
Berhari-hari Bian tidak menampakan dirinya di kantor. Raya merasa cemas. Bian tidak memberikan kabar kenapa tidak bekerja beberapa hari ini. Sampai sudah genap satu minggu Bian tidak menunjukan batang hidungnya di kantor.
Tapi pagi ini Pak Pras sudah sembuh dari sakitnya dan datang ke kantor pagi sekali.
Pak Pras datang lebih dulu di susul Fian setelahnya. Rupanya mereka tidak pergi ke kantor bersama walaupun satu rumah.
"Gina, tolong ke ruangan saya," titahnya pada Gina sekretarisnya
"Baik, Pak,"
"Bagaimana kemajuan perusahaan sepeninggal saya beberapa hari ini?" tanyanya.
"Semua berjalan dengan baik, berkat Pak Fian yang menggantikan anda beberapa hari ini, Pak," jelas Gina.
"Apa dia tidak membuat ulah di kantor ini?" tanyanya lagi.
"Tidak, Pak. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja Pak Fian meminta seorang sekretaris. Dan kita sudah merekrutnya," jawab Gina lagi.
"Bagus kalau begitu, lanjutkan lagi pekerjaan mu," titahnya dengan tegas.
Gina mengangguk lalu keluar dari ruangan Pak Pras.
Kedatangan Pak Pras ke kantor mengingatkan Raya tentang rencana balas dendamnya yang sempat terlupakan.
"Aahh dia sudah datang ke kantor lagi. Aku hampir lupa mau menjalankan balas dendam ku," gumamnya.
Namun ternyata ada yang menguping pembicaraannya tanpa sengaja. Fian tengah berada di depan Raya entah dari kapan ia berada di sana.
"Balas dendam apa?" tanya Fian keheranan yang hanya mendengar kata-kata itu.
"Bapak, sejak kapan bapak ada di sini?" terkejut melihat Fian yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Sejak kau bilang balas dendam. Balas dendam apa? Sepertinya kau berambisi sekali mengatakannya,"
"Ah bukan apa-apa, aku mau balas dendam makan Pak, nanti siang. Soalnya tadi pagi belum sempat sarapan," mencari alasan agar Fian tidak curiga.
"Oh kau belum sarapan. Kalo gitu ayok kita sarapan, aku juga belum sarapan," ajaknya.
"Tapi Pak aku masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan. Dan ibu membawakan aku bekal untuk makan siang nanti," tolak Raya.
"Kalo gitu aku ingin mencoba masakan ibu mu,"
Raya menyodorkan bekal yang tadi di berikan ibunya sebelum berangkat ke kantor.
"Bawa ke ruangan ku. Aku tunggu kamu sekarang," sambil berjalan meninggalkan Raya yang masih mematung dengan kotak bekal di tangannya.
"Dia itu benar-benar. Aarrgghh kenapa harus kedengeran sama dia sih. Jadi panjang gini urusannya." Raya.
__ADS_1
Fian sudah menunggu Raya, ia duduk sengaja dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar.
Raya datang dengan membawa kotak bekalnya kemudian membukanya lalu mempersilahkan Fian untuk memakannya.
"Tidak, kau harus menyuapi ku," saat Raya menyodorkan kotak makan yang sudah di bukanya.
"Aish, nyuapin dia? Benar-benar yah dia kebangetannya minta ampun," kesalnya dalam hati namun memasang senyum terpaksa di wajahnya.
"Aaaa"
Fian membuka mulutnya menerima sendok demi sendok suapan dari sekretarisnya itu.
Setelah tersisa setengah dari yang tadi ia makan, Fian meraih kotak makan itu dan berbalik menyuapi Raya.
"Buat bapak saja, nanti saya bisa beli makan di kantin dekat kantor,"
"Buka mulut mu jangan membantah," paksa Fian.
"Tapi, Pak," berusaha menolak tapi tetap saja ia kalah.
"Tidak ada bantahan cepat buka mulut mu. Aaaa,"
Akhirnya Fian berhasil menyuapi Raya walaupun dengan cara paksa sampai semua bekal Raya habis.
"Ambilkan minum," perintah Fian.
"Kau minum dulu tapi jangan di habiskan," perintahnya lagi.
"Bapak saja yang minum,"
"Aku bilang jangan membantah,"
Raya meminum air yang ia bawa setengahnya, lalu Fian meraihnya meminum sisa air di gelas yang tadi di minum Raya.
"Ueeekkss, ih jijik banget nih orang," Raya.
"Kau boleh kembali bekerja, terimakasih untuk sarapannya. Masakan ibu mu sangat enak,"
"Kalo begitu aku kembali bekerja , Pak,"
"Hmmm,"
Sepeninggal Raya, Fian tersenyum penuh kemenangan. Pagi ini ia berhasil melakukan adegan romantis dengan gadis yang di sukainya.
Adegan pagi ini terus saja berputar di pikirannya membuatnya tersenyum senang. Suapan demi suapan Raya membuatnya terbang ke dunia penuh cinta.
Di toilet Raya bertemu dengan Vira yang masih satu bagian dengan Bian.
__ADS_1
"Vira, kamu tahu nggak Bian kemana? Udah beberapa hari ini aku nggak lihat dia ke kantor," tanya Raya langsung saat melihat Vira .
"Kenapa? Kangen ya? Aku juga nggak tahu kemana, nggak ada kabar," jawab Vira.
"Kemana yah dia?" Raya masih bertanya.
"Nanti aku coba tanyain Pak Budi, mungkin dia tahu Bian kemana," jawab Vira lagi.
Raya merasa terjadi sesuatu dengan Bian tapi ia sendiri tidak tahu apa. Seminggu ini Raya merasa kehilangan sosok Bian yang selalu ada di hari-harinya walaupun mereka tidak mempunyai hubungan spesial.
Di bis Raya duduk sendiri ia ingat Bian yang selalu tiba-tiba muncul dan duduk disampingnya. Tapi sekarang tidak ada Bian, tidak ada laki-laki yang selalu muncul seperti hantu lagi.
"Kamu lesu sekali, kenapa?" tanya ibu yang melihat anaknya tampak lesu tidak seperti biasanya.
"Cuma kecapean aja , Bu," jawab Raya dan langsung masuk ke kamarnya.
Raya berkali-kali membuka aplikasi What'sApp nya untuk mengirimkan pesan pada Bian. Berkali-kali mengetik tapi berkali-kali juga ia menghapusnya kembali.
"Chat jangan ya? Tapi aku pengen tahu kabarnya," bingung dengan tingkahnya sendiri.
Dan akhirnya Raya mengirimkan pesan singkatnya.
Raya : Hay Bian, Kemana aja?
Pesan yang dikirimkan Raya, namun masih ceklis dua dan belum berwarna biru tanda Bian belum membacanya.
Satu menit, dua menit, sampai sudah sepuluh menit tidak ada balasan dari Bian.
Raya bosan menunggu, ia memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.
Selesai mandi Raya mengecek ponselnya namun masih tidak ada balasan dari Bian.
Raya merebahkan dirinya, setengah mengantuk ia masih memegangi ponselnya. Dan ponselnya berbunyi. Di lihatnya Bian membalas pesannya.
Bian : Hay, aku di depan rumah mu.
Betapa senangnya Raya membaca balasan pesan dari Bian sambil loncat-loncat di kamarnya. Rasa kantuknya pun hilang seketika.
Dengan setengah berlari Raya segera menuju depan rumah untuk menemui Bian.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
hay semua...
jangan lupa like comment n vote ya...
maafkan kalo masih ada typo dan kata-kata yang kurang pas.... 😁😁
__ADS_1
makasih semua 🖤🖤🖤