Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 10 : Bingung


__ADS_3

Sore itu di ruang ganti kamar operasi Rumah Sakit Persada, Alin melepaskan baju seragam khusus operasi dan berganti kemeja ungu muda dipadu rok plisket warna senada yang tadi dipakainya ketika berangkat.


Tindakan operasi hari ini memang tidak sulit, tetapi ada tiga orang pasien dengan kasus sama yang ditanganinya. Dan itu cukup melelahkan. Untung saja dia dibantu oleh Dokter Rikko Narendra, kakak kelasnya dulu. Setidaknya operasi jadi lebih cepat selesai dari perkiraan awal.


Alin memasukkan baju operasi ke keranjang pakaian kotor yang sudah tersedia dan membuang masker serta surgical cap ke tempat sampah medis. Setelah itu, dia mengambil sepasang sepatu yang tersimpan rapi di rak kemudian melangkah keluar meninggalkan area ruang operasi.


“Alin!” terdengar seseorang memanggilnya.


“Hai, Kak Rikko!” sapanya.


“Mau kemana? Buru-buru amat sih?”


“Ya pulanglah, emang mau kemana lagi?”


“Aku kira mau ke tempat praktik.”


“Hari ini aku off! By the way, makasih ya tadi udah bantuin aku!”


“My pleasure! Sering-sering ya,” sindir Rikko.


“Ah, Kakak bisa aja!” tiba-tiba penglihatan Alin teralihkan ke sebuah mobil yang cukup dikenalnya. Mobil itu berhenti tepat di depan unit gawat darurat yang bersebelahan dengan gedung bedah di mana dia berdiri saat ini.


Seorang sopir keluar dari mobil, membuka pintu lalu setengah berlari masuk untuk memanggil bantuan petugas. Begitu petugas datang dengan membawa brankard, orang yang sangat dikenali Alin keluar dari mobil dengan wajah risau.


Seorang anak digendong dan dibaringkan di brankard, kemudian petugas pun mendorongnya masuk ke unit gawat darurat. Mata Alin membeliak tatkala melihat siapa anak yang dibawa masuk itu.


“Kika…,” desisnya.


“Kak, aku pergi dulu ya! Entar kapan-kapan kita ngobrol lagi, sorry banget ya!” tanpa menunggu jawaban Rikko, Alin segera berlari menyusul ke unit gawat darurat.


Rikko terbengong-bengong menyaksikan Alin secepat kilat kabur dari hadapannya. Lebih mengherankan lagi karena gadis itu berlari ke unit gawat darurat. Rikko bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Rasa khawatir membuatnya mengikuti Alin.


Alin mengedarkan pandangan ke setiap sekat ruangan di unit gawat darurat. Tatapan matanya mencari-cari keberadaan Kishika. Tidak lama, terlihat bayangan Mallory keluar dari ruang penerimaan pasien.


“Rory!” teriaknya. Mallory pun menoleh ke asal suara.


“Kak Alin!”


“Ki-Kika kenapa?”


“Kok Kak Alin tahu?”


“Tadi Kakak keluar dari gedung sebelah dan melihat Kika dibawa masuk ke sini. Apa yang terjadi? Kika kenapa?” Alin tidak bisa menutupi kecemasannya.


“Kika sudah tiga hari ini demamnya naik turun Kak. Badannya lemas, nggak mau makan. Kita semua khawatir, akhirnya kita bawa ke sini.”


“Apa Daddy-mu sudah tahu?” tanya Alin ragu.


“Daddy belum pulang dari Jepang, jadi kita belum sempat kasih tahu.”


“Jepang?” memori Alin berputar kembali ke hari ulang tahun Kishika seminggu yang lalu.


“Iya, jadi pas pesta ulang tahun Kika kemarin itu Daddy mendadak pergi ke Jepang karena ada masalah sama proyek di sana. Dan sampai sekarang belum pulang,” akhirnya Alin tahu apa yang terjadi pada Beryl waktu itu.


“Hmmm, ya udah ayo kita lihat Kika!” ajak Alin.


Alin sungguh tidak tega melihat bocah kecil itu terbaring lemah tiada berdaya. Wajahnya pucat, keceriaan yang biasa ditunjukkan sirna. Bibir mungilnya kering. Alin mencoba bicara dengan dokter anak yang menangani Kishika.


“Mommy Alin,” rintih Kishika.


“Iya, sayang!” Alin menggenggam tangan Kishika dengan lembut.


“Aku kangen sama Mommy,” hati Alin meleleh mendengar perkataan Kishika.


“Mommy juga kangen sama Kika. Sekarang Mommy udah di sini, wonder woman harus nurut apa kata dokter ya! Biar cepat sehat dan bisa main-main lagi, oke?” Kishika menganggukkan kepalanya.


“Alin, gimana keadaan Kika?” tanya Nyonya Aretha.


“Nyonya Aretha,” Alin gugup menghadapi nyonya besar keluarga Monza itu.


“Sssstt…, no! Bukan Nyonya tapi Mama. Itu terdengar lebih baik bukan?” protes Nyonya Aretha. Baginya, apapun yang terjadi antara Alin dan Beryl, dia sudah menganggap Alin seperti putri sendiri.


“I-iya, Ma!” jawab Alin canggung.


“Dokter bilang Kika kemungkinan terkena penyakit typhus. Tapi, agar lebih pasti kita tunggu sampai hasil pemeriksaan darahnya keluar. Kalau memang benar typhus, maka Kika perlu opname di rumah sakit ini.”

__ADS_1


“Ehm, begitu ya!” Nyonya Aretha mengerutkan keningnya.


“Mungkin sebaiknya Kika dirawat di sini, proses penyembuhan pasti lebih cepat. Apa Mama bisa minta tolong?” lanjut Nyonya Aretha.


“Tentu, Mama mau minta tolong apa?”


“Apa kamu bisa bantu menjaga Kika selama dirawat di sini?” Alin sedikit terkejut.


“Eh maaf, bukannya kami nggak bisa menjaganya. Hanya saja, Kika cuma nurut sama Beryl atau kamu. Beryl sedang ada urusan bisnis di luar negeri. Mungkin kalau kamu yang menjaganya, Kika pasti akan senang dan mau menurut. Bagaimana? Maaf kalau Mama jadi merepotkanmu,” Nyonya Aretha menatap Alin dengan penuh pengharapan.


Alin bimbang, terjebak dalam benak yang melayang-layang. Banyak pertimbangan bergelayut di alam pikirnya. Alin sangat menyayangi gadis kecil lucu itu. Namun, dia juga takut kalau menjadi terlalu dekat. Takut kelak tidak bisa melepaskannya.


“Alin!” suara Nyonya Aretha membuyarkan kekalutannya.


“Ehmmm, iya Ma. Aku akan menjaganya, aku akan atur lagi jadwalku,” Alin benar-benar menyesali kalimat yang baru saja meluncur bebas dari mulutnya. Sedari tadi dia memikirkan bagaimana cara menolak secara halus, kenyataannya bibir berpihak pada hati kecil yang kasihan melihat Kishika masih tergolek lemas.


“Terima kasih ya, Lin!” Nyonya Aretha memeluk Alin erat sembari berdoa dalam hati supaya impiannya menjadi nyata.


^^o^^


Sudah empat hari ini Alin bolak-balik ke rumah sakit. Kondisi Kishika berangsur-angsur mulai membaik. Bocah yang baru berulang tahun ketujuh itu kembali ceria, banyak makan, lincah dan mulai ceriwis seperti sebelumnya.


Alin sengaja mengambil cuti selama satu minggu, dan melimpahkan praktiknya ke Ragnala. Itung-itung sebagai kompensasi waktu Alin menggantikan Ragnala beberapa waktu yang lalu. Sahabat karibnya itu sempat protes karena Alin cuti terlalu lama, tetapi apa boleh buat. Dia pun takluk ketika Alin mengiming-imingi akan mengenalkannya dengan Rikko Narendra, idola sejak jaman kuliah di Kedokteran Gigi.


“Lin, gimana kondisi anak itu?” tanya Papanya saat Alin sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


“Alhamdulillah, sudah membaik Pa. Dokter akan mengijinkannya pulang hari ini kalau hasil pemeriksaan darahnya normal. Selanjutnya perlu istirahat di rumah saja.”


“Syukurlah. Lalu bagaimana dengan ayahnya? Apakah dia sudah pulang?”


“Sepertinya belum Pa, karena sampai sekarangpun aku belum bertemu dengannya di rumah sakit.”


“Apa kamu sudah mencoba menghubunginya?”


Alin menghela napas panjang. Sejujurnya ia bingung mau menjawab pertanyaan Papa seperti apa. Berkali-kali dia menatap nama Beryl di ponsel, namun tidak satupun kata yang ia terima ataupun yang sanggup dikirimnya.


Tuan Vishaka mengamati gelagat putrinya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Alin. Putrinya itu bahkan tidak menceritakan perihal kelanjutan hubungan dengan Beryliano Monza.


Akhir-akhir ini gadis itu jadi pendiam dan lebih sering melamun. Memelototi ponsel sepanjang hari seolah-olah sedang menunggu sesuatu. Setiap kali ditanya ada apa, jawabannya selalu sama. Alin tidak mau mengakui. Tuan Vishaka khawatir kalau gangguan psikologis putrinya kembali mendera.


Alin menarik kursi dan duduk sejenak, meminum segelas jeruk hangat yang tadi dibuatnya. Tenggorokan terasa begitu kering, sekering hari-harinya yang mendadak sepi.


“Alin bingung, Pa!” ujarnya pelan.


“Bingung? Kenapa?” Alin terdiam, tatapannya terpaku pada permukaan meja makan. Jemari mengetuk-ngetuk meja, dan mulai menggigit bibir bawahnya. Tuan Vishaka sangat mengenali tanda-tanda kecemasan yang dialami putri semata wayangnya itu.


“Lin, apa kamu mencintainya?” Alin menegakkan kepala, dia pun menatap dalam ke arah papanya yang duduk tepat di hadapan.


“Ehmm, bohong kalau aku bilang aku nggak punya perasaan apapun padanya. Tapi aku sendiri nggak yakin apakah itu cinta. Aku takut, Pa!” Alin kembali menunduk.


Tuan Vishaka tidak menyalahkan Alin atas ketakutannya terhadap cinta. Rasa sakit di masa lalu membuat Alin menutup hatinya sekian lama. Tidak mudah bagi putrinya itu untuk membuka pintu hati lagi pada pria manapun.


“Putriku sayang, kalau kamu mencintainya kenapa kamu menolaknya?” Alin ternganga, darimana Papanya tahu kalau dia berencana menolak pinangan Beryl.


“Papa tahu?” Tuan Vishaka mengangguk.


“Tuan muda Monza sendiri yang mengatakannya pada Papa,” jawaban papanya membuat Alin tambah bingung.


“Beryl? Ta-tapi bagaimana mungkin? Aku bahkan belum mengatakan apapun padanya,” Alin risau, dia ingat betul kalau belum mengeluarkan sepatah katapun hari itu.


“Melihatmu jadi sering melamun di malam hari, membuat Papa cukup khawatir. Kamu juga nggak mau cerita sama Papa. Akhirnya Papa menghubungi Tuan Beryl, tapi dia bilang sedang berada di Jepang. Dia juga mengatakan kalau selama di Jepang kalian nggak saling menghubungi karena kamu sudah menolaknya.”


“Dia bilang seperti itu, Pa? Bagaimana dia tahu? Hari itu, aku mau bicara dengannya, tapi dia udah keburu pergi.”


“Entahlah,” Tuan Vishaka mengedikkan bahu.


“Lin, cobalah membuka hatimu Nak!” Tuan Vishaka meraih kedua tangan Alin.


“Nggak semua lelaki berperangai buruk. Nggak semua lelaki jahat. Kalau kamu sama ratakan seperti itu, artinya kamu anggap Papa sama dengan mereka.”


“Nggak Pa, Papa orang yang sangat baik!” Alin mengeratkan genggaman tangan papanya.


“Kalau begitu, kamu percaya kan kalau masih banyak laki-laki baik di dunia ini?” Alin tidak menyangkal apa yang dikatakan papanya. Tidak semua laki-laki punya sifat yang sama seperti Alaric. Namun, tetap saja dia masih takut membuka hati.


“Kamu tahu, waktu kamu minta ijin Papa untuk pulang terlambat karena makan malam dengan Tuan Beryl, sebelumnya dia datang kemari menemui Papa.”

__ADS_1


“Hah? Beneran, Pa?” Alin terbelalak tidak percaya.


“Kamu kira Papa tahu dari mana nomor teleponnya?” sindir Tuan Vishaka.


“Saat itu dia datang memperkenalkan diri dan mengutarakan niat untuk meminang kamu. Dia tahu kalau mungkin nggak akan mudah bagi Papa untuk menerima niat baiknya itu, mengingat latar belakang perkenalan kalian. Selain itu,  jarak usia yang dia yakini nggak ada orang tua manapun mau menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki tua yang seumuran mereka, kecuali karena terpaksa.”


“Tapi dia meyakinkan Papa kalau perasaannya padamu tulus, murni, bukan karena ketiga anaknya, bukan juga karena desakan orang tua. Dia sudah menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu. Cinta karena pandangan pertama. Dia sendiri bukan orang yang mudah jatuh cinta, hatinya sudah terkunci semenjak dua puluh tujuh tahun yang lalu. Sama seperti kamu,” lanjut Tuan Vishaka yang mencoba membuka mata hati Alin.


“Dua puluh tujuh tahun, Pa?” Alin mengerjapkan mata. Tidak terlintas sedikit pun dipikiran dangkalnya kalau tuan muda Monza itu sanggup menutup pintu hati selama itu. Alin yang baru menjalani selama enam tahun merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan laki-laki itu.


“Dari situlah, Papa merasa dia adalah orang yang baik. Dia pria dewasa yang sangat bertanggung jawab. Meski baru pertama mengenalnya, tak bisa dipungkiri kalau Papa menyukainya,” walaupun secuil, akan tetapi Tuan Vishaka percaya kalau Beryl Monza bisa menjaga dan mencintai putrinya dengan baik.


“Nggak ada salahnya mencoba kan, Nak? Papa lihat kalian punya pengalaman masa lalu yang sama, mungkin kalian bisa saling menyembuhkan luka hati masing-masing. Apalagi kamu bilang punya perasaan padanya, hmm?”


“Apa Papa nggak keberatan punya menantu yang usianya sepantaran Papa?” goda Alin.


“Asal dia bisa buat kamu bahagia, Papa sama sekali nggak keberatan. Kebahagiaan kamu adalah prioritas Papa,” Tuan Vishaka mengerlingkan sebelah matanya.


“Kalian saling mencintai, berjuanglah. Seandainya di akhir nanti ternyata kalian memang harus berpisah, berarti kalian memang nggak berjodoh. Dan setidaknya kalian sudah sama-sama berusaha lepas dari belenggu masa lalu.”


Mendengar petuah dari papanya tercinta, Alin bagaikan mendapat angin segar di dataran kalbunya yang tandus. Apa yang dituturkan papanya tidak jauh berbeda perkataan Ragnala. Sobatnya itu meskipun dari luar terkesan tomboy dan cuek, namun pemikiran dia terkadang jauh lebih dewasa dari Alin.


Satu hal yang diingat dari nasihat panjang Ragnala adalah “Cinta itu anugerah yang lahir dari sebuah proses. Proses yang hanya Tuhan Maha Tahu bagaimana merancangnya. Bisa muncul seketika, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tanpa kita sadari. Akan tetapi, bagaimana kita tahu cinta itu akan indah pada akhirnya kalau kita tidak menikmati proses. Semua pertemuan dan perpisahan yang terjadi adalah garis takdir sudah tertulis oleh yang Maha Kuasa, syukuri, jalani dan nikmati.”


Tiba-tiba terdengar suara bel pintu depan berdentang. Pasangan ayah dan anak itu menghentikan pembicaraan mereka untuk sesaat.


“Ada tamu kayaknya,” sahut Tuan Vishaka.


“Biar aku lihat ke depan dulu ya, Pa!” Alin beranjak meninggalkan papanya di ruang makan.


Setengah tergesa, Alin membuka pintu depan rumahnya. Alangkah kaget ketika dia melihat Nyonya Aretha Monza sudah berdiri di depan pintu rumah di waktu yang masih pagi ini.


“Pagi, Lin!” sapanya.


“Pagi, Ma. Kok sepagi ini Mama sudah ada di sini? Kika baik-baik saja kan?” Pikiran Alin melanglang buana, ada seutas kecemasan yang muncul tanpa permisi.


“Ah, Kika baik-baik saja, nggak perlu khawatir. Apa bisa kita bicara di dalam?”


“Ah, tentu Ma! Silahkan masuk,” saking cemasnya Alin sampai lupa mempersilakan Nyonya besar keluarga Monza itu masuk ke dalam rumah.


“Duduk, Ma. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Rory? Shaqi?”


“Ehm, nggak ada masalah dengan anak-anak. Mama ke sini mau minta tolong kamu menjaga mereka, karena Mama harus pergi. Maafkan Mama yang terus merepotkanmu.”


“Pergi? Mama mau pergi ke mana?”


“Mama harus pergi ke Bali, Lin. Beryl dirawat di rumah sakit sana.”


“Apa? Beryl sakit? Sakit apa Ma?” Alin ikut panik, gara-gara Nyonya Aretha yang tampak sangat kalut.


“Mama juga belum tahu sakitnya apa, kata Eijaz dia mendadak pingsan waktu meeting dengan klien. Mama bingung, di sisi lain Kika masih dirawat, tapi Mama juga nggak bisa membiarkan Beryl di sana sendirian.”


Alin paham perasaan Nyonya Aretha. Dia pun pasti akan seperti itu kalau mengalami kejadian serupa.


“Bukannya dia pergi ke Jepang ya, Ma? Kok sekarang di Bali?”


“Mama juga heran sama anak itu. Kalau sudah urusan bisnis, dia jadi gila kerja. Pergi ke sana ke sini nggak tahu waktu dan tempat. Nggak sadar apa kalau makin hari dia itu makin tua, gampang sakit. Bukannya bikin orang tuanya hepi, malah bikin kelimpungan. Mama nggak ngerti deh, Lin!” emosi Nyonya Aretha meluap.


“Anak sakit dia bukannya balik pulang, ini malah langsung terbang ke Bali. Mama bener-bener nggak habis pikir sama jalan pikirannya. Sekarang dia sakit begini, repot semua kan jadinya. Kamu bisa tolongin Mama kan, Lin?” Alin berpikir sejenak.


“Ma, kalau misalnya aku yang ke Bali, apa boleh?” tanya Alin gugup, entah datang dari mana ide gila itu.


“Hah? Kamu mau ke Bali? Serius?” dalam hati Nyonya Aretha bersorak kegirangan.


“Apa kamu yakin mau nengokin Beryl di Bali?” Alin manggut-manggut, otak dan hatinya benar-benar sudah tidak sinkron. Otaknya berkata tidak, hatinya menstimulus kepala untuk mengganguk tanda setuju.


“Tentu saja boleh, anak itu pasti senang kalau kamu mengunjunginya. Kalau begitu Mama akan menyuruh Eijaz untuk mengatur keberangkatanmu hari ini ke Bali. Sebaiknya kamu siap-siap saja, bagaimana?”


“Ehm, i-iya Ma.”


Nyonya Aretha memanggil Eijaz dan memberikan instruksi padanya untuk mengubah tiket penerbangan ke Bali. Sedangkan Alin bergegas ke kamar menyiapkan keperluan setelah sebelumnya minta ijin Tuan Vishaka terlebuh dahulu.


Kali ini dia akan mengikuti kata hatinya, memperjuangkan perasaan dan menikmati proses. Lagipula, ada banyak pertanyaan yang hendak dilontarkan Alin pada laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mengacaukan dunianya akhir-akhir ini. Laki-laki yang sudah mengobrak-abrik pintu hatinya yang terkunci.


\~***\~

__ADS_1


__ADS_2