
Alin didampingi Ragnala, sahabat baiknya, Suster Penny serta Suster Debby berdiri terdiam mengamati tiga puluh lunch box berisi makan siang yang mendarat di meja front desk klinik. Tidak ada nama pengirim yang tercantum pada nota pengiriman, hanya tertulis nama Alin sebagai penerima. Alin masih menerka-nerka siapa yang telah mengirim paket makan siang sebanyak itu.
“Selamat siang!” sebuah suara memecah keheningan mereka.
“Kak Aliiiinnn,” ada suara lain yang saling bersahutan memanggil Alin.
“Nyonya Aretha,” Alin tampak terkejut karena seingatnya hari ini tidak ada jadwal pemeriksaan anak-anak keluarga Monza. Wait, Monza? Alin jadi teringat pada kartu ucapan di buket mawar yang tadi dibacanya.
“Nyonya? Kenapa masih panggil Nyonya? Sebentar lagi kamu akan menikah dengan putraku, jadi panggil Mama saja ya Alin,” senyum Nyonya Aretha merekah bahagia, pada akhirnya putra tunggal itu bersedia menikah meskipun bukan dengan Zora.
“Apaa? Menikah?” teriak Ragnala, Suster Penny dan Suster Debby berbarengan. Pasalnya mereka sama sekali tidak mendengar slentingan kabar rencana pernikahan Alin. Mereka semua tahu kalau Alin memutuskan menikah jika papanya sudah menikah dulu dengan wanita pilihan. Hal ini tentu sangat mengejutkan bagi mereka.
“Dokter Nala, Suster Penny, Suster Debby belum tahu ya? Kak Alin akan menikah dengan Daddy-ku,” kata Mallory bahagia.
Ragnala tersentak, apa yang diucapkan Mallory membuatnya semakin yakin bahwa pengirim buket bunga mawar itu adalah Beryliano Monza. Ia melotot menatap Alin dan menyikunya tanda meminta penjelasan. Namun sayangnya, Alin hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Oiya, kami mau menculik Alin sebentar untuk makan siang, boleh kan? Dan Suster Penny, tolong makan siang ini dibagikan ke seluruh karyawan klinik ya. Kalau kurang, nanti bilang saja,” teka-teki tentang pengirim makanan itu terjawab sudah.
“Ayo Alin!” ajak Nyonya Aretha.
“Eh, sebentar saya ambil tas dulu,” Alin segera menuju ruangannya tanpa menanti persetujuan Nyonya Aretha. Dia benar-benar blank, tidak tahu harus berbuat dan berkata apa selain menerima ajakan Nyonya Besar Monza. Ketika berbalik hendak keluar ruangan setelah mengambil tasnya, Ragnala sudah berdiri bersandar dipingir pintu sambil bersedekap.
“You owe me an explanation!” ucap Ragnala dengan senyum jahilnya.
“Even I need some explanation for myself too,” gumam Alin tidak seceria biasa.
^^o^^
Di suatu restoran nomor wahid di kota, Alin hanya mampu menatap tenderloin steak yang tersaji dihadapannya. Ia tidak sanggup memandang Beryl Monza dan kedua orang tuanya yang berada di kursi seberang tengah menikmati makan siang mereka. Sedangkan ketiga anak Monza duduk berjejer di samping Alin dengan manis. Rasa gugup, gelisah, menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Otot-otot tubuhnya terasa lunglai, tiada sedikitpun tenaga untuk memotong daging steak yang sudah melambai-lambai. Meskipun perutnya berontak menahan lapar, tapi nafsu makannya seolah terbang. Alin berusaha mengontrol diri daripada berakhir dengan mengkonsumsi obat anti depresan yang sudah lama dimusnahkannya.
Beryl memperhatikan sikap Alin yang tampak tegang, bahkan makanannya pun belum tersentuh. Daging steak yang lembut seolah membatu. Beryl mengambil piring makan Alin, kemudian memotong-motong daging steak itu agar lebih mudah dimakan. Alin terkejut ketika melihat piringnya terangkat. Ada rasa aneh menggelenyar di hati saat Beryl membantunya memotong daging steak.
“Ini, makanlah. Jangan sampai kamu sakit,” Beryl menyerahkan piring itu kembali pada Alin yang menerimanya dengan senyuman tipis seraya mengatakan terima kasih.
Sementara itu, anak-anak Monza berisik menggoda, membuat Alin merona. Beryl bisa memahami kekalutan yang dirasakan Alin, sama dengan yang terselip di lubuk hatinya. Sejujurnya, dia tidak ingin memaksa Alin untuk mengikuti kemauan keluarganya. Bagaimanapun juga mereka adalah dua orang asing yang baru mengenal, suatu kenyataan yang tidak bisa ditepiskan.
“Alin, kira-kira kapan kami bisa bertemu dengan orang tuamu untuk melamarmu?” ceplos Nyonya Aretha.
“Uhuk uhuk …,” Alin terbatuk, potongan daging yang sedang dimakan langsung meluncur ke tenggorokannya sebelum berhasil dikunyah sampai halus. Cuaca di luar restoran sangatlah cerah, tetapi mengapa dia mendengar suara guntur dari langit. Alin menepuk-nepuk dada, sedangkan Beryl dengan sigap menyodorkan segelas air putih untuknya.
“Oh, Alin apa kamu baik-baik saja, Nak?” Nyonya Aretha panik.
“Ma, bisakah kita makan dengan tenang? Nanti kita bisa bicara setelah makan,” sahut Tuan Moazzam yang memahami kondisi calon menantunya.
__ADS_1
“Hm, baiklah Pa. Alin, maafkan Mama, ya?” Alin hanya manggut-manggut menerima permintaan maaf dari Nyonya Aretha.
Usai makan siang yang sunyi itu, Nyonya Aretha kembali mengajukan pertanyaan yang sama, “Alin, maaf ya kalau pertanyaan Mama terdengar memaksa. Mama tahu ini terlalu cepat, maafkan Rory. Pasti kamu memerlukan waktu untuk berpikir, kan?”
Nyonya Aretha menyadari kalau cucunya, Mallory, yang merencanakan pernikahan Beryl dan Alin secara paksa. Kalau boleh jujur, Nyonya Aretha sangat setuju dengan ide gila Mallory. Di matanya, Alin adalah wanita yang baik, tulus, lembut, ramah serta memiliki jiwa keibuan bila dibandingkan dengan Zora yang bergaya high class. Hanya saja, jarak usia antara Alin dan putranya menimbulkan sedikit keraguan dibenaknya.
“Bolehkah Mama tahu berapa usiamu sekarang?”
“Ehm, dua puluh enam Nyo-uhm, Mama,” Alin hampir saja memanggil calon mertuanya dengan sebutan Nyonya sebelum melihat sang Nyonya besar menggelengkan kepala tanda tidak suka.
“Wow! Putraku, sepertinya Alin lebih cocok jadi putrimu daripada istrimu! Kalau jadi istrimu, dia akan cepat tua! Ckk! betapa beruntungnya dirimu, Papa jadi iri!” Tuan Moazzam terbahak seraya memukul lirih pundak anaknya.
Nyonya Aretha mengerjapkan mata menghitung-hitung selisih usia di antara mereka berdua. Sama halnya dengan Alin yang mengalihkan pandangan ke Beryl. Dari dekat garis-garis wajah pewaris keluarga Monza itu mirip dengan papanya, menandakan usia mereka tidak berbeda jauh. Alin nyaris terbatuk untuk kedua kali saat mengetahui kenyataan itu.
“Ya ampun, masa iya aku menikah dengan lelaki seumuran Papa!” Alin memejamkan mata, meringis dalam hati membayangkan bagaimana reaksi papanya kalau mengetahui hal ini. Alin tiba-tiba bergidik ngeri, segera dienyahkannya pikiran-pikiran buruk yang menghantui.
“Terus terang, saya belum membicarakan masalah ini ke Papa. Saya belum menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikannya pada beliau,” Alin menyembunyikan kegugupannya.
“Seperti yang Anda tahu kalau ini tidaklah mudah. Pernikahan bagi saya adalah sesuatu yang sakral, makanya perlu dipertimbangkan secara matang. Apalagi ini terlalu cepat, bahkan mendadak. Saya harus bicara baik-baik dengan papa agar beliau tidak kaget,” semua yang ada di benak Alin mengalir lugas setelah ia berhasil menguasai diri.
“Aku rasa kita harus memberi Alin waktu, bukan begitu Nak?” Tuan Moazzam meminta pendapat putranya.
“Tentu saja, Pa! Semuanya perlu waktu kan? Aku tidak keberatan menunda pernikahan ini.”
“Dad...,” sela Mallory.
“Sebaiknya sekarang aku antarkan Dokter Alin kembali klinik, kasihan pasiennya yang sudah menunggu,” Beryl beranjak dari duduknya. Alin pun mengikuti gerak-gerik Beryl, kemudian berpamitan pada Tuan Moazzam, Nyonya Aretha dan ketiga anak Monza.
Ini kali kedua Alin berada satu mobil bersama Beryl, bedanya sekarang mereka menggunakan mobil range rover sport milik Beryl, bukan toyota agya milik Alin. Betapa timpangnya dunia mereka.
Kedua kalinya pula mereka hening tidak bersuara, hanyut di alam pikiran masing-masing.
“Alin, bolehkah aku panggil seperti itu?” Beryl membuka suara.
“Oh, yes please!” Alin lebih senang dipanggil nama saja daripada lengkap dengan gelarnya, apalagi bila mereka membicarakan masalah yang tidak berhubungan dengan profesi yang digelutinya. Itu lebih melegakan.
“Aku tidak ingin memaksakan pernikahan ini, kamu bisa menolaknya.”
Alin tertegun, ditatapnya Beryl dengan lekat dari sisi samping.
“Lalu, bagaimana dengan Rory?” tanyanya heran. Kenapa laki-laki ini berubah pikiran? Sebelumnya dia bersedia untuk menikah, tetapi sekarang memintanya menolak.
“Rory sekedar merajuk, dia akan baik-baik saja,” Beryl mengetukkan jemarinya di kemudi. Alin menghirup napas, tidak ingin terburu-buru berkomentar.
__ADS_1
“Tuan Be …,”
“Beryl, just Beryl!” Beryl menolak dipanggil dengan sebutan Tuan, karena akan membuatnya semakin canggung.
“Be-ryl, apakah Rory sudah menceritakan tentang wanita itu?”
“Wanita mana?”
“Ugh, siapa namanya?” Alin mengingat-ingat.
“Ah, Zora!”
“Zora?” Beryl memandang Alin sedetik, lalu kembali fokus lagi ke jalanan.
“Percayalah, aku tak akan menikahi Zora apapun alasannya. Membayangkannya saja aku tak sudi! Lebih baik aku tidak menikah kalau memang hanya Zora satu-satunya wanita yang tersisa di bumi ini.”
Alin tidak mengerti kenapa Beryl terkesan begitu alergi saat bercerita tentang Zora. Sebetulnya wanita seperti apa dia? Bahkan Mallory menjulukinya nenek lampir.
“Rory mendengarnya meminta seseorang untuk menarik seluruh sahamnya dari bisnis keluargamu, apakah kau bisa mengatasinya?”
“What?” Beryl menginjak pedal rem secara mendadak. Beruntung jalanan yang mereka lalui bukanlah jalanan utama, dan sedang sepi kendaraan. Kalau tidak, bisa habis mereka dimaki banyak orang. Dengan tergesa, Beryl menepikan mobil lalu menghentikannya di pinggir jalan.
“Benarkah?” Beryl tidak menemukan kebohongan di mata gadis itu.
“Shit!” umpatnya sembari memukul kemudi.
“Apakah itu masalah besar untuk perusahaan keluargamu?” Alin melihat api amarah berkilat di bola mata Beryl.
“Zora pasti memanfaatkan papanya. Buatku sebetulnya itu bukanlah masalah, mengingat saham keluargaku jauh lebih besar. Jadi tidak akan berdampak terlalu signifikan. Tapi,” Beryl memijat-mijat pelipisnya.
“Tapi?”
“Mungkin itu akan berdampak pada persahabatan kedua orang tua kami.”
“Lantas, mana yang akan kamu korbankan? Persahabatan kedua orang tuamu atau putrimu?” selidik Alin.
“Hufff! Di antara kedua pilihan itu, tidakkah kau lihat kalau aku adalah korban yang sesungguhnya?” Alin tidak menampik bahwa apapun keputusannya, Beryl satu-satunya orang yang harus mengorbankan diri demi kebahagiaan keluarga.
“Selama ini aku pikir hidup sebagai orang kaya yang bergelimang harta akan membahagiakan, tapi ternyata aku keliru,” Alin mendesah pelan. Rasa nyaman terbersit di hatinya. Rasa simpati dan empati menyeruak di relung kalbu.
Beryl menyandarkan tubuh di kursi mobil, menengadahkan kepala dan memejamkan mata sebentar. Kisah hidup macam apa yang dijalaninya di usia yang menjelang setengah abad. Beryl melirik Alin, gadis yang baru dikenal itu mampu menetralkan kecemasannya. Menikmati parasnya terasa bagaikan diguyur air hujan yang menyegarkan di tengah ladang tandus. Apalagi sekarang mereka berdua telah bebas dari kekakuan dan kecanggungan satu sama lain.
“Aku akan bicara dengan Papaku tentang rencana pernikahan ini, tapi pastikan kamu sudah punya pilihan yang tepat,” Alin sudah memutuskan apa yang dianggapnya benar.
__ADS_1
“Jadi kamu bersedia menikah denganku?” Beryl mempertanyakan keputusan Alin.
\~***\~