Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 3 : Obsesi


__ADS_3

Mayfa Zora memagut diri di depan cermin, merapikan riasan wajahnya. Hatinya berbunga-bunga. Sebentar lagi, dalam hitungan jam, impiannya akan menjadi kenyataan. Menyandang status sebagai Nyonya Beryliano Monza adalah mimpinya yang tidak dapat ditawar. Malam ini, keluarganya mengundang keluarga Monza makan malam dan membahas perihal pertunangan dengan laki-laki yang sudah membuat hatinya kebat-kebit tidak karuan.


“Non Zora, tamunya sudah datang,”  Bi Mirah memberitahukan kedatangan keluarga Monza padanya.


“Iya Bi, terima kasih,” Zora tersenyum lebar, binar matanya memancar.


Zora melangkah keluar kamar diiringi Bi Mirah. Dari tangga dia bisa mendengar suara riuh anak-anak Monza.


“Ughh, kenapa anak-anak itu harus ikut sih?” gerutunya dalam hati.


Zora kurang menyukai ketiga anak Monza karena berkali-kali mereka menjahilinya dan itu sangat mengesalkan. Selain itu, Beryl akan melupakan siapapun yang sedang bersamanya jika menyangkut anak-anak. Beryl lebih mengutamakan mereka tidak peduli dalam masalah sepelik dan segawat apa pun. Zora benar-benar tidak mampu bersaing dengan ketiganya. Kalau nanti dia sudah bergelar Nyonya Beryliano Monza, dia tidak akan membiarkan ketiga monster itu menang. Tiba-tiba dia merasa mendung menyelimuti malam bahagianya.


“Malam Om, Tante, Beryl, Anak-anak!” sapanya berusaha selembut dan seanggun mungkin.


“Malam!” seru mereka bersamaan, kecuali Shaquille yang tetap memasang ekspresi dinginnya dan Mallory melengos membuang muka. Sikap seperti itu sudah tidak aneh lagi bagi Zora.


“Wah, sebaiknya kita langsung ke ruang makan saja sebelum semakin larut. Bagaimana?” tawar Tuan Wisesa, sang tuan rumah. Mereka semua pun menuju ke ruang makan, di mana sudah tersedia berbagai hidangan khas Indonesia.


Alangkah bahagianya Zora melihat Beryl bersedia datang ke acara makan malam hari ini. Setidaknya, rencana yang telah disusun dengan matang bisa berjalan sempurna. Zora melangkah mendekat dan kemudian tangannya bergelayut manja di lengan Beryl yang kokoh.


“Aku senang kamu mau datang,” aura ceria jelas terpancar dari raut wajahnya. Tanpa disadari, ada sepasang mata yang menatap tajam bak mata pisau siap menghunjam.


Beryl menahan garis senyum di bibir sambil berusaha melepaskan tangan Zora dari lengannya secara perlahan. Bagaimanapun juga keluarga mereka bersahabat baik, jadi Beryl tidak mau mempermalukan Zora di depan orang tua mereka.


Makan malam mereka pun berjalan dengan lancar, hanya saja polah Zora membuat Beryl jengah. Berkali-kali Zora memaksa menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa malu, seolah-olah mereka adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah.


“He-em, Daddy itu bukan bayi yang perlu disuapi. Mendingan Tante suapin aja Kika, yang jelas-jelas masih anak-anak!” sewot Mallory secara terang-terangan menunjukkan sikap antipati.


Zora mengepalkan kedua tangan, wajahnya memerah menahan malu dengan ucapan gadis belia berumur enam belas tahun itu. Kata-kata gadis itu cukup membuatnya nyaris tersedak.


“Tante kan bukan istri Daddy, ngapain sibuk nyuapin Daddy? Cih, malu-maluin aja!” Mallory berdecih, benar-benar muak dengan kelakuan Zora.


“Rory, jaga sikapmu!” Nyonya Aretha memperingatkan cucunya agar menjaga sopan santun.


“Ah sudahlah, namanya anak muda. Dia hanya menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Biarkan saja, tidak apa-apa!” lerai Tuan Wisesa, yang sebetulnya juga merasa sedikit malu dengan perilaku Zora, anak semata wayangnya.


“Bagaimana kalau kita lanjutkan di ruang tengah saja agar leluasa ngobrolnya,” ajak Tuan Wisesa ketika makan malam mereka usai.

__ADS_1


Berkali-kali Mallory melirik jam tangan, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Dia mulai bosan dengan pembicaraan orang dewasa yang ada di ruang tengah. Pembicaraan yang tidak penting menurut pandangan ala anak milenialnya. Apalagi dengan drama yang dimainkan sang nenek lampir, begitulah dia menjuluki Zora.


“Moazzam, keluarga kita sudah bersahabat sejak lama. Sejak Beryl dan Zora masih kecil, bahkan mereka juga sudah sangat dekat. Usia mereka sudah tidak muda lagi, bagaimana kalau kita menikahkan mereka saja?” Tuan Wisesa berbicara dengan nada hati-hati, agar tidak merusak hubungan baik di antara mereka.


Zora berbinar-binar, sedangkan Beryl terperangah tidak percaya dengan apa yang dikatakan sabahat papanya itu. Mallory? Jangan tanyakan lagi, dia sudah menduga hal ini akan terjadi, mengingat akting menjijikan yang dimainkan nenek lampir tadi di ruang makan.


“Oh, sebetulnya itu bukanlah ide buruk. Tapi biarkan mereka saja yang memutuskan, toh mereka sudah sama-sama dewasa,” meskipun ingin sekali melihat putranya itu menikah, tapi Tuan Moazzam lebih memilih bersikap bijak. Dia tak ingin memaksakan kehendaknya.


“Bagaimana Putraku? Apakah kamu bersedia menikah dengan Zora?” tanya Tuan Moazzam pada Beryl yang sedang duduk bersedekap di sofa.


“Maaf sebelumnya Om, aku pikir ini undangan makan malam biasa. Aku tidak tertarik membicarakan perihal pernikahan. Kalau acara makan malam ini sudah selesai, sebaiknya kita pulang saja,” Zora tersentak, tidak menyangka kalau Beryl berani menolak permintaan papanya.


“Anakku, coba kamu pikirkan lagi. Usia kamu sudah hampir setengah abad, apalagi yang kamu tunggu? Mama dan Papa tidak bisa terus mendampingimu. Lagipula, Zora sangat mencintaimu Nak,” Nyonya Aretha berusaha mengubah keputusan Beryl, tentu saja hal itu membuat harapan Zora kembali terbit.


“Menikah itu bukan hanya karena mengejar usia, Ma. Ini masalah hati. Keduanya harus saling mencintai bukan sekedar cinta satu pihak saja,” tegas Beryl.


“Tidak apa-apa Tante, aku akan menunggu sampai Beryl membuka hatinya dan mencintaiku seperti aku mencintainya,” sahut Zora dengan suara lemah lembut mendayu-dayu.


“Pfftt, tidak perlu repot-repot Tante. Tidak usah menunggu Daddy, karena Daddy akan menikah dengan orang lain. Ayo Dad, kita pulang saja!” Mallory menarik lengan Beryl yang duduk di sampingnya.


“Rory!” Nyonya Aretha kembali menegur cucu sulungnya. Akan tetapi, Beryl sudah menghentikan sang mama untuk tidak melanjutkan ucapannya.


“Wisesa, terima kasih untuk hidangannya yang lezat. Selamat malam!” Tuan Moazzam dan Nyonya Aretha pun mengikuti Beryl melangkah keluar rumah keluarga Wisesa dan memasuki mobil yang telah siap menunggu mereka.


^^o^^


Zora berjalan dengan langkah kaki yang penuh percaya diri. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Beratus kali Beryl menolak, tidak akan menggugurkan niatnya untuk mendapatkan cinta lelaki itu. Dia memasuki gedung Monzana Enterprise dengan menenteng sebuah paper bag berisi makan siang yang sudah disiapkannya sejak pagi.


“Selamat pagi! Maaf, Nona mau kemana?” cegah petugas resepsionis. Zora berhenti sesaat.


“Pagi! Saya mau bertemu dengan pemilik perusahaan ini,” Zora menyunggingkan bibirnya.


“Apakah Nona sudah ada janji sebelumnya?”


“Ehm, nama saya Mayfa Zora Wisesa. Saya adalah calon istri Tuan Beryl Monza. Jadi, saya tidak perlu buat janji apapun untuk bertemu dengannya,” Zora memberi penekanan pada setiap kalimatnya yang tentu saja membuat petugas resepsionis itu ketakutan.


Zora melanjutkan langkah setelah petugas resepsionis itu mempersilakannya. Wanita yang baru saja menginjak usia empat puluh tahun itu sudah hapal betul dimana letak kantor Beryl. Papanya adalah salah satu pemegang saham di Monzana Enterprise dan sejak kecil dia seringkali diajak ke gedung ini bila ada acara perayaan hari jadi perusahaan.

__ADS_1


“Siang Karen! Apa Beryl ada?” tanya Zora pada sekretaris Beryl yang meja kerjanya berada tepat di depan ruangan Beryl.


“Siang, Nona! Tuan Beryl ada, tapi…,”


“Okelah kalau begitu, aku masuk dulu ya!” potong Zora, dia tidak peduli dengan apa yang hendak disampaikan Karen.


Zora membuka pintu dan langsung masuk begitu saja. Beryl yang sedang berdiskusi dengan Eijaz terkejut melihat kedatangan Zora. Raut wajahnya berubah kesal, mood-nya berantakan.


“Hai, Beryl sayangku! Aku datang membawa makan siang untukmu. Kamu pasti belum makan kan?” Zora langsung menata bekal yang dibawanya di meja dekat pintu masuk.


Beryl memerintahkan Eijaz untuk keluar dari ruangan. Diletakkannya dokumen yang tadi sedang dibahas dengan Eijaz. Diraihnya gagang telepon yang ada di meja kerja, kemudian dia tekan beberapa tombol angka.


“Karen, lain kali jangan biarkan orang lain masuk sembarangan ke kantorku tanpa seijinku. Apa kau mengerti?” sungutnya di telepon.


“Maaf, Tuan! Menurut resepsionis, nona itu mengaku sebagai calon istri Tuan. Jadi tidak ada yang berani mencegahnya,” Karen membela diri dari amukan bos-nya.


“Calon istri?” Beryl berdecak, Zora membuatnya naik pitam.


“Dia bukan calon istriku! Jangan percaya siapa pun kecuali aku sendiri yang mengatakannya. Kau mengerti?” Beryl menutup kasar teleponnya.


Zora pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Beryl, meskipun sejujurnya itu sangat menyakitkan. Dia terus saja menyiapkan makanan, mengambilkan nasi, lauk dan sayur kemudian menyusunnya di piring. Setelah itu dibawanya ke meja kerja Beryl, sementara si empunya ruangan terus memperhatikan layar laptop.


“Sayang, ini makanannya. Ayo makan dulu, jangan sampai sakit karena telat makan ya,” Zora berdiri di samping Beryl, dengan cueknya menggeser laptop dan mengganti dengan piring makanan yang dibawanya.


“Cukup Zora! Hentikan!” emosi Beryl berada di puncak kepala.


“Tolong hentikan semua ini! Aku tidak akan berubah pikiran!  Sebaiknya kamu pulang dan bawa kembali makanan itu,” Beryl setengah meredam amarahnya.


“Ta-tapi,” Zora tergagap.


“Tolong keluar! Tinggalkan aku sendiri!”


“Beryl sayang,” Zora setengah meratap.


“Keluar!” Beryl menggebrak mejanya, membuat Zora meringis. Apalagi melihat mata Beryl yang berkilat. Zora meraih tas yang tergeletak di sofa lantas berlari keluar kantor tanpa memedulikan makanan yang berjejer di meja. Hatinya begitu sesak, napas memburu, air mata mulai berhamburan. Baru pertama kali dia melihat Beryl semarah itu.


Di dalam mobil, Zora menangis meluapkan semua kepedihannya. Dia menangis karena terkejut dengan amarah Beryl, tetapi bukan berarti dia akan menyerah dengan cintanya. Tidak, tentu saja tidak akan pernah. Perjuangannya belum berakhir. Dia percaya bahwa batu yang terus ditetesi air semakin lama semakin terkikis, begitu pula halnya dengan hati Beryl yang keras.

__ADS_1


~***~


__ADS_2