
Alin duduk memagut diri di depan cermin, dia sedang bersiap pergi ke acara ulang tahun Kishika Monza. Dipulas wajahnya dengan blush on warna natural dan lipstick yang senada dengan warna bibir. Dia masih terpekur di depan cermin, meskipun riasannya sudah selesai. Alin memainkan kotak beludru kecil warna biru di tangannya, sembari mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kata demi kata yang diucapkan Beryl pada malam itu masih begitu jelas terekam di memorinya. Ada kesungguhan yang dia lihat di mata laki-laki itu, tetapi entah kenapa keraguan di hatinya masih begitu besar.
FLASH BACK ON
Beryl menghentikan mobil tepat di depan pagar rumah Alin. Sebetulnya, dia tidak ingin malam ini cepat berlalu. Hatinya kebat-kebit bahagia. Sudah begitu lama hatinya tertutup kehampaan, tidak merasakan letupan-letupan yang membuat lebih hidup.
“Terima kasih buat makan malamnya,” ujar Alin sembari melepas sabuk pengaman.
Beryl menahan tangan Alin ketika dia hendak membuka pintu mobil. Pria berjambang tipis itu belum rela melepaskan Alin. Dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Alin keheranan memandang Beryl, berbagai pertanyaan melayang-layang.
Alin terperangah saat Beryl membuka kotak beludru itu. Sebuah cincin emas putih bermata satu butir berlian kecil yang di kanan dan kirinya ada ukiran berbentuk sayap. Bagaikan seekor kupu-kupu yang bertengger di atas lingkaran cincin.
“Menikahlah denganku,” ucap Beryl.
Alin terkejut dan spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia tidak pernah menyangka Beryl akan melamarnya seperti ini.
“I-ni a-pa maksudnya?” tanya Alin terbata-bata.
“Menikahlah denganku, jadilah pasangan hidupku. Aku nggak menginginkan yang lain, hanya dirimu.”
Alin terhenyak di tempat duduknya. Satu sisi batin bertepuk-tangan kegirangan sedangkan sisi lainnya masih terbalut mendung. Apa alasan pria itu meminta menikah dengannya? Bukankah masalah diantara mereka sudah usai? Zora sudah pergi jauh, tidak ada lagi yang akan mengganggu anak-anak Monza.
“Ta-tapi ke-napa?” Alin kembali bertanya.
“Apa karena anak-anak?” Alin menatap kedua mata Beryl, seolah mencari jawaban atas pertanyaannya.
“No! it’s not about them. It’s only about me,” tegas Beryl yang membuat Alin semakin bingung.
“The truth is,” Beryl menjeda kalimatnya.
“Sejak pertama kali melihatmu di klinik waktu itu, mata dan hatiku seperti terkunci dan nggak bisa berpaling lagi. Pertemuan kedua di toko buku itu, membuatku semakin jatuh hati. Dan tentang anak-anak, mereka semakin meyakinkanku, that you are the one.”
Beryl menyatakan perasaannya tanpa sekalipun melepaskan pandangan dari Alin. Dia nyaris tercekat saat mengungkapkannya. Beryliano Monza bukanlah seorang laki-laki yang gampang mengumbar kata mutiara, bukanlah tipe perayu ulung, apalagi seorang pujangga. Namun, tidak tahu kekuatan darimana yang merasuki, sampai ia berani membongkar rahasia hatinya.
“Percaya atau nggak, tanpa keinginan anak-anak sekalipun aku akan tetap melakukan ini. Huppff, aku tahu kamu perlu waktu untuk menjawabnya. Ini nggak mudah, apalagi menikah dengan pria tua seperti aku yang nggak tahu malu ini, iya kan?” Beryl menyunggingkan senyum tipisnya.
“Aku akan menunggu,” Beryl menggenggamkan kotak cincin yang telah ditutup itu ke tangan Alin.
“Minggu depan ulang tahun Kika. Aku sangat berharap saat itu kamu sudah punya jawabannya,” Beryl mengusap pelan genggaman tangan Alin.
“Bagaimana kalau minggu depan aku nggak memakainya?” pertanyaan Alin yang seperti itu yang sebenarnya tidak ingin di dengar oleh Beryl.
Beryl mengalihkan pandangannya ke jalanan. Dia sadar kalau harapannya terlalu tinggi. Perkenalan mereka yang singkat, rentang usia terlalu jauh di antara mereka dan tiga orang anak yang cukup ajaib. Gadis muda, cerdas dan enerjik seperti Alin pasti akan berpikir jutaan kali untuk menerima lamarannya. Alin bukanlah tipe gadis yang mengedepankan harta, karena dia cukup mampu menghidupi dirinya sendiri. Akan tetapi, Alin lebih mengutamakan perasaan. Beryl sangat menghargai itu.
“Pada hari itu, jika kamu nggak memakainya maka aku akan melupakannya. Yah, walaupun sedikit menyakitkan. Tapi aku janji akan menerima apapun keputusanmu.”
FLASH BACK OFF
__ADS_1
“Aaaallliiiiiinnnnn!” teriakan Ragnala mengagetkan Alin, nyaris saja kotak cincin itu menggelinding lepas dari tangannya.
“Ya ampun, bisa nggak sih teriaknya biasa aja? Nggak menggelegar kayak geledek?” protes Alin.
“Heloooo, nyadar diri dong! Dari tadi aku panggil-panggil secara halus, sibuk ngelamun aja. Intonasi naik delapan oktaf baru deh menjejak bumi!” Ragnala mendengus kesal.
“Ngelamunin apaan sih?” Ragnala menengok ke tangan Alin yang menggengam kotak cincin beludru berwarna biru.
“Udah siap sama jawabannya?” selidik Ragnala penasaran.
“Berangkat aja yuk! Keburu telat!” ajak Alin yang langsung beranjak dari duduknya.
Ragnala mencebik, di otaknya sudah terangkai banyak kata tanya yang siap diurai. Namun, Alin menarik tangannya menghentikan aksi Ragnala yang bahkan belum dimulai.
^^o^^
Kediaman keluarga Monza.
Ruang tamu berhiaskan balon dan pita berwarna-warni. Kishika Monza tampak ceria dengan baju ala putri berwarna pink muda serta kepala yang berhiaskan mahkota kecil mungil. Ulang tahun yang ketujuh tahun dirayakan dengan mengundang teman-teman sekolahnya dan anak-anak Panti Asuhan Cinta Kasih, panti asuhan yang sering dikunjungi Alin.
Mereka mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun secara bersama-sama. Kemudian dilanjutkan dengan Kishika yang memotong kue ulang tahunnya. Kue tart dua tingkat berbentuk istana lengkap dengan aksesoris karakter tokoh-tokoh film Frozen yang digemari Kishika.
Alin tertawa lepas menyaksikan tingkah lucu anak-anak. Akan tetapi di balik tawa, hatinya terasa ditabuh bertalu-talu. Detak jantungnya bagaikan genderang perang setiap kali bersitatap dengan Beryl. Sedangkan lelaki itu sesekali memamerkan senyum manisnya, kemudian mulai sibuk dengan telepon genggam dan berjalan mondar-mandir. Alin hanya bisa memperhatikan dari jauh, tidak tahu apa yang sedang dilakukan Beryl.
“Mommy Alin!” panggil Kishika. Gadis kecil itu sudah berdiri dihadapannya dengan sepotong kue tart yang diletakkan di piring kertas kecil.
“Hello Birthday Girl! Selamat ulang tahun, ya! Semoga panjang umur, makin pinter, tambah cantik,” ujar Alin seraya mencium pipi kanan dan pipi kiri Kishika.
“Makasih, ini buat Mommy!” Kishika menyerahkan piring kue yang dibawanya.
“Terima kasih, sayang!”
“Yang ini buat Dokter Nala,” Kishika memberikan satu piring lagi pada Ragnala yang berdiri tepat disamping Alin.
“Waah, terima kasih anak cantik,” Ragnala menerimanya.
“Kadonya banyak banget ya?” goda Ragnala.
“Ya iyalah Dokter Nala, namanya juga ulang tahun. Tapi tahu nggak kado apa yang paling aku suka?” celoteh Kishika.
“Hmmm, pasti kado yang paling besar, iya kan?”
“Yee, bukan dong! Kado yang paling aku suka adalah Mommy Alin!” Kishika memeluk Alin erat.
“Mommy Alin?”
“Iya, tiap malam aku berdoa sama Allah supaya aku diberikan Mommy yang baik kayak Mommy Alin. Ternyata Allah udah kabulin doa aku loh, iya kan Mommy?” lidah Alin tercekat, dia terpaksa memasang senyum dan mengangguk pelan. Betapa ia tidak tega menghancurkan impian gadis cilik yang menempel terus di sampingnya.
__ADS_1
“Kika sayang banget sama Mommy Alin,” lanjutnya.
Kepolosan Kishika memporak-porandakan perasaan Alin. Keraguan merayap kembali dan membuatnya makin gamang. Keputusan yang sebelumnya sudah diambil tiba-tiba bubrah. Alin jadi tidak yakin dengan dirinya sendiri.
Alin mengalihkan pandangan jauh ke halaman belakang, Beryl berdiri di dekat gazebo sedang berbincang dengan asistennya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Dari tadi Alin berusaha mendekati Beryl, dia ingin segera menyampaikan keputusannya agar masalah ini tidak bertambah rumit. Namun, sepertinya Beryl berusaha menghindar. Beryl seakan sedang menyibukkan diri.
“Kemarin dia minta jawaban, sekarang kok nggak acuh sih?” gumam Alin.
“Kamu baik-baik aja kan, Lin?” tegur Ragnala yang setengah khawatir melihat ekspresi Alin.
“Entahlah La, aku sendiri nggak ngerti.”
“Ya ampun Lin, jangan bilang kalo kamu mendadak galau!”
Alin termenung, indera penglihatan masih lurus menatap Beryl yang belum bergerak dari tempatnya berdiri. Ciuman itu terngiang lagi, makan malam di taman itu teringat kembali, setangkai bunga mawar pemberian Beryl bahkan belum dibuang, masih terpajang di meja kamar walupun sudah hampir layu. Entah kenapa logika menahannya sedangkan jiwa terasa ingin berlari ke arah Beryl.
Alin merasa belum siap untuk mencinta, tetapi hati kecilnya berkata kalau dia sedang jatuh cinta. Alin sudah setengah gila. Di sudut hati tergelapnya, Alin menolak untuk percaya dengan cinta. Trauma masa lalu masih membayangi. Bagaimana kalau cinta itu akan menyakiti lagi? Bagaimana kalau cinta itu akan menghancurkannya sekali lagi?
Alin sedang berperang dengan batinnya sendiri. Logika dan perasaan saling berdebat, berargumen, bersahut-sahutan tidak karuan. Tanpa sadar, kakinya melangkah pelan tetapi pasti. Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba. Beryl bergegas pergi, tampak dari arah lain seseorang membawakan sebuah koper. Beryl memasukkan koper itu ke bagasi mobil. Sekejap kemudian, mobil itu pun sudah melaju keluar dari kediaman keluarga Monza tanpa menunggu pesta usai.
“Alin!” panggil Ragnala.
“La, dia pergi kemana?”
“Hmm, aku juga nggak tahu. Kayaknya dia buru-buru pergi, mungkin ada masalah yang urgent.”
“Masalah apa? Kenapa bawa koper segala?”
“Haish, mana aku tahu, Lin! Aku kan bukan asistennya!” sungut Ragnala kesal.
“Udah ah, yuk balik lagi ke dalam!”
Beribu pertanyaan menyerang pikiran Alin. Kenapa Beryl tidak mencarinya? Kenapa Beryl tidak mengacuhkannya? Kenapa Beryl menghindarinya? Kenapa Beryl pergi sebelum mendengar jawabannya? Masih banyak lagi pertanyaan lainnya.
^^o^^
Beryl duduk di kursi tunggu bandara, menanti jadwal boarding. Masalah proyek pembangunan resor di Jepang lumayan meresahkannya. Tadi pagi salah satu staf yang ada di sana melaporkan perkembangan proyek itu, ada kendala dengan bahan-bahan material yang digunakan. Dia bisa saja berangkat besok pagi, tetapi ketika melihat jemari Alin yang kosong tanpa mengenakan cincin pemberiannya, membuat pikiran berubah secara otomatis. Tidak ada lagi alasan untuk menunda keberangkatannya.
Kecewa, tentu saja. Sedih, sudah pasti. Setelah sekian lama menutup pintu hati untuk cinta, Beryl akhirnya merasakan detak cinta itu hadir memacu. Harapannya sedikit membuncah. Namun, dia sadar tidak mungkin memaksakan perasaan yang hanya sepihak. Memang belum saatnya dia merasakan cinta itu bertumbuh lagi.
Melihat kedatangan Alin, hatinya senang bukan kepalang. Layaknya anak muda sedang jatuh cinta, dia senyum-senyum sendiri, begitu percaya diri kalau Alin akan menerima cintanya. Setelah menerima telepon dari staf-nya di Jepang, dia ingin bicara dengan Alin karena tidak sabar mendengar jawaban gadis itu. Akan tetapi, saat melihat Alin memeluk Mamanya, tidak terlihat cincin menghiasi jemari gadis itu. Dia berdiri tegak mematung di tempatnya, langkah kaki yang semula cepat mendadak melambat. Aura wajahnya yang ceria berubah mendung.
Meski sudah siap dengan apapun jawaban Alin, walau itu yang terburuk, entah kenapa rasanya tetaplah menyakitkan. Hatinya tergores. Ternyata dia belum siap dengan penolakan. Tidak ada gunanya bicara dengan Alin. Itulah sebabnya dia sengaja menjauh dan memutuskan berangkat ke Jepang hari ini juga. Tenggelam dalam urusan pekerjaan, akan membantu melupakan rasa sakit yang dideranya.
Beryl bangkit dari duduknya ketika suara panggilan boarding terdengar. Mungkin ini yang terbaik bagi mereka. Mungkin Alin butuh waktu untuk percaya pada cintanya, dan dia pun perlu waktu untuk membuktikan rasa cintanya. Bisa saja dengan terpisah jarak seperti ini akan membuat pikiran kembali jernih.
\~***\~
__ADS_1