Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 25 : Love


__ADS_3

Alin membeliak melihat sebutir peluru yang dilesakkan dari pistol Dashtan. Telinganya berdenging, tubuhnya lemas saat suara tembakan terdengar begitu keras. Dunianya mendadak berubah gelap gulita.


“Tidaak! Beryl!” Alin terbangun dengan keringat membasahi sekujur badannya.


“Alin, are you okay?” Yola memegang bahu putrinya.


“Mom, di mana Beryl? Dia baik-baik saja, kan? Mom, aku mau melihatnya!” cecar Alin.


“Be-Beryl dia …,” Yola tidak mampu menahan kesedihannya.


“Dia kenapa, Mom? Katakan, Mom!” Alin memegang kedua lengan Yola kuat-kuat.


“Dia ada di pemakaman,” Yola tertunduk lesu.


“Apa? Pemakaman? Ti-tidak! Itu tidak mungkin, Mom!” Alin tidak sanggup lagi menahan rintihan pilunya, dia terus meraung memanggil nama Beryl.


Yola berusaha menenangkan putrinya yang baru saja tersadar. Betapa pedihnya Yola saat Alin dibawa pulang dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Bekas ikatan di kedua pergelangan tangan dan kakinya. Sisa darah yang mengering di sudut bibirnya. Wajahnya kusut tidak terurus dan jejak tamparan yang menghiasi.


Alin menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Dia beranjak turun dari tempat tidur.


“Kamu mau ke mana?” tanya Yola panik.


“Aku mau ke pemakaman, Mom!”


“Mau ngapain ke sana?”


“Aku mau melihat dia untuk yang terakhir kalinya, Mom!” Alin melepaskan diri dari cekalan tangan Yola.


“Ta-tapi …,”


“Siapa yang mau kamu lihat untuk terakhir kalinya?” sebuah suara serak menghentikan aksi Alin.


Alin menoleh ke arah pintu. Beryl berdiri tegak di ambang pintu memakai kemeja lengan panjang yang digulung dan pantalon berwarna hitam. Alin mengerjap berkali-kali hanya untuk meyakinkan dirinya kalau sedang tidak berhalusinasi.


“Beryl!” Alin berlari ke pelukan Beryl yang masih berdiri mematung, bertanya-tanya apa yang terjadi.


“Ini bukan mimpi, kan?” Alin terisak.


Beryl menautkan alis dan menatap Yola dengan pandangan penuh tanya. Yola mengedikkan bahunya.


“Ini bukan mimpi, Sayang!” Beryl mengeratkan pelukannya. Dia mengangkat tubuh Alin dan membopongnya kembali ke tempat tidur. Sementara itu, Yola keluar dari kamar dan membiarkan Beryl menemani putrinya.


Secercah bahagia menyusup ke dasar hati Beryl, ribuan kupu-kupu beterbangan memenuhi relung kalbunya yang sempat tertutup mendung. Kalau boleh jujur, dia tidak ingin melepaskan pelukannya. Namun, dia masih sadar diri. Beryl menurunkan tubuh Alin perlahan-lahan, menghapus sisa rembesan air di pelupuk mata gadis pujaannya.


Alin tersenyum, Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memandang wajah tampan lelaki itu. Hatinya sudah ketar-ketir membayangkan butiran peluru menghunjam punggung Beryl.

__ADS_1


“Wait! Kalau Beryl ada di sini, lantas siapa yang tertembak? Pemakaman siapa yang dihadiri Beryl?” batin Alin.


“Si-siapa yang tertembak?” Beryl tertegun mendengar pertanyaan Alin.


Beryl menarik napas panjang, mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya. Dia menjeda sejenak kata-kata yang sudah tersusun di otaknya. Digenggamnya tangan Alin sebelum dia mulai bercerita.


“Katakan padaku siapa yang tertembak! Mommy bilang kamu ada di pemakaman. Pemakaman siapa?” desak Alin.


“Alaric,” Beryl mengusap pipi Alin yang sedikit pucat.


“Alaric?” Alin terhenyak di kasur yang tengah didudukinya.


“Alaric tiba-tiba muncul dan menghalau peluru itu dengan badannya. Peluru itu menembus rongga dadanya. Nyawanya tak dapat diselamatkan karena peluru bersarang sangat dekat dengan jantungnya.”


Alin terkulai, tidak menyangka hidup mantan kekasihnya itu akan berakhir tragis seperti ini.


“Lalu Dashtan?”


“Polisi sudah menangkapnya. Aku akan pastikan dia membusuk di penjara!” kilatan amarah masih tampak di netranya.


Dashtan sudah membahayakan nyawa Alin, ada kemungkinan laki-laki itu juga akan membuat masalah pada ketiga anaknya. Beryl tidak akan pernah membiarkan Dashtan hidup bebas. Dia bahkan sudah berdiskusi dengan pengacaranya.


“Apakah kamu akan menceritakan tentangnya pada Rory, Shaqi dan Kika?” Beryl melepaskan genggaman tangannya.


Menceritakan fakta pada ketiga anak itu bahwa mereka masih punya keluarga dari pihak ayah kandungnya adalah hal yang cukup berat. Selama ini, Beryl sudah menutup rahasia rapat-rapat. Keputusan itu sudah disepakati bersama orang tuanya.


“Yang sebenarnya? Kalau papa kandungnya terlibat pembunuhan berencana yang menewaskan mamanya?” Beryl menatap lurus ke arah Alin.


Alin sangat memahami perasaan Beryl, tidak akan pernah mudah menjelaskan kepada anak-anak terkait keburukan orang tuanya. Kalau mental mereka tidak kuat maka akan memicu trauma. Tekanan batin dan beban sosial yang dibawa seumur hidup. Diusapnya punggung Beryl dan disandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu.


Dulu Alin juga pernah mengalaminya. Di hari ulang tahunnya yang kesepuluh, Papa Vishaka memberikan penjelasan tentang siapa orang tua kandungnya dan kenapa dia harus tinggal terpisah dari mereka. Saat itu, Alin sudah tidak asing dengan keberadaan Mommy dan Daddy-nya karena mereka selalu hadir di momen-momen spesial kehidupannya sehingga dengan mudah dia menerima kenyataan itu. Namun, apa yang dialami ketiga anak Monza berbeda darinya. Kenyataan pahit tentang kedua orang tuanya tidak seindah kisah Alin.


“Sebaiknya mereka nggak perlu tahu! Aku nggak akan mengatakan yang sebenarnya daripada mengorbankan mental dan perasaan mereka. Yang perlu mereka tahu adalah orang tua mereka meninggal karena kecelakaan. That’s it!”tegas Beryl.


“Hmm, kamu benar! Aku akan mendukung keputusanmu,” Alin melebarkan senyumnya.


“Mendukungku? Benarkah?” Beryl melirik Alin, senyum jahilnya mengembang.


Beryl baru menyadari kalau dinding pembatas di antara mereka sudah luntur. Alin sudah tidak lagi menjauhinya. Gadis itu bahkan terus memeluknya tanpa risih. Dia harus berterima kasih pada Keven. Tanpa taktik jitunya, mungkin saat ini Alin masih terus menghindar.


“Tentu saja!” jawab Alin penuh keyakinan.


“Sampai kapan kamu akan mendukungku?” pancing Beryl.


“Seumur hidupku.”

__ADS_1


“Jadi, kamu sudah memaafkan aku?” Beryl ingin memastikan bahwa kali ini Alin tidak akan mengabaikannya.


Alin tersadar kalau dia baru saja keceplosan. Dia menunduk malu dan menghindari tatapan mata Beryl yang mengintimidasi.


“Maafkan aku! Sungguh aku nggak bermaksud …,” Alin menutup mulut Beryl dengan menempelkan jari telunjuknya.


“Aku nggak mau membahas masa lalu! Aku sudah memaafkanmu,” kata-kata Alin bagaikan tetesan air es di hati Beryl yang mulai gersang.


“Sejak kapan kamu memaafkan aku?” Beryl mendekatkan wajahnya.


“Ehm, sejak kamu berjaga di depan rumah persis seperti hansip yang sedang ronda!” ledek Alin.


Beryl geram karena ternyata Alin senang sekali menyiksa, membuatnya menderita. Terjaga setiap hari di depan rumah keluarga Yosrey bahkan dia sudah mirip zombie dengan kantung mata yang tebal.


“Kalau sudah memaafkanku, kenapa kamu tega membiarkan aku berjaga terus di luar?” Beryl mencubit pucuk hidung Alin.


“Karena aku takut.”


“Takut?” Beryl mengernyitkan dahi.


“Aku takut bersaing dengan masa lalumu. Aku nggak bisa hidup dengan bayang-bayang masa lalu, apalagi itu cinta pertamamu. Bahkan, wajah kami hampir sama. Bagaimana kalau nanti kamu menganggapku sebagai Mama Zivaa?” Alin tidak ingin menutupi perasaannya lagi.


“Sayangku, itu nggak akan terjadi!” Beryl meyakinkan Alin.


“Yah, kalian memang serupa tapi tak sama!” Alin mendelik lalu mencubit pinggang Beryl hingga laki-laki itu mengaduh kesakitan.


“Dengar, aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Hanya kamu yang memenuhi isi kepalaku, bukan Zivaa ataupun wanita lainnya. Aku bahkan nggak mengingat wajah Zivaa setiap kali bersamamu. Hanya saja ketika aku tahu Zivaa adalah Mamamu, aku baru sadar kalau kalian memiliki kesamaan. Tapi, itu bukan berarti aku menganggapmu sebagai dia. Kamu adalah kamu, nggak akan ada yang bisa menggantikan.”


“Wah, sejak kapan Tuan Muda Monza yang terhormat jadi pintar ngegombal?” sindir Alin.


“Sejak kamu mengacaukan duniaku,” wajah Beryl kian dekat, bahkan kening mereka saling bertaut. Alin bisa merasakan desiran napas Beryl di kulit mukanya.


“I love you Alin Odity Yosrey!”


“I love you too Beryliano Monza!”


Alin membebaskan Beryl untuk menelusuri setiap lekuk bibirnya. Memberikan ruang pada kekasih hatinya untuk melepaskan kerinduan yang membuncah. Sentuhan lembut penuh cinta kasih yang sanggup meluluhlantakkan jiwa Alin. Membuatnya yakin kalau tidak ada wanita lain di hati Beryl selain dirinya.


Sama halnya dengan Beryl yang bahagia tiada tara karena tidak ada lagi penolakan dari Alin. Rasa manis yang dicecapnya dari bibir Alin membuat jiwa mudanya bergejolak. Kehidupannya terasa lengkap. Dunia asmara yang sebelumnya redup kini mulai terang-benderang. Beryl begitu menikmati keindahan yang terpahat sempurna di hadapannya.


“Ya Tuhan! Dasar kau bocah tua nakal! Berani-beraninya kau mencium putriku tanpa ijinku!” amukan Othman mengejutkan kedua insan yang tengah mabuk kepayang. Beryl menghentikan aksinya, lantas ia mengusap bibir Alin yang merekah.


“Ayo keluar! Kau tidak boleh menyentuh putriku sebelum menikahinya!” Othman menjewer Beryl dan kemudian menyeretnya keluar kamar.


“Aww, sialan kau, Ov!”

__ADS_1


Alin tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan dua orang pria yang sangat dicintainya itu. Dia benar-benar bahagia, hatinya berbunga-bunga. Skenario Tuhan memang indah walaupun harus bersakit-sakit dahulu, tetapi akhirnya sangat luar biasa.


~***~


__ADS_2