Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
DUAPULUH ENAM Gina Berulah


__ADS_3

Gina masuk bekerja setelah satu minggu lebih tidak bekerja. Hari itu ia datang ke kantor seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dengannya.


Namun sebelum ke meja kerjanya ia menyelinap ke ruangan Fian. Entah apa yang ia lakukan di sana. Seringai jahat menghiasi paras cantik nan rupawan dengan lipstik yang merah menggoda.


Suara sepatu beradu dengan lantai saling bersahutan, Fian sedang menuju ruang kerjanya dan melangkah dengan pasti. Sampai di depan pintu ruangannya ia menekan kenop pintu dan pintu pun terbuka. Gina tersungkur jatuh dihadapannya karena bertabrakan dengan pintu yang Fian dorong dari luar.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Fian terkejut melihat Gina berada di ruangannya.


Gina segera berdiri membenarkan penampilannya usai terjatuh. Fian tidak memperdulikannya, ia terus berjalan menuju meja kerjanya.


"Sedang menunggu mu," jawab Gina setelah ia berdiri tegap sempurna.


"Pergi kau dari ruangan ku," usir Fian.


"Hey, tunggu dulu. Jangan sembarangan mengusir ku Tuan. Bagaimana kalau kita buat perjanjian?" ucap Gina dengan lantang.


Gina berjalan menghampiri Fian yang sudah duduk di kursi kebesarannya sebagai wakil direktur perusahaan.


"Berhenti di situ," cegah Fian saat Gina berjalan semakin dekat dengannya.


"Kalau kau tahu apa yang akan aku tawarkan untuk mu, kau tak akan se kasar itu pada ku," tersenyum tipis misterius.

__ADS_1


Fian memejamkan mata dan menarik nafasnya saat melihat penampilan Gina yang memperlihatkan putih mulus pahanya, karena Gina memakai rok hitam yang terbilang sangat pendek. Kemeja putih yang ketat dengan kancing yang dibiarkan terbuka di bagian dada, hingga nampak belahan yang membuat jiwa lelaki Fian meronta.


Namun saat ia membuka mata, Gina sudah berada di belakangnya dan membuatnya terkejut.


Diambilnya gelas berisi air di sebelah kanan dan langsung meminumnya.


"Kenapa? Kau terkejut? Aku tahu kau terpesona dengan tubuh ku kan?" dengan percaya diri dan mengalungkan tangannya di pundak Fian. Namun Fian menghalaunya.


"Perjanjian apa yang kau inginkan? Bukannya kau sudah memiliki Papah ku? Dia lebih punya banyak uang daripada aku anaknya," ucap Fian tegas.


"Karena aku menyukai mu. Tapi kau tidak pernah melihat ku," ucap Gina di sebelah telinga Fian.


Entah kenapa Fian merasa sangat kepanasan di ruangannya yang full AC. Fian menyalakan AC nya untuk lebih mendinginkannya, tapi tidak berhasil tubuhnya masih terasa kepanasan. Dan rasanya ingin segera membuka semua baju yang melekat pada dirinya. Fian membuka jasnya dan menaruhnya di atas meja.


"Kau menginginkannya? Mari kita lakukan. Karena aku ingin melakukannya dengan mu," ucap Gina menggoda sambil terus menggerayangi tubuh Fian.


"Diam kau!" bentak Fian, namun Gina malah tersenyum senang.


Fian terus berusaha mencegahnya, namun tubuhnya terus merasa begitu panas. Fian membuka kancing kemejanya bagian atas, rasa panasnya sudah tak dapat ia tahan lagi.


Gina naik kepangkuan Fian, melingkarkan tangan di lehernya dan menempelkan ujung hidungnya di ujung hidung Fian.

__ADS_1


Sepasang mata melihat kejadian itu, dan air mata pun menetes tak tertahankan lagi. Di balik pintu yang sedikit terbuka Raya melihat Fian sedang bersama Gina. Raya berbalik dan berlari dari sana. Niatnya ingin memberikn sarapan untuk Fian ia urungkan karena melihat adegan mesra antara Fian dan Gina.


"Kenapa mereka melakukannya harus di sini, dihadapanku," Raya terus berlari dan menangis.


Gina yang menyadari Raya melihat aksinya tersenyum senang, telah berhasil dengan rencananya.


Fian mendorong Gina, sampai Gina terjatuh ke lantai. Kemudian ia berlari keluar dan memanggil supirnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Fian menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam pengaruh obat perangsang yang diberikan Gina di minumannya.


Sampai di rumah sakit, Fian langsung di tangani. Dokter menyuntikan obat untuk menurunkan efek obat perangsang yang diminumnya.


"Pak Fian sebaiknya beristirahat dulu sampai obatnya benar-benar sudah tidak bereaksi lagi. Selamat beristirahat. Jika ada yang bapak butuhkan silahkan panggil suster," ucap dokter yang menangani Fian kemudian dokter itu pergi.


Fian terbaring di rumah sakit, ia tak menyangka Gina akan senekat itu. Tanpa Fian sadari ada hati yang tersakiti dan sedang menangis.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


like comment n vote nya ya....


terimakasih.....

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2