Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
SEPULUH Bersama Fian


__ADS_3

Selepas perkelahiannya dengan saudara tirinya Fian menancapkan gas mobilnya tak tau arah.


Kejadian lima tahun yang lalu adalah sebuah kesalahan yang membuatnya menjadi saling membenci dengan Bian.


Dan kunci dari pertengkaran mereka adalah Tisya. Yang kini seolah menghilang dengan menyisakan kebencian di hati dua orang saudara tiri itu.


Sudah jauh Fian mengendarai mobilnya tidak tau arah kemana dia akan pergi. Dan selintas ia teringat Raya. Secepat kilat Fian membelokan stirnya menuju rumah Raya.


Raya baru saja akan mengunci pagar rumahnya. Namun ketika melihat mobil Fian berhenti di depan rumahnya, ia menghentikan aktivitasnya.


"Ngapain lagi sih nih kutu, pake datang lagi ke sini malem-malem gini?" batinnya kesal dengan ulah bosnya.


Fian keluar dari mobi lalu menghampiri Raya yang sedang berdiri mematung di samping pagar. Fian tersenyum, melihat Raya dengan memakai pakaian tidurnya dan rambutnya yang terurai bebas di belakangnya.


"Dengan pakaian begini pun dia masih kelihatan cantik," batinnya memuji wanita yang kini ada di hadapannya.


"Pak Fian, ada apa Pak? Bukannya tadi bapak udah pulang ya,?" tanya Raya heran campur kesal.


"Ikut aku," ajak Fian sembari menarik lengan Raya masuk ke dalam mobilnya tanpa perlawanan.


Mobil Fian melaju meninggalkan rumah Raya entah akan kemana. Karena dari tadi pun Fian hanya memutari jalanan kota tanpa tujuan dan sekarang pun demikian membuat Raya heran dengan tingkah bosnya.


"Pak, sebenarnya kita mau kemana? Dari tadi bapak hanya berputar-putar saja," tanyanya memecah kesunyian karena dari tadi Fian tidak berbicara sama sekali.


"Kau lapar?" tanya Fian akhirnya membuka mulutnya.


"Tidak, saya sudah makan," jawab Raya yang masih bingung sebenarnya bosnya mau membawanya kemana.


"Hmmm," singkat padat dan jelas hanya berdehem saja reaksi Fian.


Kemudian Fian menghentikan mobilnya di tepian jalan.


"Tangan bapak terluka?" baru menyadari tangan kanan bosnya terluka dan ada sedikit memar di wajahnya ketika lampu mobil Fian dinyalakan.


"Obatin," pinta Fian sembari menyodorkan tangannya yang terluka.

__ADS_1


"Kotak obatnya ada di bagasi," sambungnya.


Dengan sedikit kesal Raya keluar dan membuka bagasi di bagian belakang.


"Nih orang anehnya kebangetan, kalo minta di obatin itu ke dokter rumah sakit bukan sama aku," decaknya kesal.


"Ini kotak obatnya Pak," ucapnya setelah duduk kembali di sebelah Fian.


Fian menyodorkan tangannya yang tadi terluka. Raya membersihkan sedikit darah yang keluar di tangan Fian lalu mengobatinya dengan obat luka kemudian membalutnya dengan plester.


"Luka dikit aja manja amat nih orang, tapi kayaknya dia habis berantem. Nggak mungkin kan dia berantem sama Bian pas pulang dari rumah ku tadi?" batinnya. Raya.


"Pantas saja Bian mati-matian melindunginya, dia mirip sekali dengan Tisya. Haruskah kejadian itu terulang lagi?" batin Fian.


Raya merasa sangat kedinginan, bagaimana tidak, ia hanya mengenakan baju lengan pendek dan celana panjang yang bahanya tipis baju tidurnya, sewaktu tadi Fian membawanya.


Tubuh Raya terlihat gemetaran kedinginan dan ia hanya mendekap tangannya agar tidak terlalu dingin.


Fian membawa sweater yang ada di kursi belakang dan memberikannya pada Raya.


"Pakailah,"


"Kalo malem itu pakai baju yang agak tebal biar nggak kedinginan," ucap Fian dengan santai.


"Kalo nggak di ajak paksa juga aku nggak pake baju gini juga kali, uh dasar," kesalnya dalam hati.


Raya segera memakai sweater yang di berikan Fian padanya.


"Kamu nggak nanya kenapa aku terluka?" ucap Fian dengan percaya diri.


"Apa aku harus tahu? Bapak pernah bilang kalo aku tidak boleh bertanya tentang urusan pribadi bapak," jawab Raya dengan tegas.


"Ngapain juga aku nanya-nanya, males banget. Lagi pula yang di mimpi aku kan Bian yang aku obatin bukan si Fian yang sombong dan suka semena-mena ini. Mimpi tak seindah kenyataan," batin Raya merutuki nasibnya.


"Ah iya, tapi ini bukan urusan pribadi. Ini menyangkut perusahaan juga. Tapi ya sudah lupakan saja," tutur Fian berbohong.

__ADS_1


Raya hanya menunjukan deretan giginya tersenyum lebar dengan terpaksa mendengar jawaban bosnya.


"Pak, ini sudah malam. Aku harus pulang karena besok harus bangun pagi sekali,"


"Memang mau kemana? Besok kan akhir pekan, kantor libur."


"Besok aku mau jogging ,Pak. Terus mau antar ibu ku ke pasar belanja kalo pagi-pagi," seribu alasan supaya Raya cepat pulang.


"Ya sudah aku antarkan kamu pulang," dengan wajah yang senang mengetahui acara Raya besoknya.


Fian mengantarkan Raya sampai depan rumahnya lalu ia pun kembali pulang.


"Dari mana, Ra?" tanya ibu melihat anaknya baru saja masuk ke dalam rumah.


"Ibu, belum tidur? Tadi Raya habis keluar dengan teman , Bu,"


"Pacar mu?"


"Bukan,"


"Ya sudah cepat istirahat, jangan tidur terlalu malam tidak baik,"


"Iya, Bu,"


Raya masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Fian, Bian, namanya mirip sekali tapi kepribadiannya sangat berbeda."


Raya terlelap mengarungi mimpinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hayyy.....


jangan lupa like comment n vote

__ADS_1


makasih semua....


🖤🖤🖤


__ADS_2