
Tok.... tok.... tok....
Suara ketukan pintu beberapa kali terdengar mengganggu pendengaran ibu dan Raya.
"Biar Raya yang buka pintu, Bu," Ibu mengangguk dan langsung melanjutkan kegiatannya memasak di dapur.
Raya membuka sedikit tirai jendela menengok siapa yang berada di luar dan mengetuk pintu. Bian berdiri tegak menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Raya tersenyum melihat Bian yang berada dibalik pintu, kemudian ia mebukakan pintu.
"Hay," bibirnya tersungging saat Raya membuka pintu.
"Kamu nggak kerja? Katanya mau minta perhitungan sama Pak Fian?" tanya Raya heran dengan penampilan Bian yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans.
"Aku sudah melakukannya," tanpa ekspresi Bian menjawabnya.
"Terus gimana?"
Bian tidak menjawab pertanyaan Raya, malah menatapnya. Raya balas menatapnya.
"Jangan nangis lagi kayak semalam ya," mengusap pipi Raya dengan tangan kanannya.
Raya menangkis tangan Bian yang memegangi pipinya.
"Maen pegang-pegang pipi orang," sergahnya.
"Aawwwww," jerit Bian saat tangannya ditangkis Raya.
Raya melihat punggung tangan Bian sedikit terluka dan warnanya membiru seperti sudah memukul benda keras.
"Maaf, tapi tangan kamu kenapa?" khawatir.
Raya pergi ke dapur membawa air es dan kotak obat.
Bian masih diam di ambang pintu menunggu Raya kembali.
"Kenapa masih disitu, masuk sini," menaruh bawaannya lalu menarik Bian masuk dan duduk di sofa.
Raya meraih tangan Bian yang terluka dan langsung mengompres dan mengobatinya dengan hati-hati. Lalu memasangkan plester di bagian yang terluka.
"Kamu habis mukul orang ya?"
Bian mengangguk.
"Siapa?"
"Bos kamu,"
"Hah, beneran?"
Bian mengangguk lagi.
__ADS_1
"Terus dia gimana? Bonyok?"
"Dia langsung di bawa ke rumah sakit,"
"Aduh Bian gimana kalo Pak Pras ngelaporin kamu ke polisi gara-gara kamu mukulin anaknya,"
"Aku laporin balik,"
"Laporin dia udah melakukan pelecehan sama Gina?"
"Iya pastinya,"
"Tapi kita harus tanya Gina dulu, Bian,"
"Iya, kita ke rumah Gina sekarang."
"Aku mandi dulu, hee. Belum mandi. Tunggu bentar ya,"
"Ehhh ya udah cepetan,"
Bian menunggu Raya di ruang tamu, lalu ibu datang ke ruang tamu menemuinya.
"Nak Bian, Ibu mau bicara,"
"Iya, Bu, ada apa?"
"Apa benar teman Raya ada yang menjadi korban pelecehan di kantor?"
"Ibu sangat khawatir sama Raya, Ibu ingin Raya berhenti bekerja di sana tapi sepertinya Raya enggan untuk berhenti kerja. Bisa kah Nak Bian menjaga Raya selama ia berada di tempat kerja?"
"Bu, sebelum ibu meminta Bian untuk menjaga Raya, Bian memang akan menjaganya sebisa Bian, Bu. Jadi ibu jangan khawatir lagi,"
"Bagus kalo begitu, Ibu sangat berterimakasih kalo Nak Bian mau menjaga Raya,"
"Iya, Bu,"
"Ya sudah Ibu ke belakang dulu ya ambilkan minum,"
Bian mengangguk sopan.
Tigapuluh menit Bian menunggu Raya akhirnya Raya muncul sudah siap untuk ke rumah Gina.
Bian melihatnya tanpa berkedip, terpesona dengan penampilan Raya yang menurutnya sangat berbeda.
Raya melambaikan tangan di depan wajah Bian yang terpesona melihatnya.
"Hey, kok malah ngelamun,"
"E,eh, udah siap,"
__ADS_1
"Udah, ayok nanti keburu siang keburu macet,"
"Ayok,"
"Aku pamit ibu dulu ya,"
Raya mencari ibunya ke dapur dan berpamitan. Lalu mereka berangkat ke rumah Gina.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gina masih terlihat bersedih penampilannya yang selalu rapi kini tidak seperti biasanya. Rambutnya kusut karena tidak di sisir, wajahnya pucat pasi, dengan guratan wajah frustasi di dalamnya dan pandangan matanya yang kosong.
Raya sangat sedih melihat keadaan Gina yang sekarang.
"Gin, ini aku Raya. Kamu harus sabar ya, kamu harus kuat," ucap Raya.
Gina masih tidak bereaksi tubuhnya masih tetap diam, tatapannya kosong dan melihat lurus tanpa ekspresi.
Raya memegang tangan Gina dan memeluknya. Gina sama sekali tidak bereaksi sedikit pun.
Bian hanya bisa memandangi kedua gadis di depannya.
Tangisan Gina pecah dan menjerit histeris dalam pelukan Raya.
"Gue udah gak suci lagi," rintihnya.
Lagi-lagi kalimat itu keluar dari mulut Gina. Raya menjadi semakin geram pada Fian, begitupula dengan Bian.
"Dari dulu dia nggak pernah berubah. Jangan ada lagi korban selanjutnya," Bian.
Seharian ini Raya dan Bian menemani Gina, Raya mengurusnya, menyuapinya makan walaupun Gina sama sekali tidak ingin memakannya tapi Raya terua mencob membujuknya sampai Gina menyuapkan makanannya.
Di rumah Gina tinggal bersama seorang pembantunya. Orang tuanya tinggal di luar kota dan jarang sekali berkunjung ke rumah Gina.
Karena haus Bian mencari minum ke dapur, disana ada pembantu Gina yang sedang mengerjakan tugasnya.
Bian mengambil gelas di dekat kulkas dan membuka kulkas lalu menuangkan air dingin ke dalam gelas.
"Ada apa dengan Neng Gina, Den?" tanya pembantu itu.
"Ah gapapa Bik, Gina hanya syok saja. Tolong lebih diperhatikan ya Bik. Dan sering ajak dia bicara," jelas Bian.
"I,iya, Den,"
Pembantu itu mengernyitkan dahinya seperti bingung dengan jawaban Bian.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like comment n vote nya ya.....
__ADS_1
makasih 🖤🖤🖤