Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
SEMBILANBELAS Semalam Bersama Fian


__ADS_3

"Temani aku malam ini," dengan santai Fian mengatakannya.


"Ma,,, maksud Bapak?" antara takut dan bingung.


"Ssssttt," menempelkan telunjuk di bibir Raya.


"Bisa nggak jangan panggil aku bapak, kamu kan bisa panggil aku kakak, abang, mas, aa, akang atau panggil sayang juga boleh," ucap Fian menyebutkan deretan nama-nama yang lazim disebut para wanita pada seorang pria.


Raya tertawa mendengar ucapan Fian yang menurutnya sangat lucu.


"Malah ketawa, aku serius tahu," kesal.


"Ha,, ha,, habisnya bapak lucu," Raya kembali tertawa.


Dari kesal berubah menjadi bahagia melihat Raya tertawa karena dirinya, tak lepas pandangannya pada Raya yang sedang menertawakannya.


"Pak, Pak, Pak Fian, eh malah bengong," Raya menyadarkan Fian yang sedari tadi bengong melihatnya tertawa.


"Jangan panggil Bapak, emang aku bapak mu apa. Panggil Fian aja, lebih enak di dengar," ucap Fian pura-pura marah.


"Ha,, ha,, iya iya, Fian,"


"Sekali lagi panggil nama ku, aku nggak dengar," mengerjai Raya.


"Fian, Ef i a en, Fian," mengeja nama bosnya yang sekarang malah seperti anak kecil.


"Sekali lagi!!"


"Fian,"


Sekarang Fian yang tertawa senang berhasil mengerjai sekretarisnya.


"Emang lucu ya?" ucap Raya polos.


"Iya, kamu yang lucu," mencubit pipi Raya dengan ujung jemarinya.


"Iihh sakit tahu," mengusap pipi yang di cubit Fian.


"Jadi mau nggak?" menanyakan maksudnya lagi.


"Mau apa?" balik bertanya pura-pura bahasan utamanya.


"Aku nggak akan ngapa-ngapain kok, mungkin ini terakhir kalinya kita dekat seperti ini. Atau mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu," ucap Fian getir.


"Emang bapak mau kemana?"


"Hmmm," tak suka dipanggil bapak.


"Eh maaf, emang Fian mau kemana?" mengulanginya lagi.

__ADS_1


"Kan aku mau menikah sama teman kamu," mengacak-acak rambut Raya.


"Oh ada apa sama hati ku? Kenapa nggak rela kalo Fian menikah sama Gina. Apa aku juga suka sama dia?" Raya.


"Jadi mau apa nggak?" Fian bertanya lagi.


Raya mengangguk.


Raya merogoh tas membuka ponselnya untuk mengabari ibu kalau dia tidak akan pulang.


"Ibu mu sudah tahu kamu nggak akan pulang, Vira sudah mengurusnya," jelas Fian.


"Vira?" bingung.


"Iya, kamu tenang aja aku sudah urus semuanya. Termasuk teman lelaki mu, Bian," jelas Fian lagi.


Bian. Raya bingung dengan perasaannya sendiri. Awalnya ia sangat memuja Bian dan berharap Bian menyatakan perasaan padanya tapi itu hanya dalam mimpi. Sekarang malah Fian yang menyatakan perasaan padanya. Dan hatinya tidak rela Fian menikah dengan orang lain.


Fian menarik tangan Raya terus berjalan sampai depan kafe, mobil Fian sudah terparkir di depan pintu masuk dan seorang pelayan membukakan pintu mobil untuk mereka.


Raya menurut saja mengikuti Fian walaupun dalam hatinya bertanya-tanya mau dibawa kemana.


"Fian, kita mau kemana?" setelah masuk ke dalam mobil.


"Ke suatu tempat,"


Pak supir menjalankan mobilnya, melaju memecah keramaian kota.


Setelah menempuh satu jam perjalanan mobil berhenti di sebuah Villa yang sangat besar. Pak supir membukakan pintu untuk tuannya.


Raya keluar dari mobil takjub melihat villa yang sangat besar dan pemandangannya yang indah mengarah ke pusat kota. Tamannya yang luas, pintunya yang lebar dan klasik, juga banyak lagi kemewahan di villa itu.


Fian menarik lengannya lagi mengajak masuk ke dalam dan berjalan menaiki tangga ke lantai atas.


Beberapa pelayan membungkuk hormat pada mereka berdua. Sampai di lantai dua pelayan membuka pintu yang mengarah ke balkon villa yang sudah di sediakan sebuah meja dan dua kursi lengkap dengan makanan, minuman dan bunga-bunga yang indah.


Fian dan Raya duduk di kursi yang sudah di sediakan. Tapi Raya masih bingung dengan Fian yang ingin Raya menemaninya.


"Semua ini aku persiapkan buat kamu," ucap Fian lalu mencium punggung tangan Raya yang tak pernah ia lepaskan dari tadi.


"Ini maksudnya apa?" tanya Raya masih bingung.


"Nggak usah banyak tanya, sekarang kamu tawanan ku," ucap Fian


"Tawanan apa?"


"Tawanan hati,"


"Heudeuh lebay,"

__ADS_1


"Jatuh cinta memang lebay, makanya kamu harus jatuh cinta biar kita sama-sama lebay," ucap Fian yang membuat Raya geli hati.


"Lebay aja sendiri," pura-pura ngambek tapi hatinya ingin loncat-loncat kegirangan.


"Pergilah ganti baju mu, aku akan menunggu mu di sini,"


"Ganti baju?" semakin bingung.


Dua orang pelayan datang menuntun Raya ke sebuah kamar yang sangat luas dan tentunya sangat mewah seperti kamar seorang putri, beda sekali dengan kamar Raya yang kecil dan sempit.


Seorang pelayan membawakan gaun dan membantu Raya memakainya. Setelah selesai memakai gaunnya seorang pelayan lagi membantu Raya untuk berhias dan menata rambutnya.


Tak berselang lama Raya sudah selesai di rias dan sekarang penampilannya seperti seorang putri sungguhan. Kedua pelayan tadi menuntun Raya lagi menuju sebuah ruangan yang luas dan megah. Disana sudah ada Fian yang menunggunya dan sudah berganti baju juga.


"Ah kenapa dia ganteng banget," Raya.


"Nggak salah aku menyukainya, dipoles sedikit saja sudah seperti bidadari," Fian.


Fian membungkukan badannya dan mengulurkan tangannya bermaksud mengajak Raya berdansa.


"Aku nggak bisa dansa," bisik Raya.


"Ayo pegang tangan ku, aku ajari kamu dansa,"


Musik terdengar mengiringi tarian mereka yang dapat dikatakan masih kaku. Fian dengan hati-hati mengajari Raya dansa, sampai Raya menjadi terbiasa dan tidak kaku lagi.


"Sudah bisa?"


"Lumayan,"


"Ikuti terus gerakan ku,"


Raya mengangguk.


"Kamu cantik banget," bisik Fian di sela-sela tarian dansanya.


Wajah Raya merona mendengar Fian memujinya.


"Aku jadi tambah suka sama kamu," bisik Fian lagi yang menambah rona merah di wajah Raya.


"Kamu juga ganteng, tapi bonyok," bisik Raya.


Fian menghentikan dansanya lalu tertawa mendengar bisikan Raya. Melihat Fian tertawa Raya juga ikut tertawa.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Like


comment

__ADS_1


vote


terimakasih


__ADS_2