Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
DUAPULUH EMPAT PELUKAN IBU


__ADS_3

Bian pulang ke rumah langsung mencari Pak Pras. Emosinya sudah tak ingin ia tahan lagi. Hubungannya dengan Gina di belakang mamanya sudah tidak bisa ia biarkan begitu saja.


"Bian," panggil Bu Mira yang melihat anaknya baru saja datang.


"Eh, Mamah," Bian mencium punggung tangan Bu Mira setelah menyapanya.


Emosinya sedikit reda karena melihat mamanya, Bian tidak ingin mamanya tahu kalau papanya berselingkuh dengan sekretarisnya. Bian ingin menjaga perasaan mamanya walaupun mungkin suatu saat nanti mamanya akan tahu dengan sendirinya.


"Kenapa baru pulang? Mamah kan kangen kamu, Nak," ucap Bu Mira lembut.


"Bian banyak urusan, Mah. Jadi baru sempat ke sini," jawabnya.


"Sudah makan?"


"Sudah, Bian banyak makan akhir-akhir ini," ingin mamanya tidak mencemaskannya.


"Di luar pasti kamu banyak makan enak. Masakan Mamah emang nggak enak ya?"


"Masakan Mamah itu bukan ngga enak tapi kurang enak, hehe," sedikit menggoda mamanya.


"Haha, dasar nih anak bisa aja,"


"Papah kemana, Mah?" melihat ke setiap sudut rumah tidak menemukan Pak Pras.


"Papah mu sedang di ruang kerjanya. Ada apa? Tumben sekali kamu menanyakan Papah mu," tanya Bu Mira heran.


"Ada yang ingin Bian bicarakan soal pekerjaan," ucap Bian mencari alasan.


"Oh begitu, ya sudah sana temui Papah mu,"


"Okey, dah Mah. Jangan nguping ya,"


"Buat apa Mamah nguping, dasar kamu ini," membiarkan Bian berlalu darinya.


Bian membuka pintu ruangan kerja Pak Pras, terlihat lelaki paruh baya itu sedang sibuk dengan laptopnya


"Bian?"


Tidak biasanya anak keduanya ini sengaja menemuinya. Pasti ini ada hubungannya dengan Gina, pikir Pak Pras.


"Terkejut? Itu sudah pasti dilihat dari sorot mata mu," ucap Bian sinis.


"Ada urusan apa? Tidak biasanya kamu menemui Papah," ucap Pak Pras berusaha untuk tenang.


"Apa hubungan mu dengan Gina? Kenapa, Pah? Kenapa kau bermain api di belakang Mamah? Apa tidak cukup Mamah yang selama ini menemani mu? Mamah saja belum kau sahkan pernikahannya, Papah sudah menikah siri lagi dengan sekretaris Papah sendiri," ucap Bian mengutarakan kekecewaannya.


"Syukurlah Bian belum mengetahui kejadian di kantor waktu itu," Pak Pras.


"Aku nggak butuh semua materi yang kau berikan. Yang aku ingin kan kebahagiaan Mamah, itu saja sudah cukup bagi ku," ucap Bian lagi.


"Bian, ada hal yang tidak kau mengerti. Papah terpaksa melakukan itu untuk membantu keluarganya," ucap Pak Pras berusaha untuk tenang menanggapi kemarahan Bian.


"Tapi kau mengancam membunuh dan menghancurkan keluarganya kan? Terus untuk apa kau memaksa Gina untuk menikah dengan Fian? Untuk menutupi kesalahan mu?" Bian masih dikuasai amarah.


"Kau tahu sendiri kan Fian selalu main wanita, Papah ingin dia segera menikah," ucap Pak Pras masih santai dan tenang.


"Kau ini orang tua macam apa? Memberikan bekasnya pada anak sendiri? Memang sudah gila," ucap Bian tak menyangka lalu ia pergi meninggalkan Pak Pras.

__ADS_1


Brakkk....


Bian menutupkan pintu dengan keras.


Pak Pras kebingungan sendiri, ucapannya barusan menjadi bumerang buat dirinya.


"Bian, mau kemana lagi?" tanta Bu Mira melihat putranya berjalan dengan terburu-buru.


Bian menarik nafasnya, menetralkan perasaanya di depan Mamanya.


Bian tersenyum pada Bu Mira.


"Bian ada urusan dulu, Mah. Besok Bian kesini lagi ya." Mencium punggung tangan Mamanya lalu pergi.


"Sepi sekali rumah ini, kapan bisa berkumpul bersama?" gumam Bu Mira.


Selepas Bian pergi, Fian baru saja datang.


Bu Mira masih di ruang tengah membaca majalah.


Fian hanya melirik Bu Mira tanpa mengatakan apapun. Hatinya memang belum bisa terima Bu Mira sebagai pengganti ibunya. Tapi mengetahui Pak Pras ternyata menikah lagi di belakang Bu Mira, Fian jadi merasa kasihan padanya.


Fian menaiki tangga yang berada di sisi ruang tengah rumahnya. Tapi ia menuruninya kembali dan duduk di sebelah Bu Mira.


"Ada apa, Fian? Ada yang ingin kau katakan?" tanya Bu Mira ramah dan tersenyum.


"Mah, boleh Fian meminta sesuatu?" ucap Fian.


Bu Mira tidak percaya, untuk pertama kalinya Fian memanggilnya dengan sebutan Mamah dari sekian lama ia tidak pernah berbicara sekalipun dengan Fian.


"Mah,"


Bu Mira menangkup wajah Fian dan meneteskan air matanya terharu. Penantiannya dan harapannya menjadi kenyataan.


"Apa yang akan kau minta, Nak? Mamah pasti akan memberikannya apapun itu," ucap Bu Mira masih menangkup wajah anak tirinya dengan kedua tangan.


Hati Fian merasakan kerinduan sentuhan itu, sentuhan seorang ibu pada anaknya. Sudah lama sekali ia tidak merasakannya. Fian mengusap air mata Bu Mira yang terjatuh dari pelupuk matanya.


"Kamu ingin apa, Nak?" Bu Mira mengulangi pertanyaannya.


"Maafkan setiap kesalahan Papah sama Mamah," ucap Fian.


Melihat tatapan Bu Mira yang tulus dan penuh kasih sayang membuat kebenciannya roboh seketika. Ia merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama Fian tidak merasakannya.


"Kamu tidak perlu memintanya, Mamah pasti akan memaafkan Papah mu. Kenapa kamu meminta seperti itu?" kedua tangannya menggenggam tangan Fian.


"Terlintas begitu saja di pikiran ku," tersenyum tipis.


Fian bangkit dan segera menaiki tangga lagi.


"Fian," panggil Bu Mira.


Fian berhenti di tengah-tengah tangga.


"Mamah boleh peluk kamu?" pinta Bu Mira.


Fian berbalik dan berjalan menghampiri Bu Mira lalu Bu Mira memeluknya dengan sangat erat. Fian merasakan sekali lagi kasih sayang seorang ibu dalam pelukan Bu Mira, ia memejamkan matanya dan membalas pelukan Bu Mira.

__ADS_1


"Terimakasih, kamu sudah menerima ku sebagai Mamah mu," ucap Bu Mira.


Puas sudah memeluk Fian, Bu Mira melepaskannya.


"Ya sudah, kamu istirahat. Ini kenapa?" melihat luka diwajah Fian.


"Cuma luka kecil, aku gapapa," jawab Fian.


"Lain kali hati-hati," mengelus rambut Fian.


"Iya, Mah,"


Fian pergi ke kamarnya, sikapnya berubah hangat semenjak itu pada Bu Mira.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Esoknya sepulang kerja Bian sudah siap dengan sepeda motornya, menunggu Raya di parkiran.


Sudah lewat limabelas menit dari jam pulang kantor tapi Raya belum juga keluar. Akhirnya Bian memutuskan untuk masuk lagi ke dalam ke ruangan Raya.


"Lagi apa, Buk? Lama amat keluarnya," seru Biian saat melihat Raya sedang membereskan mejanya.


"Bentar, Pak, nggak sabaran banget," ucap Raya


Setelah membereskan mejanya Raya pergi bersama Bian.


"Kita mau kemana sih?" tanya Raya masih penasaran.


"Ke hati mu," jawab Bian asal.


"Eehhh serius tahu," kesal.


"Sabar, Buk, bentar lagi sampai,"


Tidak lama kemudian Bian menghentikan sepeda motornya di depan sebuah rumah.


"Bian, ini rumah siapa?" tanya Raya.


Bian meraih tangannya dan menariknya masuk ke dalam.


"Kamu duduk dulu di sini, aku mau kenalin kamu sama seseorang. Tunggu bentar ya," lalu pergi meninggalkan Raya di ruang tamu.


Raya menunggunya, hingga Bian datang bersama seseorang bersamanya.


Raya diam terpaku melihat Bian dan yang bersamanya berjalan mendekat.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di part ini aku mau kasih visual Fian, Bian, dan Raya. Semoga pada suka sama visualnya 😊🤗



Gimana? Pada suka nggak?


jangan lupa like comment n vote nya yaaa kakak2 readers yang baik hati.....


🖤🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2