Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
DUABELAS Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Bian memandang tanpa ekspresi saat Raya berada di hadapannya tanpa berkedip ia melihat Raya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Raya menyadari pandangan Bian padanya karena ia hanya mengenakan tanktop berwarna terang dan celana jeans limasenti di atas lutut.


Sekejap Raya membalikan tubuhnya berlari ke kamarnya dan mengganti bajunya lalu kembali lagi menemui Bian.


"Kenapa ganti baju? Padahal bagus tadi hee," ucap Bian sedikit canggung setelah Raya kembali dengan mengenakan sweater dan celana panjangnya.


"Uh jaga tuh mata," decaknya seraya menutup mata Bian dengan telapak tangannya.


"Haha, saking pengennya ketemu aku," tertawa terus mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


"Lucu?" Raya kesal Bian terus tertawa.


"Sepertinya aku pernah lihat sweater ini," ucapnya seakan mengenali sweater yang di kenakan Raya.


"Aduh aku lupa, ini kan sweaternya Pak Fian. Eh tapi Bian tahu dari mana sweater ini, Pak Fian kan nggak pernah pakai sweater ini ke kantor," Raya.


"Hey, malah melamun. Bawain minum atau apa gitu buat tamu kamu yang special ini," ucap Bian.


"Ya sudah tunggu sebentar," kemudian pergi membuatkan minuman untuk Bian.


"Fian sudah melangkah jauh, tidak akan aku biarkan dia menyentuh Raya seperti dia yang sudah mengancurkan Tisya dan membuat Tisya menghilang sampai sekarang," Bian.


"Ini minumnya tuan apa ada lagi yang anda inginkan?" menirukan logat suara pelayan kafe.


Bian tergelak mendengarnya. Raya sangat senang melihat Bian tertawa senang karenanya.


"Cepet minum jangan tertawa terus nanti kesedak baru tahu rasa,"


"Iya iya, terimakasih,"


"Kemana saja? Nggak ada ke kantor?"

__ADS_1


"Beberapa hari lalu aku harus keluar kota ada urusan,"


"Oh, tapi kenapa nggak ada kabar kamu keluar kota?"


"Aku sudah bilang ke Pak Budi, mungkin dia lupa,"


"Aku nggak mungkin bilang kalau sebenarnya aku mencari Tisya," Bian.


"Oh gitu, terus ada apa kamu kesini malam-malam gini?" tanya Raya lagi.


"Nggak sengaja lewat tadi terus mampir lihat pesan dari kamu," asal jawab.


"Oh gitu,"


"Hmmm," mengangguk.


"Raya,"


"Yah,"


"Nggak, emang kenapa?" balik bertanya.


"Apa Bian mau nembak aku sekarang? Aaaahhh aku mau jadi pacar kamu Bian," Raya.


"Apa rencana Fian kali ini? Sebelum dia menjadikan Raya kekasihnya, aku harus cepat menjauhkan Raya dari Fian," Bian.


"Nggak apa-apa cuma nanya." Santai tanpa mengetahui perubahan suasana hati Raya.


Raya seakan di ajak terbang tinggi mendengar pertanyaan itu dan di jatuhkan dengan keras saat itu. Sakit. Itulah yang Raya rasakan.


"Kamu punya pacar?" menguatkan hatinya dan bertanya yang pasti membuatnya sakit hati dan kecewa.


"Aku dulu pernah punya pacar, tapi sekarang dia menghilang nggak tahu kemana. Dia meninggalkan aku," ucap Bian dengan nada sedih dan kecewa.

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?" Raya dibuat penasaran.


"Mungkin dia punya alasan untuk melakukan itu," jawabnya getir.


"Kamu masih mencintainya?"


Bian tidak menjawab pertanyaan Raya dan tidak menunjukan ekspresi apa-apa di wajahnya membuat Raya susah untuk menebak.


"Sudah malam, kamu harus istirahat dan aku harus pulang. Terimakasih minumannya," ucap Bian seraya tersenyum dan dibalas senyuman dari Raya.


Sebelum tertidur Raya menghela nafasnya kasar. Patah hati, ya itulah yang sekarang ia rasakan. Cintanya bertepuk sebelah tangan pada Bian. Dan Raya pikir Bian masih mencintai pacarnya yang menghilang meninggalkannya.


Raya berpikir kalau ia sudah tidak ada harapan lagi untuk bersama Bian dan memutuskan untuk berteman saja. Walaupun perasaannya masih cukup besar untuk bersama Bian.


-----------------------------


Pagi hari di kantor, Raya baru saja datang tanpa ia sadari Gina sudah ada di depannya.


"Ra, gue kan udah bilang comblangin gue sama Pak Fian. Ko malah lo yang lebih deket sih sama dia? Jangan jadi pengkhianat ya lo sama gue," ucap Gina marah.


"Siapa juga yang mau deket-deket sama dia. Kalo bisa kamu aja yang jadi sekretarisnya, Gin. Aku mah ogah. Aku mau jadi karyawan biasa aja nggak mau jadi sekretaris bos sombong kayak gitu. Kamu tenang aja aku nggak suka sama dia," jawab Raya panjang lebar.


"Gue pegang kata-kata lo. Tapi lo tetep bantuin gue buat deket sama dia," ucap Gina merendahkan sedikit suaranya yang tadi marah menggebu.


"Aku bantu sebisa aku karena perasaan orang nggak ada yang tahu," ucap Raya pada Gina.


"Tapi kalau dipikir ada untungnya juga aku jadi sekretarisnya Pak Fian. Aku bisa melancarkan rencana balas dendam ku sama Pak Pras secara dia kan anaknya. Hohohoho," Raya tertawa jahat.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa like comment n vote


Oh ya jadikan favorit untuk mendapatkan notif setiap UP nya yaaa....

__ADS_1


Follow juga authornya....


Terimakasih 🖤🖤🖤


__ADS_2