Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 12 : Kepo


__ADS_3

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, dokter akhirnya memutuskan agar Beryl menjalani rawat jalan karena hasil pemeriksaan lab dan foto rontgen menunjukkan hasil yang baik.


“Besok pagi Anda sudah boleh pulang. Saya mohon agar Anda benar-benar menjaga makanan dan pola makan. Untuk sementara ini jauhi makanan pedas, minuman berkafein, minuman beralkohol ataupun yang berkarbonasi.”


“Alin, tolong pastikan agar Tuan Beryl meminum obat secara teratur dan tepat waktu, setidaknya untuk satu minggu ke depan. Selanjutnya, jika masih ada keluhan akan kita evaluasi kembali.”


“Tentu saja Dokter Benny,” sahut Alin.


Beryl yang tadi bersikap tenang, mendadak heran melihat kedekatan Alin dengan dokter yang merawatnya. Sepertinya mereka berdua saling mengenal satu sama lain. Dia mengerutkan kening, bola matanya larak-lirik bergantian memandangi Alin dan Dokter Benny.


“Oh ya Lin, jangan biarkan Tuan Beryl terlalu stres. Sebaiknya harus istirahat yang cukup,” lanjut Dokter Benny.


“Siap Dok! Tapi jika ada keluhan, bisakah dirujuk ke rumah sakit di Surabaya saja Dok? Karena kan Tuan Beryl ini tidak tinggal di Bali, kebetulan karena ada keperluan saja dia ada di sini.”


“Bisa saja, saya akan merujuknya ke salah satu rekan saya yang ada di Surabaya. Nanti akan saya  buatkan surat pengantar.”


“Terima kasih, Dok!” Alin tersenyum lebar tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatapnya nyalang.


“Baiklah, Tuan Beryl saya permisi dulu!” Dokter Benny pun berlalu diiringi seorang perawat yang sedari tadi mendampingi dan mencatat semua instruksinya.


Alin melepas Dokter Benny dengan senyuman yang masih mengembang menghiasi wajahnya yang membuat Beryl makin curiga. Alin mengalihkan perhatiannya ke Beryl yang tengah memasang muka masam.


“Kamu kenal dengan Dokter Benny?” Beryl tidak mampu menahan rasa penasarannya.


“Ya kenal, kenapa memangnya?”


Beryl menggelengkan kepala tanpa sekalipun mengubah ekspresi wajah yang menggambarkan ketidaksukaan. Sementara Alin masih dibuat bingung dengan raut Beryl.


“Apa kamu dekat dengannya?” tanya Beryl sekali lagi.


“Yah, bisa dibilang begitu. Dia itu senior yang sangat baik, penuh perhatian dengan adik kelasnya.”


“Termasuk kamu?”


“Ya begitulah,” ujar Alin cuek.


Alin mencomot biskuit favoritnya yang ada di nakas samping tempat tidur Beryl. Gadis itu terus-terusan mengunyah biskuit untuk mengganjal perutnya yang mulai merengek.


“Apa kamu menyukainya?” Beryl masih menginterogasinya.


“Nggak ada satupun adik kelas yang nggak menyukainya. Sudah ganteng, pinter, perhatian, penuh kasih sayang. Mudah buat siapa saja untuk menyukainya, apalagi jatuh cinta padanya.”


Mendengar kalimat jatuh cinta meluncur bebas dari mulut Alin yang dipenuhi remahan biskuit, membuat Beryl terkesiap. Dia pun menaikkan sebelah alisnya.


“Jatuh cinta?”


“Iya,” Alin masih dengan sikap tidak acuhnya.


“Apa kamu juga jatuh cinta sama dia?” selidik Beryl.


Alin menghentikan kunyahannya sejenak. Dia pun duduk di sebelah Beryl dan menajamkan tatapan mata. Ditautkan kedua alisnya. Beryl terkesiap dan seperti terhipnotis, tanpa disadarinya Alin sudah meloloskan sepotong biskuit ke dalam mulut yang dari tadi tidak berhenti bertanya tentang kedekatan Alin dan Dokter Benny.


“Ngapain sih nanyain Dokter Benny melulu? Naksir ya? Enak juga ngemilkan, daripada kepo!” Alin mengerlingkan mata.


Beryl menggerutu dalam batinnya. Dengan amat sangat terpaksa dia pun mengunyah biskuit itu. Biskuit gandum kesenangan Alin yang sekarang terus saja disuapkan ke mulut Beryl.


“Besok pagi kamu udah boleh pulang. Kita langsung pulang ke Surabaya kan?” pertanyaan Alin membuat Beryl teringat tujuannya pergi ke Bali.


“Ehm, rasanya aku perlu sedikit berlibur. Dokter tadi bilang kalau aku perlu banyak istirahat kan, gimana menurutmu?”


“Ya terserah kamu. Tapi keluargamu pasti kecewa kalau aku pulang sendiri, apalagi Kika. Kamu tahu kalau dia sakit juga kan?”

__ADS_1


“Please, stay here with me!” Beryl menggenggam tangan Alin.


“Why?”


“Apa kamu nggak mau menemani calon suamimu berlibur?”


“Hah, calon suami?” Alin tergelak, sedikit geli mendengar kata-kata itu meluncur dari Beryl.


“Bukannya kamu sudah memakai cincin itu? Itu artinya kamu menerimaku kan? Atau kamu berubah pikiran? Sebaiknya katakan saja sekarang kalau memang berubah pikiran,” Beryl mendengus sebal.


Tawa Alin nyaris meledak melihat Beryl yang mulai merajuk. Entah kenapa dia senang sekali menggoda Beryl dan membuat pria di depannya itu merasa kesal. Laki-laki yang usianya hampir setengah abad itu persis anak-anak kalau sedang ngambek, tidak ubahnya dengan Kishika, putri bungsunya.


“Kalau aku berubah pikiran, udah dari kemarin aku pulang ke Surabaya setelah ngembaliin kotak itu,” ujar Alin.


Beryl masih tidak bergeming, pandangannya menatap ke sembarang arah. Ada keraguan yang membayang. Takut untuk berharap banyak, karena dia sendiri belum tahu isi hati Alin yang sesungguhnya.


“Udah ah, gitu aja ngambek! Udah tua ini, entar makin tua loh!” sungut Alin.


“Udah tahu aku tua, terus kenapa kamu mau sama orang renta ini?” Beryl kembali menatap Alin sembari melipat tangannya yang sudah tidak terpasang infus.


Gadis dihadapannya itu memutar-mutar bola mata, mencoba mencari jawaban yang tepat.


“Jangan bilang karena kasihan!” Beryl mendekatkan wajahnya ke Alin hingga membuat gadis itu berjingkat kaget.


“Ya emang karena kasihan! Umur udah tua, diburu-buru nikah sama orang tua, terus entar dimusuhi anak-anak kalau in the end  nikahnya sama Nenek Lampir! Wuek …,” Alin menjulurkan lidah mengejek Beryl, otak usilnya menari-nari.


Bukannya marah dengan kata-kata yang diucapkan Alin, tetapi Beryl justru semakin gemas. Secara spontan Beryl mendaratkan bibirnya ke bibir Alin yang terlihat merah merekah. Alin terdiam terpaku, matanya bersitatap dengan Beryl. Ciuman Beryl lembut dan hangat. Ada aliran gelombang merasuki kalbunya. Pikiran terkutuk mulai merayap menguasai ego. Perlahan matanya terpejam dan bibir spontan terbuka, membiarkan Beryl semakin menguasai. Alin dengan serakah menikmati setiap sentuhan laki-laki yang dikatakannya tua itu. Sesuatu yang aneh menggelenyar di seluruh tubuhnya, dan dengan lancang ia merapatkan diri ke tubuh Beryl.


“Ehem-ehem, permisi Tuan!” sebuah suara mendadak menyeruak membuyarkan keseruan sesaat yang membuai.


Beryl menghentikan ciumannya, sedangkan Alin duduk kaku tidak bergerak. Mereka berdua bagaikan maling yang tertangkap basah. Alin menunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada Beryl, tidak berani mendongak sedikitpun.


“Kamu sudah berapa lama berdiri di situ?” tanya Beryl dengan memasang tampang serius siap menerkam.


“Sa-saya baru saja masuk. Maafkan saya, Tuan!” Bli Arik masih tidak berani mengangkat mukanya.


“Ada apa?” gertak Beryl.


“I-ini saya bawakan makan malam untuk Nona Alin,” Bli Arik menunjukkan bungkusan yang ditentengnya.


“Taruh saja di kursi dekat pintu itu.”


“Baik Tuan!” Bli Arik pun meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya di kursi yang ada di dekat pintu ruangan sesuai perintah majikan.


“Oh ya, tolong kamu hubungi penjaga villa di Ubud. Besok pagi setelah keluar dari rumah sakit, kamu antarkan kami ke sana.”


“Siap Tuan! Apa ada lagi yang harus saya lakukan, Tuan?”


“Sementara itu saja. Kamu tunggu saja di luar,” Beryl mengibaskan tangan pertanda menyuruh anak buahnya keluar dari ruangan.


Terdengar suara perut tersiksa menahan lapar. Alin yang sebelumnya sempat menghela napas lega setelah Bli Arik pergi meninggalkan mereka berdua, kini semakin menundukkan kepalanya. Suara jerit perutnya benar-benar tidak tahu malu. Beryl memicingkan mata dan menajamkan pendengaran untuk memastikan suara apa yang baru saja lewat itu, tidak kuasa menahan senyumnya.


“Sepertinya ada yang kelaparan, suara tangisan cacingnya kencang banget!” sindir Beryl.


Alin langsung mendongak, memelototkan kedua bola matanya. Dia pun mendorong pelan bahu Beryl seraya bergerak menjauh. Namun, Beryl tidak melepas genggaman tangannya.


“Tentu aja lapar, karena energi cacingnya udah terkuras!” sungut Alin dengan muka masam. Alin mengibaskan tangan Beryl dengan paksa. Dia pun melangkah mendekati kursi dimana bungkusan makanan yang dikirimkan Bli Arik diletakkan. Disambarnya bungkusan itu dan Alin pun keluar kamar.


“Hei, kamu mau kemana?” panggil Beryl dari atas tempat tidurnya.


“Nggak usah kepo!” Alin tersenyum culas dan beranjak pergi tanpa peduli dengan laki-laki yang membuat napasnya naik turun itu.

__ADS_1


^^o^^


Alin sedang menikmati keindahan kolam teratai di Pura Taman Saraswati, asyik mengarahkan kamera ponsel ke obyek bunga teratai memenuhi kolam yang terletak tepat di depan pura.


Seharian ini Beryl memanjakannya dengan berwisata keliling Ubud sesuai dengan janji. Dari mengunjungi desa adat Nyuh Kuning yang suasananya sejuk, hawa alam pedesaan yang menyegarkan, rumah-rumah penduduk yang unik sesuai dengan rumah adat asli Bali dengan semua ornamen-ornamennya.


Mata Alin semakin terang benderang saat melewati Teras Sawah Tegallalang yang hijau terhampar, pemandangan yang tidak ditemui di kota tempat tinggalnya. Setelahnya, Beryl mengajaknya ke Pura Tirta Empul dimana terdapat pemandian air suci untuk umat Hindu Bali. Selain pemandian air suci, di sana juga terdapat kolam ikan koi. Sekitar tiga ribu ekor ikan koi yang ditebar, ukurannya pun cukup besar-besar dan sangat menyenangkan melihat ikan-ikan itu berenang ke sana-kemari secara bergerombol.


Alin benar-benar merasakan otaknya fresh, beban pikiran terasa ringan. Udara bersih, sejuk dan segar yang dihirup sukses menghambat tingkat stresnya karena rutinitas yang sempat merangkak naik.


Perjalanannya hari ini pun berakhir di Pura Taman Saraswati karena Beryl ada janji meeting dengan salah satu rekan bisnis di sebuah kafe yang terletak di samping Pura Taman Saraswati. Daripada menjadi obat nyamuk dan mendengarkan masalah bisnis yang dia tidak mengerti, Alin lebih memilih menghabiskan waktu duduk di tepi kolam.


Tanpa sengaja seseorang menabraknya ketika ia sedang semangat-semangatnya mencari spot foto selfie yang bagus.


“Sorry!” ujar sebuah suara laki-laki yang cukup berat.


Alin nyaris terhuyung, tetapi tangan laki-laki itu menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Alangkah memalukannya kalau dia sampai jatuh tersungkur di depan khalayak ramai yang bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga wisatawan mancanegara. Jadi bahan tontonan publik yang viral tidak pernah terlintas di impiannya.


“Sorry, I don’t mean…,”


“No-no, it’s okay!” Alin berusaha berdiri tegak dengan bantuan laki-laki dihadapannya.


Setelah berhasil menegakkan diri, Alin memperhatikan wajah laki-laki itu. Parasnya seperti orang Indonesia dan dia tidak asing dengan wajahnya. Alin mengernyitkan dahi mencoba mengorek ingatannya. Dia tidak yakin pernah melihat di suatu tempat, tetapi sayang memorinya menolak mengingat.


“Maaf tadi aku buru-buru, jadi tidak melihatmu! Kamu baik-baik saja kan?” laki-laki itu masih merasa tidak enak hati.


“Iya, aku baik-baik saja,” jawab Alin lugas.


“Syukurlah,” laki-laki itu mendesah lega.


“Alin!” panggil Beryl dari arah belakang. Pandangan matanya menelisik pada sosok yang ada di depan Alin.


Alin menolehkan kepala ke belakang, tampak Beryl berdiri dengan kedua tangan terselip di saku celana. Ekspresi mukanya tidak bisa ditebak. Curiga, penuh tanya, tidak suka, amarah, semuanya bercampur jadi satu seperti es campur.


“Eh\, sudah selesai *meeting-*nya?” tanya Alin.


“Hmm …,” Beryl menjawab hanya dengan deheman saja, bola mata tidak lepas dari laki-laki muda itu.


“Oke, sekali lagi aku minta maaf ya! I have to go now, bye!” laki-laki itupun cukup tahu diri, daripada berlama-lama terjebak dalam situasi yang kian memanas, dia memilih untuk segera hengkang. Alin melambaikan tangannya, sekedar bersikap santun.


“Siapa dia?” tiba-tiba Alin bergidik ngeri, tatapan Beryl bagaikan sengatan listrik yang siap menghunjam.


“Bukan siapa-siapa.”


“Benarkah?” ekspresi Beryl masih sama, dingin penuh selidik.


“Iya,” ujar Alin tegas. Beryl hanya manggut-manggut tanpa sedikitpun mengubah ekspresi wajahnya.


“Astaga, calon suamiku yang kepo, bisa nggak sih ekspresinya diubah senyum dikit? Jangan pasang muka galak gini dong, bikin takut aja!” sembur Alin sembari mencubit kedua pipi Beryl.


“Apaan sih?” sungut Beryl.


“Tadi dia itu nabrak aku, terus dia minta maaf. Udah gitu aja. Aku juga nggak tahu siapa dia. Nggak usah insecure gitu dong!”


“What? Insecure? Me?” Beryl mendelik kaget.


“Terus apa? Cemburu ya?” Alin mengedipkan matanya.


“Udah ah, balik ke villa yuk! Capek, gerah!” Alin langsung menggamit lengan Beryl tanpa babibu dan menariknya menjauh dari kolam teratai.


\~***\~

__ADS_1


__ADS_2