
"Hey, kalian sedang apa? Kenapa lihat-lihatan gitu? Kalian nggak normal ya?" tanyanya melihat kedua orang laki-laki di depannya yang sedang saling bertatapan.
Keduanya langsung mengalihkan penglihatan mereka.
"Ayok kita masuk," ajak Raya pada dua orang lelaki yang ada di depan rumahnya itu.
Raya terus berjalan masuk rumah tanpa memperdulikan kedua lelaki yang sedang perang tatapan tajam sedari tadi.
"Aku tidak akan membiarkan mu kali ini," ancam Bian pada Fian.
Karena Bian sangat tahu bahwa kakak tirinya itu seorang playboy yang suka gonta ganti pacar dan tidak segan-segan menyakiti hati wanita.
Bian pun tidak tahu kenapa ia harus berkata seperti itu, padahal Raya bukan lah siapa-siapanya saat ini. Tapi hatinya tergerak ingin melindungi Raya dari Fian kakak tirinya.
"Hah, kita lihat saja nanti. Aku lebih segalanya dari mu. Dan aku bisa melakukan apapun karena dia adalah bawahan ku," balas Fian dengan angkuh dan berhasil membuat Bian jadi geram.
Bian mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menghajar kakak tirinya yang sok berkuasa dan semena-mena. Tapi ia tahan karena sedang berada di rumah Raya.
"Kalian mau terus kayak gitu? Nggak akan masuk rumah?" panggil Raya.
Bian dan Fian berjalan cepat mendekati Raya yang membawakan mereka minuman.
Keduanya kompak berbarengan menenggak minuman yang Raya bawa habis satu kali tegukan membuat Raya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
"Ya sudah sekarang kalian pulang karena aku sudah lelah dan ingin istirahat," malas meladeni dua orang aneh di depannya.
__ADS_1
"Berani sekali kamu memerintah ku," jawab Fian.
"Ra, tapi aku....," kata-kata Bian terpotong.
"Bian besok kamu harus kerja sudah malam, nanti kamu kesiangan," potong Raya pada Bian membuat Fian tersenyum penuh kemenangan dan Bian terlihat kecewa.
"Dan Pak Fian, sekarang sudah bukan jam kerja dan juga ini di rumah ku jadi silahkan anda pulang karena saya sudah lelah seharian bekerja," tambahnya lagi. Raut wajah Fian berubah mendengarnya, sedangkan Bian tertawa.
Raya langsung masuk ke dalam rumah membawa gelas yang sudah kosong dan menutup pintu rapat-rapat.
Kedua lelaki itu pun akhirnya pulang karena merasa sudah di usir oleh yang empunya rumah.
Di Rumah Prastian Adiwijaya
Fian menghalau Bian yang baru saja tiba depan rumah.
"Tidak akan ku biarkan, dulu kau sudah merebut Tisya dan merusaknya. Sekarang aku tidak akan membiarkan kau melakukan hal yang sama ke Raya," ucap Bian penuh amarah.
Tersulut emosi Fian memukul Bian terus menerus tidak memberikan Bian kesempatan untuk membalasnya. Ketika ia lengah Bian membalas memukul wajahnya.
Adu jotos pun tidak terhindarkan sampai Pak Pras dan Bu Mira melihat anak-anaknya berkelahi.
"HENTIKAN," teriak Pak Pras pada kedua anaknya.
Keduanya menghentikan perkelahian mereka dan menoleh ke arah Pak Pras yang geram melihat tingkah anaknya.
__ADS_1
"KALIAN TIDAK BISA AKUR SEBENTAR SAJA? SETIAP BERTEMU PASTI BERKELAHI," ucapnya masih geram.
Bu Mira menangis tersedu melihat keduanya yang tidak pernah akur.
"Bu, aku ke kamar duluan," pamit Bian.
Bian pergi ke kamarnya meninggalkan ibunya yang masih menangis. Bian tidak bisa melihat ibunya menangis karena itu ia memutuskan untuk pergi.
Pak Pras merangkul Bu Mira yang sedang menangis tersedu.
Fian pergi entah kemana keluar mengendarai mobilnya.
"Sudah Mah jangan menangis biar papah beri pelajaran buat mereka," mencoba menenangkan istrinya.
"Pah, maafkan mamah yang tidak bisa membuat Fian menyukai mamah dan Bian," rintihnya
"Jangan berkata seperti itu, masih butuh waktu untuk Fian menerima semua ini sayang," mendekap istrinya dan mengusap pipi istrinya yang basah dengan air mata.
Lalu membawa istrinya ke kamar untuk beristirahat.
Di kamar Bian masih penuh dengan emosi dalam dirinya.
"Kenapa aku ingin sekali melindungi gadis itu? Apa karena dia mirip sekali dengan Tisya?" bicara dalam hati.
"Tisya, kau dimana?" lirih Bian sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like comment n vote