Terjerat Cinta Anak Bos

Terjerat Cinta Anak Bos
DUA "Bertemu Lagi"


__ADS_3

Esok harinya seprti biasa Raya sudah ada di kantornya pagi sekali. Rencananya ia akan memulai balas dendamnya dengan mengacaukan jadwal Pak Pras hari ini.


Pak Pras baru saja datang para karyawan menyapa dan menyambut kedatangannya. Termasuk Raya yang mengembangkan senyum penuh arti namun mengandung dendam.


Gina, sekretaris Pak Pras sedang membuatkan kopi untuk bosnya. Raya mendekatinya dengan tujuan untuk memasukan sesuatu ke dalam kopi yang di buat Gina untuk Pak Pras.


“lagi, apa Gin” tanya Raya.


“ bikin kopi nih buat Pak Pras” jawab Gina.


Raya berpura-pura membuat teh dan meminta gula yang ada di lemari sebelah Gina.


“Gin, tolong ambilkan gula dong” pintanya pada Gina.


Gina berbalik megambilkan gula untuk Raya. Itulah kesempatan Raya untuk memasukan obat pencahar ke dalam kopi. Gina berbalik dan membawakan gula untuknya, Raya sudah selesai dengan aksinya. Gina kemudian mengocek kopi itu lalu membawanya.


Raya tersenyum, lalu ia kembali ke ruangannnya dengan perasaan senang.


Benar saja, setelah meminum kopinya Pak Pras langsung bolak balik ke kamar mandi, perutnya seakan terkuras habis. Karena terus menerus mengeluarkan isi perutnya Pak Pras terkulai lemas, sopirnya mengantarkannya pulang karena beliau tidak mau di antar ke rumah sakit.


“sepertinya ini karena aku makan gulai pedas tadi” rintih Pak Pras yang terus saja bolak-balik ke kamar mandi.


Pak Pras adalah sosok seorang suami yang sangat sayang pada istrinya. Entah sayang atau takut, ya mungkin keduanya. Makanan apapun yang di masak istrinya ia selalu memakannya walaupun rasanya sering tidak enak.


flashback on


Di Rumah Prastian Adiwijaya


Pak Pras sudah siap dengan steoan kerjanya ia berjalan keluar kamar menuju meja mkan rumahnya.


"Pah, ayok sarapan dulu, mamah udah buatin gulai buat papah," ajak Bu Mira istri Pak Pras.

__ADS_1


"Gulai untuk sarapan? Tuhan semoga pagi ini aku tidak di racuni istri ku" dalam hati Pak Pras.


Tanpa menjawab ajakan istrinya ia langsung duduk di kursi meja makan. Bu Mira mengambilkan nasi ke atas piring dan menyendokkan gulai ke dalam mangkuk kemudian di taruh di depan suaminya.


Tampak ragu untuk menyantap hidangan yang sudah di sediakan istrinya, Pak Pras mulai dengan minum segelas air yang sudah ada di depannya.


Dengan perlahan ia menyuapkan satu suapan pertamanya. Lidahnya terasa terbakar karena gulai itu rasanya pedas, asin, dan entah apa lagi rasanya.


Keringat dingin keluar, namun ia tetap mengunyah makanannya.


"bagaimana, enak?" tanya istrinya.


"e e enak mah" jawabnya dengan senyum terpaksa dan menahan untuk tidak memuntahkan makanannya.


Dengan cepat ia menghabiskan sarapannya walau tidak enak. Setelah itu ia pamit untuk berangkat ke kantor.


Di perjalanan menuju kantor ia berhenti di sebuah pom bensin untuk mengeluarkan sarapannya yang tadi sudah masuk ke dalam perutnya.


"kita jalan lagi, Din" perintahnya pada Udin setelah selesai mengeluarkan makanan tadi.


“kita ke rumah sakit pak” ajak Udin supir pribadi Pak Pras.


“ah, tidak, kita pulang saja. Di jalan kau ke apotek dulu belikan obat sakit perut.” perintah Pak Pras pada Udin yang siap sedia kapan pun ia membutuhkannya.


Walaupun Pak Pras terlihat sangat berwibawa tapi dia mempunyai kelemahan takut dengan jarum suntik yang tidak banyak orang tahu.


Raya semakin girang melihat Pak Pras kesakitan sampai kepayahan. Raya tersenyum, dan bersorak dalam hatinya.


“kamu kenapa Ra, senyum-senyum sendiri?” tanya Vira yang keheranan melihat tingkah temannya.


“ ah, enggak, aku keinget film komedi yang aku tonton tadi malam” jawabnya berbohong.

__ADS_1


“film apa gitu?” tanya Vira lagi.


“film WARKOP” jawabnya asal.


“oh pantas kamu senyum-senyum gitu. Aku juga suka sampai ketawa nonton film itu” jelas Vira kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


Raya menghela nafasnya dan melanjutkan pekerjaannya juga.


Pulang kerja Raya memutuskan untuk naik bis, untuk menghemat pengeluarannya. Karena ia harus mengumpulkan uang untuk mengirimi ibunya yang berada di kampong.


Karena kelelahan Raya tertidur dalam bis di perjalanan pulangnya. Seorang Pria yang kemarin menolongnya duduk di samping Raya, tanpa sadar Raya menyenderkan kepalanya ke bahu pria itu.


Bis berhenti di tempat pemberhentian terakhir, namun Raya masih terlelap. Raya merasakan ada yang mengguncangkan kepalanya, ia pun terbangun. Matanya terbelalak saat tahu yang mengguncangkannya adalah pria yang kemarin menolongnya.


Pria itu kemudian beranjak turun dari bis meningglakan Raya yang masih bengong dengan keterkejutannya.


Dengan cepat Raya membayar pada konektur, lalu lari mengejar pria tadi.


“tunggu” teriaknya sembari berlari mengejar.


Pria itu menghentikan langkahnya, Raya berlari mendekat.


“terimakasih untuk yang kemarin” ucapnya setelah sudah dekat dengan pria itu.


“sama-sama” jawabnya lalu terus berjalan.


Mendengar jawaban dari yang ditanya, Raya malah bengong terpesona dengan ketampanan seseorang yang ada di depannya. Sampai ia tersadar pria itu sudah berjalan sangat jauh tak akan berhasil walau ia mengikutinya.


“aish, kenapa gak nanyain namanya, bodohnya aku” gerutunya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


jangan lupa like comment n vote


terimakasih 🖤🖤🖤


__ADS_2