
Hampir tiga minggu Beryl mengurung diri di apartemen, otaknya tidak mampu berpikir normal. Seminggu ini dia memaksakan diri untuk memeriksa laporan-laporan kegiatan kantor yang dikirimkan Eijaz. Dia pun sibuk membolak-balik berkas yang berjejer di meja.
Banyak sekali pesan dan panggilan masuk ke ponsel, tetapi semua itu diabaikannya. Bahkan, panggilan dari orang tua dan anak-anaknya, kecuali hal yang mereka bicarakan sangat penting. Hanya Eijaz yang mondar-mandir kantor dan apartemennya.
Dari laporan yang dibacanya, proyek di Jepang mengalami kemajuan meskipun belum sesuai harapan. Akan tetapi, setidaknya ada berita baik yang diterima. Beryl sedang tidak ingin menerima berita buruk apapun juga.
Ponsel Beryl bergetar terus-menerus. Sebenarnya dia malas mengangkat ponsel. Namun, ketika diliriknya nama Papa terpampang di layar ponsel, mau tidak mau Beryl pun menjawab panggilan itu.
“Halo, Pa!” sahutnya.
“Beryl, Papa minta kamu pulang sekarang!” teriak papanya yang nyaris menulikan telingan.
“Ada apa, Pa?”
“Pulang sekarang! Kalau kamu nggak datang dalam waktu satu jam, Papa akan suruh orang untuk membakar apartemenmu!”
TUT…TUT…TUT…
Beryl menjauhkan telinga dari ponsel ketika terdengar suara papanya memutus panggilan dengan kasar. Baru pertama kali ini Tuan Moazzam memberi ancaman hanya untuk memaksanya pulang ke rumah. Dia yakin kalau papanya tidak akan membakar apartemen ini, tidak mungkin Tuan Besar Monza membahayakan nyawa orang lain. Pasti ada masalah besar di rumah, Beryl mencoba menerka-nerka. Tidak ingin mengulur waktu, Beryl pun bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah keluarga Monza, tampak wajah-wajah tegang Tuan Moazzam dan Nyonya Aretha. Mereka berdua duduk dengan sorot mata tajam yang siap menghunjam putranya.
“Pa, Ma!” sapa Beryl santai tapi serius.
“Duduk!” perintah Tuan Moazzam.
Tanpa banyak tanya, Beryl pun mengikuti perintah papanya. Sepertinya dugaan Beryl benar, ada masalah besar di rumah ini. Hanya saja dia belum bisa menebak.
“Ada apa, Pa?” tanyanya hati-hati.
“Katakan, ada masalah apa antara kamu dan Alin!”
“Hah?” Beryl ternganga, kaget mendengar pertanyaan papanya.
“Ehmm, nggak ada masalah apa-apa,” Beryl berusaha menjawab setenang mungkin, meskipun terasa berat di bibir.
“Jangan bohong, Beryl!” sela mamanya.
“A-aku nggak bohong, Ma.”
“Beryl, pernikahan kalian kurang satu bulan lagi. Kalau ada masalah, harusnya bisa kalian bicarakan baik-baik. Bukannya malah sembunyi di apartemen!” lanjut Mamanya.
“Aku nggak sembunyi Ma, cuma sekedar cari suasana baru saja. Lagipula apartemen itu sudah lama nggak ditinggali kan,” Beryl mencoba menutupi badai yang sedang berkecamuk di hatinya.
“Nggak ada masalah antara aku dan Alin,” tegasnya sekali lagi.
“Kalau nggak ada masalah, lalu kenapa Alin membatalkan pernikahan kalian?”
Kepala Beryl bagaikan terbentur tembok China ketika mendengar Alin membatalkan pernikahan mereka. Beryl tampak gelagapan. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan papanya.
“Alin membatalkan pernikahan? Tapi kenapa, Pa?”
“Itu yang mau Papa tanyakan ke kamu! Jangan pura-pura nggak tahu!”
“Tapi aku benar-benar nggak tahu, Pa!”
“Bagaimana mungkin kamu nggak tahu Beryl?”
Beryl tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Alin. Apa gara-gara emosinya yang memuncak saat itu? Alin jadi ketakutan dan akhirnya membatalkan pernikahan mereka? Beryl merutuki dirinya sendiri karena sejak kejadian itu, dia memang memutus komunikasi dengan Alin.
“Tadi Mama pergi ke rumah Alin untuk mengajaknya fitting baju pengantin. Kata Tuan Vishaka, Alin sudah pergi dan membatalkan pernikahan kalian. Saat Mama tanya kenapa, Tuan Vishaka berkata kalau kamu tahu alasannya dan dia juga nggak ingin melihat wajah kamu lagi di rumahnya.”
“Alin pergi, Ma?” Beryl dengan saksama mendengar penuturan mamanya.
“Pergi kemana?”
“Mana Mama tahu! Tuan Vishaka nggak mengatakan kemana Alin pergi. Dia hanya bilang kalau putrinya pergi dan nggak akan pernah kembali! Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?” Nyonya Aretha mengelus-elus dada, kesedihannya membuncah.
“Daddy…, Daddy …, Daddy …!” belum sempat Beryl menelaah masalah, tiba-tiba Mallory datang tergopoh-gopoh sambil berteriak memanggilnya.
“Rory, kamu kenapa?” tanya Nyonya Aretha khawatir.
__ADS_1
“Daddy, what’s going on between you and Mommy Alin?” cecar Mallory yang membuat kepala Beryl nyaris pecah.
“What do you mean?”
“Dad, tadi aku ketemu dengan Suster Penny dan dia bilang kalau Mommy Alin sudah resign dari Klinik Gigi Jenaka. Suster Penny juga bilang kalau Mommy Alin pergi ke luar negeri dan nggak akan kembali lagi ke sini!” cerocos Mallory dengan napas terengah-engah.
“Resign? Ke luar negeri?” bola mata Beryl hampir jatuh menggelinding saking kagetnya. Mallory menggangguk-anggukan kepala seraya mengatur napas yang ngos-ngosan.
Tanpa pikir panjang, Beryl lekas menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja dan segera pergi meninggalkan Mama, Papa serta anak sulungnya yang masih dipenuhi tanda tanya.
Beryl mengendarai mobil secepat mungkin menuju ke rumah keluarga Hamra. Rasa bersalah diam-diam menyelubungi hatinya. Andai saja hari itu dia dapat mengontrol emosi. Andai saja hari itu ia bisa menghadapi dengan tenang. Bagaimanapun juga itu bukan kesalahan Alin.
Di depan rumah keluarga Hamra, Beryl memarkirkan mobil sembarangan. Setengah berlari dia memasuki halaman rumah calon istrinya. Beryl mengetok pintu terus-menerus tanpa jeda, seakan ingin mendobrak pintu kayu berwarna coklat itu.
Akhirnya pintu pun terbuka, sosok yang amat sangat dikenalinya berdiri di ambang pintu. Nyonya Naima menatapnya dengan mata nyalang. Terlihat jelas ketidaksukaannya.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanyanya sengit.
“Alin, dimana dia?” Beryl sudah melupakan sikap formalnya.
“Untuk apalagi mencarinya?!”
“Tolong, katakan di mana dia?” suara Beryl melemah bagaikan anak ayam yang putus asa.
“Nggak perlu mencarinya lagi.”
“Kenapa dia membatalkan pernikahan kami? Apa maksudnya?”
“Apa dia harus menunggu sampai kamu membatalkan pernikahan kalian?!”
Beryl tercekat. Pertanyaan Nyonya Naima membuatnya tertunduk. Ingin rasanya ia menghantamkan tinju ke pintu. Pertanyaan itu mengembalikannya ke kotak pandora yang telah membelenggu selama tiga minggu ini. Keraguan perasaannya, emosi, kekacauan yang telah dibuat sendiri.
“Untuk apa dia menunggu laki-laki yang bahkan nggak jelas dengan perasaannya sendiri? Laki-laki yang nggak bisa memberikan keputusan tegas? Laki-laki yang belum selesai dengan masa lalu dan menyalahkan atas takdir yang tak diketahuinya? Untuk apa?!”
“Aku nggak pernah menyalahkannya! Dan aku juga nggak pernah mengatakan akan membatalkan pernikahan kami!”
“Oh ya? Lalu?”
“Aku nggak mengatakan apapun padanya! Aku nggak pernah tega menghancurkan hatinya!”
“Lantas kenapa dia membatalkan rencana pernikahan ini?”
Nyonya Naima menghela napas beratnya. Kepergian Alin yang baru saja didengar cukup menyedihkan baginya. Dia tidak bisa membayangkan beban batin yang dirasakan Alin kali ini. Menyakitkan sudah pasti, mungkin rasa sesaknya melebihi derita yang dulu.
“Alin mendengar semuanya. Dia ada di sana saat kamu mempertanyakan tentang Zivaa. Dia sudah menunggu selama dua minggu, berharap kamu memberikan penjelasan. Tapi kenyataannya, kamu mengabaikannya, dan tidak peduli dengan perasaannya.”
“Oh, ****!” Beryl pun tidak kuasa meninjukan tangannya yang terkepal ke dinding. Dia ingin menendang benda-benda apa saja yang ada di sekitarnya. Sesal benar-benar datang terlambat.
“Seharusnya kamu nggak perlu marah. Semestinya kamu lebih bahagia karena kepergian Alin telah membebaskanmu dari pilihan yang sulit.”
“Tolong, katakan di mana Alin?”
“Sudah cukup!” tiba-tiba Tuan Vishaka muncul.
“Lupakan putriku! Jangan pernah mengganggunya lagi! Kalau kau tidak benar-benar mencintainya, sebaiknya biarkan dia pergi sejauh yang dia mau! Kau tidak berhak menghancurkan hidupnya!”
“Saya tidak bisa melupakannya. Tolong beritahu saya dimana dia!” Beryl memelas.
“Kau tidak bisa melupakannya? Karena dia mengingatkanmu pada Zivaa, iya kan?”
“Tidak! Bukan begitu!” Beryl sangat terdesak.
“Lalu apa?” teriakan Tuan Vishaka sangat mengerikan, dinding-dinding bergetar mendengar gaung suaranya.
“Saya mencintainya,” Beryl berlutut di depan Tuan Vishaka.
Selama tiga minggu menepikan dirinya di apartemen, Beryl mulai menyadari bahwa Zivaa adalah masa lalu yang harus dilupakan. Kehadiran Alin telah menghapus bayang-bayang Zivaa. Alin bukanlah Zivaa. Senyuman mereka saja yang hampir serupa. Namun, terlalu banyak perbedaan di antara mereka berdua.
Setiap malam Beryl selalu terbangun dari tidurnya dengan menyebutkan nama Alin. Gadis mungil itu memenuhi setiap ruang dalam mimpinya. Beryl sangat merindukan aroma lavender yang menguar dari tubuh Alin. Sebenarnya hati Beryl sudah menentukan pilihan, hanya saja dia masih bingung bagaimana mengatakan semua kepada Alin. Ketakutannya yang tidak menentu kala membayangkan respon Alin jika dia tahu hubungannya dengan Zivaa di masa lalu.
“Saya sangat mencintainya, sungguh-sungguh mencintainya. Saya tahu saya salah karena emosi sudah membutakan. Tapi saya sudah menyadari kalau hati saya telah memilih Alin, bukan karena dia mengingatkan saya pada Zivaa. Akan tetapi karena Alin adalah Alin bukan yang lainnya. Jadi tolong, katakan dimana dia berada. Saya akan menebus kesalahan saya. Saya tidak bisa kehilangan cintanya, saya tidak bisa hidup tanpanya.”
__ADS_1
“Apa kau pikir putriku adalah pelampiasan dari kegagalan cintamu di masa lalu?” ujar Tuan Vishaka geram.
“Dari pertama kali saya bertemu dengannya, tidak pernah sekalipun saya menganggapnya sebagai pelampiasan. Dia lebih berarti daripada itu.”
“Apa kau pikir aku percaya dengan kata-katamu? Aku sudah pernah mengatakan tentang riwayat depresinya, dan kau berjanji akan menjaga serta membahagiakannya. Tapi apa yang terjadi, hah? Dia pulang dengan wajah sembab, mengunci diri di kamar selama berhari-hari, kembali menelan obat anti depresan hanya untuk mempertahankan kewarasannya. Sekarang kau bilang dia berarti bagimu? Omong kosong!”
Beryl menundukkan kepalan semakin dalam, tangannya erat memegang kaki Tuan Vishaka. Kehilangan Alin sama saja dengan kehilangan separuh nyawanya untuk kesekian kali. Beryl sudah tidak sanggup menanggung derita hatinya.
“Saya tahu, saya tidak pantas mendapatkan kata maaf dari Anda. Kalaupun saya katakan kalau saya juga sama hancurnya ketika mengetahui kenyataan itu, Anda pasti juga tidak akan percaya. Tapi tolonglah, berikan saya satu kesempatan untuk membuktikan kesungguhan cinta saya pada putri Anda,” Beryl mengiba. Seorang Beryliano Monza yang selalu berdiri tegak, kuat bagaikan batu karang, sekarang tampak tidak berdaya seperti kerupuk melempem.
Tuan Vishaka mengamati Beryl lekat-lekat. Ada sedikit empati untuk lelaki yang usianya dua tahun lebih muda darinya itu. Namun, tidak bisa dipungkiri betapa kecewa dia, harapan terlalu besar pada sosok yang ada dihadapannya.
Melihat putrinya didera pilu untuk kedua kali sungguh menyiksa batin. Takut Alin kembali terjerumus dalam depresi berkepanjangan seperti empat tahun yang lalu. Ketakutan semakin bertambah karena kali ini tidak ada istrinya yang mendampingi.
“Tolong, berikan saya satu kesempatan lagi!” Beryl kembali memohon.
“Masuklah!” Tuan Vishaka memutar kursi roda, dan menggerakkannya masuk ke dalam rumah.
Beryl menengadahkan kepala, ucapan Tuan Vishaka yang baru saja didengarnya terasa bagai embusan angin sepoi-sepoi di padang pasir. Dia pun mencoba bangkit, berdiri, meskipun kakinya sedikit kesemutan akibat berlutut terlalu lama. Kemudian ia masuk ke dalam rumah mengikuti Tuan Vishaka.
“Duduklah!” Tuan Vishaka mempersilakan Beryl, nada suaranya mulai menurun.
“Aku akan memberikanmu kesempatan sekali lagi. Tapi, dengan satu syarat.”
“Saya akan menyetujui apapun syaratnya,” Beryl tidak peduli syarat apa yang hendak diajukan Tuan Vishaka, baginya kesempatan mendapatkan cinta Alin saja sudah cukup luar biasa.
“Kalau putriku tidak mau kembali padamu, maka jangan sekalipun memaksanya. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Apa kau mengerti?”
“Tentu, saya akan memberikan kebebasan padanya.”
Tuan Vishaka menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Alin ada di London. Jangan harap aku mengatakan di mana tepatnya dia berada. Jika kau ingin membuktikan kesungguhan cintamu, maka berjuanglah untuk menemukannya.”
Terbayang di benak Beryl, menyusuri seluruh penjuru London untuk menemukan Alin. Sesuatu yang kelihatannya sangat berat, tetapi Beryl akan melakukannya. Apapun risikonya.
“Saya pasti akan melakukannya.”
“Satu hal yang harus kamu tahu. Alin tidak tinggal sendirian di sana. Dia tinggal dengan orang tua kandungnya. Dan ayah kandungnya bukanlah orang yang mudah didekati. Ingatlah itu!”
“Orang tua kandungnya?” Beryl dan Nyonya Naima terperangah tidak percaya.
“Apa maksudmu, Vish? Alin, bukan …, dia …?” Nyonya Naima kebingungan.
“Alin adalah anak dari kakaknya Zivaa, yang kami besarkan.”
“Zivaa punya kakak?” kebingungan Nyonya Naima makin menjadi.
“Zivaa punya kakak, satu ayah beda ibu. Saat Zivaa mengalami keguguran, kakaknya datang mencari bersama istrinya yang sedang hamil tua. Beberapa hari mereka tinggal bersama kami, tiba-tiba ada berita tentang kecelakaan yang menimpa keluarga istrinya dan kedua putra mereka. Istrinya shock hingga harus melahirkan lebih awal,” Tuan Vishaka berhenti sesaat, menerawang jauh ke masa-masa dua puluh enam tahun yang lalu.
“Merekapun harus segera kembali ke London, tapi kondisi Alin tidak memungkinkan untuk dibawa. Akhirnya mereka mengijinkan kami untuk merawat Alin. Kami tidak pernah menutupi hal ini darinya sejak kecil. Alin pun lebih memilih untuk tinggal bersama Zivaa dan aku sampai saat ini.”
“Dimana mereka ketika Alin mengalami masa terberat dalam hidupnya? Apa mereka tahu semua yang terjadi pada Alin?”
Nyonya Naima masih belum mempercayai apa yang dituturkan Tuan Vishaka. Dia adalah sahabat terdekat Zivaa, mereka berdua bahkan tumbuh di panti asuhan yang sama. Namun Zivaa tidak pernah sedikitpun mengatakan tentang keberadaan kakaknya.
“Mereka tahu, kami tidak mungkin menyembunyikannya. Mereka bahkan hendak menjemput Alin, tapi Zivaa menolaknya. Dia ingin merawat Alin, dia tidak bisa melepaskan Alin dalam kondisi seperti itu.”
Mereka bertiga terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tuan Vishaka sibuk mengingat masa lalu, Nyonya Naima sibuk mempertanyakan rahasia yang disimpan rapat oleh sahabatnya, dan Beryl sibuk memikirkan segala macam rencana untuk menjelajah kota London untuk menemukan gadis yang dicintainya.
“Saya akan mencarinya, tidak peduli dimana pun dia berada. Saya pasti akan menemukannya,” Beryl begitu yakin dengan kata-katanya.
“Terima kasih karena Anda telah memberikan saya kesempatan sekali lagi. Saya janji, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya tidak akan mengecewakan Anda.”
“Aku harap kau benar-benar menepati janjimu!” Tuan Vishaka melihat kesungguhan di mata Beryl.
Beryl pun segera meninggalkan kediaman keluarga Hamra. Di tengah perjalanan kembali ke rumah, Beryl menghubungi asistennya.
“Halo Eijaz, saya ada tugas buat kamu!”
\~***\~
__ADS_1