggila.
“Alin, lihatlah aku! Kamu adalah wanita yang sangat kuat! Kamu cerdas, hebat, dan aku sangat mencintaimu!” Alin menatap mata teduh Beryl, dia begitu terharu dengan ucapan pria tua yang masih berjiwa muda itu.
Alin sadar kalau Beryl sedang memberikannya semangat agar dia tidak menyerah, dia bukan wanita lemah yang bisa diinjak-injak oleh laki-laki gila seperti Dashtan. Alin menginjak kaki Dashtan dengan sekuat tenaga hingga dia terlepas dari cengkeraman tangannya. Begitu Alin berhasil lari menyelamatkan diri, Beryl langsung mendaratkan bogem mentah ke tengkuk Dashtan. Pemuda itu jatuh tersungkur.
Beryl mendekap Alin yang seluruh tubuhnya gemetar. Diciumnya kening Alin agar gadis itu berhenti menangis. Terdengar suara sirene mobil polisi mendekat. Tanpa mereka sadari, Dashtan mencoba meraih pistol yang sempat terlempar dan bangkit berdiri meski terhuyung-huyung. Diarahkannya pistol tepat di bagian belakang badan Alin. Beryl yang melihat dengan sigap memutar tubuh Alin lalu menghalangi menggunakan punggungnya yang lebar.
DOORR …
__ADS_1
\~***\~