
Pagi itu masih terlihat jelas dalam ingatan Raya saat kakak satu-satunya pulang sembari menangis, karena mendapatkan pelecehan dari bosnya. Tak lama dari kejadian itu Kak Rani mengakhiri hidupnya, karena frustasi dengan apa yang menimpanya. Sebuah peristiwa yang tidak pernah hilang dalam ingatannya dan membuat luka yang menganga dalam hatinya.
Sudah lima tahun kejadian itu berlalu tapi tidak sama sekali menyembuhkan luka hatinya. Kehilangan seorang kakak yang selalu ia banggakan dan yang sangat menyayanginya membuat ia menanamkan kebencian pada bos kakaknya hingga kebencian itu berubah menjadi sebuah dendam.
Hari ini Raya diterima bekerja di perusahaan tempat almarhum kakaknya dulu bekerja. Ini adalah awal dari rencana balas dendamnya untuk Kak Rani. Raya menenteng tasnya berjalan menuju meja kerjanya bersama dengan managernya.
“hay, aku Vira” ucap seseorang yang berada di sebelah mejanya.
“aku, Raya.” Jawabnya.
Karena berada di satu bagian yang sama akhirnya Raya dan Vira menjadi teman dekat. Sudah hampir tiga bulan Raya bekerja disana, ia mencari informasi tentang Prastian Adiwijaya yang menjadi direktur di perusahaannya dari Vira. Raya terus mencari informasi dan bukti untuk melancarkan balas dendamnya.
“aku dengar Pak Pras punya anak yang berada di luar negeri dan sekarang udah pulang. Mungkin dia akan menggantikan Pak Pras untuk menjadi direktur” ucap Vira.
“dia punya anak?” tanya Raya.
“iya, Pak Pras punya seorang anak laki-laki, karena istrinya sudah meninggal anaknya dibawa orang tuanya tinggal di London” jawab Vira.
Semua karyawan menyapa direkturnya yang baru saja datang, semua menundukkan kepala penuh hormat pada laki-laki yang menjadi atasan mereka. Dengan sangat terpaksa Raya mengikuti teman-temannya menundukan kepalanya. Pak Pras melihat Raya tertegun sebentar didepannya.
“siapa nama mu?” tanya Pak Pras.
__ADS_1
“Raya” jawabnya
“kau mirip dengan seseorang yang aku kenal” imbuhnya lagi sembari tersenyum.
“jelas saja kau kenal betul dengan kakak ku, yang sudah kau hancurkan hidupnya” ucap Raya dalam hati.
Meninggalkan Raya yang masih mematung di depan ruangannya Pak Pras berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Dentang jam dinding berbunyi menunjukan pukul 17.20, kantor sudah mulai sepi dari aktivitas karyawannya. Raya masih menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
“Ra, aku pulang duluan ya.” Pamit Vira
“Iya. Aku juga sebentar lagi beres” jawab Raya.
Berjalan menuju pintu ruangan direkturnya dengan hati-hati dan selalu waspada, takut ada yang melihatnya. Didorongnya pintu itu tapi terkunci, kesal pintunya terkunci Raya menendang pintu itu. Matanya melayang ke meja yang ada di depannya, meja sekretaris direktur. Cepat ia mendatangi meja itu membuka setiap laci, menyibakkan tumpukan berkas yang ada di atas meja namun tidak menemukan apa yang ia cari.
Pandangannya tertuju pada sebuah map yang ada di atas meja yang belum ia buka. Perlahan ia membukanya, di dalamnya terdapat jadwal kegiatan direktur selama satu minggu ke depan. Raya mengeluarkan ponselnya lalu memotret isi map itu, kemudian membereskan lagi meja yang sudah ia buat berantakan.
“Pembalasan di mulai” gumam Raya.
Namun saat Raya akan melangkahkan kakinya keluar ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Ternyata sekuriti kantor sedang bertugas mengecek ruangan.
__ADS_1
Sontak Raya terkejut karena itu bukan ruangannya, bisa-bisa ia di tuduh sebagai pencuri karena berada bukan di ruangannya.
Raya bingung mau bersembunyi dimana saat itu, sedangkan terdengar langkah sekuriti itu semakin mendekat.
Seseorang menggenggam tangannya dan menariknya ke belakang pintu sebuah ruang di dekatnya. Ingin berontak tapi Raya takut ketahuan lagi pula sepertinya ia sedang di selamatkan dari sekuriti itu.
Sepasang wajah saling berhadapan mata mereka saling menatap. Degub jantung Raya seakan lebih mengencang lebih cepat dari biasanya. Tatapan itu membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Ketika sekuriti itu sudah pergi, mereka bergegas untuk keluar dari sana. Tangannya masih menggenggam tangan Raya sampai din luar baru dilepaskan kemudia ia pergi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Raya terus mengikuti seseorang yang menggenggam tangannya tanpa ada penolakan. Sampai mereka berada diluar tangannya dilepaskan Raya baru sadar setelah pria itu jauh darinya.
“Heeeyy” teriak Raya namun tidak digubris oleh seseorang yang sudah jauh meninggalkannya.
“siapa dia?" gumamnya dalam hati.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ikuti terus ceritanya ya.....
Jangan lupa untuk like comment n vote nya juga...
__ADS_1
terimakasih 🖤🖤🖤