Terjebak Pandora

Terjebak Pandora
Chapter 8 : Kejar


__ADS_3

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Beryl pada Alin.


“Hemm,” gumam Alin.


“Maaf, karena kamu ikut jadi korban keganasan Zora!” Beryl merasa tidak enak hati karena melibatkan Alin dalam permasalahan keluarganya.


“Jadi itu yang namanya Zora?” Alin balik bertanya.


“Yes she is,” jawab Beryl sambil menyibak rambut poni Mallory yang tertidur di sofa.


“Sepertinya dia sangat mencintaimu,” Alin menatap Beryl tajam.


“Do you think it’s love?” Beryl jengah menjawab pertanyaan Alin terkait perasaan Zora. Bagi Beryl apa yang dirasakan Zora padanya bukanlah cinta tetapi obsesi yang makin menggila. Semakin hari semakin mengerikan, membuat bulu kuduk Beryl merinding.


“Ada kalanya cinta dan obsesi mempunyai perbedaan yang sangat tipis. Sebaiknya kita tidak perlu membahasnya lagi,” lanjut Beryl.


“Tapi aku kasihan padanya,” Beryl termangu mendengar ucapan Alin.


“Kasihan? Why?” Beryl terheran-heran.


“Karena dia sudah menyia-nyiakan umurnya demi mengejar cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sangat menyedihkan bukan?”


“Lantas, apakah itu kesalahanku?” Beryl tidak menampik apa yang dikatakan Alin. Zora menyukainya sejak kecil, bahkan hingga saat ini masih bertahan dalam kesendirian.


“Ehm-bisa jadi,” Alin menyecap air mineral dingin.


“Katakan di mana letak kesalahanku?” untuk kedua kalinya Beryl terheran. Jalan pikiran Alin sungguh tidak bisa ditebak. Gadis itu sangat unik. Dia juga berani membalas perlakuan Zora, padahal selama ini tidak ada seorangpun yang berani melawan Mayfa Zora Wisesa.


“Kau tahu dia mencintaimu sejak lama, tapi aku yakin kau tidak pernah bersikap tegas pada harapannya. Kau pikir dengan sikap dinginmu akan membuatnya mundur teratur. Namun, kini malah menjadi bumerang buat dirimu sendiri.”


Beryl tertegun, apa yang dikatakan Alin semuanya benar. Apakah gadis itu seorang cenayang yang mampu membaca dirinya? Selama ini, dia menganggap Zora seperti adiknya sendiri. Dulu dia pikir cinta Zora hanyalah cinta monyet biasa layaknya cinta anak putih abu-abu. Dia biarkan Zora bermanja-manja, menuruti keinginannya ketika merajuk. Namun, lambat laun, dia menyadari bahwa itu bukan cinta monyet biasa. Sebut saja itu cinta gorila yang membuat Beryl mulai menjauh. Apalagi ketika Beryl menemukan cinta pertamanya, Zora mulai bertingkah posesif. Pada akhirnya, Beryl menjaga jarak dan membangun dinding pembatas di hati.


“Sudah waktunya aku kembali ke klinik. Sebaiknya kau antarkan Rory pulang saja,” Alin mengusap lembut rambut Mallory yang tertidur di sampingnya.


“Aku akan mengantarmu,” sela Beryl ketika Alin beranjak dari duduknya.


“Aku bisa sendiri. Oh ya, aku rasa Zora bukan lagi masalah, dia tak akan lagi mengganggu. Jadi aku kira kita tidak perlu lagi melanjutkan rencana pernikahan itu,” Beryl terkesiap, ada kegetiran menyusup di sanubarinya saat Alin berkata seperti itu. Entah kenapa dia tidak rela ketika Alin mengatakan tidak perlu lagi melanjutkan rencana pernikahan mereka.


“Aku pergi. Jagalah mereka baik-baik!” Alin melangkahkan kakinya.


Beryl menahan tangan Alin. Dia pun berdiri berhadapan dengan gadis yang sudah mulai merasuk di hati dan pikirannya. Digenggamnya kedua tangan Alin, genggaman erat seolah tidak ingin dilepas. Dia tidak tahu apa yang mendorongnya, tetapi yang dia inginkan agar gadis itu mau bertahan bersama. Apapun akan dia lakukan demi mempertahankannya.


Beryl menatap Alin dengan tatapan mata sendu. Kesedihan, kepedihan, kegetiran, kekecewaan, ketakutan berpendar jadi satu.


“Tidak bisakah kamu menjaga mereka bersamaku?” nada suara Beryl terdengar memohon dan mengiba.


“Aku? Kenapa harus aku?” tanya Alin bingung.


“Karena hanya kamu yang mereka inginkan.”


“Mereka hanya meminta pertolonganku agar Zora tidak mengganggu kehidupan keluarga kalian. Dengan kejadian hari ini, aku yakin dia tidak akan berani melakukannya lagi.”


Beryl menelan ludah, memutar otak mencari kata-kata yang tepat. Dia tidak ingin Alin pergi. Perasaannya begitu kuat. Apakah itu cinta? Ia sendiri belum yakin. Akan tetapi, hati kecilnya mendesak untuk tidak membiarkan Alin berlalu. Dihirupnya aroma lavender yang menguar dari tubuh Alin bagaikan candu.


“Karena aku yang menginginkanmu!” Alin terperangah. Disentuhnya kening Beryl, suhu badan normal pertanda pria di hadapannya itu masih waras.


“Huh, please jangan bercanda!” decak Alin.


“No, I’m not!” sahut Beryl mantap membuat Alin jadi salah tingkah.


“Sudahlah, aku ti-mmmppphh …,” tubuh Alin menegang ketika Beryl mencium bibirnya. Itu ciuman pertamanya! Hawa panas menjalar di setiap pembuluh darah. Jantungnya berdetak lebih cepat, lidah kelu, mata nanar. Ada apa dengan dirinya?


“Apa yang sedang kalian lakukan?” suara Mallory yang baru terbangun mengejutkan mereka berdua.


^^o^^


Sejak peristiwa di kantor Beryl, Zora tidak lagi menampakkan batang hidungnya. Bahkan, Tuan Wisesa dan istrinya datang ke kediaman keluarga Monza untuk meminta maaf atas perbuatan putrinya yang buruk. Zora yang lepas kendali telah mencoreng nama baik mereka. Tuan Wisesa pun menerima keputusan Beryl yang tidak ingin menikah dengan Zora. Dia pun mengirim putri semata wayangnya itu ke luar negeri sementara waktu.


Beryl merasa bebannya berkurang karena terbebas dari kejaran Zora. Namun, di sisi lain ada yang terasa kosong di relung hatinya, ada sesuatu yang hilang. Tentu saja bukan Zora.

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan Nak?” Nyonya Aretha sedari tadi memperhatikan putranya yang tengah melamun di gazebo halaman belakang.


“Apakah Alin?” Nyonya Aretha menyodorkan segelas jus durian kesukaan Beryl.


“Mama rasa wajar kalau Alin membatalkan rencana kalian. Semuanya berawal dari Zora, sekarang dia bukan lagi masalah, jadi kita nggak berhak menuntut pengorbanannya kan?” Beryl menerawang jauh sambil meminum jus duriannya.


“Apa menurut Mama anak-anak akan mudah menerima wanita selain Alin untuk menikah denganku?”


Nyonya Aretha duduk di samping Beryl. Pikiran melanglang buana mengingat betapa ketiga cucunya bersorak gembira ketika mendengar Beryl akan menikah dengan dokter idola mereka. Kishika, Si Bungsu bahkan mulai terbiasa memanggil Alin dengan sebutan ‘Mommy Alin’, maklum Kishika masih berusia 3 tahun saat mamanya meninggal. Sosok seorang ibu sangat dinantikannya, setiap hari menari-nari dan berteriak di dalam rumah kalau dia mau punya mommy.


Mallory apalagi, aura ceria kembali seperti dulu saat orang tuanya masih hidup. Dia malah sudah menyusun banyak rencana untuk pesta pernikahan daddy-nya. Mulai dari baju, makanan, musik, bunga, make up dan sebagainya, sudah seperti pemilik event organizer ternama. Hanya Shaquille mungkin yang masih dengan sikap datarnya, tetapi dia sudah lebih membuka diri.


“Apa menurut Mama nggak akan ada lagi Zora-Zora yang lainnya?” pertanyaan yang dilontarkan Beryl sangat meresahkan Nyonya Aretha. Ia tahu banyak wanita yang tidak akan mudah menerima kehadiran ketiga cucunya dengan tulus.


“Nggak akan mudah bagi mereka, Nak. Mama nggak tahu reaksi mereka kalau mendengar rencana pernikahan kalian batal. Mereka pasti sangat kecewa,” Nyonya Aretha menghela napasnya.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan Nak?”


“Entahlah, Ma! Aku berpikir untuk mempertahankannya, tapi mungkin aku terlalu egois memintanya mengorbankan diri demi keluarga kita?”


“Putraku, lupakan anak-anak! Tanyakan hati kecilmu apa yang membuatmu ingin mempertahankannya?” tiba-tiba Tuan Moazzam sudah berdiri di dekat gazebo.


“Menjadikan anak-anak sebagai alasan agar seorang wanita tetap bersamamu itu memang egois. Kalau seperti itu, apa bedanya dia dengan pengasuh anak? Coba tanyakan dirimu sendiri kenapa kau ingin dia tetap di sampingmu. Kalau sudah ada jawabannya maka kejarlah. Kamu begitu garang jika berurusan dengan dunia bisnis, tapi dalam hal cinta kamu melempem!” sindir Tuan Moazzam.


“Papa!” hardik Nyonya Aretha.


“Papa ini ngomong apa adanya, Ma! Anakmu ini kalau kepalanya belum diketok palu, sadarnya kelamaan! Apa mau menunggu kita mati dulu baru dia menikah? Beryl, jangan sampai kamu kehilangan cinta lagi seperti dulu. Ingat, penyesalan selalu datang terlambat!”


Beryl menatap papanya nanar, hati bergejolak memikirkan perkataan Tuan Moazzam yang terhormat. Kehilangan cinta sungguh sangat menyakitkan, dia bersumpah tidak mau mengenal cinta-cintaan lagi. Itulah sebabnya dia menenggelamkan diri pada kesibukan bisnis yang dikembangkan dan menutup pintu hati.


Namun Alin, entah mengapa bayangan gadis itu bisa-bisanya menyusup dan membuka gembok yang telah mengunci dengan rapat. Bahkan sejak pertama kali mereka bertemu, Beryl terpaku bagai patung.


“Ayo masuk, Ma! Biarkan anak galau ini sibuk dengan keruwetannya sendiri!” ejek Tuan Moazzam.


“Pa, Ma, aku pergi dulu!” Beryl menenggak habis jus duriannya kemudian meletakkan gelas kosong itu di meja gazebo.


“Kamu mau ke mana, Nak?” Beryl hanya melambaikan tangannya seraya berjalan menjauh.


^^o^^


Alin melepaskan jas dokter yang dikenakan, lalu diletakkan di gantungan. Dimasukkan handphone ke dalam tas, kemudian beranjak keluar ruangan sambil menenteng tasnya. Hari ini sangat melelahkan, ada hampir dua puluh pasien yang harus ditanganinya seharian. Itu karena Ragnala pergi menjemput saudaranya di bandara, lantas semua pasien dialihkan ke Alin  karena tidak mungkin dibatalkan.


“Suster Penny, aku pulang dulu ya!” pamitnya.


“Iya Dok, hati-hati ya!” sahut Suster Penny.


Alin mendorong pintu masuk klinik dan melangkah keluar. Alangkah kagetnya Alin melihat sesosok pria berdiri bersandar di mobil yang terparkir tepat di depan pintu klinik. Alin terdiam mematung. Memori terlempar ke satu hari di mana ciuman telah tercuri dari bibir polosnya. Alin masih bisa merasakan kelembutannya, tiba-tiba sesuatu berdesir di ulu hati.


“Selamat malam!” sapa Beryl sembari mengulurkan setangkai mawar merah.


Alin ternganga, otaknya mendadak tidak mampu berpikir. Bukan bunga mawar merah itu yang membuatnya terpana. Akan tetapi, laki-laki itu yang telah membuatnya nyaris meleleh. Bagaimana tidak, laki-laki yang seumuran papanya itu tampak begitu muda dan segar seperti baru memasuki usia tiga puluhan. Kemeja warna abu-abu berlengan panjang yang sedikit digulung, celana berbahan jeans warna hitam dan sepatu sneakers warna putih membuat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Ini pertama kalinya Alin melihat Beryl mengenakan pakaian kasual.


“Oh gosh, kenapa aku jadi dag dig dug ngeliatnya?” batin Alin.


“Hei, kamu nggak alergi sama mawar kan?” Beryl mengibaskan tangkai bunga mawar di depan wajahnya.


“Eh-oh, tentu tidak! Terima kasih,” Alin salah tingkah lalu meraih bunga mawar dari tangan Beryl.


“Kenapa ke sini? Kliniknya sudah mau tutup,” lanjut Alin agak terbata.


“Aku ke sini karena aku lapar,” jawab Beryl asal.


“Hah?” Alin tertegun. Pendengarannya masih sehat kan ya?


“Ini klinik gigi loh, bukan restoran!”


“Ahahaha, aku tahu! Dari papan namanya saja sudah tertulis kalau ini klinik gigi. Kecuali kamu punya rencana untuk mengubahnya,” Beryl tertawa, wajah bingung Alin begitu menggemaskan, ia semakin tergoda untuk menjahilinya.


Alin tampak kesal, tanpa sadar ia mencebik. Dia sungguh lelah dan tidak ingin bercanda. Namun, pria itu tiba-tiba datang dan mengganggu dengan keusilannya.

__ADS_1


“Kenapa makin tua makin suka usil sihhh?” geram Alin dalam hati.


“Aku lapar, makanya aku ke sini mau mengajak kamu makan malam. Aku tahu kamu pasti belum makan kan?”


“Tapi, sayangnya aku sudah makan!” tolak Alin. Namun, cacing-cacing di perut menolak berkompromi dengannya.


“Oh, ****!” Alin merutuki diri sendiri ketika nyanyian perutnya menggema tidak tahu malu.


“Ppfft, sepertinya cacing pita di perutmu lebih tertarik dengan tawaranku,” Beryl tersenyum penuh kemenangan.


Tanpa menunggu persetujuan Alin, Beryl langsung menggamit lengan Alin.


“Berikan kunci mobilmu, asistenku akan mengurusnya!” nada suara Beryl bagaikan kalimat perintah yang tidak bisa ditentang. Harum parfum Beryl yang maskulin tetapi lembut itu telah menghipnotis, dan Alin pun mengikuti perintah Beryl. Demi Tuhan, dia sendiri tidak tahu kenapa jadi luluh seperti ini.


^^o^^


Beryl membawa Alin ke sebuah taman yang luas di pinggiran kota. Di tengahnya terdapat danau dengan air yang begitu jernih. Taman yang sangat asri, banyak pohon-pohon rindang berdiri kokoh di sepanjang jalan setapak melingkari taman. Pohon tabebuya yang bunganya bermekaran melengkapi keindahan malam dikelilingi gemerlap lampu warna-warni. Arena bermain anak cukup luas, serta area food court yang tempat makannya di desain seperti suasana desa dengan gerobak-gerobak makanan pinggir jalan berjajar rapi. Gazebo dari bahan kayu dan atapnya dilapisi jerami.


Beryl memilih sebuah gazebo yang posisinya ada di pojok sehingga mereka bisa memandang area taman dengan leluasa. Alin begitu takjub, rasa lelahnya mendadak pudar terkikis pesona malam yang membuat mata berbinar. Rasa kantuknya pun menghilang.


“Kamu mau makan apa?” tanya Beryl sembari menunjukkan menu makanan yang dipegangnya.


Alin mengamati gerobak-gerobak makanan yang ada di area food court itu. Konsep restoran terbuka dengan satu gerobak untuk satu macam menu, mengingatkannya kalau pergi ke acara resepsi pernikahan.


“Sering ke sini ya?” Alin balas bertanya.


“Ehmm, tidak juga!” Beryl masih menatap menu makanan dan minuman yang ada di meja dan tidak lama kemudian menutupnya saat pelayan datang menghampiri.


“Mas, saya pesan tahu telor satu dan cappuccino. Kamu mau pesan apa?” Beryl melirik Alin yang masih terpaku dengan buku menu.


“Mie ayam aja deh, minumnya es jeruk!” ujarnya sambil menyerahkan buku menu ke pelayan. Entah kenapa gambar mie ayam yang ada di buku menu itu begitu menggoda. Terbayang-bayang kuah panasnya yang pedas begitu menggiurkan.


“Yakin mau makan tahu telor?” Alin merasa heran saja, konglomerat seperti Beryl makan makanan rakyat seperti itu.


“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?”


“Nggak sih, cuma aneh aja!” Beryl bukannya tidak tahu apa yang dipikirkan Alin tentang dirinya, tetapi dia sengaja memancing agar malam tidak cepat berlalu. Apalagi kekakuan di antara mereka sudah mulai mencair. Bahasa mereka pun sudah tidak seformal biasanya.


“Apa orang seperti aku ini nggak boleh makan makanan itu?”


“Tentu saja boleh, nggak ada yang ngelarang juga.”


“Lalu?” Alin kebingungan karena Beryl makin mencecarnya. Kalau dia berikan jawaban sesuai isi kepalanya, dia takut Beryl akan tersinggung.


“Emangnya nggak takut sakit perut kena petisnya?” sahut Alin asal.


“Hahahaha…,” Beryl tertawa lepas, dia sangat menikmati ekspresi Alin.


“Kok malah ketawa sih?” sungut Alin kesal.


“Kamu itu lucu!”


“Apanya yang lucu?” Alin tersenyum kecut.


“Orang-orang seperti aku ini juga manusia biasa. Sama-sama makan nasi, sama-sama minum air, sama-sama menghirup udara. Jadi nggak ada bedanya sama yang lain. Mungkin takdirnya saja yang sedikit berbeda,” Beryl mengerlingkan sebelah matanya.


Tidak lama kemudian pelayan datang mengantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Alin menikmati mie ayam dengan lahap, cacing-cacing di perutnya bersuka cita. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Beryl yang menyantap tahu telor hingga nyaris tidak bersisa.


“Enak banget ya?” sela Alin. Beryl manggut-manggut sembari menyelesaikan kunyahannya. Sesaat kemudian Beryl mengulurkan sesendok tahu telor suapan terakhir ke depan mulut Alin.


“Coba aja,” Alin ternganga dan tanpa sadar membuka mulut untuk menerima suapan Beryl. Ia pun mulai mengunyah, rasanya sangat enak, bumbu petis terasa gurih di lidah. Perpaduan tahu dan telornya juga terasa pas ditambah dengan potongan daun bawang yang makin menambah cita rasa.


“Bagaimana?” tanya sang tuan muda.


“Ini benar-benar enak!” Alin mengangguk-anggukan kepala dan mengacungkan jempol. Dia tahu sekarang kenapa Beryl menyukai makanan pinggir jalan seperti ini, karena cita rasa makanan di tempat ini tidak murahan meskipun kesannya hanya kelas makanan pinggiran.


Beryl terkekeh, bukan hanya karena melihat ekspresi senang Alin, tetapi juga melihat bibir Alin yang belepotan terkena petis.


“Kamu kalau makan seperti Kika saja, belepotan!” Beryl menarik sehelai tisu dan membersihkan sisa-sisa petis yang menempel di bibir Alin.

__ADS_1


Ada sesuatu berseliweran di hati Alin. Perlakuan Beryl membuatnya salah tingkah. Kaget, bingung, malu, tetapi juga ada rasa senang dan bahagia. Namun, ada juga rasa takut. Ketakutan kalau ini hanyalah perasaan yang sekedar numpang lewat. Rasa sesaat dan hanya sepihak.


\~***\~


__ADS_2