Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 20 : Pingsan


__ADS_3

Alin termenung menatap sekumpulan ikan koi yang berenang ke sana-kemari di kolam halaman belakang rumahnya. Perlahan dia sudah mulai bisa menenangkan gejolak ketakutan yang terkadang muncul ketika mendengar nama Beryl disebut. Satu hal yang Alin sadari, pertemuannya dengan Beryl tidak akan pernah terelakkan. Seperti pertemuannya dengan Alaric. Meski ribuan doa dipanjatkan sekalipun, Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik melebihi harapan hamba-Nya. Alin meyakini kalau Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah. Mungkin juga pertemuan dengan kedua laki-laki itu adalah jawaban Tuhan atas doanya. Menjadikannya lebih kuat, lagipula dia berdarah Yosrey, dia bukanlah wanita yang lemah.


Tatkala Alin sedang sibuk menyebarkan butiran makanan ikan, mommy-nya datang menghampiri. Yola senang dengan kondisi putrinya yang sudah lebih tenang, meskipun dia masih bungkam jika topik pembicaraan mengarah pada Beryl.


“Sampai kapan kamu akan membiarkan Beryl terjaga setiap hari di depan gerbang rumah kita, Sayang?” Yola duduk di sebelah Alin seraya membelai rambut putrinya yang tergerai.


Alin mengalihkan pandangan ke pintu gerbang depan rumahnya. Mobil Beryl masih setia terparkir di sana. Sudah hampir seminggu, laki-laki itu datang dan berdiam diri di sana. Dari jendela kamar, Alin melihat setiap jam dua belas malam mobil Beryl bergerak pergi. Persis cinderella yang berlari pulang ketika jam dinding berdentang dua belas kali. Setelah itu, mobil Beryl sudah terparkir manis kembali sebelum matahari terbit.


“Aku nggak menyuruhnya, Mom!” elak Alin.


Yola menghela napas panjang. Dia tahu putrinya itu sedang menata batin. Sikap Beryl telah menghancurkan hatinya. Perlu proses cukup lama untuk mengembalikan rasa percaya di kalbu Alin. Rasa percaya terhadap cinta Beryl.


“Dia sama sekali nggak menyentuh makanan yang diberikan Bi Sofie. Hanya kopi saja yang diminumnya setiap malam,” Alin tetap bergeming.


“Daddy-mu pernah bilang kalau Beryl punya masalah dengan lambungnya. Mommy khawatir penyakitnya kambuh.”


Alin menerawang jauh, ia teringat kenangan di Bali. Beryl terbaring di rumah sakit dengan kasus yang sama. Bahkan, dia masih ingat pesan Dokter Benny kala itu. Alin segera beranjak dari tempat duduknya.


“Kamu mau ke mana?” tanya mommy-nya curiga.


“Ah a-aku …, aku mau ke kamar!” Alin gelagapan.


Awalnya, Alin hendak berlari ke luar memaksa Beryl menghentikan aksinya. Namun, pertanyaan Yola membuat gerakan kakinya terkunci. Dia lupa kalau sedang perang dingin dengan Tuan Muda Monza itu. Kecemasan merasuk tanpa permisi, menutup lingkaran luka yang menganga. Alin meninggalkan Yola yang tersenyum samar menatap kepergiannya.


“Hmm, ternyata putriku masih menyimpan cinta untukmu Beryl. Seharusnya kita berbesan, tapi ini malah kamu yang akan menjadi menantuku. Oh, takdir macam apakah ini Tuhan? Sungguh menggelikan,” Yola menggeleng-gelengkan kepala.


Ibu empat anak itu menyusul putrinya masuk ke dalam rumah. Dia akan menyuruh Bi Sofie untuk menyiapkan makanan untuk Beryl dan mengantarkannya ke depan. Andai Beryl tidak memakannya, dia sendiri yang akan menjejalkan makanan itu ke mulut sahabat Othman. Dia tidak ingin ada berita bertuliskan ‘MILYUNER BERYLIANO MONZA DITEMUKAN TEWAS DI DALAM MOBIL YANG TERPARKIR DI DEPAN KEDIAMAN KELUARGA YOSREY’. Itu akan benar-benar mencoreng nama baik keluarganya.


Beryl yang sejak tadi memperhatikan Alin dari jarak jauh cukup lega, setidaknya gadis pujaan hati itu tidak mengurung diri. Dia ikhlas kalau hanya bisa menatapnya dari jarak seperti ini. Dia tidak berhak meminta lebih, kecuali Alin sendiri yang memberikan kesempatan.


Telepon genggamnya berbunyi nyaring, nama Eijaz terpampang di layar. Beryl mengerutkan kening. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah ada masalah dengan keluarga di Indonesia sampai-sampai Eijaz harus menghubunginya.


“Halo!” sapa Beryl. Dia pun mendengarkan apa yang dikatakan asistennya itu dengan saksama.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan ke sana sekarang!” berat hati Beryl memacu mobilnya meninggalkan rumah Alin.


Sementara itu, dari balik jendela kamarnya, Alin heran melihat mobil Beryl melaju menjauh. Baru kali ini pria itu pergi di tengah hari, matahari saja belum terbenam. Apakah terjadi sesuatu dengannya? Apakah Beryl sudah menyerah? Apa sebatas itukah perjuangannya? Alin dirundung gelisah.


^^o^^


“Selamat siang, Tuan!”


Eijaz berdiri sigap di ruang kerja Beryl. Pesawat yang ditumpanginya baru mendarat tadi pagi. Seandainya tidak ada masalah genting terkait proyek di Jepang, Eijaz tidak mungkin berada di London saat ini. Namun, ada satu tugas rahasia dari Tuan Moazzam yang tidak mungkin diungkapkan kepada tuan mudanya itu..


“Berikan berkas-berkas itu, biar aku pelajari!” pinta Beryl sembari menarik kursi kerjanya.


Beryl terlalu larut dengan masalah Alin hingga melalaikan urusan pekerjaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika kelalaian yang diakibatkannya menyeret masa depan seluruh pegawai, maka dia akan merasa tambah bersalah.


Eijaz mengeluarkan beberapa berkas tentang proyek pembangunan di Jepang yang sudah berjalan lima puluh persen, lalu menyerahkannya kepada Beryl. Sang tuan muda itu pun membaca setiap berkas dengan teliti, meskipun matanya terasa bagai dirajam. Eijaz mengamati bos-nya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilan Beryl acak-acakan, tidak seperti biasanya. Jambang di wajahnya dibiarkan tumbuh tidak beraturan. Kantung mata tercetak jelas di bawah kedua matanya. Kelelahan tergurat, walau Beryl berusaha keras menepisnya.


“Ya Tuhan, perkara asmara ternyata mampu mengalahkan kegarangan Tuan Beryl di dunia bisnis! Kalau percintaan begitu menyiksa, aku malas jatuh cinta!” batin Eijaz yang merasa kasihan.


“Ti-tidak, Tuan! Maaf!” Eijaz menunduk, memaki kebodohannya.


“Bagaimana keluargaku?” tanya Beryl dengan nada suara normal.


“Mereka baik-baik saja, Tuan! Tuan Moazzam kan kembali aktif di perusahaan sampai Anda kembali! Saya sudah meminta Karen untuk mengurus segalanya.”


Beryl menganggukkan kepala, dia tahu Karen dan Eijaz adalah dua orang kepercayaan yang bisa diandalkan. Diam-diam dia merasa bersalah kepada papanya yang harus kembali ribet dengan urusan perusahaan. Sikapnya tidak hanya menyakit Alin, tetapi juga keluarganya. Di usia yang tidak bisa dianggap muda, seharusnya dia bisa mengendalikan diri. Apalagi peristiwa pedih itu terjadi lebih dari dua dasawarsa.


“Apa ada lagi yang Tuan perlukan? Kalau tidak ada, saya akan menunggu di luar,” Eijaz berpikir Beryl membutuhkan waktu sendiri untuk mempelajari berkas-berkas yang dibawanya.


“Pergilah!” ujar Beryl.


Eijaz meninggalkan tuannya sendirian di ruang kerja ditemani tumpukan berkas yang perlu diperiksa. Meskipun dia adalah tangan kanan keluarga Monza, tetapi bukan berarti tugas yang dilakukannya bebas dari pengawasan sang bos. Eijaz bersyukur, setidaknya jika ada masalah dia tidak akan dijadikan tumbal kesalahan. Kedua bos terbaiknya akan selalu menjadi tameng, mereka tidak akan cuci tangan dan membiarkan Eijaz terperosok sendiri.


“Eijaz, kau ada di sini? Di mana Bos-mu?” sapa Othman ketika melihat asisten Beryl keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


“Selamat siang, Tuan Othman! Tuan Beryl ada di dalam,” Eijaz kembali membuka pintu yang baru saja dia tutup.


“Silakan, Tuan!”


“Thank you, Eijaz!” Othman segera melangkah masuk ke ruang kerja Beryl yang didominasi warna putih tulang itu.


“Well, Tuan Beryl Monza berhentilah berjaga sepanjang hari di depan rumahku! Aku masih mampu membayar security tanpa harus merepotkan dirimu! Apa kau …,” cerocos Othman bagai mobil yang remnya blong.


“B? Beryl? Hei, kau kenapa?” Othman mendadak panik.


Beryl tertidur di kursinya, kedua kaki selonjor lurus, kertas-kertas berserakan di lantai. Othman menepuk-nepuk lengan Beryl, dan menggoyangkan bahunya, tetapi sahabatnya itu tetap diam tidak bergerak. Tidak merespon panggilan Othman. Suhu badan Beryl terasa panas.


“Ya Tuhan, dia pingsan! Eijaaazzz …!” teriak Othman memburu.


^^o^^


Alin merasa bosan di rumah. Rigel sedang sibuk ke kampus, Kaif mengurusi kafe miliknya, dan Zhiggy tidak perlu ditanyakan lagi. Kakak sulungnya itu sudah pasti ada di kantor bersama daddy-nya. Seharian dia menghabiskan waktu memberi makan ikan, menyiram tanaman, membantu mommy-nya dan Bi Sofie di dapur. Biasanya di jam-jam seperti ini dia akan sibuk di klinik. Mendengar celoteh Suster Penny dan Suster Debby, mengobrol ngalor-ngidul dengan Ragnala membahas trending topic atau hal-hal yang tidak sama sekali tidak penting.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Alin berjalan gontai menuju meja riasnya untuk mengambil ponsel yang tergeletak di sana. Satu pesan masuk dari Kaif. Sebuah foto dikirim Kaif membuatnya penasaran. Dikliknya tombol unduh yang ada di foto itu. Kedua mata Alin membola ketika foto itu terbuka dengan sempurna. Gambar Beryl terbaring di sofa dengan tangan yang terpasang infus.


From : Kak Kaif


Uncle B pingsan, kemarilah!


Kamu nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya kan?


Ingat, penyesalan selalu datang terlambat.


Think carefully.


Alin menutup mulut, pikirannya kacau. Detak jantung bergemuruh, air mata berlinangan. Sebesar apapun kemarahannya pada Beryl, dia tidak menginginkan pria itu sakit. Satu pesan masuk lagi dari Kaif. Dia menuliskan nama gedung dan alamatnya. Bahkan, Kaif juga sudah mengirimkan supir untuk menjemput Alin seandainya dia berubah pikiran. Alin kalut, tidak tahu keputusan apa yang hendak diambilnya. Satu sisi keraguan masih membayang sedangkan sisi lainnya dia mengkhawatirkan kondisi Beryl.


\~***\~

__ADS_1


__ADS_2