
Hooaaamm.....
Raya bangun dari tidurnya.
"Hah, apa? Aku mimpi Bian menyatakan perasaannya. Ah seandainya saja itu bukan mimpi." Bergumam setelah mengumpulkan semua kesadarannya.
Segera ia bangun dan bergegas untuk mandi lalu bersiap berangkat ke kantor.
Hari ini Raya merasa malas untuk pergi ke kantor. Menjadi seorang sekretaris Fian tidak mudah baginya. Banyak pekerjaan yang tidak masuk akal yang di perintahkan Fian padanya.
Seperti biasa setelah sampai kantor ia menyiapkan kopi dan beberapa camilan untuk bosnya kemudian membawanya ke ruangan Fian.
Raya meletakan nampan yang membawa kopi dan sekotak cemilan di meja.
Fian menoleh ke arah Raya dengan membuka kacamatanya. Melihat Raya mengenakan kemeja garis-garis dan rok span selutut membuat Raya terlihat cantik dan mempesona dengan rambutnya yang di ikat rapi di belakang. Fian merasa tertarik dengan penampilan Raya kali ini. Fian masih memperhatikannya sedangkan Raya mengerutkan dahinya melihat bosnya terus memperhatikannya.
"Ehm, Pak, kopi dan camilannya sudah siap," ucap Raya membuyarkan lamunan Fian yang sedang berimajinasi dalam lamunannya.
"Eh i i iya iya," jawab Fian terbata dan mengembalikan fokusnya ke berkas yang ada di tangannya.
Raya berbalik berjalan menuju pintu bermaksud kembali ke meja kerjanya namun terhenti saat Fian memanggilnya.
"Raya,"
"Iya, Pak,"
"Bantu aku membereskan berkas-berkas ini, kau bisa bekerja memakai laptop ku," perintah Fian.
Entah apa yang ada di pikirannya, tapi Fian merasa dirinya tertarik pada sekretarisnya dan ingin berlama-lama berdekatan dengannya.
"Kenapa dia cantik sekali hari ini? Aku jadi ingin berlama-lama dia ada di sini dan terus melihatnya," ucapnya dalam hati.
"Tapi Pak, saya belum membereskan persiapan untuk meeting siang ini," tolak Raya.
"Ada apalagi sih dia? Huh, nggak tahu apa kalo kerjaan aku juga banyak," protes Raya dalam hatinya.
"Kau kerjakan di ruangan ku saja. Sering sekali kau membantah perintah ku. Cepat bawa ke sini dan kerjakan di sini saja. Aku ingin tahu cara kerja mu seperti apa," ucap Fian dengan tegas.
__ADS_1
"Huh, iya iya bos mah bebas daahhh. Cobaan apalagi ini tuhan. Lindungilah hambamu ini dari bos sombong dan otoriter kayak dia," hanya bisa protes dalam hati.
Raya menuruti kemauan Fian membawa pekerjaannya ke meja yang ada di sebelah meja Fian.
Sering kali Fian mencuri-curi pandang padanya. Tapi Raya tetap fokus dengan pekerjaanya.
Seharian ini Fian sangat senang bisa bersama terus dengan Raya sampai jam kerja berakhir.
Pulang kerja Raya naik bis seperti biasanya, dan yang membuatnya senang adalah ada Bian juga naik bis yang sama.
"Kamu kenapa bibir sampai mengkerut begitu?" tanya Bian saat sudah duduk di sebelah Raya.
"Seharian ini aku bete banget. Masa seharian ini aku harus kerja di ruangan dia sebelahan sama dia aku kan jadi nggak nyaman kerjanya. Mentang-mentang dia bos bisa se-enaknya, pokoknya aku bete." tuturnya.
Bian terkekeh mendengar ocehan Raya yang dia anggap lucu.
"Kamu malah ngetawain aku, sama aja kayak si Fian itu yang menyebalkan," kesalnya.
"Kok aku di sama-samain sama dia? Aku jelas berbeda. Yang pasti aku lebih tampan dari dia," tersenyum manis ke arah Raya.
Membuat Raya meleleh melihat senyuman Bian yang menggetarkan jiwa raganya.
"Seandainya itu bukan mimpi," dalam lamunannya.
Raya tidak sadar senyum-senyum sendiri sambil menatap Bian yang ada di sampingnya.
"Ra, Ra, Ra, sudah sampai," sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Raya yang sedang melamun.
Lamunan Raya pun buyar seketika mendengar Bian memanggil namanya.
"Eh iya,"
Raya segera turun dari bis, Bian mengekor dibelakangnya.
"Ngapain kamu ngikutin aku?"
Bian menyodorkan tas berwarna pink milik Raya yang lagi-lagi tertinggal di bis.
__ADS_1
Saat melihat tasnya Raya menepuk jidatnya.
"Makanya kalo pelupa jangan kebanyakan melamun. Untung saja ada aku," ucap Bian.
"Siapa yang melamun," berkilah.
"Kalo nggak melamun apa dong tadi? Sampe bayar ongkos bis aja lupa." ucap Bian lagi yang membuat Raya menepuk jidatnya lagi.
Bian tertawa melihatnya.
"Iya aku bayar sekarang, cerewet amat sih," merogoh tasnya mengeluarkan dompet dan mengambil uang di dalamnya.
"Aku nggak mau di bayar pake uang," tolak Bian.
"Terus pake apa ?"
"Nanti aku pikirkan, tapi kamu harus tetap harus membayarnya,"
"Uh dasar pamrih banget sih," decak Raya sedikit kesal.
Sesampainya di depan rumah Raya ada sebuah mobil yang sedang terparkir disana.
"Ini kan mobil Pak Fian, ngapain dia di sini?"
Bian mengangkat bahunya.
Melihat Raya dan Bian, Fian bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka.
"Sedang apa Bapak di sini?" tanya Raya.
Namun Fian dan Bian saling bertatapan dengan tatapan yang tajam satu sama lain seakan-akan akan saling membunuh dengan tatapan mereka.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like comment n vote nya..
Maafkan klo masih bnyak typo bertebaran....
__ADS_1
Makasih semua... ☺️☺️☺️☺️
🖤🖤🖤