Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 11 : Bali


__ADS_3

Pesawat Garuda Airlines yang ditumpangi Alin mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali. Sudah cukup lama Alin tidak menapakkan kaki di Pulau Dewata ini. Terakhir kali sekitar dua tahun lalu, waktu menemani Ragnala berjumpa dengan ‘pacar online’ nya yang dikenal lewat sosial media. Kenneth Denallie, bule asal Inggris yang sengaja datang ke Indonesia untuk mencari ibu kandungnya.


Sayangnya, Kenneth hanya memanfaatkan Ragnala saja. Hampir seminggu mereka keliling Bali persis seperti detektif, namun hasilnya nihil. Kenneth kembali ke negaranya dengan tangan hampa dan meninggalkan Ragnala menangis bombay di tepian Pantai Kuta. Kenneth mengucapkan terima kasih atas bantuan Ragnala sembari memberinya undangan pernikahan. Ternyata bule terkutuk itu sudah punya tunangan, dan tanggal pernikahannya sudah ditetapkan jauh-jauh hari sebelum mengenal Ragnala.


Setelah turun dari pesawat, Alin menyalakan ponsel. Dia ingat apa yang dikatakan Eijaz, kalau pria itu telah menyiapkan orang suruhan untuk menjemput Alin setibanya di bandara. Eijaz juga memberikan nomor ponsel orang itu. Alin menekan nomor ponsel yang sudah disimpannya tadi sebelum berangkat ke bandara.


“Halo, Bli Arik! Saya Alin,” ujarnya.


“Halo, iya Nona Alin. Saya sudah ada di luar, saya bawa kertas bertuliskan nama Nona supaya mudah mencari.”


“Oh, oke. Saya baru turun dari pesawat, sebentar lagi saya keluar.”


Sesampainya di luar, Alin celingukan ke samping kanan dan kiri mencari-cari orang yang memajang kertas bertuliskan namanya. Tidak lama, dia pun menemukan sesosok laki-laki yang mengibarkan kertas itu. Alin lantas segera menghampirinya.


“Bli Arik?” sapa Alin


“Nona Alin, ya?” Alin mengangguk.


“Mari Nona, mobilnya sudah saya parkir tak jauh dari sini. Biar saya saja yang bawa kopernya,” ujar Bli Arik dengan logat Bali yang kental.


“Terima kasih.”


Alin mendudukan dirinya di kursi belakang mobil yang disiapkan Bli Arik. Dia menatap sekeliling sembari tersenyum. Sudah lama dia tidak mengenal kata liburan. Rasanya ini waktu yang tepat untuk melepaskan penat dari segala rutinitas harian, meskipun kedatangannya ke Bali kali ini bukanlah murni karena berlibur.


“Saya antar langsung ke hotel ya, Non?” tanya Bli Arik membuyarkan kehaluannya.


“Ehm Bli, bisa antar saya ke rumah sakit dulu?” Alin ingin memastikan kondisi Beryl terlebih dahulu.


“Baik, Nona!” jawab Bli Arik tanpa bantahan.


Alin membuka sedikit jendelanya, membiarkan hawa sejuk masuk. Menghirup udara Bali membuat khayalannya melanglang buana ke tepian pantai, menanti sunrise, menikmati gulungan ombak dan menatap sunset. Keindahan hakiki yang bisa dilamunkannya.


Pulau Bali dipenuhi oleh wisatawan asing yang berseliweran dimana-mana. Terkadang Alin merasa bagaikan orang asing yang berlibur di negeri sendiri, saking banyaknya jumlah wisatawan luar negeri berkunjung ke Bali.


Alin memejamkan mata, sejenak otaknya travelling berkeliling Bali. Menyusuri pantai, berkuliner makanan khas Bali, pergi ke tempat kerajinan perak, berbelanja di Jogger dan masih banyak lagi yang ada dalam daftarnya.


“Sudah sampai, Non!”


“Hah?” Bli Arik mengejutkan Alin yang sedang asyik dengan mimpinya.


“Sudah sampai ya?” Alin mengedarkan pandangan ke lobi rumah sakit bertaraf internasional itu.


“Bli, apa Bli Arik tahu dimana Tuan Beryl dirawat?”


“Setahu saya di ruang rawat inap VVIP Nona.”


“Ehm, baiklah nanti saya tanya lagi di customer service-nya.”


“Saya tunggu di parkiran ya, Nona. Nanti telepon saja kalo sudah selesai,” Alin mengiyakan kemudian keluar dari mobil.


Customer service rumah sakit terletak tidak jauh dari pintu masuk lobi, Alin pun berjalan mendekat.


“Selamat pagi,” sapanya pada salah satu petugas yang menyambutnya dengan senyum semringah.

__ADS_1


“Pagi! Apa ada yang bisa kami bantu?” tanya petugas itu dengan ramah dan santun.


“Saya mau menjenguk pasien atas nama Tuan Beryl Monza, beliau dirawat di ruangan mana ya?”


“Tuan Beryl Monza? Sebentar, saya lihat dulu di data komputer kami.”


Alin melirik ke seluruh penjuru ruangan, ia ingat dulu pernah satu kali ke rumah sakit ini untuk mengikuti seminar.


“Pasien atas nama Tuan Beryliano Monza dirawat di ruang rawat inap VVIP lantai tujuh kamar nomor 707,” petugas itu menunjukkan pada Alin arah-arah menuju ruangan Beryl dengan cukup jelas. Setelah mengucapkan terima kasih, Alin pun berlalu mengikuti petunjuk yang sudah diberikan padanya.


Pintu lift terbuka tepat di lantai tujuh gedung rawat inap, langkah kakinya terasa gontai, keraguan mulai menjalar. Alin berhenti sejenak di depan pintu kamar 707. Menimbang-nimbang ulang apakah yang dilakukannya ini sudah benar. Apakah ia siap menghadapi apa yang akan terjadi setelah membuka pintu kamar.


Dipejamkan kedua mata, ditariknya napas panjang lalu dihembuskan perlahan. Ditepisnya keraguan yang berkelebat tanpa tahu diri. Masih teringat jelas kata-kata papanya bahwa cinta itu harus diperjuangkan, walaupun dia sendiri belum yakin apakah yang dirasakan ini benar-benar cinta atau bukan. Akan tetapi, kalau dia tidak pernah mencoba, maka tiada pernah ada jawaban untuk perasaannya yang menggantung.


“Ayo Lin, kamu pasti bisa!” serunya menyemangati diri sendiri. Suaranya terdengar lirih namun tegas. Tangannya mulai meraih handle pintu kamar.


Alin menekan handle dan mendorong pintu pelan. Tampak Beryl terbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan tangan kanan terpasang selang infus. Alin berjalan setengah berjingkat karena tidak ingin membangunkan Beryl. Laki-laki gagah itu terlihat rapuh. Beberapa kerutan tipis menghiasi wajah tampannya.


Suara derit pintu yang terbuka mengejutkan Alin. Seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Beryl.


“Maaf, Anda siapa?” perawat itu bertanya pada Alin.


“Sa-saya kerabatnya,” sahut Alin sekenanya.


“Oh, syukurlah kalo begitu!” Alin tercengang dengan ucapan perawat itu.


“Maksud Suster?”


“Saya pikir Tuan Beryl tidak punya keluarga yang menjaganya, karena saya tidak melihat satu pun ada yang menemani selama beliau dirawat di sini.”


“Selain faktor kelelahan, asam lambungnya juga meningkat sehingga menimbulkan gastritis akut. Dokter sudah memberikan beberapa obat untuk menanganinya. Kondisi Tuan Beryl sudah mulai membaik. Hari ini kami akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan kondisinya. Kalau semua hasil baik, Tuan Beryl bisa pulang.”


Alin manggut-manggut mendengarkan penjelasan perawat. Ketika mendengar kata lambung, ia bergidik ngeri. Teringat kembali kondisi mamanya sewaktu dibawa ke rumah sakit. Saat itu mamanya mengeluh kesakitan di ulu hati, lantas pingsan karena tidak sanggup menahan rasa nyeri.


“Saya permisi Nona, nanti siang Dokter akan memeriksa lagi. Nona bisa bertanya lebih jelas. Saya permisi,” perawat itu meninggalkan Alin setelah mengecek keadaan Beryl dan mencatat data-data medis yang diperlukan.


Alin menarik sebuah kursi lipat dan meletakkannya di sisi tempat tidur Beryl. Dia pun duduk di kursi itu sambil menatap Beryl lekat-lekat. Perasaan iba menyusup di sanubari. Bagaimana mungkin pewaris keluarga konglomerat seperti Beryl tergeletak sendirian di ruang VVIP rumah sakit tanpa satupun penunggu. Bukankah Eijaz bisa mengirim orang suruhan untuk menjaga tuannya. Beryl pasti punya banyak anak buah, mudah baginya untuk memerintahkan mereka berdiri berjaga di depan pintu kamar.


Beryl menggeliat, tubuhnya terasa kaku. Hampir tiga hari terbaring di tempat tidur rumah sakit sungguh sangat menyiksa. Alangkah takjubnya dia melihat sosok Alin ketika membuka mata. Beryl mengerjapkan-ngerjap, menepuk pipi mencoba memulihkan kesadarannya. Ini bukan mimpi. Alin duduk menatapnya dengan senyuman yang dia rindukan.


“Alin…,” gumamnya.


“Ka-kamu di sini?” Beryl masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Pria itu menggerakkan tubuh untuk duduk bersandar. Alin dengan sigap membantunya. Setelah Beryl nyaman dengan posisi duduknya, Alin kembali ke kursi yang sejak tadi ditempati.


“Kenapa kamu ada di sini?” cecar Beryl.


“Apa kamu tidak senang melihatku di sini?”


“Bukan begitu. Aku hanya nggak menyangka saja,” Beryl menelan ludahnya membasahi kerongkongan yang kering kerontang.


“Mau minum?” tanpa menunggu jawaban Beryl, Alin mengambil gelas berisi air yang tertata di nakas samping tempat tidur lantas menyodorkan tepat di depan mulut Beryl.

__ADS_1


Beryl meneguk air yang gelasnya dipegang Alin. Tatapan matanya tidak bisa lepas dari gadis itu. Setiap gerakan Alin diperhatikannya, berharap ini bukan mimpi.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” Beryl masih penasaran dengan kedatangan Alin yang sama sekali tidak diduga olehnya. Di saat dia akan menyerah pada cinta, tiba-tiba gadis yang dipujanya itu muncul tanpa diundang.


“Aku hanya menemui pria yang kabur ke Jepang, menghilang tanpa kabar, lalu tersesat di pulau dewata dan sekarang terbujur sendirian di rumah sakit,” sindir Alin.


“Apakah itu sebuah pujian?” Beryl tersenyum kecut.


“Menurutmu?” Alin menautkan kedua alisnya. Beryl tidak mampu berkata-kata, tidak ada kalimat yang tersusun sempurna di otaknya. Dia lantas terdiam membisu.


“Aku ke sini untuk mengembalikan ini,” Alin mengeluarkan kotak kecil beludru berwarna biru dari tasnya.


Beryl membeliak melihat kotak itu. Hatinya terasa jatuh terkapar. Jantungnya berdetak kencang. Sekujur tubuh mendadak panas dingin tatkala Alin menggengamkan kotak itu di tangannya. Beryl tidak sanggup melihat kotak itu. Lebih baik dia tetap tidak sadarkan diri daripada menanggung luka batin seperti ini lagi. Inilah yang ditakutinya. Dia memilih segera berangkat ke Jepang demi menghindari hal ini terjadi. Namun, sekarang ia tidak bisa lari lagi.


“Kamu belum mendengar jawabanku kan?” pertanyaan Alin bagaikan anak panah yang meluncur tepat ke sasaran dan mengoyak habis.


“Apapun jawabanmu, harusnya kamu nggak perlu mengembalikannya. Aku akan terima apapun keputusanmu. Anggap saja ini hadiah,” Beryl hendak menyerahkan kembali ke Alin, tetapi gadis itu menahannya.


“Apa kamu nggak mau membukanya?”


“Nggak perlu,” Beryl menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?”


“Ya, karena aku sudah tahu jawabannya.”


“Benarkah? Apa kamu yakin? Aku bahkan belum mengatakan apa-apa,” Alin makin mendesak Beryl.


“Di hari ulang tahun Kika waktu itu, aku melihatmu nggak memakainya. Dan itu artinya …,”


“Jadi karena itu kamu memutuskan pergi ke Jepang tanpa bicara denganku?” potong Alin.


“Hupfft, sebenarnya aku akan tetap pergi ke Jepang sekalipun kamu memakai cincin itu. Ada masalah dengan proyekku di sana. Hanya saja, melihatmu nggak memakainya membuatku mempercepat keberangkatanku. Saat itu aku merasa sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan, dan aku cukup tahu diri.”


“Hmm, baiklah. Aku rasa semuanya sudah jelas. Aku nggak mau menganggapnya sebagai hadiah, simpan saja kotak itu karena aku nggak memerlukannya. Aku pergi, semoga cepat sembuh!” Alin bangkit dari duduknya dan beranjak pergi menyisakan Beryl yang masih duduk tertegun.


Sebelum mencapai pintu, Alin berbalik. Dia melepas syal yang dari tadi menutup leher jenjangnya.


“Sebaiknya kamu buka lagi kotak itu, takutnya ada yang hilang!” ucap Alin sembari memegang sesuatu yang menggantung di kalung yang melingkari lehernya.


Beryl masih membisu, meraba-raba setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Alin. Dia ternganga begitu melihat sesuatu yang dipegang Alin di lehernya, benda kecil yang berkilat itu tampak tidak asing. Dia mengalihkan perhatian ke kotak yang ada di telapak tangan, lalu segera membukanya. Kotak itu kosong! Beryl terlambat menyadari. Cincin itu tergantung di kalung yang dipakai Alin. Ketika pikiran warasnya kembali, Alin sudah keluar dari ruang rawat inap yang dihuninya.


“Jadi di-dia, Alin tunggu! Alin! Suster!” teriaknya kelimpungan. Dia hendak turun dari tempat tidur dan berlari mengejar Alin, tetapi selang infus yang masih menancap menghalangi pergerakannya.


Sementara Alin yang mendengar teriakan Beryl dari balik pintu, terkikik senang. Dia pun mencegah perawat yang mau masuk ke kamar Beryl karena mendengar teriakan pasien.


“Sus, nanti kalau hasil pemeriksaannya sudah keluar tolong hubungi saya ya!” Alin menuliskan nomor ponselnya di secarik kertas.


“Tapi tadi Tuan Beryl …,”


“Dia baik-baik saja. Nanti saya kembali lagi, saya titip dulu ya!”


Alin menelpon Bli Arik dan menunggunya di lobi. Untung saja hotel yang dipesankan Eijaz letaknya tidak terlalu jauh dengan rumah sakit. Jadi setelah menyimpan kopernya, makan dan mandi, Alin akan kembali ke rumah sakit lagi untuk menjaga bayi besarnya.

__ADS_1


\~***\~


__ADS_2